Menyambut Hari Anak Nasional tahun 2018, Sequis mengajak masyarakat untuk berperan meningkatkan kesadaran akan bahaya perkawinan usia anak karena anak memiliki hak untuk mewujudkan hari esoknya yang lebih baik dan berkesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa. “Kita perlu menyadari bahwa perkawinan usia anak adalah masalah yang sangat serius karena ada berbagai risiko yang ditimbulkan. Salah satunya adalah risiko kesehatan terutama pada remaja perempuan jika melakukan hubungan seksual, hamil dan melahirkan. Juga terdapat risiko yang mengintai janin yang dikandung serta anak yang dilahirkan,” tambah Eko.

 

Risiko Kehamilan dan Persalinan 

Secara anatomi, tubuh remaja perempuan belum siap untuk proses mengandung dan melahirkan. “Seseorang yang sudah mengalami pubertas belum dapat disebut dewasa. Karena pubertas menandakan si anak memasuki masa remaja. Pada masa ini, organ reproduksi mulai bertumbuh dan baru berkembang menuju kedewasaan jadi sebaiknya tidak digunakan untuk melakukan hubungan seksual dan reproduksi” ujar dokter Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan  OMNI Hospitals Alam Sutera dr. Handojo Tjandra, MD., Mmed O&G (M’Sia), Sp.OG.

 

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Head of Health Claim Department Sequis dr. A.P. Hendratno. Menurutnya, masa pubertas pada remaja putri terkait dengan mendapatkan haid dan tidak berhubungan dengan dewasa secara biologis maupun mental. Organ reproduksi pun bertumbuh tidak persis sama untuk setiap orang, biasanya antara usia 16 -22 tahun. Organ intim berfungsi 100%  biasanya ketika mencapai minimal 3-5 tahun pascahaid. Perkawinan usia anak biasanya tidak didasari oleh pengetahuan reproduksi dan secara anatomi tubuh pun belum siap untuk melakukan hubungan seks dan melahirkan

 

 “Hubungan seksual yang dilakukan di usia kurang dari 17 tahun dan dilakukan dengan paksaan, tanpa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi mengandung risiko terkena penyakit menular seksual, penularan infeksi HIV, dan kanker leher rahim. “ ujar dr Hendra.  Hal ini karena organ reproduksi anak perempuan belum siap untuk melakukan hubungan seksual.Ukuran rahim remaja putri pun belum siap untuk kehamilan dan ukuran  panggul pun belum siap sepenuhnya untuk persalinan. Sehingga, persalinan pada masa remaja dapat meningkatkan risiko persalinan caesar dan komplikasinya.

 

“Jika dipaksa hamil dan bersalin, dapat menimbulkan komplikasi dan persalinan caesar karena ukuran panggul yang sempit, serta menimbulkan bekas caesarpada rahim seperti plasenta akreta (perlengketan ari-ari pada rahim). Pada paska persalinan juga rentan terjadi pendarahan,” imbuh dr Handojo.

 

Akibat dari hubungan seksual dan kehamilan di usia muda diantaranya komplikasi obstructed labour (Gangguan pada fungsi otot uterus karena terjadiperegangan uterus yang berlebihan) serta obstetric fistula (Urin atau feses  melalui vagina karena terjadi kebocoran akibat rusaknya organ kewanitaan).  Penyakit lain yang mengintai adalah carsinoma serviks  (penyakit kanker leher rahim)karena semakin muda usia seseorang melakukan hubungan seksual pertama kalinya maka semakin besar risiko terkontaminasi virus  pada daerah reproduksi.

 

Pada masa kehamilan, menurut dr Handojo, ibu juga rentan mengalami anemia (kurang darah) dan tekanan darah tinggi. Sayangnya, kondisi ini sering tidak terdeteksi pada tahap  awal, tapi dapat menyebabkan terjadinya kejang, perdarahan bahkan kematian pada ibu

 

Risiko Kehamilan Bermasalah Pada Bayi

Selain berisiko pada ibu ketika hamil atau melahirkan, perkawinan usia anak juga berisiko pada janin atau anak yang dilahirkan seperti kelahiran prematur, kelahiran dengan berat badan bayi rendahdan stunting (tubuh kecil dan pendek serta ukuran otak kecil).

 

“Masa kehamilan adalah masa pertumbuhan badan bagi ibu. Pada tahap ini, terjadi persaingan nutrisi antara janin dan ibu. Hal ini dapat mengakibatkan  defisiensi nutrisi. Akibatnya berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, terkena anemia. Sedangkan pada janin, berisiko lahir dengan berat lahir yang rendah. Anak yang lahir prematur, di masa depannya akan berisiko terkena komplikasi sindroma metabolik (obesitas, diabetes mellitus, hipertensi dll),” ujar dr Handojo.

 

Risiko lainnya menurut dr Handojo adalah dapat terjadi kematian pada janin. “Karena anatomi panggul remaja perempuan masih dalam pertumbuhansehingga proses persalinan dapat menjadi lama. Akibatnya bayi mengalami kekurangan oksigen, dapat tercemar air ketuban, terinfeksi bakteri, dan ritme jantung melemah. Hal ini rentan menyebabkan kematian pada bayi” imbuhnya. Ia juga mengatakan bahwa kematian pada bayi juga dapat terjadi jika pada persalinan ibu dalam keadaan depresi, karena tekanan darah meningkat sehingga rentan terjadi kejang sesaat setelah melahirkan (eklamsi).