Dia yang dapat berjalan adalah dia yang tidak perlu pergi kemana-mana, mencari apa yang akan membuatnya sukacita. Didapatnya di dalam diamnya bersamaku. Dia tidak perlu menunggu musim semi, untuk membuatnya merasa segar bersamaku, seperti yang terhembus dari sayap malaikat meskipun aku bukan. Dia yang dapat berjalan adalah dia yang tidak perlu pergi kemana-mana, tetapi dia pergi juga dariku.

Padahal dia cuma tinggal berbaring, dengan bunga-bunga di taman hatinya, dan dengan tanganku yang tersimpan di bahunya, menjadi bahagia seperti orang yang telah mendapatkan keinginan, bahwa itu sudah lebih dari cukup untuk dia tidak pergi.

Diam sampai tertidur dengan begitu tenangnya. Diam sampai dokter berkata bahwa dia akan terus hidup , tetapi harus melihat aku berada di sampingnya, tetapi dia pergi juga. Apa yang harus aku lakukan, Dokter?

Aku memohon kepada Tuhan untuk membantu, agar aku bisa melihatku sedang bersamanya meskipun tidak, seperti dalam gambar-gambar di masa lalu, sehingga tidak harus pergi mengejarnya, untuk mengatakan, bahwa aku akan selalu bisa menyenangkannya, menyayanginya. Jangan pergi.

Setelah pergi, dia ya dia. Menggunakan kendaraan malam untuk mengirimkan seribu kenangan. Jam setengah sebelas malam, sebelum aku tidur, tadi datang ke kamarku, tetapi diwakili hanya oleh suaranya. “Apa khabarmu, hey?”. Tapi aku seperti berbicara dengan diriku sendiri, ketika sunyi.

Harusnya dia tahu, bahwa dia itu adalah diriku juga. Dia harus mengeluarkan keraguan akan itu. Meninggalkan pikiran buruk ke luar dari tempat tidurnya. Bukan meninggalkanku. Mengeluarkan diriku dari tempatnya yang kini apa.

Miliknya adalah aku, yang selama ini selalu membuat dirinya bangga, meskipun sering kali ia banyak menangis, tetapi hujan juga pasti akan reda, karena dia tahu apa yang ia miliki sesungguhnya adalah jantung yang ada di dalam tubuhku, yang kelak dia temukan pada anak-anaknya bertahun-tahun kemudian, sekarang masih belum. Memang, tetapi bisa sabar.

Apa yang bisa kulakukan? Tapi aku pikir bahwa aku tidak pernah akan selalu bersama halilintar dan bersama berisik hujan di kaca jendela meskipun sekarang masih. Tidurnya tak akan riang selain oleh kesetiaanku yang langka kepadanya. 


Kemudian di pagi hari, ia berdiri denganku lagi, dan tersenyum untuk mengetahui, bahwa kami percaya kepada orang yang sedang jatuh cinta, tak akan pernah peduli  dengan apa pun yang ditakutkan. Tuhan mendengar, dan dia kembali.