Foto by Pinterest
Kau benci terbangun saat malam datang, karena kau tahu, selalu merasa kosong setelahnya. Kesunyian terasa bagai tangan-tangan tak kasat mata yang mencekikmu dalam kehampaan. Seperti yang sekarang terjadi. Telah berulang kali kau berputar-putar di atas ranjang besarmu, hingga seprai satin-sutranya berantakan, sementara matamu menatap nyalang ke seluruh penjuru kamar. 

Kau memutuskan bangkit, lalu turun dari ranjang. Meninggalkan kamar mewahmu. 
Terasa apek dan pengap yang menjadi satu ketika kau membuka sebuah pintu rahasia dengan tangga yang menuju ke bawah. Gaun tidur tipis menerawangmu bergerak ringan seiring langkah kakimu menuruni tangga batu yang dingin dan kaku. 

Kau sampai di anak tangga terakhir, di ujung ruangan. Satu per satu kau buka lemari pendingin besar yang berada di sana. Hawa dingin segera mencengkeram begitu semua pintu itu terbuka. 

Kau melangkah mundur hingga seluruh lemari pendingin itu masuk ke dalam tangkapan netramu. Tembok dingin di belakang seakan menahan agar kau tak dapat melarikan diri.

Kau balas menentang satu persatu mereka yang tengah menatapmu sayu. Terasa nyeri ketika kau merasakan kekosongan yang begitu menyayat. Membuatmu menutupi wajah agar tangan-tangan sialan bernama kesepian itu pergi. 

Perlahan tanganmu bergerak turun. Menyusuri leher, menyapu dada, melewati gundukan payudara, lalu melingkari perut. Kau peluk tubuhmu yang perlahan gemetar. Kau pandangi lemari es besar yang berada di ruangan tersebut. Di sana ada ayah, ibu, dan adik perempuanmu yang sudah mendingin dan kaku. Juga sahabat kecilmu yang seharusnya telah menikah. Juga para kekasih yang memutuskan meninggalkanmu. Juga anjing kecilmu yang hendak kabur. 
Mereka berkumpul bersama untukmu. Tapi entah mengapa tetap saja kau merasa sepi.