Assalamu'alaikum...

Sahabat Ummi...

Setujukah bahwa cinta kita kepada si buah hati itu 100%?

Selalu ada cinta 100 persen di hati Ibu untuk setiap anak?

100% untuk si Mbak dan 100% untuk si Adek. Kalau kita punya 5, 10, atau 13 buah hati pun, maka masing-masing mereka akan mendapatkan cinta kita 100%.

Hanya saja, yang terjadi si buah hati sering merasa bahwa kita membagi cinta. Bahwa ada yang mendapatkan persentase cinta lebih besar dan ada yang lebih kecil. Ada si anak kesayangan.

Sahabat Ummi...

Kita adalah seorang ibu, anak-anak lahir dari rahim kita. Setiap kelahirannya, kita sama bertaruh nyawa, sekalipun proses kelahirannya berbeda, ntah normal atau cesar. Selanjutnya dalam proses pengasuhannya, memang bisa saja begitu berbeda. Ada perbedaan kondisi di setiap anak, misalnya, saat anak pertama, biasa disebut juga masa trial and error. Masa sebagai orang tua baru, yang belum memiliki pengalaman dalam mengasuh anak. Di masa itu, saya mencoba mempraktekkan berbagai teori parenting yang pernah saya dapatkan. Sampai saya menemukan formula yang pas.

Lantas, dikelahiran anak berikutnya semua "aman"?. Ternyata, nggak juga. Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda-beda, masing-masing mereka itu unik. Saya belajar kembali bagaimana mendapatkan formula yang pas berikutnya. Tapi, setidaknya pengalaman dalam mengasuh anak pertama, menjadikan saya seorang ibu yang nggak terlalu panikkan.

Itu baru dari sudut pandang perbedaan karakter anak. Belum dilihat dari kondisi lainnya. Seperti:

Saat anak pertama, masih tinggal di rumah orang tua

Saat anak berikutnya, tinggal di rumah kontrakan

Saat anak berikutnya, kondisi sedang long distance merried

Saat anak berikutnya, tinggal di kota yang baru

dll.

Kompleks... ya kompleks banget. Kondisi mental, finansial, support system, banyak lah, banyak hal yang mempengaruhi pola pengasuhan kita terhadap anak.

Ternyata, jadi orang tua itu susah yah?

Come on... Dalam hidup ini, nggak ada hal yang mudah. Kalau selama ini kita hanya menyandarkan diri kepada kemampuan kita saja, bukan kepada Sang Pemberi hidup. Jadi, saya lebih memilih untuk ikhtiar dengan siklus berdoa, berusaha, berdoa.

Sahabat Ummi...

Balik lagi ke tulisan saya di awal. Bahwa utuh 100% pun cinta yang kita berikan kepada masing-masing anak, tetap saja terkadang si anak ada merasa bahwa kita sering pilih kasih. Ada anak kesayangan. Cemburu kepada saudara kandungnya. Akhirnya, si anak mulai cari perhatian dengan berbagai polahnya.

Kok bisa?

Bisa dong, itu disebut dengan sibling rivalry.

Dalam istilah psikologi, ada namanya sibling rivalry, yang artinya kompetisi antar saudara kandung, baik yang berjenis kelamin sama, maupun berbeda. Ternyata, menurut literatur yang saya baca, hal tersebut wajar terjadi pada anak usia 5-11 tahun. Bahkan, bibit-bibit itu sudah muncul saat ibu mengandung anak kedua.

Ngalamin nggak? saat-saat si sulung mulai "bertingkah". Setelah adiknya lahir, "tingkahnya" kadang makin ajaib. Seolah ingin diperhatikan lebih. Padahal, ada saat si sulung itu mengekspresikan kebahagiaannya karena sudah punya adek. Hubungan antar anak-anak seusia itu, ternyata memang unik banget yah, bersifat ambivalent dengan love hate relationship.

Seiring bertambahnya usia, perkembangan fisik, kognisi, dan juga mental anak, persaingaan dapat menurun, karena anak mulai berpikir dan paham dengan kondisi di sekitarnya. Trus, aman?. Nggak juga sih, sibling rivalry bisa aja terjadi dalam bentuk lain, bukan lagi rebutan mainan, tapi berbeda sesuai dengan tahapan pertumbuhan anak. Hal tersebut bisa berupa bentrokan peran dan tanggung jawab. Berebut perhatian? ternyata bisa jadi tetap akan ada juga, hanya aja dalam bentuk yang berbeda, misalnya saingan dalam unjuk kemampuan prestasi akademis, jurusan kuliah, pekerjaan, bahkan sampai kepada memilih calon pasangan hidup, dll.

Yah... nggak kelar-kelar dong.

Eh, ternyata itu wajar, bahkan bisa jadi positif lho. Udah fitrah anak kan yah ingin membuat ortunya bangga. Tapi, yang harus diwaspadai itu, kalau konflik antar anak udah masuk ke ranah kuantitas dan intensitas yang agresif dan sulit untuk diatasi. Apalagi terjadi pengrusakan bahkan pemukulan. Itu artinya, butuh penanganan yang serius banget.

Sahabat Ummi...

Tentu kita bertanya-tanya, apa sih yang menjadi penyebab dari sibling rivalry ini?

Menurut seorang psikolog bernama Ratih Zulhaqqi, setidaknya ada 4 faktor penyebab sibling rivalry, yaitu:

Evolving needs


Seperti yang udah saya bahas juga di atas, adanya perubahan kebutuhan anak-anak. Jelas dong, Mbak dan adek punya kebutuhan yang berbeda. Tapi, kita sering di cap nggak adil kalau nggak memberikan sesuatu kepada mereka bersamaan.

Individual temprament

Nah, ini yang kadang suka bikin pusing. Tiap anak itu unik kan yah, punya karakter yang berbeda. Ada yang kalem seperti Mbak Nai, dan ada yang "heboh" seperti adek Khai. Jadi, ini rawan konflik banget :D

Special needs or sick kids

Orang tua yang memiliki anak special needs or sick kids, tentu memberikan perhatian khusus kepada anaknya tersebut. Sayangnya, kadang saudaranya yang lain kurang memahami kondisi tersebut, sehingga merasa bahwa dia diabaikan atau bukan kesayangan.

Role models

Ini nih yang terkadang kita sebagai ortu nggak sadar, sering kecolongan. Harusnya, kita bisa jadi contoh yang baik di depan anak-anak dalam berkomunikasi saat terjadi konflik. Jadi, anak bisa belajar bagaimana cara yang baik dalam menyelesaikan masalah.

Berarti itu semua salah anak?

Nggak juga, terkadang kita juga bisa salah bersikap.

Nggak ada salahnya juga buat kita intropeksi diri.

Jadi, kita harus gimana?

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam keseharian, agar anak paham bahwa selalu ada cinta 100 persen di hati ibu untuk setiap anak, yaitu:
  • Kita harus bijaksana dalam menghadapi kondisi anak. Jadi, bukan berarti yang lebih besar "selalu" salah. Kita sedapat mungkin bisa menengahi, dengan melindungi si Adek tanpa menyalahkan si Mbak. Mencari tahu apa yang jadi permasalahannya.
  • Berusaha untuk tidak membanding-bandingkan anak. Biar gimana pun, setiap anak punya potensi yang berbeda. Fokus saja kepada pengembangan potensi mereka, tanpa menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya.
  • Bagaimana kalau si Adek yang salah?. Bisa jadikan yah. Tugas kita untuk memberikan pemahaman kepada anak yang lebih tua, bagaimana seharusnya ia bersikap kepada adeknya, salah satunya nggak boleh main pukul. Kita juga sampaikan padanya bahwa kita memahami perasaannya dan posisinya saat ini. Agar si anak mengerti, bahwa kita juga punya empati untuknya.
  • Beri waktu khusus. Ini bisa jadi solusi jitu. Kita bisa membagi waktu, kapan punya waktu khusus untuk setiap anak. Anak akan merasa bahwa dia juga penting bagi kita. Bahkan, ini bisa memperlancar komunikasi dan menumbuhkan kepercayaan diri si anak. Ntah ngobrol berdua, atau jalan-jalan berdua saja.



    Sahabat Ummi...

    Jangan sampai anak-anak, merasa akan mendapatkan kasih sayang kita yang utuh hanya pada saat mereka sedang sakit. Alhasil, terkadang si anak malah acting sakit, atau manja banget sama keluhan di fisiknya. Ada kan?, pas main trus jatuh, eh lecet dikit aja udah drama banget ngeluh sakitnya, dll.

    Kok bisa gitu?

    Yah itu tadi, memang ada banyak kemungkinan alasannya. Bisa saja karena acting sakit, biar nggak masuk sekolah. karena ada hal di sekolah yang nggak ingin dihadapinya, ntah masalah dengan tugas rumah (PR), Guru, atau teman. Bisa juga karena yang tadi itu, untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang tuanya. Yang seperti itu ada.

    Saat sakit, ia akan merasa lebih diperhatikan, lebih dimanja, ditanyain mau makan apa, dibeliin mainan baru biar nggak bosan di rumah aja, dan berbagai perlakuan khusus lainnya. Semua yang dirasakan si anak hanya bisa didapatkannya saat ia sakit.

    Tapi gimana kalau sakit beneran?. Sebagai orang tua, emang kita harus selalu siaga yah. dikondisi cuaca yang pancaroba gini, rawan banget. Saat daya tahan tubuh anak sedang turun, penyakit akan lebih mudah masuk. Saya sih selalu sedia Tempra Syrup, yang membantu banget saat anak demam. Berikan anak obat penurun panas, agar bisa menurunkan suhu tubuh. Gunanya agar anak bisa merasa lebih nyaman (pain killer)


    Tempra itu dapat membantu menurunkan panas dan meredakan nyeri. Bentuknya yang syrup, mengandung paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak, dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Untuk usia adek Khai yang 3 tahun lebih, dosisnya tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis). Ada gelas takarnya juga, nggak perlu dikocok karena larut 100% jadi tinggal dipakai aja. InsyaAllah aman buat lambung anak.

    Sahabat Ummi...


    Kita adalah orang tua. Jadilah orang tua pembelajar dan tawakal. Yang artinya, nggak pernah berhenti untuk belajar dalam pengasuhan anak dan juga selalu melibatkan Allah Ta'ala dalam setiap usaha kita. Jangan sampe deh si buah hati mikir harus acting sakit dulu buat dapetin cinta kita 100 persen. Semangaaaaaaaat!!! selalu ada cinta 100 persen di hati Ibu untu setiap anak, bagaimana pun kondisinya ^___^


    Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.