Semua wanita pasti mengidamkan suatu saat menjadi seorang ibu dari anak-anak mereka, yang terlahir dari rahim mereka sendiri. Tak jarang banyak pasangan yang rela menggelontorkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah demi memiliki anak yang selama ini didambakan. Ya, memiliki anak memang membahagiakan. Tetapi perjalanan yang ditempuh memang tidak mudah dan penuh tantangan. Dari setiap pekerjaan yang ada di muka bumi, pekerjaan tersulit sekaligus paling membahagiakan adalah menjadi seorang ibu. Bener apa bener banget? 😂

Walaupun menjadi ibu sangat membahagiakan, namun seringkali seorang ibu merasa capek dan jenuh mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Hal ini paling banyak dikeluhkan oleh para Ibu Rumah Tangga (IRT), termasuk aku. Dimana mungkin anak menangis terus menerus, pekerjaan rumah yang seakan tidak selesai-selesai, waktu makan yang tidak tentu, rutinitas yang itu-itu saja, dan perasaan sedih dalam menunda impian membuat banyak ibu mengeluh.

Kalimat "Aku Capek", or "I am Exhausted" normal diucapkan seorang ibu yang sedari membuka mata hingga menutup mata kembali harus mengurus anak dan rumah. Tetapi terkadang anggota keluarga terdekat, misalnya suami dan orangtua, tidak bisa menerima keluh kesah dan mengerti keletihan kita. Pasti buibuk sering mendengar nasehat-nasehat baik dari orangtua, suami, maupun orang lain yang isinya semacam ini:
1. "Kalo kamu ikhlas, ya ga akan terasa berat".
2. "Ngeluh mulu, nanti ilang pahala-nya".
3. "Memang kodratnya wanita seperti itu. Wanita itu bagai bumi dan bulan untuk anak-anaknya".


Gusti, kasian banget ya buibuk ini. Udah mah makan gak bisa santai kayak di pantai, ke kamar mandi gak bisa lama-lama karena ada yang nangis, gendongin anak sampe berjam-jam, gak bisa me time spa massage pulak, udah gitu ngeluh aja gak boleh. Kasiaaan.. kasiaaan..oh kasiaaan. Gimana bisa waras coba??? Kalo waras aja gak bisa, gimana buibuk macam aku bisa bahagiaaa. Fiuh. Nangis di pojokan.

Ngerasa sendirian? Sama, aku juga pernah merasa sendirian saat orang terdekat tidak bisa memahami kita. Padahal setiap orang punya kebutuhan untuk menyalurkan perasaan. Bukan hanya para bapak yang berhak lelah dan mengeluh capek karena mereka yang mencari nafkah. Kita ibu-ibu juga wajar mengeluh capek. Bukan karena nggak ikhlas ya, bapak-bapak. Please, mana ada ibu yang gak ikhlas ngurus anaknya sendiri. Terkadang kita cuma ingin di dengarkan. Lebih bagus lagi kalo keluhan kita di respon yang positif. Misalnya cukup jawab, "sabar ya sayang, coba aku ada disitu pasti aku bantu" atau "tunggu aku pulang ya, biar kamu bisa istirahat". Duh, bahagia banget nggak sih kalo responnya kaya gini? Apalagi kalo partner kita mau ikut terjun dalam urusan rumah tangga dan ngasuh anak. Dijamin ngebantu ibu-ibu tetap pada jalur kewarasannya masing-masing.Gak susah kok, bantulah yang ringan-ringan tanpa perlu diminta. Misalnya buang sampah, nyuci piring sendiri, rebus air untuk mandiin anak, atau menidurkan anak. Kalau gak mau ikut turun tangan urusan rumah, hire lah ART buat bantu-bantu istri. Kalo belum mampu hire ART maka: bantulah!

Anak-anakmu pun perlu contoh sosok seorang bapak yang mau ikut membantu meringankan pekerjaan istrinya. She isn't Wonder Woman! Don't let your wife fall into depression. Help her! Bantu dia dengan kemampuan terbaik kamu. Dengan cinta paling indah yang kamu punya.
Kecualiii... kalo kamu gak cinta, kamu bakal mudah mengabaikan perasaannya, menomor sekiankan kebahagiaannya. Kamu hanya akan utamakan diri sendiri dan anak-anakmu. Padahal istri dan ibu yang tidak bahagia tidak akan mampu membesarkan anak-anak yang bahagia. Jangan pernah pula punya gambaran ideal tentang istri atau ibu yang bahagia itu seperti apa. Karena kebahagiaan masing-masing orang berbeda. Sudah pernah tanya apa yang bisa membuatnya bahagia? Apa yang dia inginkan tetapi belum bisa dia raih? Sudah coba membantunya mencapai kebahagiannya?

"Dear husband, do not think if wife need to be perfect as a mom of your kids. Do not compare her to any woman, including your mom. Because every mom has their own battle and different way to raise their child. And remember, wife need to be happy too. So, do what makes her happy. Because a happy mom raised a happy kids."
(Atika Dian Pitaloka)

Teruntuk ibu-ibu hebat diluar sana, baik yang menjadi IRT maupun wanita karir, kalian sungguh luar biasa. Walau terkadang pernah terlintas menjadi seorang ibu yang gagal dan sering mengeluh, percayalah kalian telah melakukan yang terbaik yang kalian bisa. Akan selalu kamu dapati tatapan kagum dan senyuman lucu dari anak-anakmu. Tak kan lari mereka meninggalkanmu. Setiap diri kalian menjalani kisah heroik masing-masing dalam membesarkan anak-anak, yang unik dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Menjadi ibu bukanlah kompetisi. Menjadi ibu adalah perjalanan panjang penuh tantangan, yang tak luput dari tawa dan airmata. Apapun kekuranganmu, seberapa banyak keluh kesahmu, ingatlah bahwa anak-anakmu selalu membutuhkanmu, doamu, restumu, kasih sayangmu, dan bahagiamu, yang tidak dapat digantikan dengan siapapun juga. 

So, gimana setujukah setiap ibu berhak mengeluh?
Aku sih YES!😊