Bukan, ini bukan tentang berapa purnama Cinta menunggu Rangga, bukan juga tentang trilogi film Ada Apa Dengan Cinta, apalagi tentang rasa yang pernah ada,

*eeaaaaa

Ini hanya sekelumit kisah emma yang memutuskan untuk
mengambil program diploma tiga, atau disingkat D3.

Tapi kok gambar pembukanya emma sendiri? Bukan gambar yang mengandung unsur D3?

Ya gak papa, itu ekspresinya kan kayak orang bertanya-tanya, mirip sama judul postingan yang mengandung unsur pertanyaan. Iya kan? Iyain aja biar cepet.

**

“Kok ambil D3 sih?”

“Kenapa nggak ambil S1 sekalian?”

”Nanggung amat ambil D3.”

”Sayang loh ambil D3, selisih setahun doang sama S1.”

Kurang lebih kalimat-kalimat kayak gitu yang aku denger tiap kali ada yang nanya kuliah ambil jurusan apa dan aku jawab, “D3 Manajemen.” Mulai dari yang bernada heran, sinis, menghakimi, mengasihani dan lain sebagainya. Karena bagi mereka program d3 itu nanggung atau ngganjel kalau kata orang Jawa.

Kayak, dosa banget gitu kalo ambil d3.

Nah, kalo udah dapet rentetan pertanyaan kayak gitu biasanya aku cuma jawab,

“Ya karena pengen aja.” Sambil senyum manis dan melanjutkan, “mau apa lo? Mau bayarin kuliah?” eh, nggak ding wkwkwkwk


D3 dipandang sebelah mata?

Eh, tapi ya nggak sebelah mata juga ding, kecuali yang liat emang bajak laut yang sebelah matanya ditutup macam flying Dutchman. *krik krik krik*

Duh, ketauan tontonannya spongebob.

Bukan gimana-gimana, mungkin karena selisih antara D3 dan S1 itu cuman 1 tahun, apalagi ada beberapa orang yang mampu nyelesein S1 dalam waktu 3,5 tahun ajah jadi selisihnya cuman setengah tahun. Jadilah sebagian orang berpikir kalau D3 itu ngganjel alias nanggung dan bikin geregetan.

“Kenapa nggak sekalian aja gitu lho? Astaga dragoooonnnn…” mungkin seperti itu pemikiran orang, ini mah kira-kira aja. Apabila ada perbedaan pemikiran, hal itu adalah sesuatu yang tidak disengaja. Karena semua ini hanyalah karangan fiktif belaka.

Yang perlu diketahui adalah bahwa fokus pembelajaran D3 dan S1 itu berbeda. Jenjang S1, pembelajarannya bersifat luas dan lebih teoritis daripada D3. Sementara D3 lebih fokus pada keterampilan-keterampilan tertentu.

Beberapa pendapat lain juga mengatakan bahwa lulusan S1 lebih dihargai dan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada lulusan D3. Pada kenyataan di lapangan, semua itu kembali kepada kemampuan dan ketrampilan kita masing-masing, jadi baik D3 maupun S1 sama-sama dihargai dan mempunyai kesempatan mendapatkan pekerjaan yang sama dengan kualifikasi masing-masing.

Ya memang sih, nggak menutup mata, di lowongan pekerjaan hampir selalu  ada syarat minimal pendidikan, tapi untuk seterusnya nggak melulu itu aja gaes, melainkan juga diperlukan soft skill dan hard skill yang juga mumpuni (gilak, bahasa gue yalord)

Jadi, ada baiknya untuk kita tidak memandang sesuatu dengan sebelah mata. Karena percayalah, itu pegel gaes. Alangkah lebih berfaedahnya kita melihat dengan kedua mata kita, melihat dari sudut pandang yang berbeda, karena mungkin kita akan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat.

Misalnya adalah, apa alasan orang tersebut mengambil program D3?

Nah, situ tahu nggak alasannya apa? Kalau nggak tahu, jangan asal nyinyir.

Ini napa jadi gue yang nyinyir ya? Hahaha


Alasan Teman Satu Kelas yang (pastinya) juga Memilih Program D3

Oke, biar kalian bisa lebih membuka wawasan yang biasa aja ini, jadilah emma melakukan wawancara singkat (lewat grup kelas D3 di whatsapp) tapi ini lebih kayak nanya aja sih bukan wawancara, yang memepertanyakan alasan di balik kenapa teman-teman tercintakuh memilih D3.

Sayangnya nggak banyak yang jawab.

Tapi emma bukan emma namanya kalau langsung menyerah, jadilah emma japri mereka hehehe. Dan berikut adalah jawaban dari beberapa teman, baik lewat grup whatsapp maupun lewat japri, silakan disimak baik-baik karena tidak ada siaran ulang. Lu kata ini listening section bahasa inggris ma?

Karena butuh teknik dulu, kalau untuk teori dan hal-hal cakap bisa berlanjut setelah teknik dikuasai. –Yusuf, 21 tahun.

Kalau aku karena batas umur, mengejar umur sebelum 25 tahun untuk mencari jenjang karir, karena D3 jadi pas 3 tahun, nanti baru lanjut S1. –Karina, 22 tahun.

Karena S1 nya ingin di universitas lain. –Lucy, 21 tahun.

Biar cepet lulus Em, hahaha. –Renauld, 21 tahun.

Soalnya jurusan yang aku mau yaitu S1 komunikasi, kuotanya udah abis. –Bagas, 25 tahun.


Nah, jadi setiap orang pasti punya alasan masing-masing ketika memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan. Ada yang menggunakan program D3 sebagai batu loncatan untuk jenjang karir atau pendidikan yang lebih tinggi, ada juga yang memilih D3 karena mengutamakan teknik, dan ada juga yang memilih D3 karena jurusan yang diinginkan telah memenuhi batas kuota. Semua pernyataan di atas tentunya sah-sah saja, karena di balik sebuah keputusan yang diambil, pasti ada alasan yang mendasarinya

Itu kan alasan temen-temen tercinta emma, kalau alasan emma sendiri apa dong?

Apa yaw?

Kasih tau gak ya?

*lalu emma diserbu massa*


Alasan Emma Memilih Program D3

 Hmmm... *tarik nafas*

Lalu lepaskan *fyuuuhhh*

Entah kenapa rasanya agak deg-degan mau mengungkapkan alasan sebenarnya emma memilih D3, rasanya tuh beda, kayak ada asem manisnya gitu.

Setelah ditimbang dan dipikir secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, emma memutuskan untuk tidak, saya ulangi sekali lagi, TIDAK akan mengungkapkannya sekarang.

pembaca dimohon tenang, mohon bersabar, ini bukan ujian

Hehe, maapin yak. Peace...

Begini gaes, yang pasti bukan tanpa alasan emma memilih jurusan ini. Tentunya ada alasan khusus dan juga beberapa pertimbangan. Bukan yang tiba-tiba, "Kuliah ah, ambil D3." terus udah tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Hanya saja, mungkin emma belum bisa share sekarang, mungkin next time :)

Namun, seiring berjalannya waktu, bagi emma kuliah bukan hanya sekedar untuk mencapai sebuah tujuan atau batu loncatan. Mendapatkan pembelajaran dari dosen dan berbagi pengalaman dengan teman membuat emma semakin paham, bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi juga sebuah investasi bagi kita sendiri di masa depan. Jadi, nggak masalah kita mau memilih D3 atau S1. It's your own choice.

Sebagai bonus, emma kasih gambar-gambar unfaedah yang diambil dari grup D3 Manajemen Perusahaan.

ketika penerimaan mahasiswa baru, masih pada jaim, posenya dimanis-manisin biar kayak anak baik-baik. padahal aslinya mah... baik juga sih, cuma ya gitu

keabsurdan dimulai

hmmm... entahlah

kalau ada yang presentasi, penonton akan menjadi paparazzi dadakan, dan tidak ada yang tahu bagaimana hasil akhir foto tersebut sampai akhirnya dishare di grup

pernah jadi korban paparazzi jugak

foto gagal yang akhirnya jadi bahan tebak-tebakan, siapakah mereka?

berhubung kelas ini kelas sore dan sebagian besar adalah karyawan, jadi ya ada beberapa teman yang kadang ikut  ujian susulan

ketika tiba-tiba jadwal kosong, jadilah bukber dadakan, walau personil nggak lengkap

**
Behind the scene

Well, sebenernya ini sih pengembangan dari salah satu tugas UTS bahasa Indonesia beberapa bulan lalu. Waktu itu ditawarin sama dosen, mau UTSnya tes kayak biasa atau dikasih tugas dengan waktu satu minggu. Dan tentu saja kalian bisa menebak apa pilihan mayoritas dari kami.

Hahaha, tepat sekali. Sebagian besar dari kami memilih tugas UTS dengan waktu satu minggu.

Tapi nih, nggak peduli berapa lama batas waktu yang dikasih sama dosen, ngerjainnya tetep, H-1 dong sist. Iya apa iya? Hayo, ngaku  aja deh lau lau pada. Muehehhehe

Jadi, dosen kasih tugas buat bikin artikel gitu, dikasih pilihan beberapa tema artikel. Selama beberapa hari itu aku bener-bener blank nggak tahu mau bikin artikel apaan, sampai akhirnya tiba-tiba (serius ini tiba-tiba banget) tercetus ide yang (menurut emma) luar bisa cemerlang dan brilian ini *halah

Ada apa dengan D3?

Dan muncullah narasi pengantar super kece yang udah kalian baca di paragraf pertama itu. Gilak, cerdas banget gak sih gue?

Saking tiba-tibanya ide itu mucul, dan laptop nggak dalam kondisi standby, aku asal nyomot kertas sama pulpen buat bikin draft a.k.a coret-coretan.

Isi artikel ini sebenernya bukan tanpa dasar atau yang tiba-tiba muncul, tapi mungkin baru muncul karena keresahan yang ada di alam bawah sadar, dan berhubung waktu itu cuma dibatesin maksimal 3 halaman words, di sinilah akhirnya emma panjang-panjangin postnya.

Begitu.

fyi: kalau di versi tugas UTS sih, sudah ada alasan sebenarnya kenapa emma memilih program D3 u.u


Terima kasih sudah membaca tulisan emma, saran dan kritik yang membangun diterima kok. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi. See you on my next post.