56e583de067054ab7acbe0227c921475

“Eomma.”

 

“Eomma~”

 

“Eomma!”

 

Suara tiga panggilan itu mengganggu waktuku untuk melanjutkan tidur. Hidup dengan ketiga laki-laki lain membuatku harus selalu terbiasa dengan kehadiran mereka. Kami, para laki-laki, memang lebih suka diperhatian dan diurusi oleh wanita, termasuk aku.

 

Aku mengusap pelan kedua mata, mencoba membiasakan diri pada cahaya sinar matahari yang menerobos masuk lewat kaca-kaca jendela unit apartemen yang kutinggali. Mataku memang sejak dulu sedikit sensitif dengan cahaya terang, apalagi daya penglihatanku juga buruk.

 

Saat mataku sudah dapat melihat jelas, aku menyadari bahwa aku satu-satunya laki-laki yang masih dalam keadaan kusut. Mereka, tiga orang itu, duduk di meja panjang yang berada di dekat dapur, menunggu makanan dengan sabar. Senyum mereka terpancar, terlihat sangat menikmati kebersamaan yang ada.

 

“Daehan hyung!” Namaku disebut. Aku menoleh pada sosok berwajah bundar di meja makan. Adik keduaku, Manse, tersenyum saat aku memandang wajahnya. Kedua laki-laki lain langsung menyadari diriku yang sudah bangun tidur.

 

“Daehan-a, kau pasti terlalu lelah kemarin malam. Ayo mandi, lalu makan. Kita akan pergi piknik hari ini.” Abeojiku selalu seperti itu, wajah tenang dan tampannya selalu memiliki efek hipnotis, dimana pada akhirnya, aku selalu menuruti perkataannya.

 

Matanya terkadang membentuk senyuman. Namun, figure tegas pada dirinya tampak sangat yakin serta membuat diriku nyaman. Setiap jengkal tubuhnya seolah-olah berkata bahwa aku akan baik-baik saja, selama ada Abeoji di sampingku.

 

“Hyung, ayo cepat ke sini. Ada Bakpau daging kesukaanmu. Ada acar lobak kuning juga, khusus untuk Hyung.” Minguk menimpali perkataan Abeoji. Ah, ya. Acar lobak kuning dan bakpau, kombinasi makanan yang sanggup membuat seluruh anggota rumah ini berdecak heran, namun toh eomma dan Abeoji selalu menyiapkan pesanan khusus ini juga setiap ada kesempatan untuk mencicipi bakpau.

 

“Iya, aku mandi dulu, Abeoji, Minguk-ah.” Aku memasuki kamar pribadi, membasuh tubuhku kilat meskipun sebelum itu aku lebih memilih bermain air di wastafel sambil menyikat gigi. Aku sangat suka air. Dinginnya air mengalir mampu membuat diriku terjaga di sisa-sisa rasa kantuk yang masih belum hilang.

 

Sesudah membersihkan diri dan berpakaian, aku bergabung dengan mereka. Eomma sudah selesai memasak hidangan sarapan kami. Dia tampak sama, begitu berkharisma namun sangat cantik, di usianya kini. Senyum tipisnya sangat manis. Pantas saja Abeoji begitu mencintai Eomma.

 

“Daehan-a, eomma sudah bilang kan, jangan memaksakan diri belajar sampai dini hari. Tubuhmu butuh istirahat, sayang.” Meskipun penampilannya sangat intelek, aku sangat menyukai Eomma yang tidak pernah memaksakan sesuatu pada anak-anaknya jika berkaitan dengan pendidikan dan hobi aku, Minguk, dan Manse. Eomma malah mengkhawatirkanku yang sering begadang hanya untuk mencoba eksperimen baru. Hmmm, dasar Eomma. Padahal aku ingin bisa menjadi seperti Eomma.

 

“Kabel-kabel listrik dan semua peralatan sudah Abeoji taruh di lemarimu. Kau mencoba eksperimen apa lagi kali ini, Daehan-a?” Abeoji bertanya padaku. Sumpit masih menggantung di udara. Ah, ya, Abeoji harus tahu apa yang aku lakukan semalam.

 

“Gomawo, Abeoji. Jadi begini, Abeoji kemarin perhatikan tidak dua lempeng kecil yang berlainan warna? Yang putih adalah lempeng aluminium dan yang keemasan namanya plat tembaga. Aku mencoba menyalakan lampu dengan menggunakan hukum elektrolisis pada cairan, namun ternyata PH cairan yang dituang dalam gelas belum cukup baik untuk menghasilkan cahaya lampu yang terang.” Abeoji mengangguk pelan sambil terus memperhatikanku. “Aku juga mencoba membuat jam air menggunakan energy potensial. Abeoji tahu kan, seperti drama yang waktu itu Abeoji perankan?”

“Oh, Jang Yeong Shil? Aboji sangat ingat adegan di drama itu. Aeboji sendiri cukup pusing melihat bagaimana rumitnya pembuatan jam air pada zaman Joseon. Kau bisa membuatnya, Daehan-a?” Keantusiasan Abeoji mendengarkan cerita menimbulkan rasa bersalah dalam hati.

 

Aku menggeleng. “Belum, Abeoji. Aku belum menemukan cara praktis dan sederhana untuk mengatur kecepatan air untuk dapat mengisi ruang yang ada di sisi-sisi bianglala itu.” Aku menunduk, menyudahi cerita. Sekilas, kulihat Abeoji mengangguk hikmat, entah karena dia tahu

 

Membicarakan percobaan jam air membuat napsu makanku sedikit menghilang. Bagaimana ya, aku ingin membuat inovasi dengan jam air itu, namun proses pembuatannya versi aslinya saja membutuhkan waktu, tenaga, dan uang yang tidak sedikit. Sebagian tabunganku sudah habis untuk membeli bahan dan alat untuk proyekku kali ini.

 

“Kau pasti bisa, Daehan-a. Abeoji yakin. Kamu adalah anak Abeoji dan Eomma yang paling teliti dan rajin, pintar pula. Tetap semangat, ok? Kalau perlu, Abeoji akan membantumu mengerjakannya. Kita bisa mengerjakannya bersama. Mungkin Abeoji bisa membuat desain jam airmu, lalu kita bisa pergi ke toko barang murah untuk membeli bahan-bahannya.” Ah, Abeoji, aku semakin merasa bersalah jika hal seperti ini saja masih membutuhkan bantuanmu.

 

“Oke, Abeoji.”

 

Ooo

 

Sepanjang perjalanan, hanya ada hamparan sawah berlumpur, serta rumah-rumah penduduk yang berjauhan satu sama lain. Eomma akan membawa kami ke sebuah desa penghasil belut terbaik di Korea Selatan. Eomma sangat menyukai belut dan dia mendapatkan rekomendasi tempat dimana dapat melihat belut yang enak dari rekan kerjanya. Tadinya Eomma ingin pergi bersama beberapa teman di kantornya ke tempat itu, namun ayah mencegah rencana Eomma. Abeoji ingin kami sekeluarga bisa merasakan momen pergi berlibur bersama.

 

“Manse-ya, lihat, ada mobil!” Suara Minguk, yang selalu bernada tinggi bahkan hingga kami beranjak remaja seperti saat ini, memenuhi ruangan mobil. Kurasakan pergerakan Manse yang menoleh kea rah yang ditunjuk Minguk.

 

“Wah, mobil Ferrari merah! Aku ingin mempunyai mobil seperti itu saat sudah kaya nanti!” Seru Manse. Astaga, bocah satu ini. Uang, perempuan cantik, serta mainan adalah hal yang selalu ada di pikirannya.

 

“Ya! Itu masih lama. Kita masih berumur 14 tahun. Siapa tahu saat kau sudah memiliki uangnya nanti, mobil seperti itu sudah tidak ada.” Sahut Minguk. Adik pertamaku ini memang pintar jika beradu mulut dengan Manse.

 

“Yak kan aku tinggal suruh orang lain untuk memodifikasi mobilku, Hyung. Mudah, kan?” Balas Manse. “Jika aku diperbolehkan untuk menjadi model iklan sekarang, mungkin tiga tahun lagi aku bisa membeli mobil sendiri.” Manse mulai merajuk membuat, Abeoji dan Eomma yang tadi diam saja sambil mendengarkan lagu lawas dari CD Player,mengalihkan pandangan ke arah Manse lewat cermin dashboard.

 

“Manse, kau belum cukup umur. Bahkan kau belum SMA. Jika sudah kuliah, mungkin Appa akan mempertimbangkan keinginanmu untuk menjadi seorang model dan actor.” Jawab Appa tegas. Mendengar pernyataan Abeoji tersebut, aku termenung. Bagaimana jika Abeoji menentang apa yang ingin kulakukan di masa depan? Bagaimana reaksi Abeoji jika aku tidak bisa menjadi anak yang diharapkannya, seperti yang selama ini diucapkan oleh para netizen penggemar kami bertiga?

 

“Appa, aku kan ingin menjadi seperti Appa.” Manse mulai mengeluarkan jurusnya, merajuk dengan nada manja. Aku sering sekali tertipu saat masih kecil, namun belajar pengalaman membuatku bisa menangkal serangan halus Manse jika menginginan sesuatu.

 

“Appa tahu tapi Manse harus belajar dulu, nanti jika Manse sudah dewasa Appa akan izinkan Manse menjadi model. Kehidupan selebritis tidak semenyenangkan yang kau kira, Manse.” Ceramah Abeoji sudah dimulai. Jika demikian, kami bertiga serta Eomma hanya bisa mendengarkan saja sambil merespon sekenanya. Aku tahu Abeoji tidak sepenuhnya senang dengan dunia keartisannya. Dari cerita yang kutangkap selama ini, Abeoji sulit mendapatkan pasangan yang baik hati, sederhana, dan mengerti kelebihan serta kekurangan dirinya. Bahkan ketika Eomma menginginkan sebuah pernikahan tertutup tanpa perlu menunjukkan wajahnya di depan kamera wartawan, Abeoji tidak dapat sepenuhnya mewujudkan hal itu.

 

Aku tak tahu apa yang kubutuhkan, apa yang kuinginkan, apa yang sebenarnya perlu kulakukan jika mendengar kisah-kisah perjalanan hidup Abeoji dan Eomma. Bagaimana jika aku salah mengambil langkah? Bagaimana jika aku harus menanggung konsekuensi pilihan cerobohku?

 

“Nde, Appa.” Suara Manse mengakhiri sesi pembicaraan serius di keluarga kami. Syukurlah, kini aku bisa beristirahat dengan tenang. Lega rasanya jika melihat keluargaku sangat damai seperti ini. Aku menyandarkan diri pada kaca jendela di kanan. Lelah karena perjalanan jauh menghampiriku. Mataku terasa berat sekali hingga rasanya aku tak ingin berpikir hal-hal rumit lagi.

 

000

 

Kami sudah sampai di sebuah penginapan. Abeoji dan Eomma berada dalam satu kamar, sedangkan kami bertiga berada di kamar sebelah mereka, tentu saja dengan satu buah kasur tambahan untuk ruangan kami. Biasanya yang tidur di kasur tambahan setiap kali kami menginap di hotel adalah Manse karena dialah yang gaya tidurnya paling tidak terdefinisikan.

 

Sedangkan, aku dan Minguk adalah kawan sejati dalam soal ranjang. Kami akan mengisi sisi kanan dan kiri dengan damainya saat beranjak ke tempat tidur. Jika Minguk bangun pagi terlebih dulu, dia tidak akan menggangguku untuk membuka mata. Dia juga tidak memiliki genetic yang suka ‘rusuh’ saat sedang tidur namun terkadang aku dibuat kaget oleh posisi tidur kami di pagi hari, karena tak jarang dia memelukku dari depan dengan posisi wajah kami yang saling berhadapan.

 

“Huaaaaaa… Rasanya ingin langsung tidur saja tapi kita harus makan malam dulu. Hmmmm… memikirkan makanan membuatku bersemangat.” Hahaha. Sangat khas Minguk.

 

“Hyung! Kau baru saja makan kimbab yang dibuat Eomma saat perjalanan tadi.” Manse berteriak. “Kau bahkan menghabiskan setengah jatah porsiku.” Manse memang sempat kesal dengan Minguk karena makanannya dimakan tapi aku tidak habis pikir kenapa dia masih saja marah-marah. Kami kan saudara.

 

“Itu salahmu sendiri, Manse-ya. Dari dulu kau lambat saat makan dan suka memainkan makanan. Ingat kan, dulu saat kita masih kecil, kau menyentuh pantat ayam sup Samgyetang berulang kali?” Minguk membela diri.

 

Mendengar pertengkaran kedua bocah ini memang tidak ada habisnya. Kombinasi Minguk yang pintar mengingat serta Manse yang berjiwa bebas selalu menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil.

 

“Aku kan hanya bercanda, hyung. Hahaha.” Manse melangkahkan kaki ke kamar mandi sambil membawa sebuah setelah baju ganti. Manse berhenti mengganti baju di depan orang lain, termasuk kami, saudaranya, ketika umur 12 tahun. Kebiasaannya yang berubah membuatku sadar, betapa lamanya kami telah hidup sebagai anak Abeoji dan Eomma.

 

Terkadang, kenyataan itu membuatku sedih.

 

Abeoji memang masih sehat bugar seperti dulu. Tawaran berakting dalam film masih sering dia dapatkan, meskipun kebanyakan meminta Abeoji untuk berperan sebagai tokoh ayah ataupun orang yang lebih senior karena pemeran utama sudah diperuntukkan untuk para pria muda dan lajang, sebuah strategi para kru drama atau film untuk mendongkrak jumlah penonton. Meskipun demikian, aku, Minguk, dan Manse sepakat untuk tidak terlalu melibatkan Abeoji dalam semua kegiatan kami, misalnya saat berbelanja ke supermarket, atau berpetualang ke tempat-tempat wisata. Alasannya hanya satu, kami tak ingin Abeoji lelah.

 

Kami sempat melihat rekaman yang ditunjukkan Abeoji, dulu dia berkata bahwa itu adalah sebuah video kenang-kenangan. Lambat laun, kami tahu bahwa semua kegiatan kami selama dua hari dalam sebulan direkam untuk sebuah acara variety show. Di salah satu episode, kami menyaksikan bagaimana Abeoji menggendong kami bertiga, dengan kedua tangannya. Aku terharu, sekaligus miris melihat tayangan itu. Abeoji berusaha bersikap adil pada kami. Abeoji tidak pernah lelah mencurahkan kasih sayang pada kami, hingga membuat kami menjadi anak-anak paling beruntung di dunia ini. Haruskah kami terus bergantung padanya? Aku yakin, Minguk dan Manse merasakan dan memikirkan hal yang sama dengaku. Bagaimanapun, kami adalah kembar, meskipun tidak identik.

 

“Hyung. Kau kenapa?” Minguk melambaikan tangan di depan wajahku,membuatku terentak dari lamunan. Dia memandang dengan tatapan menyelidik. Membuatku menggeleng cepat.

 

“Apa karena tawaran beasiswa dari SMA Taejong?” Tanya Minguk. Mengapa dia bisa tahu?

 

“Jangan bertanya. Aku saudaramu, Hyung. Kita kembar, tiga pula. Aku tahu perilakumu yang aneh beberapa hari ini karena sedang memikirkan masalah beasiswa itu.” Dia menjelaskan, seakan-akan dia bisa membaca pikiranku. “Manse tahu. Banyak yang ingin ditanyakan Manse tapi dia tidak ingin mengganggumu.”

 

“Yah, seperti itulah. Aku bingung bagaimana reaksi Appa saat mendengar berita ini.” Semua yang ada di otakku belakangan ini hanyalah dipenuhi kecemasan, bagaimana jika Appa malah sedih jika mendengar semua ini?

 

“Apa karena beberapa prasyarat sulit itu?” Suara Minguk terdengar sangat lembut. Dia menatapku dalam-dalam, aku bisa melihat binar mata kehitaman yang membuat para noona maupun gadis sebaya kami menganggapnya imut. Kini, dia menggunakan mata itu untuk membuat hatiku luluh, dan dia berhasil.

 

“Ya.” Tenggorokanku seperti dipaksa untuk menelan suatu benda keras. Jantungku berdebar-debar dan perasaankku tak karuan. Ini pertama kalinya aku membicarakannya pada anggota keluarga.

 

“Hyung, kau tahu kan, apa yang kau inginkan?”

 

“Ya, aku ingin menjadi…”

 

“Hyung, jangan katakan itu. Hanya ceritakan pada dirimu.” Aku mengangguk patuh.

 

“Kau juga pasti sadar, betapa Abeoji menyayangi kita?” Kini Minguk tida hanya duduk dihadapanku, tapi menatap intens ke arahku dan meletakkan tangan kanannya ke lutut kirinya yang sedang dalam posisi bersila.

 

“Tentu saja, aku tahu, Minguk-ie.” Ujarku mantap. Aku sangat mengagumi dan menyayangi Abeoji karena dia menunjukkan cintanya pada kami.

 

“Kalau begitu, Hyung harus segera berdiskusi dengan Abeoji. Secepatnya. Kalau perlu, malam ini.” Minguk tersenyum lembut. Ya, apa dia sudah gila? Bisa saja dia menghancurkan liburan kali ini jika membawa pembicaraan serius seperti ini.

 

“Iya, harus malam ini, Hyung.” Tegas Minguk.

 

“Hm. Baiklah. Akan kucoba.” Jawabku akhirnya. Tak disangka, dia memelukku, seperti anak beruang. Tingkahnya yang suka memeluk aku ataupun Manse memang tak pernah hilang.

 

“Aku senang sekali bisa melihatmu seperti ini, Hyung.” Nadanya sangat ceria padahal tadi dia tampak begitu meyakinkan memberikan saran.

 

“Seperti ini?” Dia senang melihatku sedih?

 

“Iya, melihatmu akhirnya benar-benar membutuhkan orang lain untuk bertukar pikiran.”

 

000

 

Kami baru saja selesai makan malam di sebuah restoran seafood. Seperti dugaanku, Eomma menyukai hidangan belut di sana. Dia tidak memiliki napsu makan yang selalu tinggi, namun tadi dia menghabiskan seporsi sedang belum goreng bumbu , sendirian, lengkap dengan dua mangkuk nasi putih yang mengepul hangat. Appa berdecak kagum melihat kelakuan Eomma, yang ekspresi lucunya sanggup membua kami bertiga tertawa lepas.

 

Kini, kami sedang beristirahat di kamar. Minguk mendengarkan lagu terbaru girlband kesukaannya di tablet sambil menirukan suara menyanyi salah satu personil favoritnya, sedangkan Manse asyik dengan tayangan balapan mobil di layar kaca. Aku? Yang kulakukan sedari tadi hanya bergelung dalam selimut, sembari mengamati apa yang dilakukan adik-adikku.

 

“Daehan Hyung, aku pinjam smartphonemu ya?” Manse menoleh ke arahku.

 

“Untuk apa?”

 

“Menghubungi teman. Smartphoneku mati, lihat.” Jarinya menunjuk pada sebuah kabel charger yang terhubung ke smartphone berwarna hitam. Milik Manse.

 

“Oke.” Aku memberikan ponsel pada Manse. Dia tersenyum sumringah dan langsung menyambar benda tersebut. Aku kembali menutup selimut hingga sekujur tubuh.

 

Tekanan yang berada di sebelah kanan ranjangku perlahan hilang. Mungkin Minguk ingin ke kamar mandi, entahlah.

 

Aku teringat lagi perkataan adik pertamaku itu beberapa jam lalu. Memang, jika dipikirkan secara logika, lebih baik aku jujur pada Appa, secepatnya. Namun bagaimana aku bisa bersikap egois jika masih banyak hal yang harus kukerjakan di sini?

 

“Omo, Appa menelponmu, Hyung.” Nada khas Manse terdengar bersamaan dengan dering ponsel yang memang berasal dari gadget milikku. Ada apa? Apakah setelah ini ada acara jalan-jalan lagi? Tapi ini sangat aneh karena Abeoji memilih menelpon dibanding langsung menghampiri kami.

 

Aku tetap tak bergerak sedikitpun dari tempat tidur. Seketika, beban cukup besar menindih bagian pinggangku.

 

“Hyung, angkat. Ppali!” Teriak Manse yang kini berada di sampingku. Dia merentangkan tangan, menggenggam ponsel yang dia pinjam ke arahku. Sebenarnya aku sudah cukup mengantuk tapi karena ini panggilang dari Abeoji, tentu saja aku bisa meluangkan waktu, bahkan jika Abeoji meminta waktu banyak.

 

“Ya, Abeoji?” sapaku pada suara di seberang sana.

 

“Daehan-a. Bisakah kita bertemu di kedai kopi lantai satu hotel ini? Abeoji memerlukan bantuanmu.”

 

“Nde, Abeoji. Aku tutup telepon…”

 

“Tunggu, jangan mengajak adik-adikmu, oke? Abeoji tidak ingin mengganggu waktu istirahat mereka.” Sergah Abeoji. Sedikit rasa sedih hinggap dalam hatiku, entah mengapa.

 

“Nde…” Aku benar-benar memutuskan panggilan setelah itu. Secepat kilat, kuambil jaket navy blue yang Abeoji buat sendiri untuk kami bertiga dan pergi kearah pintu, meninggalkan kedua adikku tanpa sepatah katapun.

 

000

 

“Daehan-a, Kau memakai jaket itu lagi?” Tanya Appa, matanya melirik gambar tiga anak kecil yang digambar ala chibi. Ekspresi wajah Abeoji terlihat semakin bersinar setelah melihat kehadiranku.

 

“Iya, Abeoji. Daehan suka memakai jaket ini. Bahannya lembut. Lagipula, gambar hasil karya Abeoji tertempel di sini.” Aku menyeruput Vietnam Coffee Drip yang telah tercampur sempurna dengan susu dan es batu. Jarang sekali aku bisa mencicipi pahit rasa kopi serta aromanya. Appa membuat peraturan yang cukup ketat terhadap apa yang boleh kami bertiga makan atau tidak.

 

“Kau senang memakai jaket ini? Aigooo, Daehan-a. Bahkan Minguk dan Manse sudah jarang sekali terlihat memakai jaket ini. Mereka sudah punya selera fashion masing-masing.” Aku selalu dapat merasakan kegetiran dalam ucapan Abeoji ketika dia mulai membandingkan sejarah dan kehidupan masa kini kami bertiga. Selalu, aku tak bisa mengeluarkan kata-kata ketika mendengar pembicaraan Abeoji yang seperti itu.

 

“Daehan-a, kau sudah besar ya, tak terasa sedikit lagi kau akan masuk SMA.” Gumam Abeoji, membuatku teringat lagi akan rekomendasi beasiswa dari SMA Taejong.

 

“Daehan-a, apa ingin mengatakan, bahwa Appa mengizinkanmu untuk bersekolah di SMA Taejong.” Satu kalimat itu sanggup membuat kepalaku yang tadinya menunduk menatap pantulan wajah dari permukaan larutan kopi, mendadak mendongak ke arah Abeoji yang persis berada di hadapanku.

 

Apa? Apa aku sedang bermimpi? Bagaimana Abeoji bisa tahu hal tersebut?

 

“Abeoji mendapatkan telepon dari Guru Park tentang rekomendasimu ke SMA Taejong beberapa hari lalu. Abeoji tadinya menunggumu untuk mengatakannya langsung tapi kau tak juga menyinggung topic itu. Abeoji jadi khawatir. Selain itu, Minguk dan Manse mengatakan bahwa mau terlihat murung tapi saat Abeoji Tanya kira-kira apa alasan perubahan sikapmu, mereka diam.” Terang Abeoji.

 

Tuhan, dia tersenyum seperti itu saat aku jelas-jelas bertindak seolah-olah tidak mempercayainya. Betapa banyak aku telah melukai hatinya?

 

“Abeoji merasa, kedua saudaramu itu tahu alasan sebenarnya tapi mereka ingin memberikanmu kesempatan, sebagai orang yang paling dewasa di antara mereka, untuk berbicara mengenai masa depanmu.” Abeoji menyeruput Americano namun tak melepas pandangannya dariku sejak tadi.

 

“Abeoji…”

 

“Daehan-a, jika kamu berpikir bahwa Abeoji mengizinkanmu pergi karena Abeoji tidak sayang padamu, itu salah, Dyani.” Aku terperangah. Dia memanggilku dengan sebutan masa kecil, salah satu hal yang jarang terdengar darinya karena panggilan itu lebih sering diucapkan oleh Minguk dan Manse.

 

“Appa sangat menyayangimu. Appa sangat bangga padamu, bahkan Appa sering berpikir dan bertanya pada Tuhan ‘Kebaikan apa yang telah kuperbuat di masa lalu hingga Kau memberikan putra yang baik hati, pintar, penurut, dan berbakti pada orang tua seperti Uri Daehanie? Appa sangat bersyukur memiliki putra kebanggaan sepertimu.” Kehangatan menyelimuti kedua tangaku ketika Abeoji menggenggamnya erat.

 

“Mengenai rasa sayang Appa yang terkadang terasa tidak adil menurutmu, Appa sangat menyesal, Daehan-a. Kau tumbuh lebih cepat dewasa dibandingkan adik-adikmu. Appa tidak bisa tidak mengandalkanmu. Bagi Appa, cara menyayangi Daehanie adalah dengan memberinya tanggung jawab lebih, agar Daehanie merasa special dan dihormati oleh Minguk dan Manse. Appa tahu, tindakan Appa terlalu egois. Appa minta maaf padamu Daehan-a.” Lalu kini, kehangatan itu menjalar melalui sela-sela kulit kepalaku. Aku terhipnotis oleh pandangan Appa yang terkunci pada mataku.

 

“Oleh karena itu, Appa ingin memberikan hadiah special untukmu. Appa mengizinkanmu untuk menetap di asrama selama menempuh pendidikan di SMA Taejong, Daehan-a. Bukan karena Appa ingin menjauhkanmu dari kami tapi Appa tahu, kamu sudah terlalu banyak mengalah dan menjaga Appa, Eomma, Minguk, dan Manse dengan caramu. Inilah saatnya kamu bersikap egois. Inilah waktunya kamu mengejar mimpi menjadi seorang arsitek dan jalan terbaik saat ini adalah dengan menerima tawaran beasiswa tersebut. Kami akan selalu mendukung dan mendoakanmu, Daehan-a.” Jika aku perempuan, mungkin aku sudah menitikkan air mata. Menangis di momen dimana Abeoji, yang kupikir lebih memperhatikan Minguk dan Manse, ternyata mengikuti perkembangan diriku, sangat sulit untuk ditahan.

 

“Appa….” Abeoji memindahkan duduknya di sampingku, lalu mengarahkan sisi kepalaku untuk bersandar di bahunya yang hangat, kekar, sekaligus lembut di saat bersamaan.

 

“Uri Adeul. Panggilan itu yang sejak lama Appa rindukan darimu, Dyani.” Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi ketika Appa mengecup dahiku. Aku memejamkan mata, menikmati momen kami berdua yang mungkin akan jarang kurasakan jika telah berada di SMA Taejong.

 

“Cha, ayo kita kembali ke kamar. Kau pasti sudah mengantuk.” Ujar Appa.

 

“Nde, Appa.”

 

Aku melihat tangan kami yang saling bertautan. Aku memandang garis wajah Appa, meskipun umurnya semakin matang tapi tak menghiangkan ketampanan yang telah ia punya selama ini. Tangan itu, wajah itu, mirip sekali dengan punyaku.

 

Kupikir, mimpi setiap anak adalah mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua serta mereka dapat mengerti kondisi kami, memberikan kami pilihan, dan menghargai keputusan kami. Kami adalah cerminan dari diri mereka, entah di masa lalu, sekarang atau masa depan. Kami pun berproses, sedikit demi sedikit menjadi dewasa sesuai dengan kapasitas mental kami untuk menerimanya. Aku, yang ditakdirkan menjadi anak pertama, merasakan prose situ lebih cepat, mungkin, dibandingkan kedua adikku. Hal paling aku syukuri adalah, ketika aku sedang melangkah setapak demi setapak menuju jalan kedewasaan, ada Appa yang selalu menuntunku. Terima kasih, Appa. You are still my superman until now.