Semua begitu samar, seperti disaat kau harus melihat sesuatu di balik air kolam keruh. Clueless. Bahkan setitik jentik ikan tak bisa kukenalsang_pria_pilihan[1]i bentuknya.

Sama seperti hidupku sekarang. Tak punya Siapapun untuk dipercayai, bahkan Ibukusendiri.

Mama adalah seorang teman, sekaligus musuh untukku. Lihat saja, bagaimana dia bisa bertransformasi begitu menyebalkan, di saat yang salah, pada tempat yang tak tepat pula. Namun, dia bisa jadi pengingatku, akan kehidupan yang jauh lebih kelam di luar sana. Memberikan peringatan di saat aku mulai lelah dan menawarkan tempat ternyaman di sisinya, di rumah kecil nan hangat. Tempat dimana aku bisa menemukan minuman jus kesukaanku, yang hampir selalu tersaji di dalam lemari pendingins aata aku pulang dari kampus. Baju-bajuku tak pernah dia biarkan kusut, salah satu dari sekian banyak perhatian yang dia berikan, pertanda bahwa dia ingin menunjukkan pada orang lain bahwa akus ehat, bahagia, terurus, meski hanya ada satu pilar yang menopangku untuk tetap hidup.

Di otakku, kemungkinan untuk meninggalkan rumah ini sama besarnya dengan keinginanku untuk bertahan dalam ruangan bercat krem, kamarku. Tempat yang menawarkan kenyamanan serta ketidakpuasan sekaligus dapat menjadi tempat seperti neraka.

Aku tak mempercayai mamaku, bukan aku tak mau. Aku percaya padanya tapi tak sebesar itu. Ada satu sisi dimana aku lebih baik diam, melihat, dan mengamati. Sampai sejauh mana aku bertahan dengan kesendirian yang sengaja aku ciptakan.

Aku tak bisa mempercayai mama, karena bahkan aku, tak bisa percaya pada diri sendiri.

===

“Viana” suara itu begitu menggangguku. Bagaimana bisa seseorang datang tiba-tiba dan berteriak padaku. Ini menyebalkan karena dua hal. Aku tak terlahir sebagai orang yang tahan terhadap setiap kebisingan. Kedua, ketakutanku terhadap bayangan absensi serta kemungkinan diadakannya tes hari ini lebih menggangguku.

Aku berjalancepat. Kulihat jam dinding pada jarak kira-kira satu meter di depanku. Kurang lebih lima menit lagi.

“Viana!” Suara itu kembali terdengar. Kali ini efeknya jauh lebih besar sampai orang-orang mulai melihat ke arahku. Rasa canggung dan kesal datang bersamaan. Sial.

“Apa?” Pertama kali aku berbalik arah, yang ada hanya dia. Bocah — aku menolak menyebutnya pria, memakai topi distro kebanggaannya, tersenyum miring sambil memandang remeh ke arah ku. Tidak sebetulnya, ke arah gedung di belakangku.

“Memulai hari ini dengan filsafat lagi, eh?” sindirnya, melirik sebuah buku tebal berlukiskan sosok Plato dan Aristoteles, sebuah lukisan tentang mereka yang terkenal, apa lagi kalau bukan karena gerakan tangan yang merepresentasikan perbedaan pemikiran keduanya? Ah, kenapa aku harus menjelaskan mengenai kakek-kakek tua itu? Memikirkannya saja sudah pusing.

“Jangan memulai, Dave.” Tak cukup seringaian itu baginya, dia melangkah lebar, menuju ke depan wajahku. Mataku kehilangan fokusnya saat dia tepat berada dua puluh lima senti di hadapanku.

“Kau tahu, aku tak akan kalah darimu.” Bisiknya sinis. Bocah imi memang terlalu.

“Aku tak mengerti.”

“Kau selalu tak mau mengerti.” Tukasnya. Dave, David, atau siapapun dia. Dia selalu menggangguku. Sejak masa oriejtasi SMA hingga sekarang. Aku selalu menghindarinya, bahkan aku sempat tak memilih universitas yang sama hanya karena tak ingin bertemu dia lagi.

Dia dan perbuatannya terlalu menyakitkan untuk diingat.

“Sadarlah, Viana. Disini.”Wajah arogannya muncul. Kali ini David memandang sekeliling lingkungan gedung jurusanku. “Bukanlah tempatmu.”

“Sudah berapa juta kali kubilang, It’s none of your business.”

***

Hari ini berlalu begitu lambat. Aku seringkali memejamkan dan membuka mata, dan menyangka bahwa hari sudah berganti. Namun tidak, semua masih tetap sama. Kantuk menyerang seiring pergerakan matahari yang menuju ke ubun-ubun. Lebih dari separuh anggota kelas terserang sindrom tidur siang hari. Banyak yang menyerah untuk tetap memperhatikan dosen dan materi yang diberikan. Sisanya pura-pura menjadi mahasiswa teladan dengan menatap kosong ke arah TV flat sementara pikiran mereka terbang tak tentu arah.

Aku menguap berkali-kali. Kasur saat ini rasanya seperti mendarat di gumpalan awan berbentuk semi padat dan lembut. Pasti nyaman sekali. Entah mengapa sejak tadi, jantungku berdegup dalam kecepatan menyamai derapan kaki kuda saat berlari. Rasanya sakit dan terasa aneh. Seperti sedang menanti yang tidak biasa untuk terjadi.

“Baiklah, pertemuan untuk kali ini sudah selesai. Besok kita akan melaksanakam kuis.” Argh, ternyata ini kabar buruknya.

Seisi kelas bergumam. Sudah menjadi kebiasaan lama mahasiswa untuk menganggap kuis, ujian, dan segala perangkat evaluasi sejenis sebagai monster yang harus ditaklukkan. Aku pun memiliki pemikiran namun bentuk objeknya berbeda. Bukan monster, melainkan hanya sebuah puzzle yang harus kupecahnya penyelesaiannya.

“Viana.” Kenapa hari ini banyak sekali orang memanggil namaku? Apa aku seterkenal itu ya? Haha. Mungkin.

Saat memalingkan wajah ke sumber suara, yang kulihat adalah malaikat bertanduk setan. Dia, pria sama yang kutemui saat di dalam bus, berada di sana, satu-satunya orang yang berada dalam radius terdekat dari tempatku berdiri. Dia tersenyum miring melihat penampilanku. Kenapa dia bisa tahu namaku?

“Aku tahu namamu dari teman sekelasmu tadi. Dan jika kau bertanya mengapa aku mencarimu, yang pasti bukanlah karena kau terlihat begitu cantik tadi pagi hingga terpesona dan ingin menjadikanmu kekasihku. Tidak sama sekali.”Pertanyaan batinku terjawab dengan cara yang tidak aku inginkan. Aku tidak narsis seperti itu. Lagipula aku tidak sudi mencari perhatian dari prang asing ini.

“Aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi.”

“Ya, aku juga.” Balasnya tak kalah dingin. “Di sini tak terlalu sejuk ya? Apa ada tempat lain yang lebih layak di sini? “

Ah, jadi dia tipe orang sama dengan yang biasa kutemui.Lebih baik aku pergi sebelum berurusan lebih jauh dengan dia.

“Kupikir mahasiswi sastra harusnya tahu cara berkomunikasi yang baik.” Sindirnya. “Kau lebih mirip manekin berjalan dibanding manusia.”

“Aku tak berurusan dengan orang yang suka bertele-tele.” Jika dia pikir aku lemah, mudah dimanipulasi, dia salah. Aku jauh melampaui apa yang dia duga.

“Bisa kau tunjukkan jalan ke ruang dosen?” Wajahnya masih sama. Angkuh. Namun sedikit gerakan canggung tak bisa luput begitu saja dari tubuhnya. Bilang saja kau tak tahu arah. Dasar menyusahkan.

Aku memimpinnya menuju tempat yang dia tuju. Banyak orang bilang, aku tak punya hati namun mungkin kali ini adalah pengecualian.

***

Air mata bahagia tak bisa kusembunyikan saat melihat benda yang sangat kuimpikan sejak lama. Seperangkat alat penyadap disertai oleh transmitter pelacak portable menyambutku saat aku pulang ke rumah. Penasaran adalah perasaan yang perlahan mengambil alih pikiran setelah kegembiraan sirna . Mama mustahil masuk dari daftar pemberi alat mahal ini. Aku tak punya kakak berusia produktif untuk bisa membelikan alat penyadap. Teman? Sepertinya mereka lebih rela menghabiskan uangnya untuk makan di cafe mewah, dibandingkan berkorban untukku.

Suara sesuatu yang dipotong-potong terdengar dari dapur. Jantungku seperti dihantam palu kemudian membengkak, bergerak tak karuan setelah menerima rasa sakit sebelumnya. Mama tak mungkin pulang secepat ini. Aku tahu jadwalnya, aku tahu hampir segala sesuatunya tentang wanita itu. Dia baru akan tiba di rumah paling cepat pukul tujuh karena kebijakan kantornya yang melarang karyawan untuk pulang sebelum pukul lima sore datang. Sedangkan saat ini jarum pendek jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan angka empat.

Apa ada perampok?

Kalau memang benar, tamatlah riwayatku.

Aku menjaga pikiran agar fokus, tidak terpengaruh oleh kepanikan sesaat. Perasaan dangkal itu tidak akan bedampak bagus. Alih-alih nekat dengan menyerahkan nyawa pada entah-siapa-dia tanpa persiapan anapun, aku mengambil sapu di dekat pintu depan. Aku merasa memiliki perlindungan dan kelebihan dengan membawa sapu ini. Gagangnya yang cukup panjang membuatku lega karena tak perlu berinteraksi terlalu dekat dengan si penyusup misterius. Hal kecil seperti ini saja sudah membuatku bersyukur.

Baiklah, aku akan menyerangnya dalam hitungan mundur.

Satu

Dua

Tiga!

Buk buk buk!

“Yak! Viana, kau sudah gila!?”

Suara yang tak begitu asing, namun juga belum terasa familiar. Di depanku, hal yang tak benar-benar kuperhatikan sebelum ini, tampak seorang pria duduk dan mengaduh sakit, mengarahkan tangan pada punggungnya yang terkena tiga kali pukulan sapu. Dalam hati, aku setengah kasihan dan juga lega. Setidaknya aku pernah bertemu orang ini.

Tunggu, apa kepentingannya disini?

“Hei, kau.”

“Begitukah caramu memperlakukan tamu yang dengan sengaja kau pukul, hah?!” Serunya setengah membentak. Aku tak mengerti, dia pikir aku temannya? Sesukanya saja menggunakan nada itu saat berbicara denganku. Kenyataan bahwa dia berada dalam lingkup kekuasaanku menambah kesan arogansi dari perilakunya.

“Tamu adalah orang yang sengaja diundang oleh pemilik rumah. Siapa kau? Atas izin siapa kamu berada disini? Sapuku bahkan tak sudi menerimamu disini. Pergi, sebelum kupanggil pak RT untuk mengusirmu.” Aku tak suka diganggu dan didikte oleh orang lain. Aku berani. Keberanianku tak bisa dihalangi siapapun.

Dia mengerutkan dahi licinnya. Dia membiarkan keringat meluncur dari pelipis menuju sisi wajah. Aku mengikuti pergerakan bulir itu tanpa sadar, lalu ketika tetesan keringat sudah mencapai dagu, aku disuguhkan oleh pemandangan bibirnya yang membentuk senyuman aneh. Heran, kenapa sikapnya cepat sekali berubah?

“Ah, jadi rumor tentang sikapmu itu benar, ya?”Kaki jenjang pria itu melangkah lambat. Kaus kaki hitamnya menyapu bersih lantai, memunculkan bentuk intimidasi lain yang tak kuketahui.

“Maaf?” Kharisma? Keangkuhan? Mungkin opsi kedua lebih tepat.

Kekehan kecil memecah ketegangan yang menyelimutiku. Mungkin karena kehadirannya adalah sesuatu yang baru bagiku, jadi aku belum terbiasa. Saat sadar, aku sedikit merasa takut.

Dia sedikit menurunkan pandangannya, menatapku. Tatapannya mengunci pikiranku, untuk tetap memperhatikannya, mendengarkannya.

“Mulai sekarang, aku adalah penjagamu.” Kalimat terakhir darinya sukses membuatku sadar, jika dunia damaiku sebentar lagi akan runtuh dan aku tak bisa membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi jika aku berada di dekatnya.

Hai, hai. Ferelyyy is back. Hayo siapa yang udah nungguin Sang Pria Pilihan (pede banget deh gue)? Selamat membaca buat para readers, jangan lupa komen ya!

Btw, bagi kalian para penggemar SuJu (ELF) akan ada kejutan juga untuk kalian, stay tune ya!

See you on next chapter!~