Judul Buku : Tia
Penulis : Kembang Manggis
Ilustrasi Cover : Kembang Manggis
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : November 2002
280hlm

Don't jugde book by the cover. Sampul novel ini memang kesannya ngga banget, tapi begitu mulai di halaman pertama, kamu ngga akan berhenti baca hingga habis, lalu mengulangnya dari awal kembali. 
Cerita Tia pernah diterbitkan secara bersambung di Majalah Hai di tahun 1985,untuk kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku. Jadul banget yaa, hahahaa. Tapi gaya bahasanya yang unik membuatnya tetap menarik dibaca hingga saat ini, hohohoo.  
Tia menceritakan tentang seorang remaja kelas tiga SMA dalam perjalanannya dalam mengejar kedewasaan dan pencarian akan jati dirinya, juga cinta. Tia yang begitu kekanakan memiliki seorang ibu yang sangat ketat dalam peraturan di rumah, membuatnya merasa sangat terkekang. Tapi kehadiran Arifin, sepupunya, juga Zobra, sang anjing, membuatnya selalu terhibur.
Dari Arifin, Tia mengenal sosok Dion. Seorang lelaki tinggi besar dan tampan yang (mengaku) memiliki penyakit syaraf. 
Bersama dengan Dion, Tia selalu merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Lelaki berwajah simpatik itu bahkan mampu menaklukan hati ibunya yang begitu menjunjung tinggi norma etika dan sopan santun. 
Semua berjalan begitu indah dan romantis, sampai suatu hari Tia menemukan foto seorang gadis di dompet sang kekasih ...
Selain menceritakan tentang perasaan gaib Tia, novel ini juga menceritakan tentang gambaran kehidupan para remaja jadul yang tanpa gadget dan dunia ajib-ajibnya. Kesibukan Tia yang seorang pengurus mading, juga kapten regu voli di sekolahnya mungkin mirip dengan beberapa remaja jadul tempo dulu. 
Klik Ce-Pe-E adalah sekumpulan teman sekelas yang selalu berseberangan dengan Tia. Jika mereka sudah berdebat, maka Fira lah yang akan menjadi penengah, sahabat baik Tia, si calon profesor yang polos dan selalu menyukai setiap orang yang bertemu dengannya. 
Setting dalam novel ini membawa kita pada kota Bogor yang terkenal akan asinannya, juga hewan luwak yang suka berkeliaran setiap malam.  Pohon-pohon kapuk yang tengah berbuah juga menciptakan romantismenya tersendiri.
Dan who is Tintin dan televisi Kalkakolornya? 
Sebagai remaja kekinian yang hidup di zaman sekarang saya agak asing mendengar nama Tintin. Jadi sedikit mengernyitkan alis ketika Tia menangis berbilur air mata ketika komik Tintin kesayangannya rusak dan membuat Arifin mendapat hukuman bisu tuli selama sebulan.
Saya sampai berpikir, sebegitu serunyakah komik Tintin tersebut? Tapi sepertinya novel Tia ini jauh lebih menarik. Hehehee.