Livia mengangkat kepalanya dari novel yang sedang dibaca, menajamkan pendengaran. Suara mobil itu mulai akrab belakangan ini. Ia Bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Sebuah sedan hitam sudah parkir di depan rumah. Gadis yang masih mengenakan kaos kebesaran berwarna biru pudar itu mendengus sebal. 

“Masih pagi sudah datang ke rumah orang,” gerutu gadis itu sambil memperhatikan Arhan keluar dari mobilnya. Rambut yang diikat seadanya bergoyang tertiup angin. Ia cepat-cepat bersembunyi ketika Arhan menoleh ke arahnya. Livia kembali mengintip, lelaki itu sudah tidak ada.  Ia tersenyum. Mengangkat sebelah alis, pertanda mendapatkan sebuah ide cemerlang. Gadis itu meraih bantal kecil juga novel yang tadi sedang dibaca. Merayap ke bawah tempat tidur, dan berbaring di sana. Ia tertawa geli memandang bagian bawah tempat tidur. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki.

“Neng Viiiaaa…” Terdengar derit pintu yang perlahan dibuka. Sepasang kaki melangkah masuk ke dalam. 

“Kemana ya, tu orang?” Livia terkikik tanpa suara memperhatikan sepasang kaki yang bolak-balik mengitari kamarnya. Dari bawah tempat tidur ia bisa melihat tumit Yanih yang pecah-pecah. Tempo hari ia pernah memberikan krim racikan untuk mengobati tumit itu. Tapi sepertinya belum pernah dipakai. 

Frustasi, tumit pecah-pecah itu akhirnya melangkah pergi. Livia mendesah lega, lalu melanjutkan bacaannya yang tertunda. Masih di bawah tempat tidur. Sampai keadaan dirasa aman, barulah Livia keluar dari tempat persembunyian. Merangsek naik ke atas tempat tidur.

Selang beberapa lama kemudian Yanih mendatanginya lagi. Berseru nyaring memanggil sang majikan. 

“Oalah ke mana tho ya Neng Via tadi? Yanih cari dari tadi.” 

“Ya di sini sajalah, Mbak," sahut Livia yang sedang membaca sambil tiduran dengan santai. Sepasang mata besar semakin membuntang tak percaya.

“Enggak mungkin. Orang tadi Yanih sudah cari di kamar, Neng Via-nya enggak ada.”

“Nyarinya enggak teliti kali," goda Livia. Perempuan bertubuh kurus-pendek dan berkulit bersih itu duduk di pinggir tempat tidur. 

“Mas Arhan kayaknya rada kesel lho, Neng.” Livia hanya menaikkan alisnya. Masa bodo. Yanih mengawasi putri bungsu majikannya dengan saksama.

“Ada yang aneh di muka aku?” tanya Livia tanpa mengalihkan matanya dari novel yang sedang dibaca.

“Neng Via ndak suka ya sama Mas Arhan?” Livia mengeryitkan alis sambil mengulum senyum.

“Kenapa memang?” 

“Yaa, Yanih kok ngeliatnya Neng Via ini kayak yang ndak ikhlas gitu dijodohkan dengan Mas Arhan. Padahal Mas Arhan itu ganteng lho, Neng. Baik lagi.” 

Livia berbalik membelakangi pembantunya, sambil tetap melanjutkan bacaannya. Yanih gemas melihat tingkah sang majikan.

Sementara Arhan yang sedang dalam perjalanan pulang pun terlihat mangkel. Ia tahu Livia bersembunyi darinya. Ia tahu gadis itu tidak menyukainya. Ia dapat melihat dari sikap Livia. Awalnya dicoba untuk bersabar, tapi lama-lama makan hati juga. Kalau begini terus tidak akan ada perkembangan yang berarti. Ia harus bertindak!
***

“Halo.” Livia mengangkat teleponnya dengan malas sementara Ibu Endang, atasannya di apotek, terus melirik penuh rasa ingin tahu. 

“Iya. Kenapa, Han?” tanyanya dengan jemu. 

“Aku ada di kafe Rumah Sakit.” 

Livia memutar bola mata, “Kayaknya aku masih lama deh, Han. Ada laporan...”

“Ada yang mau aku bicarakan, Liv.”Arhan memotong.

“Enggak bisa nanti saja ya, Han? Aku lagi sibuk banget nih. Komputer aku dari tadi trouble.”

“Ya sudah. Aku tunggu sampai kamu pulang.”

“Tapi aku kayaknya lembur.”

“Aku tunggu.” Lelaki di seberang tetap ngotot. 

Livia mencebik sebal.“Ya sudah. Tunggu aku lima belas menit lagi, ya!”

Arhan tersenyum, menaruh ponsel di meja lalu menghirup cappucinonya.

Tidak sampai lima belas menit gadis berseragam hijau itu sudah tiba di hadapannya. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan pada penjaga cafe yang menyapanya. Tapi begitu melihat Arhan, ia menyimpan senyumnya kembali.  

“Mau ngomong apa sih? Jangan lama-lama. Kerjaanku numpuk banget.” Livia bicara dengan wajah muram. Komputernya memang sedang bermasalah sejak pagi. 

"Kamu enggak suka ketemu sama aku, Liv?” Livia berdecak. 

"Aku enggak suka pekerjaanku terbengkalai hanya untuk masalah pribadi."

Arhan menatap gadis di hadapannya. Membuat Livia jengah. Tidak berani membalas. Lelaki itu menyandarkan punggung lalu melipat kedua tangannya. “Kamu kira aku suka dengan perjodohan ini?” 

Hening.

“Aku juga enggak setuju dengan perjodohan ini, Liv. Aku punya seseorang yang aku cinta. Aku juga sedang memikirkan  cara untuk keluar dari perjodohan ini, tapi aku tuh enggak banyak tingkah kayak kamu.” Livia mengeryitkan alisnya. 

“Maksud kamu apa?” Ia semakin tidak nyaman di kursinya. Apalagi melihat senyum melecehkan lelaki itu.

“Sudahlah. Aku tahu kamu enggak suka aku. Asal kamu tahu, rasa enggak suka kamu itu sama seperti rasa enggak suka aku terhadap perjodohan ini.” 

Livia terdiam kikuk. 

“Aku cuma enggak mau bikin kecewa orang tua, sambil memikirkan bagaimana caranya untuk lolos dari perjodohan ini.” 

Dahi Livia terlipat. Ia mengamati raut wajah Arhan. Menilai apakah mata kecil memanjang itu tengah bercanda. Tapi raut wajah tegas di hadapannya terlihat begitu serius. Rahangnya yang keras mengatup rapat.

“Kamu serius?” tanyanya perlahan. “Kenapa enggak cerita dari awal?” Livia melunak. Ia mulai merasa mendapat teman senasib, meskipun sedikit sebal, ternyata ada lelaki yang tidak suka dijodohkan dengan dirinya.

“Aku berusaha terlihat antusias dengan perjodohan kita. Meskipun aku enggak setuju, tapi aku enggak mau mengecewakan orang tua. Kalau kamu pun enggak menyukai perjodohan ini, maka aku enggak akan sungkan-sungkan lagi.”

Puas kamu sekarang?! Puassss?! batin Arhan gemas.

“Lalu apa rencana kamu?”

"Sekarang kita ikutin saja apa maunya para orang tua. Nanti kalau sudah ketemu jalan keluarnya, kita pikirkan rencana selanjutnya. Aku bisa stres memikirkan perjodohan ini sekaligus rencana untuk menghindarinya.”

Livia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menghela napas lega.

Sejak saat itu sikap Livia pada Arhan berubah. Mungkin karena ia merasa mendapat teman persekongkolan. Livia jadi lebih hangat dan terbuka. Ia mulai sering mengangkat telepon ataupun membalas pesan lelaki itu. Berbicara dengan Arhan di telepon sampai berjam-jam, jalan-jalan setelah pulang kerja. Bahkan mereka lebih banyak bercanda dan tertawa sekarang.
***

Arhan mengusap lengannya yang habis dicubit. Terasa sedikit perih. Pasti nanti akan ada bekas cakaran di tempat yang perih tadi. 

“Kupikir kamu itu perempuan pendiam dan lembut.”

"Salah sangka, ya? Kan aku sudah bilang, kesan pertama enggak selalu benar.” Livia tertawa geli.

“Habis tadinya aku kira kamu bener-bener kepengen dijodohin sama aku. Ternyata aku punya teman senasib.” Arhan tertawa. Melempar pandang pada toko es krim yang mereka kunjungi. Ketika menjemput Livia tadi, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan ingin makan es krim. Dan Arhan segera melajukan mobilnya ke toko es krim ini.

Kedai es krim itu berada di tengah-tengah kota. Livia sering mendengar nama tempat itu, tapi ia belum pernah mengunjunginya. 

Mereka duduk di meja paling ujung, di lantai dua kedai es krim tersebut. Di sebelah jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Livia memandang bingung daftar menu es krim di tangannya. Matanya melirik pada foto-foto es krim yang terpajang di dinding lalu menyebutkan es krim yang ia inginkan dengan lidah kaku. Entah bahasa planet apa yang digunakan untuk membuat nama-nama es krim itu. 

Sementara lelaki yang duduk di hadapannya hanya memesan capppucino hangat dan seporsi kentang goreng.  

“Oh ya, cerita tentang pacar kamu dong, Han,” pinta Livia setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi. 

“Dia masih kuliah atau sudah kerja?”

“Kerja,” jawab Arhan singkat.

“Di mana?” 

Ia menyebutkan sebuah maskapai penerbangan.

“Kalian ketemu di mana?”

“Waktu aku ke Makassar, dia salah satu pramugarinya.”

“Oh,” sahut Livia sambil mulutnya mengerucut, membentuk huruf O.  

“Gimana reaksinya waktu dengar kamu mau dijodohkan?” Arhan mengernyitkan alis. Sepasang mata sipit memanjang terlihat sebal. Membuat gadis itu merasakan sesuatu. 

“Kamu nih udah kayak interview pekerjaan deh.” 

Livia tertawa.

“Masa sih?”

“Kamu sendiri bagaimana? Kata Tante Sita kamu single, tapi kenapa menolak dijodohkan dengan lelaki sekeren aku?” 

Livia mencibir.

“Ini kan sudah zaman modern gitu lho, Han. Media komunikasi-informasi sudah canggih. Banyak pasangan yang bisa ketemu di jejaring sosial. Masa masih perlu dijodohkan.”

"Memang salah kalau dijodohkan orang tua?”

“Ya, enggak juga sih.” Livia menjawab tidak enak. Salah tingkah sendiri ketika lelaki itu menatapnya tanpa kata. Akhirnya Arhan menaikkan alis lalu mengalihkan matanya pada cappucino yang baru datang. 

“Mungkin orang tua belum tentu tahu apa yang kita inginkan. Mungkin juga pilihan orang tua belum tentu benar, tapi mereka pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.” Gadis yang masih mengenakan seragam kerja itu hanya diam.

“Aku enggak mau dijodohkan. Aku ingin menemukannya sendiri,” lirihnya melindap. Menekuri alas meja.  

“Ada orang yang kamu sukai?” tanya Arhan setelah jeda beberapa saat. “Kamu pernah jatuh cinta enggak? Naksir seseorang?” 

Livia mengangkat wajah, memandangnya aneh. 

“Ya pernahlah.”

“Kapan?” 

“Dulu, waktu aku kuliah.” Ingatan Livia melayang pada seorang lelaki yang sering tersenyum, memamerkan deretan gigi kecil berbaris rapi. 

“Lalu?” 

Livia mengenyahkan bayangan itu. “Apanya yang lalu?”

“Kenapa putus?” 

Livia tercenung lagi. Lalu cepat-cepat tersadar. “Kamu ini kayak interview pekerjaan saja deh,” balas Livia sekalian meledek. Membuat lelaki di hadapannya terkekeh. 

Untunglah pesanan mereka datang. Mata Livia berbinar memandang es krim pesanannya. Tiga scopp besar es krim rasa vanilla, green tea dan rasberry dalam mangkok persegi. Tiga varian es krim itu hampir tertutupi oleh aneka macam topping yang menyesaki wadah es krim tersebut. Marsmallow, gummi jelly, potongan stroberi, oreo, waffle juga manisan kulit jeruk citrus aneka warna. Belum lagi saos cokelat yang melumeri topping-topping, Juga butterfinger. Livia menyendok es krimnya. Merasakan sensasi dingin es krim di lidah. Menekuri rasanya.   

Topping yang terlalu banyak itu justru membuat rasa es krimnya menjadi bias. Mungkin lain kali ia harus mencoba es krim lainnya. Tentu saja yang minim topping. 

“Eh, kapan-kapan kita ke pantai yu,” usul Arhan tiba-tiba.

“Ngapain?”

“Ya, lihat lautlah, Livia. Memang apalagi yang bisa kita lakukan di pantai?” Livia bertopang dagu sambil memainkan lelehan es krim. 

“Kapan?”
***