sketch-15285644795151842827857.png
jenis bentuk sediaan dan subkelasnya

Dosage form atau bentuk sediaan, Mungkin sebagian besar para skin care junkies pasti sudah mengetahui istilah- istilah ini. Jika ada seseorang yang berkecimpung di dunia kecantikan, atau minimal jika pun tidak, anda cukup tahu dengan sekilas, supaya tidak salah memilih produk kosmetik yang dijual dipasaran untuk kenyamanan diri anda sendiri.

dosage form atau bentuk sediaan kosmetik adalah  bentuk fisik akhir dari campuran beberapa jenis zat-zat kimia yang dapat digunakan oleh konsumen sebagai produk akhir dan dapat diaplikasikan ke tubuh (dengan membawa zat-zat aktif yang terkandung di dalamnya lokasi yang diinginkan untuk mendapatkan efek terapeutik tertentu).

mengapa sih harus dalam dosage form (bentuk sediaan)?

baiklah, mari kita ibaratkan seperti ini. Jika kamu ingin mengonsumsi nastar, kamu harus mengolah nenas sedemikian rupa menjadi selai, mencampurnya dengan tepung, telur, pelembut makanan, sedikit garam dan lain-lain, sehingga jadilah nastar yang kamu inginkan untuk dikonsumsi.

nah, kosmetik atau skin care juga seperti itu, ia terdiri dari beberapa zat dan zat aktif yang perlu di formulasikan khusus agar dapat bekerja dengan maksimal agar bisa di aplikasikan di area yang diinginkan, baik di kulit, kuku atau rambut.

semua produk skin care atau kosmetik, memiliki formulasi khusus yang berbeda-beda agar bekerja sesuai yang diinginkan. ya,, ingat saja resep kue atau masakan.

seperti yang diperlihatkan pada diagram diatas, jelas terlihat bahwa secara garis besar bentuk sediaan kosmetik terdiri atas liquid (cair), semi solid, dan solid. Yang setia kategori itu nantinya akan dibagi-bagi lagi. Yuk kita bahas satu persatu .

Bentuk Cair (liquid)

bentuk sediaan yang dapat tumpah dan tersusun dari zat-zat cair.  Jenis bentuk sediaan cair adalah, larutan, lotion dan suspensi

1.Larutan (solution)                                                                                                                            (larutan adalah bentuk sediaan liquid (air)  yang jernih, homogen  yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut dalam pelarut atau  campuran dari zat-zat yang saling melarutkan). 

berdasarkan tipe pelarutnya, larutan di bagi menjadi 3 guys ;

a. water based solution, yaitu larutan yang mengandung air sebagai agen nya. misalnya, make up remover, sabun pencuci tangan, sampo dan lain-lain

b. Hydroalcoholic  solution, yaitu larutan yang mengandung campuran air dan alkohol sebagai agennya. contohnya ; toner, mouthwashafter shave cologne, hair spray

c. anhydrous , (tidak mengandung air) larutan yang mengandung zat-zat selain air di dalamnya, misalnya nail polish remover (cairan pembersih kuteks).

Note : Larutan merupakan bentuk sediaan yang secara termodinamik di anggap stabil. 

Sebelum kita membahas lotion dan suspensi, saya akan terlebih dahulu membahas mengenai emulsi, karena lotion adalah salah satu dari jenis emulsi .

Mayoritas bahan-bahan mentah kosmetik tidak saling melarutkan atau larut sebagian (tidak sempurna) dalam hal ini diperlukan formulasi yang dapat mengabungkan zat-zat yang saling tidak melarutkan tersebut. Sehingga dikenallah istilah emulsi.

Emulsi adalah  suatu sistem yang terdiri atas dua fase cairan yang tidak saling melarutkan, dimana satu cairan terdispersi dalam bentuk droplet (fase terdispersi(fase internal) di dalam cairan lainnya (fase kontinyu(fase eksternal ), yang secara umum distabilkan oleh satu atau lebih agen pengemulsi (emulsifying agents) . Berdasarkan definisi ini terdapat tiga bahan dasar utama emulsi, yaitu oil phase, water phase dan emulsifier. Berdasarkan jenis fase kontinyu dan fase terdispersinya dikenal dua tipe emulsi yaitu emulsi tipe O/ W dan tipe W/ O

Teksturnya yang unik serta memberikan kesan nyaman dikulit  menjadikan emulsi menjadi salah satu bentuk sediaan yang paling banyak digunakan dalam industri kosmetik. Kekurangnya adalah bentuk emulsi ini secara termodinamika tidak begitu stabil.

berdasarkan viskositas (kekentalannya) nya, emulsi dibagi menjadi dua yaitu lotion dan cream

2. Lotion adalah emulsi dengan viskuositas rendah dan masuk dalam kategori liquid (cairan). Di desain untuk diaplikasikan tanpa di gosok secara berlebihan di kulit. Lotion memiliki kandungan air yang lebih tinggi pada fase kontinyu dibandingkan dengan krim.  lotion memiliki karakter yang tidak begitu greasy  dan dapat dibersihkan dengan mudah, karena kandungan airnya pada water phase lebih tinggi.  Lotion juga sering disebut dengan istilah “milks” dan “balms.” . contoh lotion adalah susu pembersih (cleansing milks), foundations cair (liquid foundations), aftershave balms, dan  non-aerosol sunscreen sprays

3. Suspensi

adalah bentuk sediaan yang mengandung  zat-zat padat yang larut dalam medium cair.

Terdapat tiga jenis suspensi , yaitu : :
◾ Water-based suspensions;

◾ formulasi Hydroalcoholic , seperti beberapa jenis toner wajah.

◾ Formulasi  Anhydrous , seperti  spray antiperspirant dengan bahan dasar silikon  , pengkilap kuku dengan  pelarut organik , maskara,  eyeliner cair, dan lip gloss.

suspensi , sama seperti emulsi, cenderung tidak stabil secara termodinamika. Selain itu Partikel-partikel yang tidak larut, akibat gaya gravitasi akan mengendap di bagian bawah kontainernya, oleh sebab itu sebelum digunakan hendaknya di kocok dulu. Atau jika anda membeli sebuah produk, dan ada instruksi ” kocok dulu sebelum digunakan” itu berarti bentuk sediaan produk yang anda beli adalah SUSPENSI.

BENTUK SEMISOLID

Bentuk sediaan memiliki konsistensi antara bentuk padat dan cair, maka ia di kategorikan sebagai semisolid. Perbedaannya hanya pada viskositasnya saja, jika sediaannya memiliki viskositas yang rendah, dalam artian dapat dituang dengan mudah, dan akan langsung mengalir di tangan, maka sediaannya adalah liquid . Namun jika ia lebih kental, dan perlu usaha lebih untuk mengeluarkannya dan mengaplikasikannya, maka sediaan tersebut disebut semisolid. Semisolid terdiri dari krim, salep, pasta dan gel.

1. KRIM

Krim adalah emulsi semisolid dengan viskositas lebih tinggi (lebih tebal). Krim merupakan emulsi yang mengandung air > 20% dan volatil (mudah menguap) dan/atau < 50% hidrokarbon, lilin, atau polyols sebagai vehicle (agennya). Karena krim mengandung oil phase yang lebih tinggi, krim cenderung lebih greasy. Contoh krim adalah krim pelembab, conditioner untuk rambut, krim eye shadow dan krim  depilatori (perontok bulu).

2. OINTMENT

Ointment adalah bentuk sediaan semisolid yang mengandung <20% air dan bersifat volatil serta >50% hidrokarbon, lilin, atau polyols sebagai vehicle (agen(nya). biasanya digunakan secara topikal untuk perlindungan atau sebagai produk pengobatan kulit. Salep (ointment) memiliki sifat oklusif alamiah dan mengunci permukaan atas kulit. Kandungan air dalam salep sangat sedikit atau juga bisa anhydrous. Pada formulasi anhydrous, peluang kontaminasi mikroba sangat rendah.

Salep kurang cocok digunakan sebagai produk skin care karena sangat oily, waxy, greasy, sticky, tacky dan heavy sehingga tidak nyaman digunakan. Tapi, sediaan ini bermanfaat digunakan untuk area kulit yang lebih kecil yang sangat kering dan membutuhkan kelembapan ekstra, atau area yang rentan terhadap gesekan pakaian dan butuh perlindungan. Salep warnanya biasanya putih (opaque) atau agak kekuningan karena kandungan airnya tinggi. Contoh produk kosmetik yang menggunakan sediaan ointment adalah, pomade rambut, dan salep untuk ruam popok.

3. GEL

Gel adalah bentuk sediaan semisolid yang transparan.   fase terdipersinya berupa cairan, sedangkan medium pendispersinya berupa zat padat. fase terdispersinya mempunyai kemampuan yang sangat kuat  untuk menarik medium pendispersinya sehingga dihasilkan koagulan yang bentuknya antara pada dan cair (kental, beku dan setangah kaku). Contoh gel adalah gel untuk styling rambut, pembersih wajah gels, dan gel  hand sanitizer 

Berdasarkan sifat alamiah agen penghantarnya (vehicle) gel terbagi dua :
◾ Water-based formulations, misalnya pembersih wajah

◾ Hydroalcoholic formulations, seperti gel untuk styling rambut dan hand sanitizer.

Gel mengandung lebih banyak air dibandingkan dengan bentuk semisolid lainnya, sehingga memberikan efek yang dingin dan refresh saat diaplikasian ( cooling and refreshing effect).  

4. Pasta

Pasta adalah formulasi semisolid yang sangat tebal, susah diaplikasikan dan diratakan dipermukaan kulit karena tingkat kepadatannya yang lumayan tinggi. Kandungannya mirip salep namun lebih solid dan lebih kaku. Proporsi kandungan solid nya sekitar (20-50%) yang di dispersikan dalam agen pembawa yang berupa asam lemak.  bentuk sediaan ini biasanya digunakan pada kulit atau membran mukosa. contoh pasta, adalah pasta yang digunakan untuk mengatasi ruam popok dan pasta gigi.

BENTUK SOLID

1.BEDAK  (POWDER)

Bedak merupakan bentuk sediaan padat, yang merupakan dari campuran zat-zat kimia yang kering dan halus. Terbagi dua menjadi Loose Podwer (bedak tabur) dan pressed powder (bedak padat) atau sering kita sebut dengan compact powder.

a. Loose Powders : adalah campuran berasal dari zat-zat kimia kering padat yang berbeda-beda dan dapat tumpah jika dituang dari kontainernya. sering digunakan dalam produk-produk make up seperti ;   mineral facial powders, blushes, dan sejumlah eye shadows, dan juga bedak bayi serta bath salt. 

b. Pressed powder adalah loose powder yang sudah dipadatkan dengan cara kompresi. sediaan ini populer untuk eyeshadows, facial powders,  finishing powders, dan  perona pipi.  Bath bombs juga merupakan contoh dari pressed  powders loh…

2. STICK

Stik adlaah bentuk sediaan solid yang terbuat dari waxes (LILIN) dan sedikit minyak (oils).  contoh sediaan stick dalam dunia kosmetik adalah, lipstik, lip liners, eyeshadow stik, eyeliner, blush pensil. dan concealers, dan juga beberapa produk perawatan tubuh seperti stik deodoran/antiperspirant, dan stik sunscreen.

stik efektif, untuk yang malas menyentuk produk kosmetik dengan jari.  Zat aktif yang ada di dalam stik dihantarkan ke kulit dengan proses rubbing (gesekan ke kulit). 

nah. sekarang sudah tahu kan, jenis-jenis sediaan dalam dunia kosmetik. Semoga bermanfaat ya..

 

sumber :

Baki G and Alexander K. 2015. Introduction to cosmetic formulation and technology . p: 51-63