Sore itu di halaman mesjid tempat dia belajar mengaji, dia berlari memeluk saya.

"Kenapa Muthia???", saya nanya sambil terbengong-bengong karena anaknya nangis jejeritan. Saya pikir habis dijambak karena datang ke saya ga pakai kerudung

"😭😭😭", cuma bisa nangis lagi tanpa menjawab.

"Kerudung Muthia mana?", saya nanya cuma dijawab dengan tunjukkan jari.

"Muthia nangis kenapa?", saya nanya kali ini sambil dijawab gelang-geleng kepala sama anak.

Dijambak kah? Dipukul kah? Atau jatuh kah? Perasaan temen-temennya ga ada yang nakal. Hmmm, saya pun berpikir cepat dan ternyata saya tau jawabannya kenapa dia nangis.

Ternyata kerudungnya nyangkut sodara-sodaraaa.... Nyangkut di pagar tali karena hari itu dia memilih untuk pakai kerudung yang banyak aksen mutiaranya. Mutiaranya itu yang bikin nyangkut dan dia ga berhasil meloloskannya.

Akhirnya setelah reda tangisannya dia bilang "Muthia tadi nangis malu (karena keliatan rambutnya)".

Deggg! Seketika hati saya ikut "nangis" juga. Ga nyangka dengan jawabannya.

***
(another story)

Hari itu kami berkunjung ke rumah tetangga lama kami sambil nunggu ayah rapat yang kantornya dekat dengan rumah tetangga. Muthia sedang pakai dress selutut dan celana panjang, kerudungnya sudah dilepasnya sejak turun dari mobil "Panas, lepas aja ya" dan aku meng-ok-kan, "Lepas celana juga lah", katanya. Rumah beliau yang memang lebih panas dibanding rumah kami yang masih sedikit perumahannya. You know, saya punya anak yang mewarisi bakat ngeyelan dari saya,  jadi ketika dia lepas celana panjang dan cuma ber"daster" pendek saya keberatan tapi dia seperti biasa, ga mau nurut karena pendiriannya. Ok lah asal jangan ngangkang-ngangkang aja (Fyi, sebenarnya dia bukan anak yang selalu nurut, bahkan lebih sering ngeyel dan menawar, suatu saat saya akan belajar bagaimana berdiplomasi dengan type anak seperti ini).

Ga lama kemudian, ada anak perempuan sepantaran yang manggil untuk bermain, anak dengan darah Dayak, cantik dan putih kinclong dan terbiasa pakai "daster" di atas lutut. You know what she said? "Tunggulah, aku pakai celana dulu", Muthia langsung ke kamar ambil celana yang baru saja dia lepas. Saya biasa aja dengernya, tapi bude (yang punya rumah) ter-haaah mendengar kata-kata anak 3 tahun itu.

Assalamu'alaikum....

Salah satu yang saya ajarkan ke anak sulung saya saat ini adalah mengenalkan batasan aurat dan bagaimana supaya dia sadar dengan pakaian yang dia kenakan, salah satunya kerudung.

Apakah saya termasuk sok idealis? Ah, biarlah kalo ada yang menganggapnya begitu.

Orangtua mana yang tidak bergidik dengan berita pelecehan seksual yang dialami anak-anak beberapa bulan lalu (dan tak menutup kemungkinan akan terulang lagi) dan demi itu maka saya merasa HARUS mengajarinya dari sekarang, saat dia belum sekolah dan masih full time bersama ibunya. Harapannya kelak saat dia sekolah dia bisa membentengi dirinya (Ya Alloh, mohon jagakan mereka).

Sekarang Muthia di usia pre-schoolnya sudah terbiasa memakai kerudung sekalipun pergi ke warung, sekaligus juga menempatkan kerudung sebagai salah satu asesoris yang harus dibawa saat bepergian.

Mungkin hal ini terlihat remeh bagi orang dan mungkin ada yang berpikiran "Ah, coba sampai besar gitu juga ga? Atau kecilnya aja kerudungan, besarnya jangan-jangan malah lepas? Jangan dipaksakan lah masih kecil itu kerudungan" dan hal-hal senada.

Jujur saya dulu memang agak memaksakan Muthia kerudungan sejak bayi, ya apalagi kalo bukan masalah estetika. Baby Muthia dulu memang lebih lucu kalo pakai kerudung dibanding cuma menampilkan rambut semi botaknya. Jadilah saya memakaikan kerudung kala jalan-jalan, biar maksimal unyunya, kerudungnya dipilih yang adem biar betah.

Tapi itu dulu, waktu dia belum bisa memilih, waktu dia pasrah dipakaikan apa saja. Semakin beranjak besar semakin cerewet dan akhirnya saya bebaskan dia untuk memilih. Di umur 2.5 tahun dia sudah bisa memilih baju yang mana yang akan dipakai selepas mandi karena di umur segitu dia juga sudah bisa pasang-lepas baju sendiri.

Semakin besar semakin banyak hal yang bisa dia pilih, termasuk memilih pakai kerudung atau ga kalo diajak keluar.

Ya, saya ajukan pilihan karena saya khawatir menjadi orangtua diktator untuk mereka, saya khawatir kalo mereka hanya terpaksa karena takut sama orangtua dan bukan karena kesadaran.

Tapi kan anak kecil ga dosa juga kan ga pakai kerudung?

Iya, memang ga dosa, saya juga tidak melulu menyuruhnya pakai kerudung, tapi ada hal yang saya tekankan sekali dan itu sangat penting untuk memahamkannya sebagai bekal nanti saat dia aqil baligh dan sebagai tameng dari kejahatan seksual sejak kecil. Jadi, bisa dibilang ini proyek untuk jangka pendek dan jangka panjang sekaligus.

Jadi, apa yang saya ajarkan sebenarnya lebih ke masalah aurat.

Bagaimana saya mengajarkan aurat dan pakaian wanita kepada anak saya? Berikut adalah pemaparan dari pengalaman saya selama ini mengajarkan Muthia, yang saya terapkan adalah kombinasi dari yang ilmu yang saya dapat di grup ibu Elly Risman, ibu Septi, dan islamic parenting expert  lainnya.

1. Children see, children do
Mereka melihat, mereka meniru, dan orangtua adalah contoh nyata terdekat yang akan mereka tiru. Ingin anak menutup aurat? Maka mulailah dari diri kita.

Dengan melihat ibunya setiap ingin keluar jalan-jalan memasang kerudung dan kaus kaki, Muthia jadi terbiasa dengan pemandangan itu dan akhirnya mencontoh.

Ayah Edy bilang perilaku yang baik (sesuai yang kita inginkan terjadi dengan anak) akan mudah dibentuk jika ada contoh baik yang memulainya. Menceramahi anak tanpa contoh = membuang energi besar tanpa hasil.

2. Mengajarkan rasa malu
Saya ingat sekali, waktu itu usianya masih 2 tahun, kami berdua duduk di depan rumah yang baru saja dipindahi, halaman depan masih ga asik banget buat dimainkan, maka sore itu kami habiskan dengan ngobrol berdua.

 "Muthia (pake dress) ga pakai celana ya, ih keliatan (kakinya), malu nih", kata saya dan dia refleks menutupi kakinya dengan dressnya. Jadi, sekarang kalo pakai dress (entah selutut atau lebih panjang) selalu beserta celana panjang sekalipun di rumah.

Lain waktu dia pakai baju tanpa lengan di rumah, saya bilang "Ketiaknya keliatan, malu nih, hihihi, tapi kalo dirumah ga apa-apa, kalo di luar jangan ya", akhirnya perlahan dia tau kalo ketiak itu juga bagian tubuh yang harus tertutup ketika keluar rumah.

Dengan mengajarkan kata "malu" itu saya mengajarinya batasan aurat perempuan. Jadi kelak di benaknya akan tertanam yang namanya aurat = yang malu dilihat orang.

3. Mengajarkan area sensitif
Area sensitif yang saya maksud adalah alat genital. Dimulai dari mengenalkannya, di antara pilihan nama yang bisa dipakai kami memilih menggunakan kata "kemaluan" untuk menyebut alat genitalnya. Kenapa? Karena saya risih kalo menyebut dengan nama daerah atau yang lazim dipakai, misalnya titit dan lain sebagainya (saya nulisnya aja isin apalagi dengernya, hahahaha).

Pernah juga mencoba kata "vagina", tapi entah kenapa lebih sreg dengan kata "kemaluan" untuk usianya yang sekarang.

Dengan menggunakan istilah itu saya juga menyampaikan bahwa yang namanya kemaluan itu tempat keluarnya kotoran, diciptakan Alloh dengan letak tersembunyi di bawah, MALU dilihat orang, MALU dipegang orang (Saya tekankan banget karena selalu teringat berita tentang predator anak 😥).

Kalo ga salah ini sex education dari ibu Elly Risman yang-sangat-kita-ketahui beliau juga termasuk orang yang sangat peduli dengan bahaya pornografi pornoaksi pada anak.

4. Tidak memoto anak saat bagian tubuhnya terbuka
Saya sering merasa gimanaa gitu kalo ada ibu-ibu yang memoto anaknya padahal anaknya lagi ngangkang atau lagi mandi ga pake baju. Walau masih anak kecil tapi mereka juga harus dilindungi. Apalagi sekarang ada komunitas kelainan seksual yang isinya para laki-laki yang suka ngumpulin foto-foto anak kecil berbaju terbuka, ya yang cuma pakai celana dalam doank, ya yang kakinya ngangkang, bahkan mereka bisa bernafsu banget liat anak kecil pakai singlet. Aish! 😠

Grup pedofil dan fetish itu nyata

Yuk, Mama.... Liat dulu kondisi pakaian anak sebelum memoto dan menyebarkannya di medsos, pastikan pakaiannya lengkap dan tidak terlalu terbuka (juga mengingatkan diri sendiri 🙈).

***

Itulah beberapa hal yang saya ajarkan sama anak perempuan saya terkait aurat dan kerudung. Jadi, ajarkan anak berkerudung sejak kecil saya sih yay dengan catatan saya tidak menyuruhnya, saya mencoba memberi pemahaman mengapa harus berkerudung, mengapa harus ditutup auratnya, dan semacamnya.

Harapan saya dia sudah "ter-imunisasi" dengan pemahaman agama yang saya tanamkan dan kelak jika sudah dewasa ketika dia sudah bertemu dengan teman dari berbagai kalangan dia bisa teguh dengan ajaran agama-Nya. Saya boleh minta di-aamiin-kan ga?