edited by canva
Jika kita menengok peristiwa beberapa hari belakang, sepertinya cukup banyak kasus bunuh diri yang terjadi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. “Gong”-nya, waktu vokalis Linkin Park, Chester Bennington yang diduga bunuh diri dengan cara menggantung diri, Kamis (20/7) waktu setempat. Tentu saja, ini cukup menggemparkan banyak pihak, terlebih aksi serupa sebelumnya juga dilakukan oleh musisi Chris Cornell dan aktor Robin Williams.
Beberapa hari setelahnya, sepasang kakak beradik mengakhiri hidupnya dengan cara terjun dari lantai 5A Apartemen Gateway, Bandung, Jawa Barat. Kedua kakak beradik ini diduga mengalami gangguan jiwa setelah ibunya meninggal di tahun 2006 silam. Keduanya masih tergolong muda, kakaknya berusia 34 tahun, sementara adiknya 28 tahun.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Into The Light Indonesia (@intothelightid) pada

Kejadian-kejadian ini tentu cukup menggelitik, terlebih mengapa bunuh diri ini dilakukan oleh orang-orang yang masih dalam usia produktif? Dalam artian, sebenarnya mereka masih bisa menelurkan karya.

Berbagi Cerita dengan Suci Ramadhona
Minggu lalu, saya ditugaskan untuk membahas materi bunuh diri untuk program saya, dengan target narasumber berupa psikolog dan juga orang yang pernah mau bunuh diri. Dengan bantuan narasumber saya yang lain (Mba Indri Save Yourselves ID), saya bertemu dengan Suci Ramadhona. Saya sungguh berterima kasih kepada Suci yang telah mau berbagi kisah hidupnya yang sempat berada di titik terbawah (menurut saya ini isu yang agak sensitif sih).
Siang itu, saya bertemu dengan Suci di Coworkinc, Kemang. Ia membuka ceritanya dengan mengomentari kejadian bunuh diri yang terjadi beberapa hari ke belakang ini yang membuat dirinya cukup prihatin. Saya pun akhirnya masuk ke inti wawancara. Wanita yang kini berusia 27 tahun itu menyatakan bahwa dirinya sempat berpikir untuk bunuh diri sekitar 2 tahun yang lalu.
Alasannya, karena dirinya terlalu memikirkan pendapat orang lain. Ada sebuah kejadian yang berulang, dimana ia terus menerus dibuat down oleh rekan kerjanya selama 3 bulan. Suci yang semula ceria perlahan berubah menjadi pendiam. Suci sendiri tipikal orang yang senang memendam masalahnya sendiri alias jarang berbagi cerita dengan orang lain.
Beberapa tahun sebelumnya, Suci juga sempat ingin bunuh diri karena merasa dikhianati oleh teman dekatnya. Kejadian itu sempat membuat dirinya berhenti kuliah selama satu tahun. Namun pikiran untuk mengakhiri hidup lama-lama hilang berkat peran sang mama. Kasih sayang dan cinta mama kepada Suci yang tanpa batas serta mau menerima sang anak apa adanya membuat Suci bertahan sampai sekarang.
Suci pun mulai bangkit dari keterpurukan. Ia mulai mencari berbagai kegiatan dan juga bergabung dengan komunitas yang positif untuk mengisi hari-harinya. 
"So far this is the best year of my life" - Suci Ramadhona
Menurut Suci, lingkungan memang memiki peran untuk bangkit, apalagi keberadaan teman curhat. Setiap orang butuh didengarkan agar tidak merasa sendirian, walaupun si lawan bicara tidak memiliki solusi untuk masalah kita. Namun yang tak kalah penting adalah pemikiran yang berasal dari diri sendiri. Bagaimana kita mengusir pikiran negatif dan segala keinginan untuk mengakhiri hidup dari otak kita. Bagaimana kita menghargai diri kita sendiri dengan menghadiahi diri seperti liburan, makan enak, dandan, dan lain sebagainya.
Well, I’ve got my point!

Menilik dari sisi Psikolog
Psikolog Elizabeth Santosa mengungkapkan bahwa bunuh diri bisa terjadi karena banyak faktor atau sebab. Namun memang penyebab yang paling banyak adalah depresi.
Depresi sendiri memiliki arti suatu kondisi kejiwaan, dimana individu merasa menyerah terhadap hidup, pasrah dan tidak ada lagi daya juang. Biasanya, orang dengan kondisi seperti ini memiliki daya tahan terhadap stres yang sangat rendah. Dan jika ia diterpa tekanan atau masalah secara terus menerus akan timbul pikiran atau niat untuk menghabisi nyawa sendiri. Orang tersebut merasa tidak bisa mencari solusi, atau merasa sendirian. Ia merasa orang lain tidak memahami dirinya. Bahkan, terkadang orang yang depresi itu juga tidak memahami dirinya sendiri.
Lizzie, sapaan akrabnya, menyebut bahwa persepsi seseorang menghadapi masalah itu berbeda-beda. Misalkan masalah A, membuat si B depresi tapi tidak dengan si C yang justru merasa biasa biasa saja. Depresi bisa menyerang siapapun, bahkan yang kita pikir masalahnya tidak begitu berat. Semua bergantung dengan bagaimana kondisi jiwanya saat itu dan juga daya tahannya dalam menghadapi tekanan.

“Jangan salahkan tantangan luarnya, karena tantangan besar kecilnya tergantung persepsi,” - Elizabeth Santosa, Psikolog

Kondisi ini juga tidak mengenal usia. Fase remaja dan dewasa muda menjadi fase yang paling rentan terkena depresi, sebuah fase dimana mereka masih mencari jati diri. Jadi, jika kita melihat keluarga kita atau teman kita mulai murung, sering mengeluh dan meninggalkan pesan ingin mengakhiri hidup karena capek/lelah (baik diungkapkan langsung ataupun ditulis di media sosial), jangan pernah menganggap remeh hal tersebut. Dalam kondisi ini, kita sebagai orang terdekat harus peka dan terus memberi dukungan, bukan justru menganggapnya lebay dan ‘jadi kompor’ supaya ia benar-benar melakukan apa yang dia ungkapkan. Ajak ia untuk ngobrol, curhat, dan juga ajak tamasya. Mengutip pernyataan Lizzie, orang depresi sangat rentan terhadap hormon serotonin yang rendah, artinya ia butuh vitamin D, butuh cahaya matahari, butuh yang hijau-hijau, sehingga rekreasi menjadi salah satu hal yang bisa kita lakukan.

Suicide Prevention ala Save Yourselves ID 
Jika Amerika memiliki beberapa lembaga resmi untuk mencegah tindakan bunuh diri, lain halnya dengan Indonesia. Justru gerakan komunitas atau social enterprise yang fokus terhadap pencegahan bunuh diri. Saya tidak bilang jika kita tidak memiliki lembaga resmi untuk mencegah bunuh diri lho. Kementerian Kesehatan kita menyediakan nomor darurat 119 untuk mencegah aksi bunuh diri. Jadi jika kita melihat orang yang ingin melakukan aksi bunuh diri, kita bisa menghubungi nomor darurat tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga telah membuka layanan konsultasi bagi pengidap depresi melalui nomor telepon 500-454 yang diluncurkan 10 Oktober 2010, namun berhenti beroperasi tahun 2014 karena sepi peminat.
Bicara soal social enterprise, saya menemukan Save Yourselves ID yang berfokus terhadap kesehatan mental, termasuk pencegahan bunuh diri. Save Yourselves ID sendiri dibentuk sejak Oktober 2016 dan telah menerima aduan sebanyak 1500 buah hingga saat ini. Targetnya adalah anak muda (selain alasan yang tadi sudah saya sebut di atas, Save Yourselves ID menyebut ada peningkatan kasus bunuh diri yang terjadi dalam rentang usia muda), pendekatannya menggunakan media sosial.
CEO Save Yourselves ID, Indri Mahadiraka, menyebut bahwa mereka hadir sebagai teman. Siapapun bebas menghubungi Save Yourselves ID untuk sekedar berbagi cerita ataupun masalah. Bisa saja orang selama ini merasa malu jika menghubungi psikiater atau psikolog, karena stigma yang akan melekat adalah ‘sakit jiwa’ (dan juga lumayan mahal untuk menghubungi psikolog/psikiater). Entah mengapa stigma tersebut terasa sangat negatif di masyarakat.

“Saya merasa ada stigma yang harus diubah ya. Mengenai kesehatan mental. Kita kalo misalnya ada temen kita atau siapa yang bilang, ‘saya depresi, saya merasa ingin bunuh diri’, kadang-kadang kita merasa nih orang lebay banget sih. Padahal dia sebenarnya sedang menderita juga. Dia juga membutuhkan bantuan. Saya rasa stigma-stigma seperti itu yang masih kurang diedukasikan di Indonesia,” - Indri Mahadiraka, CEO Save Yourselves ID

Bukan sembarang orang yang akan membalas jika ada yang menghubungi Save Yourselves ID, melainkan dari tenaga psikolog dengan prosedur konseling psikologi klinis. Mengingat hal ini cukup sensitif, sehingga tim dari Save Yourselves ID diberikan pelatihan dalam membalas pesan. Yang paling pertama mereka lakukan adalah dengan menenangkan terlebih dahulu, jangan sampai orang yang menghubungi merasa kita menyerang balik. Dari situ, lalu Save Yourselves ID akan mengikuti prosedur psikologi yang sudah mereka ikuti dengan ketat.
Beragam cerita diterima oleh tim Save Yourselves ID, mulai dari masalah keluarga, hingga masalah bullying. COO Save Yourselves ID, Riva Respati Rumamby, menyatakan tak hanya orang introvert, justru extrovert sekalipun bisa terganggu mentalnya. Bahkan, kasus orang extrovert ini dianggap lebih berbahaya, karena mereka yang sangat pintar berkomunikasi dan mengelabui lawan bicaranya dengan tetap tampil ceria, padahal dalam pikirannya kita tak pernah tahu.

“Kita ingin user mengetahui kalau kita ada untuk membantu mereka,” - Riva Respati Rumamby, COO Save Yourselves ID

Sejatinya memang tidak ada manusia yang tidak memiliki masalah. Tinggal bagaimana kita menyikapi permasalahan tersebut. Postingan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyadarkan bahwa kita tak pernah sendiri. Ada keluarga, teman, dan masih banyak komunitas (seperti Save Yourselves ID dan Into The Light ID) yang peduli dengan kita, dan mau mendengarkan serta menerima kita apa adanya. Dan yang terpenting, keinginan untuk bangkit dan percaya pada diri sendiri bisa menjadi kunci menghapus pemikiran negatif untuk mengakhiri hidup. 

Salam hangat,

Zakia

PS.
Ini hasil liputan saya yang sudah disunting oleh produser saya, Agustinus Dwianto. Thank you, Bos!
Dan terima kasih juga buat kameramen ciamik, Ryan Andriansyah dan Reporter Dhea Mulya atas bantuannya wawancara psikolog juga Lenny Hariani atas masukannya di oncam closing. Oh ya sama Yana Maliyana juga atas masukan idenya :3