Siang itu bandara Kuala Namu Sumatra Utara terlihat ramai, terutama pada Gate Counter Lion Air Group. Aku menenteng ransel dan tas pundakku dan bersiap untuk melewati scanner gate. Saat sedang ingin melepas ikat pinggangku, terdengar suara seorang Ibu bertanya:

“Dek, gimana ini caranya? Tasku taruh di mana?”

Keningnya berkerut, matanya membelalak kebingungan. Tangannya dengan kuat mencengkeram tas tangan satu-satunya yang ia bawa.

“Ini Bu, tasnya ditaruh melewati scanner ini. Nanti Ibu masuk melewati gate itu untuk diperiksa petugasnya,” jelasku.

“Duluan aja ya, dek. Nanti Kakak ngikutin. Kakak baru pertama kali naik pesawat.”

Aku langsung waspada. Pikirku, apa benar ibu ini baru pertama kali naik pesawat? Melihat penampilannya, kok dia minta dipanggil kakak instead of Ibu? Aduh, apa dia ini berniat jahat ya? Semua kata-kata ini berseliweran di kepalaku. Jujur saja, aku sedikit parno. Maklum, aku saat itu sendirian. Keluargaku menaiki Garuda sehingga kami berpisah di counter depan.


Setelah melewati scanner, ternyata Ibu ini tetap mengikutiku. Dan sialnya lagi, ternyata dia satu pesawat denganku! Ya Tuhan, cobaan macam apa ini. Rasanya waktu itu parno banget. Maklum, hpku pernah dicopet oleh Ibu-Ibu waktu di Bandung saat kuliah dulu. Jadi aku tidak akan mengeluarkan Ibu-Ibu yang memelas ini dari daftar orang yang patut dicurigai.

“Kakak belum pernah naik pesawat, nanti bareng ya Dek sekalian tunjukkin jalannya.”

“Kakak mau ke Bekasi melihat anak kakak, jadi dia yang beliin tiket kakak.”

“Dek, pegang dulu tangan kakak! Kakak belum pernah turun tangga (escalator) ini.”

“Dek nanti sekalian ambilin barang kakak ya pas turun pesawat.”

DHEG!

Mati gue, apa ini kurir narkoba?! Apa gue lagi ditipu?!

“Bu, ini semua barang yang saya bawa. Saya gak naruh barang di bagasi,” aku mencoba melarikan diri. Tetapi memang benar sih, aku tidak ada barang di bagasi.

“Ah gak apa-apa lah nanti bantuin kakak bentar!”

Mampus, ternyata dia lebih ngotot lagi! Aku pun diam saja dan menyusun rencana untuk segera kabur begitu sampai di Soetta.

Saat masuk ruang tunggu, tidak ada kursi tersisa lagi. Aku pun hanya berdiri di pinggir ruangan. Ibu tadi ikut berdiri di sampingku.  Aku tidak berani mengeluarkan hp untuk menghubungi keluargaku, takutnya dia mengincar hpku. Setelah melemparkan pandangan ke seluruh ruangan sekali lagi, aku menemukan beberapa kursi yang kosong. Aku lalu mengatakan kepada Ibu itu untuk duduk terlebih dahulu. Setelah itu aku mencoba melarikan diri dengan duduk di sisi yang berlawanan dari tempat duduk Ibu itu.

Yes, aman!

Tidak lama aku melihat keluargaku lewat, ternyata ruang tunggu mereka di sebelah ruang tungguku. Mereka lalu menghampiriku, kebetulan tempat duduk di sampingku sudah kosong. Aku langsung menceritakan semua yang kualami tadi. Mama, setengah histeris, berkata untuk menjauhi Ibu tadi dan memberitahukan aku agar Ibu tadi untuk ditolong oleh petugas bandara saja. Aku pun, dengan lebih histeris, berkata bahwa aku takut dan aku gak akan mau membantu dia mengambil barangnya. Pikirku, kalau Ibu ini jujur biar lah aku berdosa. Sebab kalau ternyata Ibu ini orang jahat, risikonya besar sekali.

Tetapi sepertinya takdirku adalah dipertemukan lagi dengan Ibu itu. Sebab panggilan alamku mendesak di saat seperti ini sehingga mau tidak mau aku ke toilet, dan Ibu itu melihatku saat aku kembali dari toilet. Saat dia menghampiri tempat dudukku, aku langsung berkata kepada Orang tuaku bahwa Ibu ini lah orangnya. Orang tuaku langsung mengajak ngobrol ibu ini dalam bahasa batak. Singkat cerita, kedua orang tuaku merasa Ibu ini bukan orang jahat, tetapi dia memang benar-benar baru pertama kali naik pesawat untuk mengunjungi anaknya. Karena orang tuaku juga sempat melihat Ibu ini kebingungan bertanya-tanya kepada petugas bandara. Ibu ini bahkan ada di kelas bisnis. Dalam hati aku merasa bersalah sudah berburuk sangka pada Ibu ini.

Oke, terlepas dari aku yang terlalu parno. Aku langsung merasa miris. Anak macam apa sih yang tega membiarkan Ibunya yang sudah agak renta untuk bepergian jauh sendirian? Kalau dia memang punya banyak duit, gak bisa kah dia yang mengunjungi Ibunya? Atau dia mengirim orang untuk menemai Ibunya? Atau dia sendiri yang terbang pp menemani Ibunya?

Aku gak mau menjadi judgemental, tetapi kok ya jadi sedih banget melihatnya. Sampai Ibu ini ditakuti orang lain karena tingkahnya mencurigakan, padahal ternyata Ibu ini benar-benar tidak tahu dan bukan dibuat-buat. Apa dia gak kepikiran sejauh ini ya?


Aku langsung berjanji dalam hati, agar tidak memperlakukan kedua orang tuaku seperti ini saat mereka beranjak menua nanti. Aku berjanji untuk tidak hanya menawarkan rasa nyaman, tetapi juga rasa aman. Karena duit bisa selalu dicari, duit dapat datang dan pergi. Tetapi waktu untuk orang tua akan selalu berarti, dan tidak dapat terganti.