Weekend lalu gue berlibur ke pulau Pari bersama teman-teman kantor. Dadakan banget karena gue sendiri juga baru fix pada H-1. Kami ber-10 berangkat sendiri backpackeran tanpa ikut agensi travel and tour, karena ada teman yang sudah sering ke sana jadi udah punya kenalan yang punya kapal dan penginapannya.


Kami berangkat dari kantor di daerah Senopati jam 6 pagi menuju pelabuhan Kali Adem, Muara Angke,  menggunakan Grab Car. Tadinya mau ngeteng pakai Trans Jakarta, tapi takut telat karena kapal terakhir pukul 8. Kapalnya besar, sejenis kapal besar dari kayu tapi gak ada ac, jadi lumayan pengap kalau belum jalan. Lantai bawah ada kursinya, lantai atas emperan. Perjalanan menggunakan kapal memakan waktu sekitar 2 jam. Mayan deh buat tidur bentar.


Setelah sampai, kami langsung diantar menuju Cottagenya. Cottagenya nyaman, bersih, dan lengkap. Total ada 2 kamar mandi, 4 ruangan dengan 4 kasur king size, dengan 2 ac.  Jadi 1 ac mengakomodir 2 ruangan. Kasurnya sejenis springbed tanpa dipan. Lengkap dengan bantal dan guling. Cottagenya sendiri gak terlalu luas, mungkin hanya 5 x 10 m. Tetapi menurutku sih pas. Cuma di sini gak disediakan selimut, kalau malam jadi lumayan dingin, jadi buat yang ga tahan ac mending bawa jaket dan kaus kaki.

Pulau Pari ini sendiri adalah salah satu pulau dalam Kepulauan Seribu. Pada Pulau ini terdapat beberapa pantai seperti Pantai Pasir Kresek dan Pantai Pasir Perawan. Tempat ini biasa dituju karena ikannya warna-warni, lucu. Pulau ini sendiri lumayan besar dan super ramai. Banyak banget rumah penduduk, bahkan ada sekolah dan puskesmasnya. Jadi jangan takut bakal kelaparan, warung pun ada banyak di sini. Harganya pun gak mahal dan masih masuk akal. Gue makan nasi pecel ayam Rp 22.000, terus jajan telor gulung satunya Rp 2000.

Untuk pantainya sendiri, airnya standar ya, gak bening-bening amat. Pasirnya juga gak terlalu putih. Mungkin karena terlalu banyak wisatawan jadi sudah gak terlalu bagus lagi. Karangnya pun sudah pada mati, warna coklat-hitam semua. Tapi ikannya itu loh, bagus-bagus! Ragam, jenis, dan warnanya macem-macem. Di tempat snorkeling sendiri ada beberapa bulu babi, tapi di dasar banget kok dan gak terlalu banyak. Jadi aman.

Hari pertama gue sampai Pulau Pari sekitar jam 11. Setelah beberes di cottage, kami makan dan ngobrol-ngobrol bentar sebelum pukul setengah 1 siang menuju lokasi snorkeling. Lokasinya sendiri gak terlalu jauh dari pulau Pari, sekitar 10 menit menggunakan kapal juga sudah sampai. Sayangnya kamera teman gue di sini rusak jadi gak ada foto underwaternya sama sekali. Selesai snorkeling sekitar pukul 3, lalu kami kembali ke cottage untuk mandi dan bersih-bersih, sebelum mengejar sunset.

Kapal snorkeling

Di perjalanan, gue ngeliat beberapa anak kecil yang lagi asik main di pinggir pantai. Kalian dulu pas kecil juga pasti suka buat rumah atau kastil pakai pasir pantai kan? Nah begitu juga yang dilakuin anak-anak ini. Mereka tampak asik sendiri dan sama sekali gak terganggu walau hidup jauh dari keramaian dan pusat kota. Padahal kalau mereka bosan gak bisa langsung ngesot ke Timezone, nonton bioskop, maupun belanja-belanja. Tapi mereka tampak gak terlalu peduli dengan ketidakhadiran hiburan-hiburan itu. Jadi ngerasa kangen gak sih dengan masa kecil dulu? :’))


--------------------------------------------------- batas nostalgia --------------------------------------------

Gue cintaaaaa banget sunset! Suka banget sama paduan warnanya, orange-pink-ungu-biru <3 Tapi untuk mencari sunset, kami harus jalan cukup jauh sekitar 2 km ke ujung pulau, yaitu ke pulau Pasir Kresek. Gue saranin mendingan sewa sepeda aja sih nanti tinggal diparkir di parkiran sepeda. Begitu sampai ujung pulau, agak shocksoalnya jalanannya cuma setapak gitu lebarnya paling semeter, dan udah hancur-hancur pula. Jadi hati-hati kalau ke sini jangan pakai sandal/sepatu yang licin ya, soalnya kiri kanannya karang-karang gitu jadi kalau kepeleset ya wasalam. Terus yang paling sedih, ternyata mataharinya tertutup awan, jadi cuma kelihatan semburat warnanya saja.




Katanya sih ini pulau pribadinya Raffi Ahmad


Jalannya parah banget

Ada ikan mati!

Selesai foto-foto, kami kembali berjalan menyusuri pulau Pari untuk menuju pantai Pasir Perawan. Banyak warung di pinggir pantai ini, cocok jika dijadikan tempat nongkrong untuk menikmati malam di pinggir pantai.
Ini kalau siang dijadiin pondokan pengunjung pantai


Gue iseng googling buat cari tahu kenapa sih namanya agak unik gini. Ternyata ada sejarahnya guys:
Pemberian nama Pantai Pasir Perawan pun tidak terlepas dari sebuah cerita yang beredar di masyarakat Pulau Pari. Dahulu kala, ada seorang gadis yang jatuh cinta kepada nelayan di Pulau Pari. Keduanya menjalani kisah cintanya dengan kebahagiaan. Tapi ketika tiba saatnya bagi si nelayan untuk pergi melaut, dengan berat hati si gadis merelakan sang pujaan hatinya pergi.
Waktu yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Nelayan pujaan hati tak pernah datang. Sang gadis yang setia menunggu selalu menanti kekasihnya di pantai yang ada di Pulau Pari hingga akhir ajalnya. Warga setempat lalu menamakan pantai ini dengan sebutan Pantai Pasir Perawan.
Pantai yang dikelilingi hutan bakau sebagai pertahanan pantai ini dapat dijelajahi dengan menaiki sampan yang tersedia di tepian pantai. Pengalaman unik manaiki sampan sambil mengelilingi hutan bakau akan menjadi pengalaman tersendiri ketika berkunjung ke pulau ini. 

Besok paginya kami niat buat hunting sunrise, tapi lagi-lagi gak jodoh. Hujan deras! Yaudah, lanjut tidur lagi aja. Agak siangan baru deh main ke Pantai Pasir Perawan. Nah di pantai ini yang paling bagus dibandingin pantai lainnya di Pulau Pari. Di sini bisa dipakai untuk berenang dan juga ada hutan bakaunya. Jadi kita bisa pakai kapal kecil buat keliling-keliling di hutan bakau.







Nah berikut ini akan gue kasih rincian harga yang harus disiapin kalau lo mau ke pulau Pari tanpa agensi tour.
·         Kapal: 40.000 x 2: 80.000
·         Grabcar per orang: 25.000
·         Cottage, kapal snorkeling, alat snorkeling per orang: 100.000
·         Tiket masuk pulau kresek: 4000
·         Pecel ayam: 22.000
·         Telor gulung: 2.000 x 5: 10.000
·         Uber car untuk pulang per orang: 10.000
Kalau ditotal, cuma Rp 251.000, paling ditambah biaya makan lagi dan patungan kapal buat keliling di hutan bakau. Pokoknya gue jalan kemarin gak menghabiskan lebih dari 350.000. Such a great deal for short holiday.


Sebenernya secara keseluruhan gue gak terlalu impressed yang gimana-gimana sih sama tempat ini. Mungkin karena pantai-pantai di tampat tinggal gue lebih bagus dan di sini gue gak dapet sunrise plus sunset. Tapi gue seneng karena dapet kenalan baru, pengalaman baru, dan santai sejenak di tengah kebosanan gue bekerja.




Reach me on earlyregina10@gmail.com