Setiap orang pasti mendambakan akan hidup yang seimbang, setiap orang pun pasti punya kriterianya sendiri mengenai kehidupan yang seimbang.Tetapi bagi saya kehidupan yang seimbang yaitu, kita tidak lagi bergantung pada suatu instansi pemerintah maupun swasta. Sehingga kita dapat membagi waktu kita sendiri, misalnya kita masih memiliki waktu untuk keluarga walaupun bekerja, kita juga masih bisa melakukan banyak kegiatan tanpa harus meminta izin cuti, dsb.

Saya sebagai wanita memiliki impian untuk menjadi ibu rumah tangga, tentu saja bukan dengan alasan tidak ingin bekerja. Tapi saya tidak ingin suatu saat nanti ketika saya sudah menjadi istri dan seorang ibu, anak saya tidak menjadi anak bibi, anak nenek, atau pun sebutan yang lain yang di labelkan kepada anak-anak yang tidak di asuh langsung oleh orang tuanya dengan alasan "Sibuk Bekerja Di luar".
Oleh karena alasan itu, saya bertekad untuk sudah mulai merintis usaha dari nol kecil. Agar impian saya menjadi ibu rumah tangga yang produktif  suatu saat nanti bisa terwujud.
Mungkin itu impian yang sederhana bagi kebanyakkan orang tapi tidak untuk saya, karena merintis usaha sendiri dari nol kecil tidak lah mudah. Tapi saya tidak pesimis, saya pernah membaca sebuah perjalanan hidup melalui media social instagram dari muslimah tangguh di luar sana yang sudah lebih dahulu memajukan usahanya yang dirintis juga dari nol kecil.

Mereka adalah Angella Fransisca dan Ana Chintya, mungkin belum banyak yang tahu tentang mereka, perjalanan hidup dan perjuangan mereka tentu saja berbeda.
Teh angie dengan kedua orang tua yang memutuskan untuk bercerai, tapi beliau memilih untuk berdiri tegak di usia mudanya dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan dengan memulai berwirausaha walaupun dari segi ekonomi kedua orang tuanya mampu untuk memberikan modal agar usahanya bisa maju lebih cepat tapi "teh angie" biasa beliau disapa yang baru saja mendapatkan karunia anak perempuan, menolak bantuan dari kedua orang tuanya. Dan dengan tekad, usaha dan doa. Sekarang teteh angie sudah memiliki butik dan rumah jahit sendiri dengan 65 mesin jahit dan karyawan yang terus bertambah karena permintaan produk-produk teh angie semakin diminati.

Ana Chyntia, yang biasa disapa "cece", beliau juga memulai semuanya dari nol dengan modal "nekat". Iya, nekat. Karena beliau berani meninggalkan zona nyaman sebagai seorang karyawan yang biasanya tidak perlu repot-repot lagi memikirkan pendapatan setiap bulannya (Yang ini kita sama ya ce, hehehe).
Tapi beliau memilih untuk resign dan memulai usahanya sendiri, dari produk yang di tawarkan mulut ke mulut sampai akhirnya sekarang sudah banyak yang mengetahui produk khas design cece sendiri dan banyak diminati oleh muslimah yang ingin berhijrah menggunakan hijab syar'i.


Keduanya memiliki produk andalan masing-masing tapi alasan kenapa saya menjadikan mereka berdua sebagai inspirator untuk saya berwirausaha, karna mereka menunjukkan bahwa tidak ada proses yang menghianati hasil, asalkan kita bersabar, tekun dan tidak mudah menyerah :)