Assalamu'alaikum...

Sahabat Ummi...

Saat ini, saya itu lagi nikmati banget kebersamaan dengan duo krucil di rumah. Interaksi sehari-hari mereka itu lucu banget, walau sering juga ngeselin karena ujung-ujungnya ada aksi ngambek. Bisa salah satu yang ngambek, bisa juga keduanya. Masalahnya itu remeh banget, yaiyalah yah, namanya juga anak-anak, wong yang tua aja karna masalah yang remeh bisa ngambekkan :D

Jadi, misalnya nih si Mbak Nai bosen dengan permainan yang dipilih adek Khai, tapi si adek tetap ngotot mau main itu. Gimana yah, jarak usia mereka itu 5 tahun. Mbak Nai juga udah kelas 3 SD, yah pasti beda selera permainannyalah. Tapi, demi si Ummi bisa lancar nyambi kerja yang lainnya, si mbak diminta buat sabar. Ngalah, ngikuti maunya si Adek. Cuma, itu nggak bisa terus-terusan, pas Mbak Nai gi bad mood or capek, dia nggak mau. Alhasil, duo bocah itu ribut, ngambek.

Efek nggak enak buat Ummi adalah, mereka nggak ada yang mau beresin mainannya yang udah berantakan macam kapal pecah, hampir di seluruh penjuru ruangan tengah, tamu, dan kamar. Ampun, kerjaan Ummi jadi nambah. Mau dibilang apapun, juga nggak bakal mereka hiraukan, termasuk diancem kalau mainannya bakal dibuang :(

Pas lagi akur-akurnya. Saya tuh sampe baper banget. Bener-bener mengharukan, pokoke sebuah gambaran indah punya saudara perempuan. Nggak seperti saya yang anak perempuan satu-satunya. Alhamdulillah... Allah Ta'ala kasih saya anak perempuan, 2 lagi.

Sahabat Ummi...

Sebagai orang tua, kita emang sering dihadapi kondisi yang agak gimana gitu yah, tentang interaksi anak-anak. Seperti, saling cemburuan, protes lewat kata maupun sikap yang menggambarkan seolah-olah kita nggak berlaku adil, pilih kasih. Wajar, kadang kita kurang memberikan pengertian ke masing-masing anak bagaimana posisi mereka. Seringnya, spontan aja gitu, bahkan bisa dibilang harus, SI KAKAK NGALAH. Si adek juga malah jadi egois, besar kepala.

Dalam istilah psikologi, ada namanya sibling rivalry, yang artinya kompetisi antar saudara kandung, baik yang berjenis kelamin sama, maupun berbeda. Ternyata, menurut literatur yang saya baca, hal tersebut wajar terjadi pada anak usia 5-11 tahun. Bahkan, bibit-bibit itu sudah muncul saat ibu mengandung anak kedua.

Ngalamin nggak? saat-saat si sulung mulai "bertingkah". Setelah adiknya lahir, "tingkahnya" kadang makin ajaib. Seolah ingin diperhatikan lebih. Padahal, ada saat si sulung itu mengekspresikan kebahagiaannya karena sudah punya adek. Hubungan antar anak-anak seusia itu, memang unik, bersifat ambivalent dengan love hate relationship.

Seiring bertambahnya usia, perkembangan fisik, kognisi, dan juga mental anak, persaingaan dapat menurun, karena anak mulai berpikir dan paham dengan kondisi di sekitarnya. Trus, aman?. Nggak juga sih, sibling rivalry bisa aja terjadi dalam bentuk lain, bukan lagi rebutan mainan, tapi berbeda sesuai dengan tahapan pertumbuhan anak. Hal tersebut bisa berupa bentrokan peran dan tanggung jawab. Berebut perhatian? ternyata bisa jadi tetap akan ada juga, hanya aja dalam bentuk yang berbeda, misalnya saingan dalam unjuk kemampuan prestasi akademis, jurusan kuliah, pekerjaan, dll.

Yah... nggak kelar-kelar dong

Eh, ternyata itu wajar, bahkan bisa jadi positif lho. Udah fitrah anak kan yah ingin membuat ortunya bangga. Tapi, yang harus diwaspadai itu, kalau konflik antar anak udah masuk ke ranah kuantitas dan intensitas yang agresif dan sulit untuk diatasi. Apalagi terjadi pengrusakan bahkan pemukulan.

Sahabat Ummi...

Tentu kita bertanya-tanya, apa sih yang menjadi penyebab dari sibling rivalry ini?

Menurut seorang psikolog bernama Ratih Zulhaqqi, setidaknya ada 4 faktor penyebab sibling rivalry, yaitu:


Evolving needs


Seperti yang udah saya bahas juga di atas, adanya perubahan kebutuhan anak-anak. Jelas dong, Mbak dan adek punya kebutuhan yang berbeda. Tapi, kita sering di cap nggak adil kalau nggak memberikan sesuatu kepada mereka bersamaan.

Individual temprament

Nah, ini yang kadang suka bikin pusing. Tiap anak itu unik kan yah, punya karakter yang berbeda. Ada yang kalem seperti Mbak Nai, dan ada yang "heboh" seperti adek Khai. Jadi, ini rawan konflik banget :D

Special needs or sick kids

Orang tua yang memiliki anak special needs or sick kids, tentu memberikan perhatian khusus kepada anaknya tersebut. Sayangnya, kadang saudaranya yang lain kurang memahami kondisi tersebut, sehingga merasa bahwa dia diabaikan atau bukan kesayangan.

Role models

Ini nih yang terkadang kita sebagai ortu nggak sadar, sering kecolongan. Harusnya, kita bisa jadi contoh yang baik di depan anak-anak dalam berkomunikasi saat terjadi konflik. Jadi, anak bisa belajar bagaimana cara yang baik dalam menyelesaikan masalah.

Trus, sebagai ortu kita harus gimana?

  1. Kita harus bijaksana dalam menghadapi kondisi anak. Jadi, bukan berarti Mbak "selalu" salah. Kita sedapat mungkin bisa menengahi, dengan melindungi si Adek tanpa menyalahkan si Mbak. Mencari tahu apa yang jadi permasalahannya.
  2. Berusaha untuk tidak membanding-bandingkan anak. Biar gimana pun, setiap anak punya potensi yang berbeda. Fokus saja kepada pengembangan potensi mereka, tanpa menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya.
  3. Bagaimana kalau si Adek yang salah?. Bisa jadikan yah. Tugas kita untuk memberikan pemahaman kepada anak yang lebih tua, bagaimana seharusnya ia bersikap kepada adeknya, salah satunya nggak boleh main pukul. Kita juga sampaikan padanya bahwa kita memahami perasaannya dan posisinya saat ini. Agar anak mengerti, bahwa kita juga punya empati untuknya.
  4. Beri waktu khusus. Ini bisa jadi solusi jitu. Kita bisa membagi waktu, kapan punya waktu khusus untuk setiap anak. Anak akan merasa bahwa dia juga penting bagi kita. Bahkan, ini bisa memperlancar komunikasi dan menumbuhkan kepercayaan diri si anak.
Sahabat Ummi... ada yang mau share tips juga? Saya tunggu di kolom komentar yah ^____^