Hari Rabu, 23 Agustus 2017.
Setelah sekian lama tidak mengisi ruh-ku dengan kajiannya ust Hanan Attaki akhirnya aku disini sekarang, di Mesjid Agung Trans Studio Bandung. 

Mesjid Agung Trans Studio Bandung

Selalu ada alasan setiap kali menghadiri kajian rutin shift pemuda hijrah di hari rabu ini.
Dari yg ada lembur, sudah janji dengan teman, kejauhan, gak ada temen dan alasan-alasan lainnya.

Tak pernah sekalipun aku tidak suka dengan suasana di mesjid agung Trans Studio ini.
Selain karna mesjidnya yg bagus dan nyaman, tapi suasana hangat sangat terasa disini.
Banyak sekali yg kukenal disini, tetapi lebih banyak pula yg tidak aku kenal. Aku tetap nyaman, sangat senang dengan suasana disini.
Mulai dari kulihat berombongan ukhti/akhi yang melintasi jalanan menuju ke mesjid ini. Kulihat wajah-wajah indah dari mereka semua. Seperti tidak sabar mendengarkan kajiannya ust Hanan Attaki. Iya memang, ust satu ini emang the best kedua buatku setelah nomor pertama itu Alm. ust Jefri.

Hanya melihat para ukhti-ukhti cantik nan shaliha berbaris antri untuk ke toilet atau untuk berwudhu saja aku bisa tersenyum sendiri. Entah kenapa, bahagia rasanya sederhana. Euphoria antusiasme wanita-wanita dan pria-pria shalihah dan shalih ini mungkin alasannya.


Tak pernah sekalipun aku tidak terharu dalam suasana disini.
Didalam mesjid tentu banyak sekali yang sibuk dengan smartphonenya ataupun sekedar mengobrol dengan teman-temannya. Ada juga yang terlihat senang karna bertemu dengan kawan lamanya disini. Dan yg membuat aku lebih terharu adalah, banyak pula yang menyibukan diri dengan hal yg sangat Allah sukai. Ya, tilawah Al-Qur'an.
Membaca dengan pelan ayat-ayat Al-Qur'an, aku hanya melihat dari dekat atau kejauhan dan adem sekali rasanya. Menyejukan. Padahal baru melihat. Apalagi mendengar dalam waktu yg lama.

Lalu lalang para perempuan muslimah cantik nan anggun dengan busana syar'i-nya tak pernah terlewat untuk dilihat. Meskipun yg datang kesini tidak semua berpakaian syar'i tetapi senang sekali rasanya melihat antusias mereka dalam majelis ilmu ini.












Lalu, sejenak aku terdiam. Merasa asik sendiri dengan lamunanku.
Bukan, ini bukan lamunan kosong.
Melihat ukhti-ukhti cantik menggunakan pakaian syar'inya bahkan dengan niqab, aku merasa malu. 
Aku tidak iri terhadap mereka yang memiliki rupa wajah begitu cantik, harta berlimpah, berpesta kesana kemari dengan rekan-rekannya. Aku lebih iri terhadap mereka yang beristiqomah dalam hijrahnya. Hebat sekali kufikir. Semua orang bisa hijrah dengan mudah, tapi istiqomah bukanlah hal mudah menurutku.



Bagiku, mereka adalah manusia tercantik, terkaya, terbahagia. Allah seperti memudahkan mereka dalam istiqomah, begitu fikirku.
Tapi sebenarnya tidak semudah itu, harus selalu ingat segala sesuatu menuju kebaikan pasti ada hal yg ditinggalkan. Mungkin tidak semua hijrah mereka mulus, bisa jadi mereka banyak mengorbankan segala hal untuk tetap beristiqomah di jalan Allah.

Aku berfikir, mengapa terasa sulit sekali bagiku untuk istiqomah seperti ukhti-ukhti disini? 
Aku merasa belum mantap dengan diriku, merasa jauh sekali dengan mereka yang disebut "shalihah", banyak sekali dosaku. Mungkinkah itu alasanku susah dalam beristiqomah?
Ya Rabb, bantu aku. Tetapkan hatiku untuk bisa beristiqomah seperti yang lainnya. Aamiin.



Suasana bubaran kajian rutin shift Pemuda Hijrah di Mesjid Agung Trans Studio Bandung. Ma Syaa Allah :')