Preparing my own wedding was exciting. Saya bisa menentukan sendiri apa yang saya mau dan mewujudkan mimpi-mimpi saya untuk hari besar yang terjadi sekali seumur hidup ini. So, I made this so-called 'wedding box' yang berisi perintilan acara pernikahan saya agar bisa dikenang di masa depan. :)

Tema besar acara pernikahan saya dan Dwiki, calon suami saya waktu itu (sekarang sudah jadi suami saya, of course) adalah sederhana tapi layak. Yup, kami sama-sama tidak mau menghamburkan uang untuk satu hari acara pernikahan saja. Menurut kami, bermewah-mewahan saat resepsi itu hanya akan membahagiakan tamu tapi memberatkan pengantin dan keluarga dengan beban finansial dan gengsi. Prinsip kami, lebih baik uangnya ditabung untuk keperluan setelah berumah tangga nanti. Yang penting, acara kami layak, tetap menghormati tamu, dan tidak asal-asalan.

Awalnya, saya malah kepikiran akad di gedung KUA saja agar gratis, atau akadnya dibuatkan acara di gedung tapi sekaligus dengan resepsi, jadi tidak perlu ada dua acara dalam sehari. Tapi, impian pengantin hanyalah impian pengantin, karena ujung-ujungnya orang tua memprotes rencana yang antimainstream tersebut dan memilih seperti orang-orang kebanyakan saja. :))

Meski calon suami saya orang Jawa, untungnya keluarganya bukan penganut taat adat Jawa tradisional yang mengharuskan kami memilih tanggal baik dan menyelenggarakan serangkaian adat Jawa di acara pernikahan. Saya, calon suami, beserta keluarga masing-masing adalah tipe orang yang cenderung slow soal ini-itu pernikahan, jadi saya bisa dengan bebas menentukan konsep pesta pernikahan kami with less drama. Acarapun secara tidak sengaja jatuh pertepatan dengan ulang tahun saya, 6 Mei 2016, dan menggunakan adat nasional yang cenderung praktis. Alhamdulillah...

Bagi saya, item penting yang harus bagus untuk acara pernikahan adalah make up, catering, dan dokumentasi. Jadi, meski untuk vendor lain budget agak pas-pasan, untuk tiga item ini tak apalah kalau anggaran ternyata sedikit melebihi ketentuan.

So, here it is, my wedding box:




Wedding Organizer:
W. Wedding Planner

Sebagai anak pertama yang clueless tentang persiapan pernikahan, saya lumayan terbantu sama W. Wedding Planner punya sepupu saya (Aa Wendy) ini. Karena saudara sendiri, saya jadi lebih mudah berkonsultasi soal ini-itu. Apalagi, selain sebagai wedding planner, W. Wedding Planner juga berafiliasi dengan sanggar rias busana Virgo (milik Ibu Wiwiek, ibunya Aa Wendy) dan dekorasi (Teteh Tita, istrinya Aa Wendy). Jadi sudah lumayan sepaket, saya tinggal cari info tentang vendor lainnya.

Undangan + Kupon Suvenir + Ucapan Terima Kasih
Desain: Fatyah Rahmadhini
Cetak: Pasar Tebet Barat (lupa nama tokonya)

Saya bukan tipe pengoleksi kartu undangan, sebagus apapun kartu undangan tersebut. Beda dengan mama saya yang kadang mengumpulkan undangan bagus dengan alasan "buat contoh nanti kalau kamu nikah". Jadi, kalau sudah lewat waktunya, saya akan membuang kartu undangan yang saya terima.

Nah, berkaca dari hal tersebut, saya mau bikin undangan yang either bakal terpakai jadi enggak dibuang, atau kalau dibuangpun enggak sayang-sayang amat. Sempat terpikir bikin undangan yang dicetak di tas goodie bag supaya berguna, tapi desainnya enggak bisa macem-macem. Akhirnya, saya bikin undangan soft cover saja, tapi minta tolong teman saya untuk mendesainnya.

Kalau undangannya soft cover, saya kepingin desainnya enggak tinggal contek template, tapi bikin baru biar lebih sesuai keinginan. Saya sudah lama bercita-cita memasukkan unsur ke-Prancis-Prancis-an di undangan. Selain agar unik dan karena saya suka Prancis, saya dan calon suami ketemunya di tempat les Bahasa Prancis :P. Sayapun kepikiran tema 'Letter from Paris'. Waktu itu, karena suatu kendala, saya dadakan banget minta tolong Fatyah, teman saya, untuk mendesain kartu undangan saya. Kebetulan dia pernah les Prancis juga, pernah belajar desain wedding stuff termasuk undangan untuk temannya, dan waktu itu dia mau bantuin saya (baik bangett... Thanks a lot, Qo!). Alhamdulillah, the design was finished just in time.

Soal cetak undangan, saya dan calon suami pergi ke Pasar Tebet Barat yang memang terkenal di kalangan calon pengantin sebagai pusatnya percetakan undangan pernikahan. Tapi, agak susah, lho, mencari contoh undangan soft cover di percetakan sekarang ini. Untungnya, saya nemu tempat yang melayani undangan soft cover sesuai keinginan saya dengan harga yang lebih miring dibanding toko lain. Lokasinya di Pasar Tebet Barat lantai tengah kalau enggak salah, jauh dari toko undangan lainnya, malah terletak di seberang toko baju dan seingat saya enggak ada papan namanya. Saya menemukan toko ini saat sedang keliling-keliling di toko undangan lantai basement dan iseng bertanya ke sebuah toko undangan kecil. Saya lalu diantarkan ke toko tadi agar bisa langsung tanya-tanya sama owner-nya. Sayang, bonnyapun sudah saya buang jadi enggak tahu nama tokonya hehehe...

Bukan cuma proses desainnya yang mepet, proses cetaknyapun pas-pasan sama waktu nyebar undangannya. Terus, file yang dibawa berantakan pas dibuka di laptop percetakannya, jadi minta tolong yang punya percetakan ngerapiin sampai lewat jam tutup. :)) Alhamdulillah beres juga walau sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperbaiki (biasa jadi editor, suka gatel kalau ada yang kurang). Oh iya, kami pakai kupon suvenir untuk membatasi jumlah suvenir yang keluar.
Undangan cover
Undangan isi
Kupon suvenir dan kartu untuk ditempel di suvenir

Penghulu

KUA Grogol Petamburan

Kalau mau mengadakan akad nikah, penghulunya harus dari KUA yang sesuai wilayah acara akad nikah diselenggarakan. Jadi, karena acara akad nikah saya di Masjid Al Muchlishin di Grogol, maka penghulunya dari KUA Grogol Petamburan, bukan dari Cengkareng (tempat tinggal saya) atau Mojokerto (tempat tinggal calon suami). So, monggo daftarkan dulu pernikahan kalian masing-masing di tempat calon suami dan istri, baru mengurus surat numpang nikah untuk diantarkan ke tempat akad. Kecuali kalau akad nikahnya dilakukan di rumah calon suami atau istri, atau kebetulan venue-nya di wilayah yang sama dengan kediaman calon suami dan/atau istri, tidak perlu surat numpang nikah.

Sejak awal bertemu di KUA untuk diberikan nasihat pernikahan, sudah kelihatan kalau penghulu saya senang berbicara panjang. Benar saja, durasi akad saya jadi molor karena begitu panjangnya wejangan yang diberikan olehnya. Padahal tadinya urusan nasihat ini saya berikan pada om saya, penghulu cukup menikahkan dan membacakan doa. Bukan kenapa-kenapa, kaki saya dan calon suami jadi super kram karena kami harus duduk rapi di bawah beralaskan bantal yang terlalu tinggi! Yup, karena menikah di masjid, kami tidak diperkenankan memakai kursi. Saat bangun dari duduk, saya harus minta bantuan suami dan Ibu Wiwiek agar bisa berdiri. Itupun harus ditopang, karena kalau tidak, saya bisa jatuh! Catat, ya, kalau mau menggelar akad, lebih nyaman pakai kursi. Atau setidaknya jangan pakai bantal yang terlalu tinggi untuk duduk.

Mahar
Milik pribadi + Tanah Abang

Untuk urusan maharpun saya tidak mau memberatkan. Yang jelas, saya tidak mau mahar berbentuk uang kertas dan koin yang dibentuk hiasan-hiasan lalu dibingkai. Sayang uangnya jadi tidak bisa dipakai :)) Kebetulan calon suami punya simpanan dinar, jadi kami pakai itu untuk mahar.

Selain itu, saat berbelanja seserahan, saya kepingin punya mukena bagus. Tadinya mukena yang kami beli di Tanah Abang tersebut ingin kami pakai untuk seserahan. Tapi, akhirnya kami jadikan mahar dan kami tambahi sajadah sisa oleh-oleh orang tua saya dari haji agar lengkap sebagai 'seperangkat alat salat'. Soal mahar alat salat ini mungkin masih pro dan kontra seperti halnya Alquran sebagai mas kawin, tapi kami berpendapat kalau salat, kan, memang wajib dilakukan lima waktu, sedangkan Alquran mungkin jadinya memberatkan kalau tidak dibaca setiap hari. Jadi, untuk mas kawin, calon suami memberikan satu keping dinar dan seperangkat alat salat (mukena dan sajadah).
Dinar
Mukena, minus sajadah yang saya masukkan setelah seserahan ini jadi

Cincin Pernikahan
Toko Suki

Informasi soal Toko Suki juga saya dapat dari forum calon pengantin di Internet. Nama toko Suki banyak disebut, letaknya di lantai dasar gedung Cikini Gold Center. Saat saya dan calon suami ke sini, tokonya memang paling ramai didatangi pembeli dibanding toko lain. Bisa jadi karena toko ini khusus menjual cincin pernikahan, jadi contohnya sudah ada sepasang dan bisa langsung dicoba. Penjualnya sabar melayani para calon pengantin rempong yang terus-terusan minta diambilkan contoh cincin atau bertanya ini-itu.

Wah, pilihannya banyak banget sampai saya bingung mau yang mana. Setiap model bisa di-customized lagi, kok, berat cincinnya, jenis batu permatanya (berlian atau zircon), sampai jenis logamnya (emas kuning, emas putih, rose gold, perak, atau palladium). Cincin jadi sekitar 2 minggu-1 bulan sejak dipesan. Saya memesan cincin emas putih dengan lima berlian kecil, sedangkan calon suami memesan model yang sama namun berbahan palladium (karena dalam Islam, laki-laki enggak boleh pakai emas) tanpa batu permata. Kami sengaja memesan cincin satu ukuran lebih besar daripada jari kami saat itu karena untuk mengantisipasi kami gemukan nantinya, apalagi saya tipe orang yang mudah gemuk. Eh, benar, lho, saat hamil ini saya hampir tidak bisa mengeluarkan cincin dari jari. :'))

FYI, cincin palladium tidak bisa dijual lagi karena logamnya keras sehingga tidak bisa dilebur dan  dibentuk lagi.

Kekurangan Toko Suki ini adalah grafir namanya yang kurang rapi menurut saya. Jenis font-nya cuma ada satu. Mungkin karena bisa langsung diukir dengan mesin manual, ya.

Btw, meski tampilannya sederhana, cincin adalah salah satu item pernikahan yang paling saya favoritkan. Sebab, menurut saya, dengan memakai cincin pernikahan setiap saat, hal tersebut menunjukkan komitmen. Seperti mengatakan ke orang-orang dengan bangga "Hey, I'm officially taken, so don't disturb us". Hehehe... I'm happy calon suami ternyata tipe cowok yang enggak risih pakai cincin, and I'm like smiling everytime I see the ring on his finger. :)
Cincin ketika dilepas
Cincin ketika dipakai

Seserahan
Ibu Sri

Tadinya saya menolak diberi seserahan oleh calon suami karena takut memberatkannya. Tapi, karena dia terus memaksa, akhirnya saya beli juga walau sedikit dan seperlunya. Untuk urusan menghias seserahan, saya serahkan ke Toko Ibu Sri di area basement gedung yang sama dengan vendor cincin pernikahan tadi. Saya dan calon suami memilih sepaket boks warna silver agar sesuai dengan warna tema pernikahan kami, lalu di atasnya ditutup plastik mika.

Btw, saat menyerahkan barang-barang seserahan ke tempat menghias, sepertinya Anda perlu membuat semacam surat serah terima barang yang diketahui kedua belah pihak (Anda dan pihak toko). Soalnya, saat saya terima seserahan yang sudah jadi, saya merasa ada satu barang yang kurang, yakni parfum. Padahal, saya ingat betul saya sudah menyerahkan ke pihak toko. Ternyata benar, parfum tersebut belum masuk karena waktu itu mas-mas yang menghias seserahan saya bingung ingin menempatkannya di mana. Untung saja parfumnya masih ada.
Seserahan baju, celana, dan gaun tidur. Saya enggak beli pakaian dalam, malu kalau dipasang di seserahan :D
Untuk tas, saya pilih tas ransel, bukan tas pesta atau tas cewek. Soalnya waktu itu saya memang lagi butuh tas ransel. :D
Seserahan make up. Kebetulan beberapa item make up saya masih ada, jadi saya beli yang saya butuh saja.
Seserahan alas kaki dan dompet

Venue
Masjid Agung Al Muchlishin Grogol

Masjid tersebut dulunya hanya punya satu lantai, tapi sejak direnovasi pada 2013, masjid ini sekarang memiliki dua lantai dan lantai bawahnya bisa disewakan untuk acara pernikahan. Makanya gedungnya masih bagus dan terawat. Selain itu, lokasinya cukup strategis dan harga sewanya masih sesuai bujet. Tapi, ternyata di luar biaya sewa gedung, ada berbagai charge yang harus Anda bayar sendiri. Sebab, masjid ini tak pakai sistem rekanan katering.

Sebenarnya asyik juga, sih, kita jadi bebas memilih katering tanpa terbatas pilihan dari gedung. Tapi, ya, enggak enaknya biaya gedung jadi bengkak. :(

Sebagai penghiburan, menurut WO saya, ternyata sound system dan standing AC yang digunakan memang tidak main-main. Merek dan kualitasnya bagus. Sepertinya, barang-barang tersebut sumbangan dari sebuah bank terkemuka yang mensponsori renovasi masjid ini.
Masjid Al Muchlishin tampak luar di malam hari. Foto: Get Her Ring

Catering
Chikal Catering

Sebagai salah satu item paling penting dalam hajatan pernikahan, saya enggak boleh main-main memilih vendor katering. Bujet memang harus sesuai, tapi kualitas enggak boleh dinomorduakan. Selain harus enak dan segar, makanan yang disajikan juga harus cukup jumlahnya demi memuaskan tamu.

Setiap mampir untuk survei gedung, saya selalu mengambil brosur rekanan catering gedung-gedung tersebut. Saya juga research secara online untuk mencari tahu vendor katering mana yang banyak direkomendasikan calon pengantin. Setelah data terkumpul, saya buat tabel ini agar lebih mudah membandingkan satu vendor dengan yang lain.

Setelah menemukan beberapa vendor yang menarik dan cocok di budget, saya menghubungi mereka untuk taste food. Tapi, karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat taste food di sekitar tiga vendor. Satu di pernikahan orang (iya, saya jadi tamu tak diundang, tapi tetap ngamplop, kok :D), dua di kantor vendornya. Setelah beberapa kali taste food, saya lumayan sreg dengan Chikal, tapi mama lebih cocok dengan katering lain karena mendapat rekomendasi dari saudara yang anaknya mau nikah juga. However, ujung-ujungnya mama ilfeel dengan vendor pilihannya karena marketing-nya jutek-jutek dan akhirnya setuju dengan Chikal. :D

Chikal Catering ini harga per porsinya tidak terlalu mahal tapi citarasanya terkenal lumayan enak. Karena saya sudah ada WO, saya cuma ambil katering untuk buffet dan gubukannya, bukan sepaket dengan perintilan pernikahan lain. Sayang, kalau ambil kateringnya saja, saya kena charge dekorasi meja buffet dan gubukan. :( However, tamu sepertinya cukup puas dengan katering ini. Makananpun super berlebihan karena papa minta tambah porsi menjelang hari H. Takut kurang, katanya.
Meja buffet Chikal Catering. Foto: Get Her Ring
Dekorasi
W. Wedding Planner

As I told you earlier, untuk dekorasi, saya pakai jasa Teteh Tita, sepupu saya yang istrinya Aa Wendy, pemilik WO yang saya pakai jasanya. Saat dia tanya mau dekorasi seperti apa, saya sih terserah saja karena saya cenderung cuek soal estetika. Yang penting layak, prinsip saya. Untungnya kecuekan saya ini bikin dekorasi bisa masuk budget (FYI, kalau kita request bunga-bunga khusus yang impor dan banyak pula, bujet dekorasi bisa membengkak!). Saya cuma kasih tahu kalau tema pernikahannya biru dongker-putih/silver, lalu Teteh Tita memberikan saran-saran dan saya memberikan approval. Overall, hasilnya cantik, kok, IMO.
Dekorasi secara keseluruhan. Foto: Get Her Ring
Dekorasi pelaminan. Foto: Get Her Ring

Rias dan Busana

Sanggar Virgo

Tadinya naksir berat sama makeup-nya Petty Kaligis, tapi apa daya bujet tak sampai. Yup, ini juga pakai jasa 'paketan' dari WO. Ibu Wiwiek sudah lama melanglang buana di dunia tata rias dan tata busana pernikahan. Saya pakai jasa beliau untuk makeup dan pakaian pengantin saat akad nikah dan resepsi. Ibu Wiwiek baik banget mau bikinin saya dan calon suami pakaian perdana untuk resepsi, tanpa biaya tambahan, karena warna biru dongker yang saya request waktu itu enggak ada di sanggarnya (padahal kalau di sanggar lain bisa kena charge sekitar Rp 1 juta). Untuk pakaian keluarga dan penerima tamu yang cowok saat resepsi, kami juga sewa di Sanggar Virgo, tapi untuk perempuannya kami belikan bahan kebaya dan kerudung untuk dijahit sendiri (kecuali penerima tamu yang kebayanya sewa). Kain untuk keluarga dan penerima tamu kami sewa juga di sanggar ini.
Make up dan busana akad. Foto: Get Her Ring
Make up dan busana resepsi. Foto: Get Her Ring

Seragam
Tanah Abang Blok A lantai basement

Ternyata, penjual kain meteran di Tanah Abang banyak juga dan harganya sepertinya lebih miring dibanding di Pasar Mayestik. Di sini, saya membeli tulle, vuring, dan kerudung bernuansa teal dan magenta untuk mama dan calon mertua, serta bahan yang sama bernuansa aqua dan fuchsia untuk keluarga inti lainnya. Btw, kalau mau beli bahan untuk kerudung, lebih baik beli jadi, bukan kain meteran yang harus dijahit. Sebab, selain lebih praktis, harganya juga bisa jadi lebih murah.
Keluarga inti saya dan suami. Foto: Get Her Ring

Dokumentasi (Foto dan Video)
Get Her Ring

Selain katering, dokumentasi juga jadi salah satu poin penting dalam pesta pernikahan. Karena pernikahan cuma terjadi sekali seumur hidup, foto dan video yang merekam momen ini harus bagus biar bisa dikenang sampai akhir hayat. Saya, sih, pengen vendor yang terjangkau tapi hasilnya enggak murahan atau norak. Hasil foto dan videonya yang background-nya blur-blur kekinian gitu dan tone warnanya adem, bukan model yang nanti di albumnya ditambahin tulisan-tulisan quote-quote apalah yang menurut saya failed (sorryyy).

Saya ubek-ubek di Bridestory, banyak yang hasilnya sesuai keinginan saya tapi harga paket wedding-nya di atas Rp 10 juta. Nah, pas scroll-scroll sampai ke bawah, saya nemu Get Her Ring. Harga paketnya menarik karena di bawah Rp 10 juta tapi hasilnya kekinian sesuai selera saya. We finally made the deal.

Di acara pernikahan saya, Get Her Ring mengirimkan tiga orang kru foto dan video dari Bandung. Mereka kerja sampai malem banget sampai disuruh udahan karena gedungnya mau diberesin. :)) Overall, hasil fotonya cerah tapi tone-nya lembut dengan background blur, sesuai keinginan saya. Videonya juga lumayan bagus. Tapi, entah ini umum atau enggak, jadinya lama bangettt. Foto untuk socmed baru dikirim 45 hari setelah hari H, video dan mini studio menyusul setelahnya, sedangkan semua master-nya baru dikirim empat bulan setelahnya (keburu saya hamil). Katanya, sih, karena kepotong libur Lebaran. Kalau saya lihat teman-teman saya yang pakai vendor lain, H+seminggu saja mereka sudah bisa publish foto dan video dari vendor dokumentasi. Hasil fotonya juga kurang banyak sepertinya, dan untuk mini studio-nya, maaf, kelihatan kayak background-nya ditempel, padahal asli. Komunikasi dengan CP-nya juga kurang enak, menurut saya, karena dia bukan tipe yang suka beramah-tamah dan basa-basi.


Foto prewedding? Saya dan calon suami setuju untuk enggak prewed. Soalnya, selain untuk menekan bujet (ehehehe lagi-lagi), saya dan calon suami juga enggak nyaman pegang-pegang dan bermesraan di foto. Sebenarnya bisa saja prewed enggak usah pakai gitu-gituan (maksudnya ada jarak, gitu), tapi menurut saya hasilnya malah jadi kurang bagus. Yang bagus itu yang ekspresi dan posenya natural dan saling sayang. Jadi, kalau mau gitu-gituan better postwed sajalah biar lebih bebas (ahey).

Wedding Singer & Keyboardist
JoSteven Entertainment

Hmm... Ini yang sempat jadi drama. :D Sejak awal saya bersikukuh enggak mau pakai organ tunggal karena:
  • Kadang suara penyanyinya terlalu dibuat-buat
  • Pronunciation penyanyi waktu membawakan lagu berbahasa Inggris kadang kurang oke
  • Jumlah dan jenis lagu jadi terbatas
  • Saya memang biasanya lebih suka lagu versi rekaman daripada live
  • Untuk menghemat bujet
Karena itu, sejak lama saya susah payah menyusun playlist lagu-lagu pernikahan di MP3. Lagu itu saya dengar dan baca liriknya satu per satu untuk memastikan enggak ada makna perselingkuhan, patah hati, dan hal negatif lainnya yang terselip. Only about happiness and wedding. Akhirnya terkumpul sekitar 100-an lagu pernikahan berbahasa Indonesia, Inggris, sampai Korea. Tuh, kan, kalau pakai jasa wedding singer, mana bisa dinyanyikan semuanya?

Cek wedding song playlist saya di sini


Tapi, sekitar sebulan sebelum hari H, ada salah satu kerabat memprotes keinginan saya memainkan playlist pakai MP3. Dia ngotot ingin saya memakai jasa organ tunggal agar saudara-saudara dari kampung bisa ikut menyumbang suara. That was really out of my plan for my dream wedding, soalnya untuk urusan hiburan ini menurut saya adalah hak pengantin mau kayak gimana. Menyenangkan tamu bisa dengan makanan, kok, enggak harus dengan memperbolehkan mereka karaoke heboh pakai lagu yang temanya perselingkuhan dan sejenisnya. Oke, kalau kerabat saya itu sekadar kasih saran, sih, nggak apa-apa. Tapi dia sampe dua kali telepon dan mau bicara langsung dengan saya, lho, padahal biasanya enggak. Ehem, excuse me, ini nikahan siapa, ya?

But unfortunately my fiance and parents support the decision to use a wedding singer. Mereka belum siap dengan konsep baru yakni wedding pakai MP3. Saya ngotot mewujukan rencana saya, dan we had quite a tension back then (thanks, Aunt). Akhirnya, saya mengalah, dengan syarat saya tidak mau mencari (no time, dude!) apalagi membayari si organ tunggal. Sayapun mewanti-wanti kalau wedding singer yang dipakai jasanya HARUS yang suaranya bagus dan saya yang menentukan playlist-nya. Berdasarkan saran WO, kami pakai jasa JoSteven Entertainment via Mas Steven. Dia dengan yakin bilang kalau penyanyi yang akan dihadirkan di atas rata-rata. Saya pilih lagu dari list saya tadi yang kira-kira bisa dinyanyikan. Lagu duet enggak bisa, of course, karena penyanyinya cuma satu orang.

On the designated day, di luar dugaan saya, ternyata penyanyi dan keyboardist-nya memang bagus. Suara penyanyinya pas powerfulnya, enggak pake maksa, dan mereka membawakan daftar lagu yang saya request dengan baik. Mereka perform sampai acara benar-benar selesai walau tamu mulai sepi, dan the good thing for me is, mereka tidak memberikan kesempatan untuk tamu menyumbangkan suara! *evil laugh* Ibu saya menyayangkan hal ini tapi saya malah thankful. Jempol untuk JoSteven Entertainment!
The wedding singer and keyboardist. Foto: Get Her Ring

Souvenir
Souvenir tamu: Pasar Mester Jatinegara (toko Gadang)
Souvenir panitia: My Crown Jar

Untuk souvenir, saya dan calon suami kepingin kasih yang berguna, bukan cuma untuk pajangan. Berdasarkan informasi dari para calon pengantin di forum dunia maya, Pasar Mester Jatinegara adalah pusat suvenir dengan banyak pilihan dan harga miring. Walaupun ke sananya pake effort (jauh, aksesnya rempong, tempatnya kurang nyaman), kami enggak menyesal mampir ke sana. Pilihannya banyak bangett. Kami keliling-keliling dari satu toko ke toko lain untuk melihat mana barang yang kami incar dan membandingkan harganya. Soalnya, rata-rata toko menjual barang yang persis sama.

Suvenir gelas sebenarnya berguna, tapi berat dan harus hati-hati membawanya biar enggak pecah. Kami sempat kepikiran kasih tas lipat berhubung saat itu masih hot soal kantong plastik berbayar, tapi enggak jadi karena beberapa pertimbangan. Saya kepingin suvenir sendok garpu buat menunjukkan kalau kami berdua doyan makan, tapi calon suami kurang sreg. Dia malah menunjuk kemoceng kecil dengan bulu warna-warni. Awalnya saya mengernyitkan dahi, kok, kemoceng buat suvenir? Tapi akhirnya saya setuju juga dengan pertimbangan barangnya unik, sesuai bujet, berguna, serta mudah dibawa dan praktis dikemas. Saya juga iseng beli gantungan kunci bentuk Menara Eiffel warna gold, satu pak isi sekitar 100 pieces. Untuk apa? Itu, sih, belakangan saja, yang penting saya suka. Hahaha...
Kemoceng mini
Untuk panitia (keluarga besar), sebagai ucapan terima kasih, saya mau kasih souvenir yang agak eksklusif dibanding untuk tamu. Setelah cek-cek Instagram, saya nemu My Crown Jar, penyedia suvenir berbentuk jar (botol selai) yang tutupnya bisa di-customized hurufnya. Bujetnya masuk dan CP-nya ramah, jadi saya pesan 30 buah. Lokasinya di Yogyakarta kalau enggak salah, tapi bisa titip lewat karyawan ayahnya si CP yang sering ke Jakarta. Jadi, saya tinggal janjian di suatu tempat di Jakarta untuk menjemput pesanan saya, tidak perlu ongkos kirim (yang bisa jadi mahal karena berat dan fragile). Si CP ini selalu mengabari saya tiap ada update, jadi, walaupun prosesnya agak lama, saya tenang. Kebetulan saya juga tidak buru-buru, sih, waktu itu.
Di dalam jar ada selembar kertas ucapan terima kasih dan gantungan kunci Menara Eiffel

Message Board
Ilustrasi: Paper Proper
Cetak dan Bingkai: W. Wedding Planner

Ini ide dadakan yang baru muncul sekitar dua minggu sebelum hari H :D. Awalnya karena seorang teman mengusulkan untuk memasang foto pengantin di depan, dekat penerima tamu, agar tamu tidak salah datang ke undangan. Nah, saya bingung foto apa yang bisa dipajang, sebab kami tidak melakukan foto prewedding dan foto-foto pribadi kamipun hampir semuanya diambil dengan handphone (resolusi rendah). Akhirnya, saya kepikiran bikin message board, yakni semacam media putih berbingkai dengan ilustrasi foto saya dan calon suami kecil saja di tengahnya. Di hari H, message board ini akan dicorat-coret dengan pesan dari para tamu untuk kami berdua. Seru, kan, jadi ada yang bisa dikenang. Untungnya, walau dengan waktu yang mepet, saya sempat memesan ilustrasi foto saya dan calon suami ke Paper Proper yang dimiliki teman saya yang jago menggambar. Untuk cetak dan bingkainya, saya pesan ke Teteh Tita.
Message board


How about your wedding box, dear grooms and brides?