Image by Pinterest

Oleh : Patrianur

Oom Toni bekerja di sebuah toko kue. Suatu hari ia berkunjung ke rumah Nanda. Ia membawa sebuah bungkusan. Setelah Oom Toni pergi, Nanda membuka bungkusan itu. Setengah lusin donat dalam kotak kecil.
" Satu, dua, tiga, empat, lima, enam." Tita ikut menghitung.
" Ada enam donat, Kak," pekiknya riang. Ada donat dengan taburan keju, kacang almond, cokelat ceres warna-warni. Ada juga donat yang dilapisi selai bluberry bergambar kepala badut. Nanda segera mengambil sebelum didahului adiknya.
"Kakak, aku mau itu juga. Bagi dua ya." Nanda memandang adiknya dan donat itu bergantian. Ia suka sekali dengan donat kepala badut itu. Mulut badutnya tertawa lebar, dengan hidung bulat warna merah yang terbuat dari potongan cherry. Kepala badut itu mengenakan topi yang terbuat dari selai warna-warni.  Rasanya pasti enak. Nanda ingin menghabiskannya sendirian.
"Ini buat kakak. Tita pilih yang lain saja." Nanda berlari ke kamar diikuti sang adik, tapi ia segera mengunci pintu, lalu menyembunyikan donatnya di dalam lemari buku. Ia akan memakan donat kepala badut itu nanti. Setelah pulang sekolah. Sambil minum teh manis hangat dan membaca buku. Pasti menyenangkan sekali.
Tita mulai menangis di luar kamar. Nanda sebenarnya kasihan, tapi ia tidak mau berbagi dengan sang adik. Biar saja donat yang lainnya buat Tita, asal donat dengan selai bluberry bergambar kepala badut itu untuknya.
Di sekolah, Nanda tidak bisa melupakan donat kepala badut. Ia ingin pelajaran cepat selesai. Nanda membayangkan lumeran selai bluberry berwarna ungu. Rasanya pasti manis sekali. Apalagi jika ada selai cokelat juga dalam donatnya. Ia akan memakannya pelan-pelan, supaya mulut lebar sang badut tidak rusak.
Ibu guru menegur Nanda yang terus melamun.
Akhirnya pelajaran selesai juga. Nanda bergegas pulang ke rumah.
Tapi begitu membuka lemari buku, Nanda terkejut. Donatnya sudah dirubung semut. Beberapa ekor semut  nakal naik ke atas donat. Menjilati gambar kepala badutnya.
Nanda membawa donatnya keluar kamar. Ia menaruhnya di atas meja dapur. Memandang sedih donat yang sudah tidak bisa dimakan. Tita menghampiri, ikut memandangi semut yang hilir mudik di atas donat sang kakak. Nanda memandangi adiknya yang sedang mengunyah donat ceres warna-warni. Ia menelan ludah. Seandainya saja tadi ia langsung menghabiskan donatnya ...
"Makan punya Tita saja, Kak," usul sang adik. Nanda terdiam. Tanpa menunggu jawaban, Tita membelah donat ceresnya, lalu membaginya pada sang kakak.
"Terima kasih, Tita." Nanda menerima donatnya dengan malu-malu. Padahal tadi ia sudah bersikap pelit, tapi sekarang sang adik malah membagi donatnya.
Ibu yang baru pulang dari warung melihat kedua anak perempuannya tengah menatap donat di atas meja.
"Kalian sedang apa?"
"Donat kakak dirubung semut, Bu." Ibu ikut memperhatikan donat kepala badut di atas meja.
"Oh, tidak apa-apa. Masih bisa dimakan kok." Ibu membersihkan donatnya lalu memasukkan ke dalam kulkas. Tidak lama kemudian, ibu mengeluarkan donat itu kembali. Sudah tidak ada seekor semut pun yang mengelilingi donat itu. Nanda dan Tita berseru senang.
Nanda segera mengambil donatnya. Kali ini ia harus segera menghabiskan sebelum semut-semut datang lagi. Ia membuka mulut, hendak memakan donat bergambar kepala badut, tapi diurungkannya. Nanda membelah donatnya. Gambar kepala badut jadi terbelah dua. Ia memberikan separo donatnya untuk sang adik. Mata Tita berbinar menerima donat itu.
"Terima kasih, Kak!" seru Tita riang. Nanda tersenyum lalu menghabiskan donatnya. Tita mengikuti sang kakak. Mulutnya sampai belepotan selai cokelat. Membentuk sebuah kumis. Nanda tertawa melihatnya. Ia menjilati selai bluberry di jari tangan. Rasanya manis. Donatnya memang enak,  apalagi jika berbagi dengan saudara.  
***