Pasti sudah banyak di antara kalian yang pernah dilarang untuk minum air es saat haid. Hal ini disebabkan karena banyaknya mitos yang beredar mengenai minum air es saat haid dapat membuat darah membeku dan berkumpul di rahim yang akhirnya dapat menimbulkan kista atau kanker rahim. Namun, hal itu hanyalah mitos semata. Lalu, bagaimana yang sebenarnya tejadi? 

Haid atau menstruasi adalah siklus bulanan yang dialami oleh wanita dan ditandai dengan keluarnya darah dari miss V karena adanya peluruhan dinding rahim yang disebabkan karena penurunan hormon saat tidak terjadi proses pembuahan. 
Siklus haid biasanya berlangsung antara 3-7 hari. Namun, pada perempuan yang baru pertama kali haid bisa berlangsung sampai 14 hari. Siklus haid setiap orang berbeda-beda. Namun, hal ini bukan disebabkan oleh air es yang diminum saat menstruasi. 

Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuh saat seseorang minum air es adalah metabolisme tubuh akan meningkat karena tubuh akan berusaha mengubah suhu es agar sesuai dengan suhu tubuh. Proses ini terjadi diatur oleh pusat termoregulator yang Ada di otak, yang disebut hipotalamus. Jadi, saat kita minum air es, air es tidak akan mengubah seluruh suhu tubuh menjadi suhu es yang bisa menyebabkan darah membeku. Namun, suhu es akan disesuaikan dengan suhu tubuh. 

Minum air es saat haid juga tidak dapat menyebabkan timbulnya kanker atau kista pada rahim. Kanker dan kista adalah penyakit yang dapat timbul pada rahim. Namun, pada keduanya adalah penyakit yang berbeda dari penyebab hingga pengobatannya. 

Kista adalah benjolan berbentuk kantung yang di dalamnya bisa berisi cairan, gas atau semisolid yang dapat muncul di bagian tubuh mana saja. 
Kista yang timbul di daerah rahim biasanya tidak menimbulkan gejala apabila masih Berukuran kecil namun saat kista sudah berukuran lebih besar, kista dapat menimbulkan gejala seperti nyeri perut bawah dan nyeri berlebihan saat haid.

Kista dapat timbul karena berbagai macam faktor namun kista lebih sering terjadi pada perempuan usia produktif dan jarang terjadi pada perempuan setelah menopause. Karena Ada jenis kista yang timbul karena faktor hormon sehingga kista akan lebih banyak mengenai usia produktif. Faktor risiko lainnya yang dapat menyebabkan timbulnya kista adalah pada perempuan dengan sindrom ovarium polikistik, infeksi berulang pada rahim, genetik, dan kelainan perkembangan pada saat embrio. 

Kista biasanya tidak berbahaya dan tidak dapat menyebar sehingga terapi pembedahan pun dilakukan ketika sudah terasa mengganggu kehidupan sehari-hari. Lain hal dengan kanker. 

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel secara tidak terkendali dan memiliki kemampuan merusak sel-sel sehat dalam tubuh. 

Penyebab utama kanker adalah adanya mutasi sel. Mutasi sel ini disebabkan oleh banyak faktor. Ada faktor yang berasal dari eksterna maupun interna. Faktor eksterna yang paling utama adalah terpapar zat yang bersifat karsinogenik dalam waktu lama seperti rokok, radiasi dan bahan-bahan kimia lainnya. Sedangkan faktor internanya berupa genetik, infeksi kronis, usia tua serta daya tahan tubuh yang lemah. 

Kanker bisa tidak menimbulkan gejala pada stadium awal namun akhirnya bisa menimbulkan gejala seperti rasa sakit di bagian tubuh yang terkena, berat badan turun drastis, cepat lelah, teraba benjolan di bagian tubuh tertentu yang keras dan permukaannya tidak rata. Kanker sebaiknya dideteksi pada stadium-stadium sini untuk mendapatkan penanganan yang tepat sehingga kemungkinan sembuhnya akan lebih besar. Pada kanker stadium akhir yang sudah menyebar ke seluruh tubuh akan lebih sulit ditanganinya karena banyak organ penting seperti jantung, paru, dan otak yang sudah berhasil dikuasai oleh sel kanker.