Hijau tak pernah cocok dengan kepribadian yang kumiliki. Hijau adalah hamparan ketenangan yang menyebar di sepanjang padang rumput luas. Sedangkan pikiranku adalah merah darah, berkobar dalam keinginan untuk terus bergerak dinamis. Meskipun begitu tubuhku terpenjara hingga hanya menyisakan putih untuk dapat dilihat oleh orang lain, atau bahkan disangka hitam oleh mereka yang tak tahu apapun tentangku tapi berani untuk menyuarakan pendapat sepihak.

Nyatanya, kedua warna dalam diriku tak bisa kupisahkan. Semua mewakili prinsip, perasaan, dan tindakan yang kureflesikan dalam kehidupan fana ini.

***

Ini gila. Seisi dunia sudah gila dan mencoba melawanku, lagi.

Bagaimana bisa satu malam bisa mengubah keseluruhan diriku, hidupku?

Aku menatap jalan setapak, terlalu familiar untuk diperhatikan. Terlalu biasa karena aku setiap hari melewati jalan ini selama kurang lebih setahun. Dalam pikiranku, teringat betapa cepat waktu berlalu, bagaimana pertama kali aku terlalu takut untuk berlari menuju ruang kelas, karena kemungkinan untuk dicegat atau diperlakukan tidak sopan oleh senior menghantuiku dari sejak malam sebelumnya. Meskipun akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat wajah lebih tinggi.

Aku adalah Viana Versalita. Aku berani.

Aku harus meyakinkan diriku lagi kali ini

“Hai.” Aku menemukan mata itu lagi. Kecoklatan, bagai sebatang coklat meleleh di bawah pengaruh sinar matahari pagi. Wajahnya, tak perlu susah payah kudeskripsikan karena aku terlalu malas untuk melakukannya. Lagipula, banyak wanita yang lebih dari sekedar rela untuk memandang wajahnya dan menjelaskan tiap detil figur itu dengan sangat baik, kan?

Berbicara tentang coklat, aku jadi lapar.

Dia merogoh bagian dalam kiri jas hitamnya. Jas hitam membuat orang ini terasa terlalu rigid, berbeda dengan makhluk sama yang kutemui kemarin.

“Ibumu bilang, kau telat bangun dan meninggalkan sarapan.” Dia menggenggam sebatang coklat. Aku mau coklat itu tapi terasa sangat malas untuk mengambilnya dari tangan pria itu.

Dia tak sabar menungguku untuk bergerak sehingga dia menggenggam tanganku, menariknya dan memindahkan coklat itu tanganku. Telapak tangannya terasa hangat, seperti yang biasa kudapatkan dari tangan Ibuku meskipun sedikit berberda.

Diriku terhempas pada kenyataan yang kemarin malam baru kuketahui, membawaku kembali pada ketakutan.

“Kau pucat.” Itu terrdengar seperti sebuah pernyataan. Memangnya apa yang akan dilakukannya jika mendapati aku tak bisa memejamkan mata sedikitpun kemarin dengan tenang?

“Kau harus terbiasa akan kehadiranku. Aku penjagamu, mulai sekarang.” Lagi-lagi sebuah perintah, seakan-akan aku harus menurutinya.

“Bisakah kau tutup mulutmu dan menghentikan pembicaraan soal penjaga sialan itu? Kepalaku sakit mendengarnya.” Tukasku sengit. Dia memicingkan matanya tajam ke arahnya.

“Jaga kata-katamu, gadis kecil.” Geramnya. Panas membakar tangan kananku yang dia genggam. Dia terlalu kuat menekan buku-buku jariku.

Hatiku mencelos. Dia mempertegas betapa tak berdayanya aku dibandingkan dia. Itu berarti, aku harus menurutinya.

Itu tak akan pernah terjadi, setidaknya untuk jangka waktu dekat ini.

“Pria berusia produktif, terutama yang memiliki posisi tinggi dalam pekerjaan, memiliki ego lebih tinggi, sangat tinggi. Mereka ingin selalu dituruti namun tak pernah sadar dan sudi untuk memberikan sesuatu dengan cara yang baik pada lawan bicara.” Aku membersihkan hal aneh yang mengganjal tenggorokanku, meskipun tak apa-apa di sana. “Aku, tak bergaul dengan orang-orang seperti itu. Jadi jika kau berpikir aku akan menuruti keinginanmu untuk bersamamu, apapun alasannya, aku tak sudi.” Rasa yang menghimpit dadaku sejak tadi hilang sudah. Aku menendang tumitnya dan berlari saat dia mengaduh keras. Dia tak berusaha mengejar, kesenanganku bertambah.

***

“Ibu, apa maksudnya?” Aku menginterogasi Ibu saat dia baru saja tiba di rumah. Ibu menatapku heran.

“Ibu tahu pria ini? Siapa dia? Dia mengatakan hal aneh padaku sejak tadi.” Aku menunjuk ke arah pria itu. Dalam beberapa alasan, aku merasa Ibu tidak akan berada di pihakku kali ini.

Ibu terdiam sejenak, mengamati wajah orang itu. Perasaanku membuncah. Mungkin Ibu sama saja denganku, tak mengenali orang ini.

“Kau Reynald?” Tanya Ibu ragu.

“Iya, tante.” Balas pria itu. Pandainya dia mengambil hati Ibuku dengan kelakuan sopannya. Dia mencium tangan Ibuku layaknya anak kandung. Bahkan aku sendiri terkadang lupa terhadap bentuk tradisi itu.

“Viana… ibu akan jelaskan padamu semuanya, sayang. Singkatnya, mulai sekarang, selain Ibu, dia adalah orang yang akan menjadi penjagamu.” Harapan kecilku kini terhempas ke tanah. Kupikir Ibu akan tetap mengomelinya karena melanggar privasi penghuni rumah orang lain. Ternyata, Ibu malah menyambutnya, memeluk pria itu seakan sudah lama mengenalnya. Aku bahkan tak tahu sama sekali tentang siapa orang itu.

Jangan-jangan, dia…

“Viana, tunggu dulu! Ibu akan jelaskan.” Sahutan Ibu tak pernah terdengar semenyakitkan ini. Aku tak ingin melihat adegan itu lagi. Bagaimana bisa mereka terlihat bahagia tanpa sepengetahuanku?

Lagi-lagi, aku ditinggalkan sendirian.

***

“Hei.” Hal yang kusadari hanyalah pipiku tersengat aliran dingin dari benda yang dipegang oleh seseorang. Kupalingkan wajah dan kupaksakan untuk tersenyum melihat sosok yang menginterupsi lamunanku.

“Bengong aja, Vi. Pesan makan deh mendingan. Mumpung belum terlalu ramai.” Riana merapikan helaian rambut kecoklatannya yang menutupi mata kanannya. Dia menatapku melalui lensa biru terang yang baru dia beli beberapa minggu lalu.

Riana adalah kesempurnaan. Menatapnya bagaikan melihat cahaya matahari, silau namun memukau. Aku hanyalah cahaya bulan yang berdiri dalam kesendirian, tidak mempunyai teman kecuali bintang-bintang lain nun jauh disana. Sedangkan dia, sang matahari, bisa berkawan dengan siapa saja. Bahkan tunbuhan sangat bergantung padanya.

Meski begitu, aku senang berteman dengan sang matahari. Bagaimanapun, matahari dan bulan selalu berpasangan, kan?

“Gue bawa bekal, Ri.” Balasku. Syukurlah hari ini Ibu berangkat kerja lebih pagi,jadi aku bisa mengeksplor bakat di dapur tanpa harus bertatap muka dengannya.

“Oh, hasil eksperimen baru ya? Apa lagi kali ini?” Kuku jarinya yang berlapiskan kutek warna biru dan sliver beradu dengan kotak bekalku. Makanan ini menjadi satu-satunya pembawa kebahagiaan hari ini. Terkadang aku hanya menunggu siang datang, disaat hari-hari jenuh, untuk memakan bekal buatanku sendiri, menghiraukan semua mata kuliah dalam satu hari.

Kuraih sendok makan dan mulai membuka tutup kotak. Aroma khas menguar, sisa dari penguapan yang terperangkap dari dalam kotak. Wanginya membuat mata Riana melebar, meski tak benar-benar dia tunjukkan dalam kata-kata. Aku tersenyum, setidaknya ada satu hal yang bisa aku banggakan, satu keunggulan yang tak bisa ia capai.

“Garlic Rice dengan Sosis saus tiram.” Dalam beberapa detik saja, kesibukan kami beralih dari obrolan menjadi kunyahan serta gumaman lezat, menikmati hal kecil sebagai rasa syukur terhadap apa yang dapat diperoleh.

***

“Viana, kamu sudah pulang, nak?” Desahan lega menghampiri telingaku ketika kaki baru saja mencapai pintu depan. Bisakah aku langsung terbang menuju kamar tanpa harus melewati ruang tamu?

“Viana.” Nadanya berubah tajam saat aku tak berusaha menjaga kontak mata dengannya.

“Mama baru saja ingin memberitahukan tentang Reynald padamu tapi ternyata dia sudah datang ke sini.” Mataku menangkap wajahnya, langsung menuju matanya. Sekejap saja, aku tak bisa marah lagi pada mama. Garis-garis kerutan itu memohon padaku untuk meredam rasa marah yang ada dalam dada, serendah-rendahnya hingga akulah yang kini menundukkan wajah.

“Lalu, kenapa dia bisa masuk ke rumah ini? Dia siapanya mama?” Aku menaruh tas dan mengambil minum, meneguknya untuk menghilangkan rasa sakit sisa kemarahan yang tadi tertahan.

“Dia.. punya daya deduksi yang tinggi, Na. Semalam dia juga sudah meminta maaf atas perbuatannya yang membuatmu merasa tidak nyaman.” Mama membawa segelas jus, kali ini stroberi, dan memberikannya padaku. “Dan dia, seperti yang sudah dia katakan, adalah penjagamu.”

“Maksudnya apa? Aku punya mama dan aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diri sendiri. Bahkan dia bukanlah anggota keluarga kita. Punya hak apa dia hingga bisa jadi penjagaku?”

“Viana, tidak baik berkata seperti itu. Dia adalah anak dari teman papamu. Namanya Reynaldi Mahesa. Dia diamanahkan untuk menjagamu, bersama mama.” Helaan napasnya masih terdengar begitu lelah. Aku semakin merasa bersalah karena menyakiti hatinya kemarin. “Mama sama butanya denganmu mengenai dia. Mengapa Reynald yang harus menjagamu? Mengapa papa tak percaya pada mama? Mama juga tidak tahu.”

“Mungkin dia ingin mama menikah dengan si Reynald itu.” Jawabku asal.

“Heh, kamu ngomongnya.”sambar mama cepat, sedikit terganggu dengan celotehan nakalku,. “Kamu cemburu ya? Haha.. ya ga mungkin lah, Viana. Dia masih berumur dua puluh lima tahun, kalau tidak salah sih.” Aku memilih diam. Bukan begitu sebenarnya maksudku.

“Sepertinya dia lebih cocok denganmu. Oh iya, alat elektronik yang kemarin ada di meja ruang tamu adalah hadiahnya untukmu. Sudah mama pindahkan ke kamar kamu. Ngomong-ngomong itu alat apa sih?” Ya aku sudah menduganya bahwa alat itu adalah pemberian dia.

“Itu alat untuk bermain detektif, Ma. Permainan kesukaanku.” Tak bisa dideskripsikan lagi kebahagiaan yang aku rasakan. Dalam otakku, sudah terbayang apa yang aku lakukan dengan alat itu.

***

“Selamat pagi, Tante.” Kutemukan dia duduk di meja makan ketika aku baru turun dari kamar tidur. Aku tak bisa mencegah dia untuk tidak melihat versi diriku yang berantakan. Rambut mencuat, wajah sembab, dan pakaian yang kusut dibeberapa bagian, dan tak terhitung hal yang kuanggap sebagai sebuah kesalahan.

Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan wajah. Iya, iya aku tahu bahwa aku tak semenarik wanita-wanita di kantornya. Aku tahu diri kok tanpa harus menunjukkan gestur dengan jelas.

“Na, Reynald akan mengantarmu ke kampus hari ini. Oh iya, dia membawakanmu kue sus coklat. Mama berangkat kerja dulu ya.” Mama, dengan attire berupa blazer coklat, celana panjang putih dan flat shoes hitam kesayanganya, menghampiri dan memelukku sekilas. Aku membalasnya, mengangguk dalam diam.

Aku sudah terbiasa dengan kesendirian jadi keberadaan Reynald di sini membuatku aneh. Seperti tiba-tiba aku berada di tempat asing. Aku masih belum bergerak dari tempatku berdiri.

“Sini, duduk.” Tanpa diduga, dia tersenyum padaku, jenis senyum yang menenangkan. Seakan berada di dekatnya adalah sesuatu hal menyenangkan dan aman.

Aku tak terbiasa oleh kenyamanan karena kehadiran orang asing.

Aku menggeleng.

Tanpa aba-aba, dia bangkit dari kursi dan melangkahkan kaki-kaki jenjangnya, mendekatiku. Dia menyentuh jemari tanganku, sedikit ragu lalu menarikku kepadanya.

“Ayo.” Lengan kanannya melingkari bahuku, menuntunku ke meja makan. Sikap anehnya terus berlanjut ketika dia menarik kursi, dan membantuku untuk duduk. Aku bukanlah lansia. Menurutku sikapnya kali ini berlebihan.

Aku baru menyadari kotak coklat yang dia bawa, bergambar berbagai macam jenis roti dan kue.

“Makanlah.” Suara pria itu jernih, seperti dentingan tuts piano dalam ruangan sepi. Aku tak bisa tidak mengindahkan eksistensinya di sini. Kutatap wajahnya. Dia tak tersenyum ataupun memasang muka masam. Dia tak akan mengatakan apapun lagi sebelum aku menuruti perkataannya.

Dengan isyarat anggukan, aku menghantarkan sus coklat itu ke mulutku. Aku masih menganggapnya sebagai sebuah perintah namun aku tak ada pilihan lain, bukan?

888

“Kapan kamu pulang hari ini?” Awan masih begitu menarik perhatiannku untuk dipandangi. Meskipun begitu, aku teringat tugasku untuk melakukan riset setelah jam kuliah usai.

“Entahlah. Jam 6 kurasa.” Pikiranku malah melayang, membayangkan betapa enaknya jika aku saat ini sudah tiba di perpustakaan, memilih judul-judul yang menarik di antara susunan buku tebal. “Atau bisa lebih.”

Dia tak menjawab. Kurasa aku juga tak punya kewajiban untuk memberitahukan rencanaku. Dia bukan ayah atau pacarku.

“Belajar yang rajin, Viana Versalita.” Hah, jadi kita sudah sampai kampus? Butuh sedikit waktu untuk membiasakan diri untuk tidak melamun lagi di mobil ini. Nyatanya, aku terlalu malas untuk keluar dari sini. Di sini sangat sejuk.

Namun nyatanya aku harus.

Aku mengangguk dan membuka pintu mobil.

Dentuman yang dihasilkan pintu mobil yang setengah kubanting saat keluar dari kendaraan mewah itu menyadarkanku bahwa definisi penjaga dalam otakku sekarang adalah menolong saat aku kesulitan dan memerlukan bantuan, bukan harus mengantar dan menjemputku setiap hari ke kampus.

Author’s Note : Hai, Ferelyyy’s back. Akhirnya aku melanggar peraturan sendiri. Habisnya, udah gak sabar buat publish chapter ini. Untuk chapter depan kayanya akan dibuat berdasarkan sudut pandang Reynald. Semoga bagi yang masih bingung dengan alurnya, bisa tercerahkan di chapter depan. Doakan saja semoga minggu depan bisa rampung. Tetep Read, dan Komen yaaaa! Terima kasih.

Oh ya, di antara kalian ada yang nonton drama Kiss Me (Thailand Version) gaks? Aku mau tonton ntuh drama secara pemeran utamanya matanya Panda gitu, mirip Tao ex-EXO(?). Namun, apa daya pas bertandang ke situs http://www.kshowsubindo.net yang 360p nya belum di upload. Aku jadi sedih T-T

Di antara kalian ada yang punya situs rekomendasi gak buat video yang resolusinya 360p? Kalo ada, tolong kasih tau aku yaaaa~ Thank you

Last but not least, happy reading, guys!