Si Bocah & Si dede naik sepeda
Surya mulai menundukkan pandangannya, ketika sayup lagu anak-anak terdengar dari odong-odong yang sedang dikayuh. Dua anak usia satu tahun lebih duduk dengan tenangnya sembari sesekali memandang pengasuh yang mendampinginya.

“Najma mau naik odong-odong ama dede Lana ama dede Alifa,” rengek bocah yang tengah kutemani ini menunjuk luar pagar, tempat odong-odong itu dinaiki oleh anak yang disebut.

Setelah mengamati jalan raya, kuantar si bocah menuju tempat odong-odong. Namun sayangnya keberuntungan harus pergi karena odong-odong terlanjur meluncur meninggalkan tempat semula kami datangi. Akhirnya tujuanpun berubah arah, alih-alih menunggu mamang odong-odong lewat kembali, ternyata si bocah hendak mengikuti langkah Alifa menuju TPA sebelah masjid An-Najah.

Sedikit enggan aku mengabulkannya, sebab kostum tidak sesuai juga belum membersihkan diri sehingga merasa kurang pantas bila ke tempat suci itu. Akan tetapi, seperti apapun aku membujuk rayu si bocah akhirnya aku juga yang kalah, dari pada harus mendengar tangisan disertai jeritan cukup mengganggu pendengaran dan memusatkan perhatian orang-orang sekitar. Dengan tangan mungilnya, ditarik telunjukku sesuai berat tubuh si bocah hingga terpaksa kuikuti tanpa mengindahkan tampilan diri.

Beberapa ibu menyapa sebentar, menanyakan hendak kemana? “Nemenin Najma, pengen maen sama dede Alifa katanya,” alasanku sembari memeluk si bocah.

Mendengar jawabanku, pandangan si bocah langsung beralih pada si dede yang hampir tidak terlihat karna banyaknya anak-anak TPA dan ibu-ibu yang menunggu anaknya. Kembali tanganku ditarik sampai didapatilah si dede dan diikuti terus masuk kelas TPA, di mana Najma bukan salah satu muridnya…😛

Berkali-kali kakiku tertahan membujuk Najma untuk pulang saja, dengan sebab bundanya yang sudah menanti dan nenek pun mencari karna belum berpamit tadi. Tapi seberapa keras upayaku, tetap tidak bisa menyaingi keinginan si bocah, yang akan langsung mengeluarkan jurus lelehan air matanya apabila tidak dituruti dan sesekali ia akan melotot protes tanda ketidaksetujuan omonganku.

Akhirnya kumenyerah pada keadaan tersebut. Di dalam kelas, diikuti selalu langkah si dede yang masih dititah pengasuh. Tiba waktu bagi si dede untuk menyusu, Najma menunjukkan rasa sayangnya dengan membelai lembut rambut kepala si dede, mengikuti caraku.

“Najma mau punya ade kaya dede Alifa,” Ujar si bocah tiga tahun itu. “Dede Alifanya dibawa pulang ke Kedawung aja yah,” lanjutnya polos. 

Hanya ekspresi senyuman bisa kuperlihatkan. Selayaknya Najma sudah pantas menjadi seorang kakak, melihat cara ia menyayangi dan ingin selalu menjaga si dede yang diikuti. 

Kusangka tingkah si bocah yang kutemani ini selesai sebatas kelas TPA yang bubar belajar. Ternyata semuanya berlanjut sampai rumah, si dede dimintanya masuk dan bersedia menjadi adik dari si bocah. Aku yang mulai kewalahan, memanggil ibu dari si bocah dan pembicaraan pun berlangsung antara ibu kedua anak (si bocah dan si dede).

Rupanya tidaklah mudah memudarkan keinginan si bocah untuk melepaskan si dede agar diizinkan pulang, terbukti ibu dari si dede bersedia masuk hingga teras rumah. Sekira lima menit, dimungkinkan waktu berbuka puasa semakin dekat dicarilah siasat. Mengajak si bocah main sepeda bareng sampai rumah si dede. Sesampainya depan rumah si dede, perpisahanpun tidak terelakkan hingga membuat si bocah menangis sesenggukkan.

Sungguh menjadi pemandangan yang mengharukan, sama halnya ketika putus dari seseorang yang disayang. Barangkali ini bentuk dari harapan si bocah yang menginginkan seorang adik, untuk menemani waktu demi waktu bersama dan mencurahkan rasa sayangnya sebagai seorang kakak. Padahal, sehari-harinya masih menunjukkan hasrat manja seorang anak kecil. Tetapi, semoga saja ini petanda si bocah sudah mulai siap menjadi seorang kakak. 😊