CERPEN

Ini adalah malam tahun baru, tapi tak ada bedanya bagi ku. Aku, sejak satu minggu yang lalu sudah putus harapan, sudah putus impian. Sekarang mungkin hanya ada secercah harapan bagi ku untuk melanjutkan hidup, mungkin memang tanpa cita-cita yang dapat memotivasiku. Paling tidak aku masih memiliki pekerjaan, walaupun tak menjanjikan dan jelas tak membanggakan.

Kotak rokok asongan ini masih setia menemaniku melihat hingar bingar jalan raya malam ini. Seluruh orang seakan-akan tumpah ruah di jalanan dan di pusat-pusat keramaian. Satu persatu memegang terompet di tangannya. Riuh gemuruh terompet berbunyi kian kemari.

Ini masih awal dari malam tahun baru. Aku baru saja selesai menunaikan sholat magribku. Tapi jalan sudah begitu ramai. Aku tak tau, kenapa setiap tahun baru dirayakan seperti ini. Tapi aku mendengar orang membuat harapan-harapan untuk tahun baru. Aku tak mengerti, ku rasa hari esok masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Tak ada harapan, tak ada cita-cita karena harapanku sudah pupus satu minggu yang lalu.

Ku sandang kembali kotak rokok ku, ku mulai berjalan menuju keramaian itu. Satu persatu ku teliti wajah-wajah yang bergembira ria berkumpul bersama keluarga, teman-teman, sahabat dan muda-mudi dengan pacarnya merupakan pemandangan yang mendominasi saat ini. Aku tak tau, tapi ku rasa ini malam ku. Mudah-mudahan saja banyak daganganku yang laku. Aku juga bisa bergembira jadinya karena punya tambahan untuk uang saku atau tambahan uang belanja ibu ku.

Kembali ku hela napas. Ingatan ku melayang ke peristiwa satu minggu yang lalu. Ketika harapan itu seperti tak ada lagi bagi ku. Membunuh cita-cita yang sudah terlanjur ku rajut tinggi, untuk mu negeri. Tapi aku masih meragu, sebenarnya apa cita-cita itu. Maklum, aku masih kelas 4 SD yang kurasa masih prematur untuk menghadapi kerasnya hidup ini, bahkan untuk mengartikan sebuah cita-cita itu. Tapi apa daya, aku telah terbiasa. Aku belajar dari alam, dari hidup, dari rintihan, dari hinaan, dari kekerasan dan dari ketidakadilan. Hingga saat seseorang bertanya tentang cita-cita, maka aku akan menjawab dengan dada membusung “aku ingin jadi presiden”. Itulah orang tertinggi dalam sebuah negara, orang yang paling berkuasa. Yang pasti, aku bukanlah satu-satunya orang yang menginginkan kedudukan itu. Lawanku banyak sekali, tapi aku beda. Aku berasal dari orang kecil dan merasakan bagaimana kehidupan orang kecil, sehingga aku pun akan bela kepentingan orang kecil. Aku tak mau lagi terinjak-injak. Seolah-olah takdirku sudah tercatat sangat jelas dan tak kan pernah berubah “orang kecil, akan semakin kecil dan terbelakang namun orang besar akan bertambah besar dan berkuasa”. Masa itu kan berubah saat ku menjadi presiden nanti. Tapi itu tak kan pernah terjadi. Untuk bermimpi saja, aku sudah hilang asa dan harapan. Sudah, lupakan saja cita-cita itu. Cita-cita memang tak pantas bagi ku. Takdirku sudah jelas, akan menjadi orang kecil, semakin kecil dan terabaikan. Syukur-syukur kalau tidak menjadi sampah negara, tapi aku tau orang macam aku dan keluargaku adalah beban negara yang takkan rugi kalau diberantas.

Ku rasa ini bukan seratus persen kesalahan ku. Kalau aku bertanya pada ego ku, maka dengan lantang ia akan menjawab bahwa ini bukan salah ku. Ya…, memang ini sebetulnya bukan salahku. Namun hal ini menjadi salah, saat ku ikuti ego ku. Saat emosi yang tak tepat itu menguasaiku. Kepada siapapun aku bertanya, maka mereka pasti akan menjawab kalau ini murni kesalahanku.

Ketika itu aku tak terima. Guruku melempar kepalaku dengan penghapus papan tulis. Aku tak salah. Temankulah yang menginisiasi percakapan itu. Sebenarnya, aku pun enggan untuk meladeni obrolan ringan itu. Namun dia selalu menggoda dan memancingku. Namun, nasib buruk memang lebih suka dengan ku. Guru ku marah dan malah melemparku. Ya, hanya aku. Temanku tadi yang sangat semangat bercerita denganku, sekarang hanya tertunduk terpaku dan tak terjamah oleh guruku sedikit pun. Aku kesal, mungkin sangat kesal. Tanpa sadar kata-kata kasar keluar dari mulutku. Semua isi kebun binatang kusebut. Aku sudah seperti preman pasar saat itu. Tanpa rasa takut, ku maki-maki guruku. Sebenarnya aku sadar, aku salah. Tapi aku terlanjur kesal karena diperlakukan tidak adil.

Aku tak tau kenapa aku bisa berbuat seperti itu, padahal aku masih duduk di bangku kelas 4 SD, masih bau kencur. Mungkin karena aku adalah anak pasar. Tiap hari aku berkeliling pasar untuk menjual daganganku. Jadi tanpa sengaja dan dibawah alam sadarku aku mengadopsi bagaimana tingkat laku dan tutur kata orang pasar, tepatnya preman pasar. Hari itu juga, kepala sekolah langsung memberiku surat untuk memanggil orang tua ku ke sekolah. Saat sepucuk surat itu sudah berada ditanganku, kesadaranku seakan-akan masih melayang. Emosiku masih dalam batas yang tinggi, hingga otakku belum mampu mencerna apa masalah yang akan ku dapatkan kini. Dan beberapa saat setelah itu, aku baru tersadar kalau ini bukanlah masalah kecil.
Sepanjang jalan, kutendangi semua benda yang dapat kutendang. Mulai dari kerikil sampai gerobak dagangan orang. Umpatan pemilik gerobak hanya seperti angin lalu di telingaku. Pikiranku masih belum sepenuhnya di tubuhku. Didepan rumah, aku berdiri terpaku. Kakiku agak gemetar saat membayangkan raut wajah ayah. Aku sangat takut pada ayah. Ayahku adalah sosok pria yang disiplin dan keras kepala. Sepertinya aku merasakan sedikit sifat-sifatnya itu mengalir didarahku. Akhirnya ku putuskan untuk memberitahu ibuku saja. Tanpa banyak tanya, ibu membaca surat yang ku acungkan padanya. Aku hanya menunduk, tak sanggup untuk menatap wajah ibu.

Ibuku datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah. Kepala sekolah menceritakan masalahku, walau menurutku ada hal-hal yang ditambah dan dikurangi. Ibuku minta maaf dengan muka yang sangat memelas dan rasa bersalah yang sangat. Aku tidak suka melihat pemandangan itu. Toh, bukan ibuku yang salah. Itu adalah kesalahanku, tapi sebenarnya aku belum dapat menerima kalau itu kesalahanku. Akhirnya ku putuskan bahwa aku tidak akan sekolah lagi. Aku tidak butuh sekolah ini. Aku diperlakukan tidak adil disekolah ini. Ya, sebenarnya ini adalah masalah sepele, namun begitu melebar dan berdampak buruk bagiku. Hmm… entahlah. Itulah keputusanku waktu itu. Entah karena aku begitu emosi atau karena aku terlalu kecil untuk mengambil keputusan. Pada zaman ini, sekolah juga tidak begitu penting bagi orang seperti ku.

Aku selain seorang pelajar juga seorang pedagang asongan. Dengan berdagang aku bisa mengumpulkan uang, baik untuk diriku sendiri ataupun untuk orangtua ku. Dan aku yakin, aku masih bisa hidup dan mengumpulkan banyak uang walau tanpa sekolah. Tapi, rasa sesal itu kadang datang juga menghampiriku. Aku teringat lagi akan cita-cita dan harapanku. Namun kenyataan berkata lain saat ini. Saat ku tersadar, aku masih ditemani kotak asonganku yang setengah kosong.

Hari semakin gelap dan semakin larut. Namun suasana malah semakin ramai, sangat bertolak belakang dengan hari-hari biasanya. Bertambah larut, pengunjung pasar dan jalan raya semakin padat. Ramai. Riuh. Meriah. Jualanku semakin banyak juga yang laku. Aku tak tau sebenarnya apa arti perayaan tahun baru ini. Tahun baru ini hanya ku isi dengan berkeliling pasar, memamerkan senyum ku yang lebar, sekali-sekali meniup terompet yang ku pinjam dari pedagang terompet dan yang pasti menawarkan daganganku kepada pengunjung.

Aku masih mengelilingi pasar. Aku menikmati malam tahun baru ini. Daganganku juga hampir habis. Ku lihat jam dinding yang besar di tengah kota telah menunjukan pukul 11 malam. Aku masih saja berkeliaran di pasar. Katanya, harus menunggu sampai pukul 12 malam nanti, itulah puncak tahun baru. Aku terpaku melihat hiruk pikuknya malam tahun baru. Beginilah tahun baru yang ku kenal. Tahun baru artinya perayaan. Tahun baru artinya terompet. Tahun baru artinya banyak keramaian. Tahun baru artinya ada kembang api. Dan tahun baru artinya daganganku laku.

Tiba-tiba bunyi terompet yang bergemuruh membuyarkan lamunanku. Aku tesentak. Dengan cepat ku lirik kembali jam yang berada di tengah kota. Ya, ini tepat pukul 00.00 tengah malam. Inilah yang dinanti orang-orang itu. Orang-orang yang sejak tadi berkumpul di jalan ini menanti pukul 00.00 dan meniup terompet bersama-sama. Akupun ikut bersorak-sork gembira dengan bertepuk tangan dan meloncat-loncat.

Kemeriahan tahun baru perlahan-lahan surut. Orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing. Sepertinya mataku sudah sangat berat. Aku melangkah pulang dengan membawa hasil yang menggembirakan. Tahun baru memang membawa berkah bagiku. Andai saja setiap malam seperti tahun baru. Mungkin aku akan cepat kaya, walau hanya mengumpulkan recehan-recehan lusuh.

Sesampainya di rumah aku melihat kembali kotak rokokku. Ada satu sisa rokok yang tak terjual. Sebenarnya memang mustahil untuk di jual, karena rokok itu patah. Mana ada orang yang mau beli rokok patah. Dari pada di buang, sayang. Lebih baik aku hisap. Aku belum pernah merokok. Ibuku juga melarangku merokok. Tapi melihat antusias orang-orang yang membeli rokokku setiap hari, sepertinya rokok itu nikmat. Kebetulan sekali ini rokok patah. Ku balut rokok patah ini dengan kertas timah. Ku buat rokok itu seolah-olah utuh kembali. Ketika aku hendak meletakkan rokok itu di mulutku, tiba-tiba ada seseorang yang memukul tanganku, sehingga rokok itu terjatuh dari tanganku.

Ternyata dia ibuku. Ibu marah sekali karena melihat ku merokok. Ya, aku sadar aku masih kecil tapi aku hanya memanfaatkan rokok yang sudah tidak terpakai lagi. Ini pun juga hanya satu batang dan tak kan ku ulangi lagi, hanya malam ini. Aku sudah menjelaskannya pada ibuku. Tapi ibuku marah besar. Aku tak pernah melihat ibuku semarah itu. Dia memarahiku habis-habisan. Lebih parah dari marah ayahku kepadaku. Kakiku gemetar. Aku takut, benar-benar takut. Aku belum pernah setakut ini dengan ibuku. Ibuku beda malam itu. Tidak seperti ibuku. Aku menunduk lesu. Aku tak berani mengangkat kepalaku. Entah jam berapa hari sekarang. Ku kira sudah jam 2 atau jam 3. Tapi aku tak bisa mengerakkan kepalaku. Aku kaku. Aku benar-benar merasa bersalah malam itu. Dan didalam hati aku berjanji, aku tidak akan merokok lagi. Sampai kapanpun.

Tahun-tahun pun berlalu dengan cepat, namun kadang juga terasa lambat. Tak banyak yang berubah dariku. Hanya saja sekarang aku sudah berkeluarga, punya 3 orang anak perempuan dan sebuah toko. Ya, toko milik ku sendiri. Toko di bawah tangga, walau tak seberapa namun itu sudah cukup bagiku dan menghidupi keluargaku. Aku kembali ingat tentang masa kecilku. Aku tak ingin, masa-masa seperti itu dialami oleh anakku. Aku berusaha keras untuk kebahagiaan anak-anakku dan keluargaku. Aku rela tak makan demi anakku. Aku rela berhutang sana-sini demi keberlangsungan pendidikan anakku.

Alhamdulillah, doa-doaku selama bertahun-tahun ini dapat terkabul. Anakku yang pertama selalu mendapat peringkat 1 disekolahnya dan menjadi juara umum. Ikut serta dalam lomba-lomba antar sekolah, antar kota sampai antar propinsi dan nasional. Begitu juga dengan anak ke 2 dan ke 3 ku. Aku bahagia, sangat bahagia. Apalagi setelah anak tertuaku mendapatkan undangan PMDK Fakultas Kedokteran dari salah satu Universitas ternama di pulau Sumatera. Begitu juga dengan anak kedua ku yang mendapatkan undangan PMDK Fakultas Ekonomi dari salah satu Universitas ternama  di pulau Jawa dan sekarang anak ketigaku sedang duduk di kelas III SMA dan siap untuk mengukir mimpi masa depannya.

Aku selalu berdoa dalam setiap sujud-sujud panjangku, agar Allah selalu memberikan yang terbaik untuk anakku. Selama perjalanan hidupku, bayak sekali nikmat-nikmat yang di berikan Allah kepadaku yang takkan mungkin bisa ku hitung. Sekarang, masih ada 1 harapanku. Aku ingin sekali naik haji dan umbroh. Suatu saat nanti, aku harap Allah mengizinkan kami sekeluarga untuk naik haji bersama. Amien…

Akhirnya, ku bisa tunjukan sumbangsih ku pada negeriku. Walau itu bukan aku, walau itu generasi penerusku. Tapi aku bersyukur karena aku bisa buktikan bahwa ku bisa gagalkan kematian impianku. Untuk bangsaku yang butuh tangan-tangan baru dengan hati yang bersih tanpa racun yang menipu. Ku yakin, esok kan lebih cerah dari masa ku. Selamat berjuang anakku. Sekarang adalah masamu. Karena masaku sebentar lagi akan berlalu.

(Terinspirasi dari seorang Ayah yang tak tamat SD, namun bisa menyekolahkan anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi.)