Kali ini aku ingin melanjutkan cerita liburan ke kota Barabai beberapa bulan yang lalu. Udah baca yang ini belum?

Nah kali ini aku akan menceritakan liburan ke wisata “Pagat Batu Benawa” yang tempatnya masih terletak di Kota barabai. Di pagat batu benawa kali ini kalian akan menemukan yang hijau-hijau seperti di wisata sebelumnya. Yang pastinya akan memanjakan mata kalian dengan pemandangan yang tak kalah segar seperti tempat wisata sebelumnya. Yang penasaran lanjut baca aja ya :D




Tempat loket masuk wisata

Pagat Batu Benawa terletak di kabupaten Hulu Sungai Tengah tepatnya 7 km dari kota Barabai, dengan perjalanan sekitar 15 menit dengan kendaran roda dua atau empat. Selama perjalanan menuju ke tempat wisata ini  kita akan disuguhi pemandangan persawahan dan pegunungan Meratus dari kejauhan. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp. 3000/org kita dapat menikmati berjuta pesona alam yang menakjubkan. Saat memasuki pintu gerbang tempat wisata ini kita akan merasakan kesejukan khas pegunungan dan pepohonan hijau.

Tarif retribusi tempat rekreasi

Untuk kenyamanan para pengunjung obyek wisata Pagat disini dilengkapi pula dengan berbagai fasilitas seperti mushala, taman bermain anak, panggung hiburan, gazebo, toko souvenir, warung, toilet dan ruang ganti pakaian.




Setelah berjalan-jalan menyusuri tempat wisata disini, kita akan menemui sebuah lukisan yang terdapat disebuah dinding. Lukisan ini memiliki cerita yang hampir sama dengan Malin Kundang. Dan lukisan ini adalah sejarah terjadinya Pagat Batu Benawa ini. Legenda tersebut yaitu mengisahkan anak yang durhaka kepada ibunya, anak tersebut bernama Raden Panganten dan ibunya bernama Diang Insun. Menurut cerita yang berkembang Kapal yang ditumpangi Raden Panganten beserta istri dan anak buahnya belah atau pecah menjadi dua karena do’a ibunya yang terkabul, karena Raden Panganten telah durhaka kepadanya, satu pecahan dari kapal tersebut yaitu gunung yang ada di pagat Batu Benawa tersebut, dan satunya lagi berada di kabupaten Hulu Sungai Selatan. (Source : disini)


Setelah melihat pemandangan lukisan legenda Pagat Batu Benawa, berjalan lagi sekitar 2 meter maka akan menemui pemandangan yang sesungguhnya. Thats really amazing place! Pepohonan hijau disisi kanan dan kiri yang membuat pemandangan lebih segar. Suara riak air menghempas batuan cadas seperti orkestra alam yang membuat kedamaian bagi yang mendengarnya. Dan riuh para pengunjung yang sedang menikmati pemandangan alam. Ada anak-anak yang sedang asyik menikmati kesejukan air yang ada di sungai ini. Dan bongkahan batuan yang terlihat besar-besar di pinggir sungai yang dapat dijadikan tempat duduk bagi para pengunjung.







Kami pun melepas penat sebentar untuk menikmati pemandangan di tempat ini. Karena pemandangannya indah banget, sayang kalo tidak diabadikan. Mulailah jiwa narsis kami keluar. Satu-persatu bergaya di depan kamera. Kayak antrean BBM mungkin hahahaha. Iya, beneran! Kami berenam pada antri cuma buat foto-foto. Sepertinya kami disini membutuhkan seorang fotografer deh -__- karena nggak ada fotografer alhasil biasanya aku yang motoin mereka berlima satu-persatu. Saat udah selesai mereka berlima lalu aku yang teriak-teriak “Eits, jangan pergi duluuuu, fotoin aku dulu!” Selama disana kejadian ini berulang kali terjadi. Yang paling ngenes sih kami nggak bisa foto bareng berenam. Tetapi Alhamdulillah waktu aku selesai bergaya di depan kamera kemudian ada cewek, sepertinya umurnya lebih tua dari aku sih. Aku pun berjalan sembari tersenyum sama kakaknya.

Ide brilian pun muncul di otak aku. “Eh, Suli tuh ada kakak cewek. Kayaknya kakaknya sendirian aja nggak punya teman. Gimana kalo kita godain yukk minta tolong sama kakaknya buat fotoin kita berenam gitu.” Suli yang orangnya juga nggak malu-malu buat negur orang langsung aja deh tanya sama kakaknya "Kak, bisa minta tolong nggak?” tanya Suli sembari tersenyum. “Inggih, kawa ae (iya, bisa)” jawab kakanya. “Fotoin kami ya kak?” ucap Suli sambil menyodorkan kamera ke kakanya. Lalu dengan beberapa kali jepretan kami berhasil foto berenam. Kami pun memakai jurus sok kenal sok dekat. Mulai kepo, keponya yang standart aja sih. Misalnya,

kak namanya siapa?
Rumahnya dimana?
Sendirian aja disini?

Ternyata nama kakaknya itu ka Icha. Kakaknya orang Amuntai. Kakaknya kesini nggak sendirian, tetapi sama ibu dan adiknya. Daripada kasian ngeliat kakaknya sendirian jadi kami ajakin deh buat jalan-jalan lagi ke tempat lain. Selama di tempat itu kami tak perlu khawatir lagi untuk bisa foto bareng berenam. Karena ka Icha dengan senang hati menjadi fotografer kami, hihihi. Makasih ka Icha :) Ah, ka Icha ini baik banget padahal baru kenal beberapa menit yang lalu. 

Yeyyy!

Di tempat ini sudah tersedia dua alternatif untuk menyeberangi sungai, yaitu melewati jembatan gantung dan rakit bambu yang tersusun sampai ke seberang. Tentunya kedua alternatif ini memiliki sensasi yang berbeda. Meskipun begitu, untuk melewati salah satu alternatif ini kita harus membayar Rp. 2000/org untuk menyeberangi sungai. 
Penyeberangan rakit bambu

Penyeberangan jembatan gantung

Setelah berdebat panjang akhirnya kami pun memutuskan untuk melewati rakit bambu saja, kalo mau naik jembatan mah gampang bisa diatur. Oh iya, dimasing-masing tempat itu udah ada penjaganya jadi nggak mungkin buat lewat itu gratis. Kalo mau gratis sih tinggal berenang aja disungainya :P. Sewaktu melewati rakit bambu di tengah-tengahnya kami tidak langsung berlalu langsung keseberang. Tapiiii, kami bernarsis ria lagi. Udah bayar jadi harus dimanfaatkan dong. Sewaktu kami foto-foto sampai-sampai ada orang yang mau lewat, terus digangguin anak-anak yang pada berenang. Menjengkelkan, but its so funny. 
Biarpun sepatu hampir basah nggak apa-apa, yang penting foto dulu :P

Mau nyeberang masih sempat foto -__-

Setelah menyeberangi rakit bambu kami pun sampai di seberang. Nah, di tempat ini juga terdapat sebuah Goa. Di dalam Goa inilah sumber air yang mengalir di Sungai Pagat ini. Airnya yang sangat jernih dan segar sangat disayangkan jika tidak bercebur ke sungai ini. Tapi, karena alasannya kami para cewek, ribet! Kami mengurungkan niat itu dan kami hanya mengabadikan momen di tempat ini. Padahal kemaren kami juga ingin bernarsis ria di depan Goa. Tetapi karena kemaren disana ada pemotretan satu orang model oleh kakak-kakak fotografer yang entah berasal darimana, yang pastinya mereka bukan berasal dari bintang. Jadi kami langsung menaiki tangga untuk ke atas bukit lagi.

Airnya berasal dari dalam goa nih, seger!


Mau naik tangga juga teteup narsis :p

Di atas bukit kita lebih bisa menikmati pemandangan dari atas, pastinya lebih keren. Disini juga ada alternatif untuk menaiki bukit lebih tinggi lagi tentunya di atas nanti kita akan melihat pemandangan Kota Barabai. Untuk sampai ke puncak kita harus menaiki puluhan anak tangga yang terbuat dari kayu dan semen. Dan juga harus membayar Rp. 2000/org. Karena kami tidak bisa berlama-lama disana dan juga kemungkinan takutnya fisik kami tidak kuat, jadi kami mengurungkan niat untuk naik ke atas bukit :(



Kami pun duduk sebentar untuk menikmati pemandangan di bawah sana sambil berbincang-bincang dengan ka Icha. Setelah itu akhirnya kami tuker-tukeran pin BBM sama ka Icha biar nanti bisa liburan bareng lagi. Selesai berbincang-bincang kami berjalan ke arah jembatan gantung. Kebetulan yang diseberang sini tidak ada penjaganya, yang ada penjaganya cuma diseberang sana. Jadinyaaa gratis deh :P


Foto bareng ka Icha (celana abu-abu)


Setelah puas menikmati pemandangan disini, lalu kami memutuskan untuk pulang. Karena hari ini kami harus kembali ke Banjarmasin lagi. Dan artinya liburan dua hari yang singkat tetapi begitu banyak hal yang kami temukan sudah berakhir. Dan tentunya liburan ini sudah mengobati penat sehabis menghadapi ujian nasional. Semoga kami bisa liburan bareng lagi nanti, Amin :D

Pokoknya tempat wisata ini recommended banget buat liburan sekalian melepas penat dari segala kesibukan. Dan pastinya tempat ini juga cocok untuk para pencinta fotografi. Karena, keindahan di tempat ini tidak dapat dipungkiri lagi. 
Teteup narsis :)