Livia memasukkan kertas terakhir yang akan diprint. Sejak komputernya bermasalah, sekarang ia harus memasukkan kertas satu demi satu ketika mengeprint. Tidak bisa sekaligus seperti sebelumnya. Entah kapan print komputer di apotek ini akan diganti. 

Sebenarnya ia bisa numpang ngeprint di ruangan Apotekernya di lantai empat. Ia pun menyimpan kunci cadangan ruangan itu. Tapi Livia sedang malas naik-turun tangga. Rumah Sakit tempatnya bekerja memang menyediakan lift, tapi itu hanya boleh dipakai oleh pasien atau karyawan tertentu saja. 

“Sudah selesai, Mbak? tanya Gima yang melihat Livia sedang mematikan komputer. Livia mengangguk.

“Sekali-sekali pengen pulang siang nih.”
“Iya, Mbak. Jangan pergi pagi pulang malem, gaji tetap pas-pasan,” celetuk Nanda yang tiba-tiba muncul. Membuat mereka tertawa. 

Livia masih duduk di meja komputernya, meraih tas lalu mengeluarkan peralatan make upnya. Entah apa pantas disebut tas make up, karena kantong kecil itu hanya berisi sabun cuci muka, bedak dan lipstik dan lipgloss. Livia memandangi pantulan wajahnya dalam cermin bedak yang kecil. 

Sebenarnya ia hanya menganggap Arhan teman. Lelaki itu pun pasti begitu karena ia sudah memiliki seorang kekasih..., pikir Livia sambil mengusapkan bedak ke wajahnya. 

Tapi kenapa ia harus repot berbedak segala hanya untuk bertemu teman yang itu?

Gadis itu urung memakai lipstik. Ia membuka cepolan rambut, lalu mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda. 
***

Arhan tersenyum melihat kemunculan gadis itu. Ia bersidekap menunggu Livia yang mendekat padanya. Selalu terpesona pada dandanan Livia yang sederhana, tapi terlihat luar biasa cantik di matanya. 

“Jadi kan ke pantainya?” tanya lelaki itu setelah Livia berada tepat di hadapannya. Gadis itu menaikkan alis.

“Sekarang?”

“Enggak, tahun depan.”

“Oh.” Mereka terdiam.

“Ya sekaranglah, Livia. Kan kemarin aku sudah bilang.” Arhan berkata gemas. Membuat gadis itu tertawa.

“Aku kira beneran. Kamu ngomongnya kayak yang serius gitu. Tapi aku enggak bawa baju ganti.”

“Gampang, beli di sana saja.” Lelaki itu menarik tangan Livia. 

“Cepetan dong jalannya, biar enggak kemalaman,” kata Arhan sambil menyeret gadis itu.

Dan lelaki dengan kaus abu-abu itu tetap menggenggam tangannya sepanjang perjalanan menuju parkiran.

Dua jam kemudian Arhan menghentikan mobilnya tidak jauh dari tepi pantai. Livia sengaja meninggalkan sepatunya di mobil. Berdua menyusuri pantai, berjalan ke arah batu-batu karang dengan bertelanjang kaki. Sesekali Livia mengaduh ketika menginjak karang yang tajam. Sesekali ia merunduk, memungut kulit kerang dan rumah keong.

Arhan menuntunnya naik ke atas sebuah batu karang besar. Lalu mereka duduk berdampingan. Livia protes ketika lelaki itu duduk terlalu dekat dengannya.

“Cuma bagian ini yang bisa didudukin. Semuanya tajam. Kamu mau pantat aku bolong-bolong pas kita balik ke Jakarta.” Arhan membela diri. Ia mengeluarkan ponsel, lalu membuat foto diri mereka.

“Narsis banget sih!” Gadis dengan rambut yang kini  tergerai itu tertawa melihat tingkahnya.

“Buat aku tunjukkan ke orang tua kita. Senyum, Livia.” Gadis itu menurut, tersenyum ke arah kamera.

“Bagus,” komentar Arhan ketika melihat hasil foto mereka.

“Yang ini jelek, masa aku cuma separuh.” Livia merebut ponsel, lalu menghapus foto-fotonya yang dirasa jelek.

“Ah, yang ini lucu nih. Kamu keliatan tembem banget. Disimpan… Disimpan…,” seru Livia riang.

"Yang ini bagus. Warna kulit kita kelihatan beda banget. Bisa buat iklan pemutih wajah niy." Livia tertawa senang. 

“Kirim ke hapeku, ya!” Arhan hanya mengangkat bahu. Lalu mengeluarkan sesuatu.

“Kamu merokok?” 

“Kenapa? Enggak suka?” Arhan menyelipkan rokok ke bibirnya.

“Enggak,” sahut Livia. “Aku enggak melarang kok. Tapi menjauh lima meter dari aku kalo lagi merokok, sana.”

“Kenapa?”

“Baunya menempel di badan dan rambut.”

“Masa sih?” Arhan pura-pura mendekatkan hidungnya ke rambut Livia, tapi gadis itu menusukkan sikunya. Membuat Arhan mengaduh lalu tertawa kecil.

"Lagian rokok kan enggak bagus untuk kesehatan, Han. Bisa bikin serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.”

“Iya. Kalo kamu lagi…” Arhan berdehem.

"Maksudku, kalo istriku lagi hamil, ya, aku berhenti merokoklah, Liv.”

“Kenapa nunggu istri kamu hamil? Kenapa enggak sekarang saja?” 

Lelaki berambut sedikit gondrong itu mengalihkan pandangan. Ia mengeluarkan bungkusan rokok, lalu melemparkannya ke laut. 

“Puas sekarang?!” 

Livia tertawa kecil.

“Tapi kalo enggak merokok rasanya pahit lho, Liv. Kamu enggak pernah ngerasain sih.”

“Sedia permen yang banyak,” sahut Livia tak acuh sambil tetap melihat ke layar ponsel. Kini yang ia lihat bukan lagi foto-foto mereka tadi.

“Aku butuh yang lebih manis dari permen.” 

“Mana foto pacar kamu?” Livia tak mendengar kata-kata Arhan barusan.

“Kamu mau aku digantung sama orang tuaku kalau mereka tahu aku menyimpan foto gadis lain, bukan calon istriku.” Livia hanya bergumam tidak jelas, lalu mengembalikan ponsel itu.

“Cerita dong, Liv," pinta Arhan sambil menyimpan ponselnya.
“Cerita apa?”

“Apa saja. Tentang kerjaan kamu, misalnya.” Livia berpikir sebentar.

“Enggak ada yang seru tentang kerjaan aku. Masuk pagi, bikin pesanan barang apa yang harus diorder, sambil ngerumpi, ke gudang, lapor ke Apotekernya kalau ada sesuatu. Kadang-kadang diajak ikut rapat, kena omelan dokter. Sesekali menghadapi pasien bermasalah, makan siang, pulang. Selesai.” Livia berkata sambil mengeluarkan kulit kerang dan rumah-rumah keong yang tadi dipungutnya. Yang jelek, langsung ia buang di antara batu karang.

“Banyak banget sih kerjaan kamu.” 

“Kalo dijalanin enggak sebanyak itu kok.”

“Dasar gila kerja,” celetuk Arhan sambil menopangkan kepala dan memandang gadis di sebelahnya, dengan mata kecilnya yang bersinar hangat. 

“Aku? Gila kerja? Masa sih?” Livia tertawa.

“Heran, kok orang-orang pada bilang seperti itu, ya? Perasaan kerjaan aku biasa saja. Memang sih, kadang kalo sudah kerja suka males buat berhenti, soalnya kalau enggak dituntasin bisa numpuk. Tapi kayaknya itu bukan gambaran seorang yang…” Livia tertegun ketika menyadari Arhan semakin mendekatkan wajahnya.

“Gila…” Suaranya makin melemah ketika Arhan memiringkan wajah, lalu mendekatkan bibirnya. 

“Kerja…” Livia tidak yakin ia menyelesaikan kalimatnya karena Arhan sudah keburu mengecup bibirnya lalu memagutnya dengan lembut. Kerang-kerang dan rumah keong terlolos dari tangan.

***
Gadis itu membuka mata dengan berat ketika merasakan tepukan pada bahunya. 

“Sudah sampai,” bisik Arhan pelan.

Livia mengerjapkan mata. Menoleh pada rumah berpagar cokelat di sebelah mobil yang ia tumpangi. 

“Aku tidur sepanjang jalan, ya?” tanyanya sambil menggeliat.

“Iya, kamu tidur pulas banget. Dengkurannya sampai kedengaran.” Sepasang mata kelam menyipit di tengah geliatnya. Arhan hanya terkekeh.

Livia baru menyadari sesuatu yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya. Jaket merah yang dipakai lelaki itu di kencan pertama mereka. Mungkin Arhan menyelimutinya ketika ia terlelap di jalan tadi. 

Livia membuka sabuk pengaman. Ia menahan ketika Arhan membuka seatbelt juga. 

“Enggak usah turun. Kamu langsung pulang saja. Sudah kemalaman. Mama juga sepertinya sudah tidur.” Livia memperhatikan lampu kamar ibunya di lantai dua yang sudah gelap. 

“Oke,” jawab Arhan singkat Perlahan ia memajukan tubuhnya dan mengecup bibir itu lagi, persis seperti siang tadi.

“Makasih ya, untuk hari ini. Yang tadi lebih dari permen,” bisik Arhan parau di depan bibir Livia. Membuatnya menahan napas tanpa sadar. 
***