Saya sering melihat seorang wanita bertubuh seksi, berbaju indah, make up sempurna,  dan komentar saya hanya sampai pada kata: Cantik. Titik. Namun tidak jarang juga saya menemukan seorang perempuan dengan tampilan apa adanya yang membuat mata saya kembali, kembali, dan kembali untuk menatapnya. 
Menurut saya cantik tidak berarti memesona, tapi justru dari pesona yang terpancar yang akan membuat diri kita terlihat cantik. 
Kita tidak harus mendatangi seorang motivator andal untuk menciptakan sebuah pesona, karena ia akan memancar dengan sendirinya, lewat sikap terbaik kita.

1. Berbakti kepada orang tua
Jika saya mendapatkan rezeki, saya suka mengajak orang tua makan di luar, meskipun bukan di restoran mahal. Raut wajah mereka membuat perasaan saya lebih bahagia. Membuat saya ingin memberi mereka lebih banyak lagi.  Karena saya tahu, ridho yang orang tua berikan akan membuat segala jalan yang saya tempuh menjadi lebih mudah.
Perlakuanmu terhadap ayah dan ibu merupakan cermin sikapmu terhadap orang lain di luar sana. Para orang tua tidak mengharapkan anaknya untuk memberi mereka uang yang banyak sebagai balas jasa, tapi ingatlah mereka di saat senang. Jangan datang hanya di saat sedang butuh atau susah saja.

2. Mencintai diri sendiri
Menjaga kesehatan jiwa dan raga merupakan salah satu bentuk mencintai diri sendiri. Saya bukan seseorang yang senang menghabiskan waktu berlama-lama di sebuah salon. Kondisi keuangan pun tidak memungkinkan melakukannya setiap bulan. Tapi saya selalu berusaha merawat kebersihan tubuh. Mandi dua kali sehari dan luluran secara rutin untuk menghilangkan daki. Juga jangan lupa, gosok gigi sebelum tidur. Karena kuman dalam mulut justru beraksi di malam hari saat kita tidur. Gigi yang bolong merupakan salah satu penyebab bau mulut.  Saya selalu menggunakan body spray dengan wangi yang lembut dan tidak menyengat. Semua orang akan betah berada di dekat seseorang yang harum.  
Sebelum tidur saya melakukan sedikit olah raga. Sekedar streching agar otot tidak terlalu kaku. Saya juga melakukan sit up. Memang hasilnya tidak langsung terlihat, tapi kegiatan ini terbukti mengecilkan perut, asal dilakukan secara rutin. 

3. Ibadah untuk menjaga kesehatan jiwa
Sebagai seorang muslimah, saya selalu mengusahakan mengaji setiap selesai sholat. Tidak sampai satu juz sehari sih. Minimal satu halaman setiap selesai sholat. Jujur saja, awalnya memang terasa berat, tapi pada akhirnya ini menjadi sebuah kebiasaan yang baik. 
Orang-orang yang rajin membaca kitab suci, akan lebih pandai dalam menjaga lisannya. Hatinya pun akan menjadi lebih lunak. Tapi tentu saja bukan sekedar membaca ya. Resapi makna yang terkandung di dalamnya. Orang yang dekat kepada Tuhan akan memancarkan aura yang meneduhkan.

4. Peka pada lingkungan sekitar
Dulu saya orang yang tidak terlalu peduli pada kebersihan di tempat umum. Sampai suatu hari saya bertemu seorang remaja berseragam SMU di sebuah halte bus. Saya melihatnya yang baru selesai memakan roti dan memasukkan bungkusnya kembali ke dalam tas. Seketika jadi malu hati sendiri. Saya yang sudah sedewasa ini masih tidak peduli pada lingkungan sekitar. Sejak saat itu, jika tidak menemukan tempat sampah saya selalu menyimpan sementara bekas kemasan makanan dan minuman. Yah, meskipun kadang suka lupa hingga terbawa sampai ke rumah,  tapi setidaknya saya sudah memberikan kontribusi untuk menjaga kebersihan.

5. Menyebarkan kebahagiaan
Perasaan hati dapat menular pada orang-orang di sekitar kita. Orang yang perasaan hatinya selalu muram akan membuat semua yang berada di dekatnya ikut merasakan kesuraman. Sementara seseorang yang periang dapat membuat suasana menjadi penuh semangat. 
Setiap manusia tentu memiliki ujiannya masing-masing, termasuk saya.  Tapi bukan berarti ia dapat membelenggu dan mengacaukan hari-hari saya. Masalah adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan dipikirkan hingga menjadi endapan suram di kepala. 
Saya tidak mau membawa-bawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan. Maka yang saya lakukan sebelum melangkahkan kaki ke kantor adalah menarik napas dalam-dalam dan tersenyum pada orang yang pertama kali saya temui di sana. Reaksi yang diberikan selalu membuat perasaan saya menjadi lebih baik. 

6. Ringan tangan
Banyak pedagang asongan ataupun pengamen yang hilir mudik dalam kendaraan umum yang saya tumpangi. Karena itu saya selalu menyediakan uang kecil di dalam tas. Tidak ada salahnya bukan membeli dari pedagang asongan? Barang yang mereka tawarkan mungkin tidak sebagus di toko, tapi mereka hanya mengambil untung kecil dari apa yang ditawarkan.  Jika memang tidak menyukai barang yang mereka jual, saya bisa menyimpannya untuk diberikan lagi kepada orang lain. 
Seorang bapak pernah menegur ketika saya memberikan uang pada pengamen remaja dengan dandanan hitam-hitam dan banyak tindikan. Menurutnya, uang yang mereka dapatkan biasanya digunakan untuk membeli narkoba dan mabuk-mabukan. Tapi bagi saya, perkara akan digunakan untuk apa uang yang saya berikan, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan. Tugas saya hanya berbuat baik terhadap sesama.  
Jangan segan untuk menolong orang asing yang kita temui di jalan (meskipun tetap harus berhati-hati terhadap orang yang baru kita temui). Mungkin mereka tidak dapat membalas kebaikanmu, tapi akan ada orang lain yang membalasnya. Kebaikan adalah sebuah siklus yang akan selalu berputar. Dan apa yang kita berikan akan kembali lagi pada diri kita.

Memang sulit untuk menjadi pribadi yang menyenangkan, sehingga bisa memancarkan pesonanya. Tapi dengan sering berlatih, itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Siapapun dapat menjadi pribadi yang memesona.