Liburan sama keluarga -- tepatnya bawa balita -- memang enggak bisa disamain dengan liburan sama orang dewasa muda. Kita harus memikirkan keamanan dan kenyamanan si kecil, jangan cuma memenuhi ambisi kita mau ke sana kemari.

Sebelumnya saya belum pernah ke Lombok. Sejak pindah ke Sumbawa, saya ke Lombok cuma untuk transit di bandara. Nah, saat libur Imlek kemarin, kebetulan beberapa hari sebelumnya Raihan (anak saya) ulang tahun pertama, saya mengusulkan untuk liburan ke Lombok. Alhamdulillah suami mengabulkan. Sebab, selain dekat, suami yang pernah ke sana juga senang dengan pulau yang terletak di barat Pulau Sumbawa ini.

Kami berangkat naik pesawat, cuma setengah jam perjalanan dari Sumbawa. Btw, servis Garuda Indonesia memang beda, ya, dari W**gs Air. Di Garuda, saya yang bawa balita disuruh masuk pesawat duluan serta dipinjamkan payung untuk berjalan menuju pesawat. Dipandu pula. Di pesawat, kami diberi sekotak snack isi air mineral botol 330 ml, satu buah roti, dan satu buah kue. Kalau W**gs mah boro-boro. Hahaha...

Memang, sih, ada harga, ada rupa. Kami naik Garuda karena waktu itu pesan tiketnya mendadak, jadi harga W**gs Air yang biasanya setengah harga Garuda malah jadi lebih mahal dari Garuda.

Btw, ini tempat-tempat wisata yang saya dan keluarga datangi di Lombok beserta review kecil-kecilan dari saya:

Pantai Kuta Mandalika




Biaya masuk (mobil): Rp 10.000

Saya ke sana sehabis suami salat Jumat di Bandara Lombok Praya. Jadi, lumayan panas. Driver saya masuk lewat jalan Masjid Nurul Bilad, jadi dia parkir di dekat sana dan kami berkeliling dengan jalan kaki.

Pantai ini sepertinya baru direnovasi. Pasirnya disebut 'pasir merica' karena butirannya bulat-bulat kecil seperti biji merica. Tulisan besar-besar 'Pantai Kuta Mandalika' jadi spot foto favorit para pengunjung, selain sebuah batu besar yang agak menjorok ke tengah pantai.


Ada beberapa homestay, tempat pijat, bahkan Indomaret di dalam komplek pantai. Kami makan di 'Warung Murah Meriah'. Agak kotor, sih, tempatnya, dan masaknya lamaaa banget, tapi taste-wise lumayan. Harga main course-nya rata-rata Rp 50.000, mahal menurut saya. Tapi kalau cuma nasi goreng harganya Rp 20.000 saja, kok.

Menurut saya, Pantai Kuta Mandalika ini lumayan bagus, tapi lebih cocok untuk foto-foto sebentar daripada berenang.

Tips: bawa payung biar si kecil enggak kepanasan. Driver juga berpesan kepada kami jangan pegang barang-barang yang ditawarkan pedagang keliling kalau enggak niat beli. Sebab, pegang = beli. Tolak saja dengan bilang "sudah".


Tanjung Aan



Biaya masuk (mobil): Rp 10.000

Tempat ini awalnya enggak dimasukkan ke list tempat tujuan oleh driver saya, tapi suami saya kayaknya penasaran dengan Tanjung Aan. Kebetulan kami lewat tempat ini saat hendak menuju Bukit Merese, dan suami saya minta mampir sebentar.

Saat baru masuk, saya pikir pantai ini biasa saja. Tapi setelah saya jalan-jalan sebentar di sana, saya agak menyesal tidak meniatkan untuk berlama-lama di tempat ini.

Saya bukan 'anak pantai' karena saya kurang suka badan lengket karena pasir dan air laut, dan saya enggak suka kaki saya terbenam pasir yang bikin saya susah berjalan. Tapi tempat ini beda. Pasirnya halus dan putih serta padat saat diinjak, jadi enggak bikin kaki kita tenggelam.

Sayapun membiarkan Raihan melepas sepatu dan kaus kakinya lalu bertelanjang kaki berjalan di pasir pantai (setelah itu suami mencucikan kakinya di toilet umum dan harus bayar Rp 5.000 walaupun cuma numpang cuci kaki hahaha...).

Di sini juga banyak saung-saung untuk bersantai menikmati pemandangan sambil minum es kelapa muda (slurp!) serta ayunan sederhana dengan tulisan Tanjung Aan yang bisa jadi spot foto.

Nah, ini baru tempat yang oke untuk berenang! Bule-bulepun terlihat berjemur pakai bikini dan kolor. Kebetulan saat itu sudah agak sore, jadi lumayan adem. Next time saya mau ke sini lagi kalau ke Lombok!

Bukit Merese



Biaya masuk (mobil): Rp 10.000

Tips: Kalau mau ke sini dari Tanjung Aan lebih baik jalan kaki saja biar enggak bayar biaya masuk dua kali. Soalnya bersebelahan.

Pertanyaan penting yang saya ajukan saat naik bukit atau gunung adalah: naiknya jauh enggak? Curam enggak? Medannya gimana?

Nah, di Bukit Merese ini, Anda cuma perlu jalan naik enggak sampai lima menit untuk melihat keindahan pemandangan dari atas. Medannya juga biasa aja, kok, enggak curam. Bahkan sepeda motor bisa naik.



Pemandangannya bagus banget... Anda bisa melihat pantai Tanjung Aan dan pantai sekitarnya dari atas. Bahkan katanya tempat ini juga bagus untuk melihat sunset.



Tanah Bukit Merese yang berumput hijau mengundang kerbau dan kambing untuk memamah biak di sini. Pemandangan ini mengingatkan saya dengan Skotlandia (sotoy, ke sana aja belum pernah). Serius, deh, rasanya saya kepingin kayak seorang bule perempuan yang duduk di sana sendirian, diam saja menikmati keindahan alam. Tapi, mana bisa, saya datang ke sini dengan seorang batita yang sedang senang-senangnya jalan sambil digandeng. :))



Btw, Raihan menikmati sekali mencabut rumput dan berjalan naik ke bukit, walau ujung-ujungnya tetap merengek kelelahan minta digendong. Hahaha...

Tips: datanglah ke sini menjelang sunset, sekitar jam 4, biar masih agak terang tapi juga bisa melihat matahari terbenam.

Desa Sade



Biaya masuk: tidak ada, hanya tips seikhlasnya untuk tour guide (saya Rp 30.000)

Sebenarnya saya sudah lumayan lelah habis naik ke Bukit Merese dan jalan-jalan di dua pantai tadi sejak mendarat di Lombok. Tapi, ya, sudahlah, sekalian saja capeknya. Saya juga pengen tahu ada apa, sih, di dalam the so-called cultural village ini.

Sejak parkir, Anda akan langsung dihampiri seorang pria berpakaian adat yang dengan ramah menemani Anda ke dalam. Dia adalah tour guide yang meski tanpa diminta akan memandu Anda mengelilingi Desa Sade dan akan meminta bayaran seikhlasnya di akhir perjalanan. Kami berusaha menghindar dan ingin menjelajah sendiri, tapi susah berkelit. :))

Anyway, tour guide ini ternyata memang membantu, kok. Sebab, kalau Anda masuk sendiri, bisa jadi Anda tersesat karena rumah adat Desa Sade ini sama semua. Dia juga akan menjelaskan segala hal tentang Desa Sade.

Untuk Anda yang 'lemah' terhadap barang-barang etnik (seperti saya), di sini uang Anda bisa jadi mengalir tanpa terasa. Kain-kain tenun (yang insya Allah hasil tenunan asli semua, bukan pabrikan seperti yang dijual di pantai) berwarna-warni dan beragam motif bikin gemas minta dibawa pulang. Ada yang bentuknya kain satu set dengan selendang, ikat kepala, udeng, sarung, ada pula yang berupa pakaian jadi. Belum lagi gelang-gelang dan cenderamata kecil-kecil lainnya. Harga tenun asli bisa mencapai Rp 1 juta lebih per potong kain, tapi ada juga, kok, yang ratusan ribu, tergantung kualitas dan kerumitannya. Harganya bisa ditawar, lho.

Rumah-rumah adat Suku Sasak di sini bagus buat jadi latar belakang foto, biar kelihatan kalau Anda habis jalan-jalan ke Lombok. Hahaha...

Griya Asri Hotel 



Akhirnyaaa perjalanan kami hari ini selesai. Saatnya check in!

Kami sudah pesan hotel secara online beberapa hari sebelumnya. Setelah browsing sebentar di salah satu website booking hotel, kami memutuskan menginap di Griya Asri Hotel di Mataram karena kelihatannya cocok untuk keluarga dan harganya terjangkau (enggak sampai Rp 300 ribu semalam). Saya sengaja memilih hotel yang kamarnya agak spacious karena anak saya sedang senang jalan, dan kalau bisa ada kolam renangnya. Letaknya juga kami pilih di Mataram karena agar dekat dengan pusat kota.

Dari luar, hotel ini seperti rumah tua besar. Padahal, area belakang rumah dan kamar-kamarnya berdesain modern. Overall, saya cukup puas menginap di sini selama dua malam walaupun hotel ini memang enggak sempurna. Here's why:


Kelebihan:
  • Kamar lumayan luas dengan lantai parquet
  • Ada teras di setiap kamar (saya dapat kamar yang langsung menghadap kolam renang!)
  • Kolam renang bersih dan enggak berbau kaporit. Ada kolam renang anak dan floaties!
  • Pelayanan cukup ramah dan profesional
  • Dapat sarapan yang lumayan decent. Hari pertama sarapan prasmanan berupa lontong pecel, roti bakar, buah semangka, serta sirop jeruk, teh dan kopi, dan air putih. Hari kedua sarapannya a la carte dengan pilihan menu nasi goreng, mie goreng, roti bakar, omelet, atau pancake. Minumnya ambil sendiri, sedangkan semangka disajikan per porsi ke setiap tamu.
  • Ada wifi gratis
  • Ada 'rumah' kucing, pas di sebelah kamar saya. Yes, salah satu kamar sengaja didesain untuk tempat memelihara kucing, lengkap dengan play gym-nya.  Bayangkan, cat cafe dalam hotel! Kucing-kucing ras di dalamnya lucu-lucu banget... Sebenarnya boleh masuk ke dalam, tapi, sayang, setiap saya mau masuk, petugasnya sedang tidak ada.
  • Ada ATM BRI dan BNI tepat di halaman depan hotel


    Kekurangan:
    • Lokasinya di jalan yang dikelilingi gedung-gedung pemerintahan dan sekolah. Tenang tapi jauh dari tempat makan atau toko.
    • Ada kulkas dan dua buah air mineral botol complimentary tapi tidak ada teko pemanas air serta teh dan kopi. Padahal, terasnya enak buat ngeteh-ngeteh ngopi-ngopi.
    • Tidak ada sandal hotel dan shower cap.
    • Ada bagian dinding yang catnya mengelupas tapi enggak masalah, sih, buat saya.

    Pantai Senggigi



    Biaya masuk: Rp 1.000/orang

    Well, di antara pantai-pantai yang saya kunjungi kemarin, ini pantai yang paling biasa. Daerah yang bisa dieksplor cuma segitu karena sisanya untuk resort. Bisa berenang, tapi saya prefer sewa tikar (Rp 10.000/spot) saja sambil minum kelapa muda (Rp 15.000/buah) dan makan sate bulayak (Rp 25.000/porsi). Spot foto juga kurang bagus. Di sini ada semacam pelabuhan kecil untuk penyeberangan ke Bali dan Gili naik speed boat.

    Yang bikin saya hepi di sini cuma henna art di tangan saya (soalnya dulu pas nikah enggak pake ginian)! Ini bikin di penjual gelang keliling. Dia awalnya menawarkan harga Rp 60.000 tapi saya tawar jadi Rp 30.000.


    Lombok Epicentrum Mall (LEM)

    Anak kota kangen nge-mall, secara di Sumbawa enggak ada mall wkwkwk...

    Di Lombok setahu saya cuma ada dua mall, yakni Mataram Mall yang jadul dan LEM yang modern kayak mall di Jakarta. Di sini kami jajan, makan, shalat, dan nonton Black Panther (Raihan nonton di bioskop untuk pertama kalinya!). Lumayan lengkap, menurut saya. Bahkan ada beberapa fasilitas yang enggak semua mall di Jakarta punya, di antaranya playground edukasi, bioskop 5D, dan tempat panahan. Di sini tempat shalatnya berupa masjid yang lumayan besar.

    Tempat makan yang kami coba di sini: Chubby (kayak Shihlin tapi kami pesan yang dory. Lumayan, lah), Paris Castle (pilihan minumannya banyak banget tapi bubble drink-nya kurang mantap menurut saya. Minumannya kayak H*p-hop dan bubble-nya terlalu lembek. Tapi bread pudding kurmanya enak), serta Bebek Harissa & Nasi Goreng 69 (bebek Thailandnya enak tapi pedes buanget, nasi cah jamurnya lumayan enak).

    Untuk transportasi hari pertama (dari Bandara Lombok Praya ke Pantai Kuta Mandalika, Tanjung Aan, Bukit Merese, Desa Sade, dan ke hotel), kami menggunakan jasa Pak Rajap (087865930830). Mobilnya baru (Avanza New) dan bagian dalamnya dilengkapi dengan banyak tisu, permen, dan air mineral botol. Pak Rajap juga baik, ramah, dan mengajak doa dulu sebelum memulai perjalanan. Waktu itu untuk sekitar 6 jam tur, kami membayar Rp 350.000 bersih (kecuali tiket masuk tempat wisata).

    Di hari kedua, kami cukup mengandalkan layanan taksi online (yang alhamdulillah ada di Lombok, enggak kayak di Sumbawa. Hahaha...).

    Kami juga menggunakan jasa taksi online untuk ke tempat travel yang terletak di sebelah LEM. Travel bernama Titian Mas ini melayani rute Mataram - Sumbawa dan sebaliknya dengan biaya Rp 120.000/orang. Agar lebih leluasa, Raihan dibelikan tempat duduk juga oleh ayahnya, jadi kami ngeblok barisan kedua dari depan yang memang berkapasitas tiga orang.

    Alhamdulillah kami dapat mobil Hino yang bagus yang memiliki bagian kaki yang bisa diangkat, jadi kaki kami bisa diselonjorkan. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama masing-masing 2 jam (pool Titian Mas ke pelabuhan Kayangan Lombok, perjalanan laut naik kapal, dan pelabuhan Pototano Sumbawa ke kosan kami).


    Overall, saya puas liburan ke Lombok dan enggak keberatan (siapa juga yang keberatan?) travelling ke sana lagi. Katanya sih Pantai Selong Belanak juga bagus, tapi jauh. Gili dkk juga mungkin jadi akan tujuan saya berikutnya. Kemarin itu kami enggak berani ke sana karena takut ombaknya besar. 

    Btw, ini tips secara keseluruhan: jangan pakai rok pendek karena anginnya kencang. Enggak mau, kan, ribet ngurusin rok dan bukannya menikmati pemandangan pas ke pantai dan bukit?

    Hmm... Kapan, ya, ke Lombok lagi?