Lelaki itu sampai menurunkan kaca jendela taksinya, menatap kepergian sepasang sepatu kuning terang hingga hilang di belokan. Bukan karena pemilik sepatu itu lupa membayar ongkos taksinya. Entahlah, dimana ia pernah melihat sosok itu. Di Taman Lawang kah?

Sepasang sepatu dengan kaos kaki oranye bergambar Tweety itu menyusuri toko-toko yang berada di dalam Mal. Pemiliknya menutupi wajah dengan tas slempang kecilnya yang bertali rantai, menahan malu. Berharap tidak ada yang mengenalinya di sini. 

Ia melihat seorang lelaki yang berada di sebuah restoran, sedang menunggu seseorang. Lelaki yang duduk di meja paling pojok itu sedang mendengarkan lagu sambil memainkan ponsel. Sesekali menyandarkan bahu pada tembok batu andesit di belakangnya, lalu menyesap minumannya. Si pemilik sepatu kuning berkaos kaki Tweety menurunkan tas, lalu mengulum senyum. Mendekati sosok yang tengah duduk sendirian itu. 

Arhan terbatuk melihat gadis yang datang menghampiri. Mengusap jus jeruk yang menetes di dagu. Ia memandang sekeliling. Berharap gadis itu tidak duduk di meja seberang hingga mengganggu pandangannya. Dan gadis itu memang tidak duduk di seberang meja Arhan. Ia berjalan melewati meja itu lalu berdiri di hadapannya. 

Arhan menelan ludah. Menarik earphone yang menyumbat telinga. Sepertinya, terlalu sering mendengarkan musik lewat earphone bisa merusak penglihatan. 

“Hai! Sori ya, kelamaan.” Livia menyapa sambil tertawa riang. Beberapa orang menoleh ke arah mereka. Tersenyum-senyum, lalu berbisik pada temannya sambil melirik atau memberi kode. 

Arhan memandang dandanan sang gadis dari atas sampai bawah. Kaos feminim warna putih dengan tanda seru besar di bagian depan dan tanda tanya besar di bagian punggung.  dipadu dengan rok tutu selutut warna toska. Jepitan rambut warna ungu berbentuk hati, seukuran telapak tangan orang dewasa, menghiasi rambutnya. Sementara bedak di wajahnya sudah luntur di beberapa tempat. Eyeliner di mata kirinya memang terlukis sempurna. Tapi di mata kanan meleber tidak karuan. Meninggalkan titik-titik hitam di sekitar mata. Sementara bulu mata palsu yang kepanjangan menggelayuti kelopaknya yang berwarna keunguan. Lipstik warna maroon melebihi garis bibir. Blush on pink di pipi kiri dan kanannya pun terlihat tidak sama tebal. 

Luar biasa! Gadis itu bahkan lebih meriah dari karnaval! 

Ia duduk di sebelah Arhan, terlalu dekat sampai lelaki itu menggeser duduknya hingga mentok ke tembok. 

“Lama nunggunya?” bertanya sok mesra. Sengaja memamerkan giginya yang belepotan lipstik. Lelaki dengan kalung earphone di leher itu tersenyum kaku. Memandang berkeliling. 

“Gigi kamu ada lipstiknya, tuh!” Arhan berusaha menutupi wajah dari orang-orang.

“Hah? Mana?” Livia meraih selembar tisu di meja, lalu menggosok-gosok giginya. “Masih adakah?”

Arhan menggeleng sambil tertawa aneh ketika gadis itu menunjukkan giginya. Masih sibuk menutupi wajah. 

“Oh ya! Kamu sudah pesan makanan? Bang! Bang! Sini dong, Bang!”

Arhan tersedak menahan tawa. Orang aneh mana yang memanggil waiter di resto dengan panggilan Abang? Dikira sedang manggil abang bakso?

“Mi ayam madunya enak lho di sini. Iya kan, Bang?” Livia meminta persetujuan. Lelaki dengan celemek yang melingkari pinggang itu hanya tersenyum mahfum. Menatap Arhan penuh empati. 

“Hari ini ngga kerja?” Arhan berbasa-basi setelah waiter itu pergi. Beberapa remaja tanggung yang baru tiba duduk tidak jauh dari meja mereka. Bercerita penuh keseruan. Lalu seorang dari mereka melihat pasangan aneh yang duduk berdempetan menempel tembok. Ia menyikut teman di sebelahnya, teman di sebelahnya gantian menyenggol teman di sebelahnya lagi. Terus hingga ke ujung. Mereka saling sikut-sikutan tanpa kata. Hanya saling melempar pandang dan mesem-mesem penuh arti. 

“Iyaaa." Livia mengangguk kuat-kuat. Membuat jepit rambut lebarnya ikut bergoyang. 

"Kamu bilang kan ingin sekali nonton sama aku. Makanya aku sengaja cuti," jawab Livia sambil tersenyum lebar. Memperlihatkan gigi gingsulnya. Ia sengaja menggeser duduknya lebih dekat lagi. Arhan terbatuk-batuk kecil ketika mencium wangi aneh yang berasal dari gadis di sampingnya. Terasa ada bau aneh yang nyangkut di tenggorokan. Livia tertawa riang dalam hati melihat gelagat di sebelah. Tadi dia sudah menyemprotkan lima macam minyak wangi yang kemarin ia beli dari minimarket. Dua jenis parfum cewek, dua jenis parfum lelaki, dan satu parfum dengan wangi aneh. Belum ditambah bau keringatnya sendiri. Pasti bikin pusing.

Livia memperhatikan sekeliling. Restoran dengan penerangan cahaya lembut yang mereka kunjungi itu tidak terlalu ramai karena sudah lewat jam makan siang. Cahaya lembut itu berasal dari lampu gantung yang berada di atas meja mereka. Sementara dinding di sebelah mereka dihiasi dengan lukisan mural logo restoran. Beberapa waiter hilir mudik melewati meja mereka. Entah memang sedang sibuk atau sekedar penasaran pada makhluk aneh yang nyasar. 

Akhirnya ada juga waiter yang datang membawa pesanan mereka. Ia meletakkan dua buah mangkok berisi mie sambil terus memperhatikan Livia. Lalu pandangannya beralih pada Arhan. Waiter kurus berambut ikal itu menggigit bibir. Berusaha keras menahan tawa. Mata bundarnya beralih lagi pada Livia. Lalu segera berlalu sebelum tawanya benar-benar meledak. Ia bahkan lupa memberi ucapan selamat menikmati pada pasangan aneh tersebut.    

Begitu waiter pergi, Livia langsung meraih sumpit bambu.  Menambahkan saos cabe dan mengaduknya hingga rata, lalu menyeruput kuah kentalnya hingga berbunyi.

“Betul kan mie ayamnya enak. Aku sudah langganan lama di sini.” Ia berkata dengan mulut penuh makanan. 

Arhan mulai menyadari kalau gadis itu sedang mengerjainya. Ia tersenyum sambil meraih sumpit bambu. 

“Mari kita makaaan!” teriak Arhan dengan ceria, lalu melahap mi ayamnya dengan rakus hingga berbunyi juga. Sesekali ia bertahak, lalu membersihkan hidungnya dengan tisu. Livia jadi tidak berselera melanjutkan makannya. Perlahan ia menggeser duduk, menjauh. 

Setelah makan mereka pergi ke bioskop. Livia memilih sebuah film barat yang ia kira adalah film action. Poster film itu menunjukkan dua orang koboi meksiko berdiri berhadapan sambil memegang senjata. Haaa... Biar pekak sekalian kuping orang itu, mendengar bunyi rentetan tembakan di dalam sana.

Tapi ternyata Livia salah. Di dalam bioskop yang gelap itu, berkali-kali ia menutup mulut menahan mual.  Ternyata film koboi yang mereka tonton adalah sebuah film thriller. Sepertinya Livia mengabaikan topeng seram yang menjadi latar poster film tersebut. 

Ketika adegan si korban yang merintih dengan usus yang terburai karena kerjaan si psikopat sadis, Livia menarik Arhan keluar dari bioskop. Meninggalkan lelaki itu begitu saja di luar bioskop, lalu berlari masuk ke toilet wanita, memuntahkan isi perutnya. Arhan menunggu Livia sambil bersandar pada tembok, di sebelah counter popcorn. Sesekali bermain mata dengan para gadis yang berjalan melewatinya.

Ia segera menegakkan tubuh begitu melihat Livia keluar dari toilet. Berjalan mendekati gadis yang kini tampak begitu lesu. 

“Kamu enggak apa-apa?” 

Perempuan yang pucat pasi itu menggeleng lemah, bahunya luruh. Ia terduduk lemas di bangku tunggu bioskop dekat studio empat, tempat mereka nonton tadi. Arhan tersenyum, memperhatikan sebuah iklan film yang dibintangi Nicole Kidman, yang terpampang di tembok. Tepat di atas kepala Livia.

Arhan berjongkok di depan gadis yang make up anehnya telah luntur terbasuh air itu, menatapnya pura-pura khawatir. Dan ia tertegun melihat setitik air mata di sudut matanya. Tapi ia masih sempat berpikir, tanpa bulu mata palsu, milik asli Livia sudah cukup panjang. Dan lentik. Dan lebat. Dan cantik. Dan...

“Kamu baik-baik saja?” Livia urung ketika hendak mengatakan sesuatu. Seperti ada yang mau keluar lagi dari perutnya.

"Kamu pucat." 

“Kita pulang saja, ya?” pintanya dengan suara melindap.

“Ada apa dengan film tadi?”

“Jangan dibahas, nanti aku bisa muntah lagi.” Lelaki berjaket merah itu menahan senyum. Ia membantu Livia bangun. Memeluk bahu gadis itu  meninggalkan bioskop. Livia hanya bisa pasrah. Lututnya masih terasa lemas.
***

Dari belakang kemudi, Arhan tidak dapat berhenti menahan senyum. Niatnya mau ngerjain orang, malah dia yang kena batunya. Rasakan! Hatinya bersorak senang. 

Sementara gadis di sebelahnya hanya terdiam sambil memandangi jalan lewat jendela di sampingnya sambil menggigiti kuku. Ingatannya melayang pada beberapa tahun silam. 

Waktu itu ia masih berumur delapan tahun ketika sang ayah khusus mengajaknya bermain ke taman hiburan. Mereka pulang kemalaman. Dan di terminal yang sepi itu, ayahnya ditodong oleh jagoan terminal yang sedang mabuk.

Mereka sempat beradu mulut. Ayahnya menolak memberikan uang.  Lalu preman itu menusukkan pisaunya ke dada dan lambung lelaki kebanggaannya. Berkali-kali. Livia termangu syok melihat kejadian itu, dan ketika ia menjerit, penjahat itu panik, lalu kabur. Gadis kecil menangis kebingungan melihat sang ayah meregang nyawa dengan cairan merah pekat yang terus mengucur seperti keran yang keluar dari lubang besar di perutnya. 

Masih bisa dirasakan, hangat tangan ayahnya yang berlumuran darah, menggenggam erat jemari kecilnya hingga di saat penghujung, ketika genggaman itu akhirnya melemah dan terlepas.  

Livia menurunkan tangan ketika menyadari betapa gemetar tangannya sekarang. Ia menyembunyikan jemari di balik tas yang dipangkunya.

Mobil berhenti di depan rumah Livia. Gadis itu beringsut keluar tanpa berkata apa-apa. Arhan membuka jendela mobil dan menyembulkan kepala.  

“Minggu depan kita jalan lagi, ya?” Lelaki itu mengedipkan sebelah mata, tapi Livia tidak bereaksi. Sampai sedan hitam itu menjauh ia masih terdiam di tempatnya tanpa ekspresi.
***