"Apakah harus pindah rumah tahun ini?"

Pertanyaan tersebut muncul di benak saya sejak awal tahun ini. Memutuskan membeli rumah secara kredit di tahun ke dua pernikahan, sejak awal Mei lalu suami mulai melanjutkan penambahan bagian dapur rumah dengan tipe 36 yang sudah tertunda selama 1 tahun. Ayah mertua pun dipanggil untuk membantu proses pembangunan ini.

Mendekati bulan Ramadan, suami semakin getol saja mengerjakan rumah tersebut. Ia bahkan mulai lebih sering menginap di rumah yang belum selesai itu ketimbang di rumah ibu saya. Sebagai istri, saya jadi jablay dong keseringan ditinggal. Ups.

"Nanti bulan puasa kita tinggal di mana?" tanya saya akhirnya pada suami.

"Tinggal di rumah kita aja. Sudah bisa ditempati kok," jawab suami meyakinkan saya.

Baca juga : [Cerita Lebaran] Bayi yang Menangis dan Imam yang Datang Terlambat

Saya diam sejenak. Dengan kondisi ayah mertua tinggal sementara di rumah kami, memang pilihan terbaik adalah menemani beliau di rumah tersebut.   

"Ya sudah, deh. Nanti aku bilang mama ya," kata saya akhirnya.

Tepat satu hari sebelum Ramadan saya bersama Yumna melaju menuju rumah kami. Dari rumah ibu, saya hanya membawa beberapa potong pakaian dan persiapan lauk untuk hari pertama puasa. Suami sendiri juga sudah mengangkut beberapa pakaian kami yang lain. Sedangkan untuk urusan perlengkapan rumah, alhamdulillah sebelum pindah kami sudah mencicil beberapa barang yang diperlukan. Entah itu beli sendiri atau dapat lungsuran dari keluarga.

Tepat saat adzan magrib, saya dan Yumna tiba di rumah. Suami dan ayah mertua sudah menunggu kami di sana. Ketika memasuki rumah, saya mengambil waktu sejenak untuk memeriksa kondisi rumah. Seperti yang suami katakan, rumah tersebut sudah bisa ditinggali walau masih sangat berantakan. Lantainya yang belum dilapis keramik ditutupi tikar dan karpet. Dapur juga sudah cukup lengkap dengan adanya kompor gas dan kulkas.

Dapur seadanya banget
Lokasi rumah kami ini sendiri berada di luar kota Banjarmasin yang dulunya masih berupa persawahan. Jadi, bisa dibilang kami sekarang tinggalnya di desa. Hehe. Para penghuni komplek sendiri rata-rata adalah pasangan muda dengan anak-anak yang masih seusia dengan anak saya. Sayangnya penghuninya masih belum banyak dan tak cukup sering berinteraksi. Saya sendiri juga sebagai ibu bekerja pergi pagi pulang sore jadi tak banyak bertemu dengan para tetangga.

Baca juga : Pindah Rumah dan #JadiBaik dengan Aplikasi TCASH


Perubahan setelah pindah rumah


Selama hampir 2 bulan tinggal di rumah baru dengan lingkungan baru, jelas ada beberapa perubahan yang harus saya adaptasi. Perubahan pertama tentunya rute berkendara. Kalau dulu biasanya saya hanya berkendara di dalam kota, sekarang sehari-hari rute berkendara adalah dari luar kota menuju dalam kota.

Nah salah satu hal yang menjadi kendala saat tinggal di daerah luar perkotaan jelas adalah soal fasilitas, terutama hiburan dan rekreasi. Sebagai orang yang terbiasa tinggal di tengah kota Banjarmasin, kami jelas dimudahkan dengan mudahnya mencari sarana rekreasi di dalam kota. Mau ke mal cuma sepuluh menit. Mau ke taman juga sudah lumayan banyak di Banjarmasin. Apalagi soal cemilan dan makanan, kayaknya ada aja yang baru buat dicoba. Hehe.

Untungnya sih dan suami sama-sama bukan tipe yang harus jalan-jalan tiap minggu jadi ya tidak terlalu bermasalah sih dengan kurangnya fasilitas rekreasi ini. Lagipula saya juga setiap hari pergi ke Banjarmasin untuk bekerja. Tapi tetap saja sih berasa banget bedanya tinggal di dalam kota dengan di luar kota yang notabene masih desa. Berasa kurang ramai dan kurang seru aja jadinya.

Lokasi pasar yang lumayan jauh juga menjadi salah satu hal yang kerap saya keluhkan. Selama tinggal di rumah ibu saya dulu, jarak pasar hanya 5 menit jalan kaki. Sekarang kalau saya ingin ke pasar di hari libur harus naik motor sejauh 4 km. Bisa juga sih saya menunggu paman sayur lewat tapi kadang siang banget. Otomatis sayurnya sudah layu dan perut keburu lapar nungguin si paman. Heu.

Baca juga : 10 Kunci Agar Hidup Lebih Bahagia

Perubahan terakhir yang terjadi setelah pindah rumah adalah, putri saya akhirnya dititipkan di sebuah daycare dekat kantor saya. Masalah jarak tentu saja menjadi alasan utama dari keputusan ini. Jika saya tetap menitipkan Yumna di rumah pengasuhnya, maka saya harus bolak-balik ke arah rumah lama dan kembali ke rute rumah sendiri. Sungguh membuat capek dan menguras BBM. Kasihan juga Yumna kalau tiap hari harus berkendara begitu jauh setiap harinya. Harapan saya sih semoga dia cocok dengan daycare barunya ini.


Dengan kondisi tempat tinggal yang masih sepi dan membosankan, saya ternyata cukup menikmati momen pindah rumah ini. Tinggal bertiga saja dengan suami dan anak membuat saya belajar kembali manajemen waktu dan mengurus rumah berdua, termasuk juga mengurus anak. Saya juga senang karena bisa memiliki dapur sendiri mengingat dulu harus berbagi dapur dengan ibu saya jika ingin memasak bekal.

Seiring dengan perkembangan waktu, saya juga yakin komplek perumahan yang saya tinggali akan jadi ramai juga seperti di daerah lainnya. Apalagi kabarnya bakal dibangun mall di daerah itu yang pastinya akan menarik pengunjung. Jadi ya mari kita tunggu lima sampai sepuluh tahun lagi bagaimana perkembangan perumahan yang kami tinggali nantinya.