Jawaban untuk artikel Esther Lima, “IPB Sudah Layak Ditutup?”

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi artikel yang ditulis oleh Tante Esther Lima, yg beliau beri judul “IPB Sudah Layak Ditutup?”

Disini link-nya bagi yg ingin baca tulisan Tante Esther:

http://edukasi.kompasiana.com/2014/03/26/ipb-sudah-layak-ditutup-642403.html.

Ini beberapa hal yang ingin saya tanggapi:

1. Saya sebagai alumni IPB, tidak mengalami apa yg dikeluhkan oleh salah satu dosen IPB yang menjadi screenshot Tante Esther. Tempat duduk kami bercampur laki-laki perempuan. Kalau pun ada pemisahan tempat duduk, itu hanya terjadi saat forum pengajian. Bukan pada perkuliahan seperti biasa. Silahkan cek sendiri ke IPB.

2. Untuk komentar Tante Esther yg menyebutkan bahwa: Serta pernyataan alm. Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion, guru besar Statistika dan Genetika Kuantitatif IPB mengenai mahasiswa IPB sebagai berikut: “Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana caranya mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku diantara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu menyangkut masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak ada selesai-selesainya”. 

Tulisan ini sejatinya bukan mengomentari mahasiswa-mahasiswa IPB seperti yang disebutkan oleh Tante Esther, melainkan mengenai suasana ketekunan terhadap bidang keilmuan pada perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.

3. Pernyataan tante Esther berikut: “USAID menggelontorkan $69.5 juta tahun 2011, $3 juta tahun 2012 hanya untuk pengembangan program pertanian Indonesia, lalu meng-compare-nya dengan website Kementerian Pertanian. Dapat ditarik kesimpulan, bahwa program Kementrian Pertanian, isinya adalah program USAID. Menunjukkan matinya Kementerian Pertanian, karena yang eksis bukan programnya sendiri, melainkan program USAID yang diganti dengan istilah Indonesia sehingga seolah-olah seperti program keluaran Kementrian Pertanian”

Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab untuk hal ini? Saya rasa kebijakan pemerintah, dalam hal ini menjadi tanggungjawab kementrian pertanian. Sangat tidak bijak mengkambinghitamkan IPB. Padahal mahasiswa, dosen, dan peneliti-peneliti dari IPB sudah sangat banyak melakukan penelitian dan kajian yg kemudian dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ini mengindikasikan bahwa civitas akademika IPB sudah melakukan yg terbaik. Namun memang, penelitian hanya tinggal penelitian, jika tidak ada dukungan dari pemerintah. Oleh karena itu, sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki pemerintah yg concern ke bidang pertanian. Sehingga penelitian-penelitian yg telah dilakukan mendapat dukungan dan di aplikasikan dalam dunia pertanian, sehingga pertanian di negeri ini akan lebih maju.

4. Tante Esther menanyakan: “Bagaimana dengan IPB? Ke mana ahli-ahli pertanian dan peternakan kebanggan bangsa? Di mana agrikultur Indonesia?”

silakan cek disini untuk inovasi-inovasi yang telah dihasilkan oleh IPB: http://innov.ipb.ac.id/

Saya juga memiliki pandangan tersendiri. Di IPB tidak hanya ada fakultas pertanian saja. Tetapi juga Fakultas Ekonomi, komunikasi, dll. Fakultas Ekonomi di IPB pun menekankan pengajarannya pada bidang pertanian. Sehingga lulusan Fakultas Ekonomi IPB tidak buta akan pertanian. Begitupun jurusan Ilmu Komunikasi yg ada di IPB. Juga mempelajari bagaimana penyuluhan yang baik kepada petani dan masyarakat di Indonesia. Sehingga para lulusan IPB membangun pertanian tidak hanya dari segi agrikultur nya saja (alias bercocok tanam). Tetapi dari semua segi yang mendukung pertanian itu sendiri. Mulai dari ekonomi, komunikasi, teknologi, dll. Sehingga terintegrasi dengan baik mulai dari panen hingga pasca panen.

5. IPB Sudah Layak Ditutup??? Sepertinya Indonesia akan semakin hancur jika menutup salah 1 perguruan tinggi TERBAIK di Indonesia ini. Dimana lulusan-lulusannya mampu bersaing dengan lulusan-lulusan dari universitas lain di negeri ini. Lulusan IPB terkenal mampu bekerja di segala bidang. Saya rasa ini nilai unggul dari lulusan IPB. Contohnya saja dunia perbankan banyak membutuhkan mahasiswa IPB yang notabene bukan dari jurusan ekonomi. Kenapa? Karna mereka mampu bersaing dengan lulusan-lulusan ekonomi dari universitas terbaik di negeri ini. Dan memiliki kompetensi yang baik pula di bidang perkuliahannya dulu sehingga bisa bermanfaat untuk sektor perbankan yang banyak memiliki nasabah atau debitur di bidang-bidang pertanian. Tidak bisa dibayangkan seorang sarjana ekonomi yang harus membuat laporan keuangan atau cashflow untuk perusahaan perkebunan. Oleh karena itu lulusan IPB banyak dibutuhkan di dunia perbankan. Karna banyak sektor yang ditangani perbankan, yang tidak bisa ditangani oleh sarjana ekonomi. Belajar ekonomi bisa dilakukan oleh sarjana pertanian, sarjana kehutanan, ataupun sarjana kimia IPB. Tapi pertanian, kehutanan, perkebunan, tidak bisa semudah itu dipelajari oleh anak ekonomi.

Saya juga menyayangkan mengapa banyak perusahaan pertanian yang hanya merekrut PRIA. Sementara wanita kebanyakan hanya difungsikan sebagai tenaga administrasi. Banyak sarjana pertanian bergender wanita, yang apply di banyak perusahaan besar di Indonesia, mengalami penolakan demi penolakan. Hingga akhirnya pilihan mereka adalah beasiswa ke luar negeri dan kembali menjadi dosen, atau menjadi bankers, wartawan dan pengusaha. Karna tidak banyak perusahaan yg mewadahi sarjana-sarjana pertanian, kehutanan, dll maka akhirnya banyak yang tidak bisa idealis seperti semula. Dan bekerja pada sektor-sektor lainnya yang membutuhkan dan menghargai mereka.

IPB pun sudah banyak menciptakan wirausahawan-wirausahawan muda. Yang seringkali menjuarai ajang “Wirausaha Muda Mandiri”. Dengan begitu membuka lapangan kerja baru, dan otomatis mengurangi pengangguran. Saya mengenal salah satu pendiri boneka Horta. Dan saya sangat terkesan dengan beliau yang berusaha memperkenalkan pertanian kepada anak-anak dari usia dini dengan inovasi-inovasi yang telah dilakukannya, dan dikemas dalam program-program yg sangat menarik. Ada lagi kakak kelas saya, dari jurusan Agronomi dan hortikultura IPB, angkatan 43, yang membangun pertanian di daerahnya setelah lulus, dan membawa kejayaan pada petani di di daerah Banyuwangi, hingga kemudian ia terpilih menjadi juara 1 wirausaha muda Indonesia yg diadakan oleh Kemenpora pada bulan Oktober 2013 lalu.

6. Masalah pertanian yang ada di Indonesia bukan milik suatu institusi saja. Masalah kebijakan pemerintah yg tidak berpihak pada petani, masalah sosial masyarakat, serta kepemilikan lahan pertanian yg tidak terintegrasi, juga menjadi permasalahan yg rumit. Tidak seperti di luar negeri, dimana petani memiliki sentra produksi untuk tiap jenis produk pertanian. Petani di Indonesia memiliki lahan dalam jumlah yg sangat sempit. Dan seringkali tidak ada sentra produksi untuk tiap jenis produk pertanian.

7. IPB memang terbilang religius, bisa dilihat dari jumlah mahasiswi nya yang kebanyakan mengenakan jilbab. Tetapi saya tidak setuju jika kemunduran pertanian dikaitkan dengan mahasiswa IPB yang agamis. Banyak sekali mahasiswa IPB yang berfokus pada penelitian dan pengembangan diri, meski ada sekelompok mahasiswa yang berfokus pada kegiatan agama dibandingkan keilmuan yang mereka geluti. Kegiatan agama itu memang bagus, akan tetapi saya juga tidak menyukai orang-orang yang mengesampingkan tugas belajarnya dan berlarut larut dalam organisasi hingga kuliahnya tidak selesai-selesai.

8. Saya bangga menjadi lulusan IPB. Bagi anda yg hanya bisa mencaci maki IPB, silahkan kuliah di IPB. Dan rasakan bagaimana rasanya di ajar oleh orang-orang hebat, bagaimana rasanya mati-matian belajar untuk ujian yg sulit, bagaimana rasanya ujian akhir dengan penguji profesor dan doktor yg ahli di bidangnya, dan bagaimana susahnya kuliah di IPB. Memang IPB terkenal dengan: “masuk susah, keluar susah.” Jika banyak mahasiswa yang mengeluh akan koreksi revisi-an dari pembimbingnya dan harus membaca banyak literatur, bersyukurlah. Karna banyak anak-anak IPB yang hanya disuruh memperbaiki, tanpa diberi literatur. Semua harus mandiri, cari sendiri. 🙂

Demikian jawaban saya atas artikel Tante Esther Lima.

Semoga membuka wawasan kita semua tentang salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.

Semoga kebijakan pertanian yang diambil oleh pemerintah kita lebih berpihak pada petani.

Semoga lapangan usaha di bidang pertanian makin luas dan tidak mengenal gender.

Semoga pemerintah mulai concern pada bidang pertanian dan menggunakan hasil-hasil penelitian anak-anak IPB untuk meningkatkan kemajuan pertanian Indonesia.

Semoga pertanian Indonesia makin jaya, Dan tetap…

JAYALAH IPB KITA! 🙂

Salam hangat,

 

Atika Dian P

01 April 2014

15:18 WIB