Dieng tour, homestay di Dieng, Gardu Pandang, Telaga Warna, Bukit Scooter, dan Jazz Atas Awan

Sejak lama saya kepingin nonton jazz di dataran tinggi. Sebab, jazz dan daerah bersuhu sejuk adalah dua hal yang saya suka. Nah, nonton jazz di pegunungan paling asyik kalau bareng pasangan halal kan? :p Kebetulan suami saya suka travelling, walaupun tak seberapa suka dengan jazz. Maka, ketika saya mengajaknya ikut tur Dieng Culture Festival, dia mau saja.

Do you see that baby bump?
Agustus bisa dibilang bulannya panoramic jazz, istilah saya untuk pertunjukan musik jazz yang diselenggarakan di alam terbuka. Selain Dieng Culture Festival dengan Jazz Atas Awan-nya, ada Jazz Gunung di Bromo, serta Prambanan Jazz. Berhubung suami pernah ke Bromo dan saya pernah ke Prambanan, sedangkan kami berdua belum pernah ke Dieng, akhirnya kami memutuskan mencari paket wisata ke Dieng Culture Festival saja. Lagipula di Dieng Culture Festival tidak hanya ada pertunjukkan jazz, tapi juga serangkaian acara budaya yang memang setiap tahun digelar. Lineup artis yang tampil di Jazz Atas Awan mungkin memang tak seterkenal artis di Prambanan Jazz (makanya tiketnya mahal), tapi saya tidak peduli karena saya sekadar suka mendengar musik jazz, bukan penggilanya.

Kami memesan paket wisata ke Dieng Culture Festival yang digelar 4-7 Agustus 2016 sejak awal Mei 2016, sengaja agar tidak kehabisan tiket. Biaya per orang Rp 1,19 juta, sudah lengkap mulai transportasi PP dari Jakarta, penginapan di homestay, beberapa kali makan, serta tiket masuk obyek wisata dan Dieng Culture Festival. Asyiknya, di Dieng tour ini kami tidak perlu membayar lunas di muka, melainkan ada beberapa term pembayaran sehingga kami bisa mencicil.

Kamis, 4 Agustus 2016 (Hari 1)

Hari ini saya sengaja cuti karena suami juga cuti dan saya malas bawa tas berat ke kantor. Meeting point-nya di Stasiun Senen pukul 21:00. Kami berangkat ke Senen naik Commuter Line dari Stasiun Rawa Buaya pukul 19:15, transit di Duri dan Gang Sentiong, lalu menunggu kereta arah sebaliknya ke Senen. Namun karena keretanya masih lama, dari Stasiun Gang Sentiong kami naik bajaj dengan ongkos Rp 15.000.

Kami tiba di Stasiun Senen sekitar pukul 20:30, jadi masih ada waktu untuk cetak tiket mandiri, ambil uang di ATM, salat isya, dan ngemil. Kami berkumpul dulu sesuai grup masing-masing, dipimpin oleh team leader (TL) yang berbeda setiap grup. Pukul 22:30, kereta Progo siap membawa kami ke Purwokerto.

Entah ke mana penumpang yang seharusnya menempati tempat duduk di depan saya dan suami. Tapi tempat duduk tersebut akhirnya diduduki mbak-mbak yang pindah dari seat sebelah yang padat ditempati enam orang. Lumayan lega jadinya karena masih ada ruang untuk menyelonjorkan kaki.

Jumat, 5 Agustus 2016 (Hari 2)

Kami sampai di Stasiun Purwokerto pukul 03:45. Waktu itu salah satu dari dua lokasi toilet stasiun sedang diperbaiki, jadi penumpang yang kebelet menumpuk di satu lokasi toilet. Mungkin karena saat buang air perempuan cenderung lebih ribet daripada laki-laki yang bisa simply pipis di urinoir, antrean di toilet wanita mengular sampai ke luar, sedangkan toilet pria nyaris kosong. Saya hampir tak jadi antre, tapi suami saya menyuruh tetap antre karena perjalanan akan panjang. Akhirnya saya menunggu 30 menit, berdiri, sekadar untuk buang air kecil. Saya sempat mendengar omongan orang yang baru keluar toilet, katanya di salah satu bilik toiletnya ada pembalut bekas pakai. Alhamdulillah, bilik toilet yang saya masuki tergolong aman meski sedikit pesing. Saya sampai diteleponi dan disusuli TL karena semua orang sudah berkumpul di bus kami kecuali saya dan suami.

Dari Stasiun Purwokerto, kami berangkat ke Wonosobo naik bus-bus kecil. Kami mampir sebentar di Banyumas untuk salat subuh, kemudian melewati para penjual salak pondoh di Banjarnegara sebelum 'disambut' warung-warung mi ongklok dan oleh-oleh carica di Wonosobo. Saya menyaksikan perubahan dari gelap hingga terang dengan foreground pepohonan dan bangunan rendah yang perlahan disinari cahaya fajar. Oh, indahnya... Tapi sayang kami terlalu mengantuk saat itu.

Gardu Pandang Tieng


Kami sarapan di Rumah Makan Hj. Laila (kalau tidak salah nama) yang menyediakan hidangan prasmanan. Setelah itu, bus kembali melanjutkan perjalanan dan berhenti di Gardu Pandang Tieng. Dari ketinggian sekitar 1.789 mdpl, kami bisa melihat bukit-bukit yang subur ditumbuhi aneka tanaman sayur dan buah di lahan berundak-undak (terasering). Saya sebenarnya kepingin turun ke bawah, ke area tebing yang agak menjorok dengan satu pohon, tempat orang-orang berfoto. Tapi saya ragu karena takut tergelincir dan membahayakan si dedek dalam perut. Yup, saya waktu itu sedang hamil tiga bulan. :D

Ladang berundak di Dieng

Pemandangan dari Gardu Pandang Tieng. Di kanan bawah ada semacam tebing menjorok tempat orang berfoto-foto


Homestay dan Betapa Dinginnya Dieng!


Puas berfoto-foto, kami meneruskan perjalanan ke Kawasan Dieng Plateau untuk beristirahat di homestay. Saya dan suami dapat tempat menginap di homestay 'Kevin', terletak agak jauh dari jalan raya dengan gapura Kawasan Dieng Plateau di dekat situ. Saya dan suami sekamar berdua, sengaja request dengan biaya tambahan Rp 250.000. Kami satu rumah dengan sepasang suami istri lainnya. Hmm... Ternyata kamar saya hanya berukuran sekitar 1,8 x 1,8 sehingga hanya muat satu kasur ukuran queen. Lampunyapun temaram.

Rupanya berwisata ke Dieng membuat saya menyadari bahwa saya tak terlalu kuat udara dingin. Padahal, sebelumnya saya selalu memilih gunung daripada pantai jika ditanyai tentang tujuan liburan favorit. Menurut sebuah aplikasi cuaca, suhu saat itu sekitar 26 C, tapi rasanya lebih dingin daripada suhu AC. Dieng Culture Festival memang selalu diadakan di musim kemarau, yakni sekitar Juli-Agustus. Uniknya, di Dieng, udara di musim kemarau lebih dingin daripada di musim penghujan.

Di homestay, saya tak melepas jaket dan malah memakai kaos kaki. Kalau keluar kamar, saya berjingkat-jingkat agar menghindari lantai keramik yang dingin dan baru menapakkan kaki saat menginjak karpet atau lantai vinyl. Mandi, sih, bisa di-skip, tapi kalau wudu? Di kamar mandi sebenarnya ada water heater, tapi baru beberapa kali dipakai sudah rusak. Suami bilang mandi dengan air dingin lebih segar dibanding pakai air hangat. Hmm, segar apanya? Justru saya memilih bergelung di balik bed cover setelah mandi. Serius, udara di homestay rasanya lebih dingin daripada udara di luar sampai saya menggigil walau tidak ada kipas angin atau AC. Mungkin karena saya lebih banyak bergerak di luar rumah, jadi badan terasa lebih hangat.

Telaga Warna


Setelah salat Jumat dan makan siang, rombongan trip kami diajak pergi ke Telaga Warna. Saat itu telaga berwarna hijau telur asin, namun konon warnanya bisa berubah menjadi kuning atau bahkan pelangi (hence the name). Salah satu obyek wisata di Dieng, Wonosob,o ini luas, jadi jangan setop hanya berfoto di situ-situ saja. Putarilah telaga dan Anda akan menemukan hutan yang 'menyembunyikan' beberapa gua yang sering dijadikan tempat bermeditasi. Dekat patung emas, saya menemukan taburan kembang-kembang sesajen di sebuah pojok. Namun suasana kali itu tak mistis karena banyak pengunjung dan ada lantunan musik dari dua grup musisi jalanan.

Dua orang yang sedang berusaha meniti batang pohon yang sudah roboh demi mendapatkan hasil foto terbaik
Area hutan Telaga Warna

Bukit Scooter


Tujuan berikutnya: Bukit Scooter. Namanya lucu, ya, mengingatkan saya akan Teletubbies. Akses masuk obyek wisata ini melewati rumah-rumah penduduk, kemudian menanjak dan mulai memasuki alam terbuka. Wah, ngos-ngosan juga saya karena trek naiknya lumayan panjang walau sudah disemen. Menjelang puncak bukit, trek berubah menjadi tangga-tangga sempit.


Climbing up!

Rasa lelah hilang saat bisa melihat pemandangan sekitar Dieng 360 derajat. Orang-orang antre naik ke semacam gardu pandang untuk berfoto, karena 'menara' bambu ini hanya bisa memuat maksimal dua orang. Seharusnya kami bisa menikmati sunset sore itu, tapi sayang mataharinya tertutup awan. Kami pulang ke homestay sebelum gelap untuk mandi, salat magrib, dan makan malam sebelum mengikuti agenda berikutnya.


Kebun sayur yang subur, menjelang puncak Bukit Scooter

Pemandangan dari puncak Bukit Scooter

Jazz Atas Awan


Ini dia acara yang saya tunggu-tunggu. Saya dan suami berangkat berjalan kaki ke Komplek Candi Arjuna karena memang tidak ada angkutan ke sana. Jaraknya lumayan jauh bagi saya, tapi kami bergabung dengan rombongan yang juga berjalan kaki ke situ. Harusnya kami membawa senter karena tidak ada lampu di sepanjang jalan setelah melewati pemukiman. Dari jauh terdengar lagu-lagu jazz internasional sedang dibawakan oleh salah satu band. Wah, rasanya tak sabar ingin segera sampai!

Memasuki Komplek Candi Arjuna, banyak penjual jajanan di kanan kiri jalan. Mulai dari jajanan populer di Dieng seperti kentang goreng dan jamur crispy, sampai jagung bakar dan martabak. Kalau acara belum dimulai dan saya lapar mata, mungkin saya akan mampir beli ini itu. :)) Ada juga orang yang mencari uang dengan mendandani diri seperti pocong atau Valak dengan tarif foto bareng sekitar Rp 5.000 sekali foto. :))

Setelah melewati stan makanan berat di pinggir-pinggir panggung, kami masuk ke area penonton dengan menunjukkan ID card VIP Dieng Culture Festival. Rupanya ada pentol kentang gratis untuk setiap penonton VIP Jazz Atas Awan. Lumayan juga, bikin kenyang. Di sana, kami melihat Putri Indonesia 2016, Anindya K. Putri, ikutan nonton jazz. Aslinya cantik dan tinggi banget padahal cuma pakai sneakers.

Kami maju mencari tempat untuk duduk. Di sini, semua penonton either berdiri atau duduk di lapangan berumput dan tidak ada kelas-kelas VIP atau festival seperti di konser pada umumnya. Saat itu sedang ada pergantian performer yang diisi dengan penampilan tiga MC kocak. Entah siapa nama mereka, tapi banyolan mereka memang geblek. :))

Penampilan salah satu band di Jazz Atas Awan hari pertama

Sayangnya, setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan dua performer yang bikin saya memilih beranjak pulang daripada mengikuti acara sampai selesai. Sebenarnya vokalis di band yang tampil setelah MC tersebut suaranya lumayan bagus, tapi omongannya agak ngawur dan membosankan. Mungkin ia sedang nervous atau kedinginan -- atau mungkin keduanya.

Saya sabar menunggu penampilan mereka yang lumayan lama untuk melihat pertunjukkan berikutnya. Ternyata, setelah itu ada gitaris solo yang sebenarnya bakatnya sudah diakui secara internasional, tapi dua aransemen pembukanya sungguh absurd menurut saya yang awam ini. Bahkan, suami saya bilang musiknya seperti pemanggil setan. :)) No offense, guys, ini cuma opini pribadi kami yang mungkin selera musiknya cetek.

Overall, Jazz Atas Awan yang saya nantikan sejak lama justru mengecewakan, tentu selain penampilan tiga MC menghibur tadi. Area penontonnya yang berupa tanah yang dilapisi rumput pendek entah kenapa berlubang-lubang dan tidak rata, bikin enggak nyaman duduk di situ. Lagipula, rasanya tak perlu beli tiket untuk bisa menikmati lantunan musik jazz dari para performer, soalnya area penonton dan umum hanya dibatasi selapis pagar rendah, jadi orang-orang bisa menonton dari luar pagar atau bahkan sambil makan di stan-stan sekitar.

Kami pulang dengan menempuh rute yang sama. Kali ini jalanan lebih gelap karena saya dan suami pulang tanpa rombongan. Saatnya beristirahat di homestay!

Tunggu tulisan tentang pengalaman kami di hari ke-3 dan 4 di Dieng Culture Festival ya!