Januari begitu penuh kesan bagi banyak orang. Ada yang menjadi kisah romantis seperti lagu 11 januari ala Gigi, atau sebaliknya menjadi akhir yang menyedihkan seperti kisah cinta di lagu 'Januari'nya Glenn fredly.



Bagiku, januari tahun ini agak 'berasa' dari januari-januari terdahulu yang biasanya biasa aja. Januari tahun ini, tepat setahun wafatnya mendiang Mba Any, asisten rumah tanggaku yang paling aku sayangi. Sebenarnya wafatnya desember. Tapi aku baru tau setelah januari. Hah? Kemana aja? Iya sebelum wafat beliau ijin padaku karena sakit. Lalu agak lama gak kontak sampau akhirnya januari aku baru tau kalau beliau sudah wafat dan di pulangkan ke Jawa jenazahnya.

Kok ga kaget? Wah jangan di tanya, berminggu-minggu saya syok, sedih dan merasa sangat kehilangan. Kaya selayaknya orang berduka juga meskipun tidak bisa berziarah. Sekarang sudah agak mendingan karena sudah setahun berlalu, tapi rasa kehilangan dan semua tentang mba Any masih membekas teramat dalam di hati, dan setiap hujan lebat datang, aku selalu merindunya.

Ya, karena beliau wafat terkena musibah angin puting beliung beserta hujan lebat yang melanda dusunnya. Atap rumahnya yang ala kadarnya runtuh menimpa tengkuk lehernya. Saat itu beliau wafat melindungi anaknya yang berusia 4 tahun dari runtuhan atap rumah. Alhamdulillah anaknya selamat tanpa luka sedikit pun, hanya pendarahan di kepala Mba Any langsung membuatnya wafat dalam perjalanan menuju RS. Mudah-mudahan kematian Mba Any sebagai syahidah yang melindungi anak, dan tercatat sebagai kematian yang husnul khotimah. Aamiin.

Hmm.. Kembali ke topik awal, aku takut kalo ngebahasnya kepanjangan ntar aku inget lagi, terus aku baper lagi dan nangis lagi. Lalu gagal lagi move on.

Yang mau aku bahas saat ini adalah Rasa yang tertinggal. Bicara tentang melupakan. Bicara tentang rasa dan ingatan yang sulit di alihkan. Ingatan yang terlanjur nempel. Meski sudah mengikhlaskan.

Suatu ketika adakalanya kita terjebak pada situasi yang sulit banget kita lupakan. Meski sudah berusaha, bahkan kadang makin berusaha makin ingat. Aku sering sekali bertanya pada Allah, kenapa Engkau takdirkan aku masih mengingat si A, si B, si C. Padahal dia begitu menyakitkan dan aku tidak ingin mengingat kejadian itu, tidak ingin mengingat rasa sakit ini. Tapi, sebesar apapun aku memaafkan, kenapa masih saja tidak bisa melupakan.

Nyatanya, kita mungkin berhasil move on. Tapi rasa yang tertinggal ini masih ada. Buktinya? Kadang kita begitu terkejut ketika seseorang sekedar nge-like status kita, atau bahkan ada di daftar nama orang yang ngebuka insta-story kita. Kalau memang tidak ada rasa yang tertinggal kenapa begitu memikirkan ? Kadang di titip salam aja kita ga suka, padahal uda move on. Kenapa? Karena masih ada rasa yang tertinggal.

Rasa yang tertinggal itu, tidak selalu berbentuk keinginan memiliki atau suka ya. Keinginan membenci, mendendam atau merindu atau bahkan keinginan mencabik-cabik mukanya jika ketemu, itu juga termasuk rasa yang tertinggal. Bisa jadi rasa itu hanya berupa Ingatan yang masih saja segar akan kejadian bersamanya, dimana rasa itu terkadang menyebalkan sekali. Itu juga rasa yang masih tertinggal, meskipun hanya ampas-ampasnya.

Biasanya, hampir pasti, sesuatu yang ingin kita lupakan adalah sesuatu yang menyedihkan, pahit. Bukti nyata bahwa kita manusia yang masih optimis pada hidup adalah ketika kita berusaha melupakan segala kejadian buruk lalu melanjutkan hidup dengan baik.

Bahkan seburuk-buruknya move on adalah tidak berusaha melupakan tapi masih mau makan, mandi, dan melakukan kegiatan hidup lainnya tetap saja kalo saya bilang mah itu masih optimis pada hidup. Kalo orang sudah kehilangan harapan hidup sih biasanya sudah gak mau melakukan hal-hal yang membuat dirinya tetap hidup.

Selalu ada alasan di balik sesuatu. Aku selalu menggerutu tiap kali aku tidak berhasil melupakan suatu kejadian getir dalam hidupku (emang seberapa banyak sih kejadian getir dalam hidup ?!?!). Tapi akhir-akhir ini aku sudah bisa untuk tidak menggerutu lagi, lebih nrimo bahwa pasti ada alasan kenapa aku masih mengingat banyak rasa sakit di hidupku. Pasti ada alasan kenapa Allah masih menyisakan rasa ini di pikiranku dan hatiku. 

Bahkan moment-moment menyakitkan pada cinta pertamaku yang meninggalkan aku masih aku ingat jelas sampai sekarang meski aku sudah 8 tahun berumah tangga dan memiliki 3 orang anak. Ini gila.. Aku bahkan tidak ingin mengingatnya, aku bahkan tidak ingin berjumpa dengannya dan aku secara khusus meminta kepada Allah, jangan pernah pertemukan lagi aku dengannya seumur hidupku. Kebayang kan seberapa besar rasa sakit yang ia ciptakan di hidupku.. Kalau suamiku tau, pasti dia pun tidak menyukainya. Eaaa baper ingat mantan. Eh Engga kok, hihihi Kalo engga baper kenapa di bahas. Halagh..

Jadi gini, seseorang yang sangat ingin aku lupakan tapi Allah belum ijinkan aku melupakannya. Aku tidak ingin mengingat masa buruk tapi aku juga tidak bisa melupakan kejadian buruk itu. Poinnya disini, rasa dan hati ternyata tidak bisa di setting. Itu juga murni aturan Allah.



Kita bisa memaafkan tapi belum tentu melupakan
Kita bisa berdamai dengan keadaan tapi belum tentu bisa melupakan
Kita bisa move on dan memulai hidup baru tapi belum tentu bisa melupakan
Kita bisa berbaikan dan menjalin silaturahmi yang baru tapi belun tentu bisa melupakan kejadian buruk di masa lalu.

Sebenarnya, tentang Mantan pacar itu bukan sesuatu yang membanggakan untuk di bahas. Tentu saja, karena itu hubungan yang tidak halal dan juga gagal.
"kalo gak bagus ya kenapa di tulis? apalagi kalau tau pasangan tidak menyukainya"
Ya karena, ingatan tentang Mantan, adalah kondisi paling mainstream yang banyak banget di alami orang-orang. Lalu aku menuliskannya. Agar yang mengalami kondisi sulit melupakan 'kejahatan' mantan di masa lalu, mungkin merasakan kesamaan kondisi sama aku. Tak apa, suamiku tau betapa aku tidak ingin mengingat mantanku, kok. Insyaallah tulisan ini gak bikin kekacauan dirumah, hahaha.

Eh setuju gak sih kalau semakin manis perpisahan justru semakin sulit melupakan? Katanya kalau berpisah dengan 'pahit' justru lebih mudah move on nya? Kalau aku bilang sih move on ga tergantung pahit manisnya. Tapi tergantung seberapa besar niatnya untuk move on dan memulai hidup baru yang lebih baik. Hahaha.. Menurut aku loh itu, entah menurut kalian.

Okey, kembali ke laptop.. kita ambil contoh lain kondisi sulit melupakan seseorang tapi yang bukan mantan pasangan dan kita sangat tidak ingin mengingatnya. Contoh, orang yang menzalimi anak kita. Atau Sahabat yang mengkhianati. Atau kisah Pelakor yang merusak rumah tangga orang tua kalian. Ini adalah contoh-contoh kondisi, dimana kita sangat tidak ingin mengingatnya, namun kita tidak bisa melupakannya. Kematian, kecelakaan, bahkan musibah biasanya juga sulit dilupakan dan menyisakan rasa yang tertinggal, jadi bukan hanya mantan yang sulit dilupakan ya. Dimana kejadian-kejadian ini menyisakan rasa dan ingatan yang dalam banget, sampai kadang sekian tahun pun gak lupa-lupa.

Sementara Di tempat lain, ada level-level Manusia yang sudah memiliki kesabaran dan keikhlasan tingkat advance, sudah move on dengan bijak. Biasanya, tidak ada rasa kebencian lagi, tidak ada rasa sulit untuk menganggap kejadian itu tidak ada. Tapi.. Cobalah kalian tanya di lubuk hati mereka yang terdalam. Apakah mereka melupakan kejadian getir di masa lalunya? Jawabnya, Belum tentu.

Dari hasil pengamatan saya selama bertahun-tahun. Ingatan itu tak ubahnya seperti jodoh, rejeki dan kematian. Semuanya misteri, dan hak mutlak milik Allah mengaturnya. Jika Allah tak ingin kita lupa, maka sekuat apapun kita melupakan kita justru makin mengingatnya. Tapi bila Allah sudah ingin kita lupa, sekejap saja kita bisa amnesia, sekejap saja orang bisa mengalami gangguan jiwa, sekejap saja Orang bisa pikun, sekejap saja Allah bisa mencabut nyawanya dan membuatnya lupa segalanya. Ingatan itu, hak Allah.

Hidup bisa move on, 
Tapi
 belum tentu bisa melupakan

Karena itulah, buat kalian yang mengalami seperti saya. Yang memiliki rasa yang tertinggal. Ingatan yang belum terhapus. Saya ada beberapa saran untuk kalian.

Berhentilah berusaha melupakan, berhentilah berusaha membenci dan melupakan rasa sakit yang sudah dialami dulu. Rasa dan ingatan itu biarkan saja. Suatu saat akan ada gunanya. Pasti ada maksud kenapa Allah belum menghapusnya sekalipun kita ingin sekali menghapusnya dari ingatan. Hadapi saja, kalo pas ingat ya ingat saja.
"tapi nginget kejadian pahit itu bikin nyesek, baper"
"Yeah.. Seiring waktu, kamu akan tau hal apa yang bisa memicu hatimu untuk mengingatnya dan kamu akan lebih santai ketika ingatan itu hadir lagi. So.. Jalani aja fasenya"

Abaikan saja, jika rasa yang tertinggal itu tiba-tiba hadir dalam mimpi padahal mengingatnya aja uda eneg, Jika tiba-tiba teringat karena kita sedang berada di lokasi yang penuh memories padahal ngingetnya aja males. Maka jangan berhenti untuk melamun, Melainkan terus bergerak beraktivitas seolah ingatan itu hanya angin lalu. Tepok-tepok pipimu agar bisa fokus pada apa yang kamu kerjakan, lalu terus saja mengabaikan ingatan tentang hal itu.

Ibnu Qayyim AlJauziyah rahimahullah berkata:
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” [Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah].

Review dengan netral. Jika suatu saat ada suatu kejadian yang roman-romannya mengarah mirip seperti kejadian getir di masa lalu, oke kali ini kalian harus berhenti sejenak, duduk diam, mengingat lalu review. Lakukan review dengan tenang dan netral, agar berpikir jernih. Sebisa mungkin kalian menemukan penyebab kegetiran di masa lalu, jangan trauma dan cegahlah kejadian itu terulang lagi. Nah, saat-saat seperti ini mungkin salah satu tujuan Allah kenapa tidak menghapus ingatan kita tentang masa lalu. Tidak menghapus rasa yang tertinggal itu, agar kisahnya menjadi pengingat dan pembelajaran di kemudian hari.


Jangan lakukan apapun. Godaan jin dan syetan untuk berbuat kerusakan, maksiat dan sejenisnya pasti selalu ada. Kalian pasti baca kan cerita seorang lelaki yang pingsan di hari pernikahannya setelah memeluk mantan, dimana sang mantan pun menyanyi di resepsi pernikahan itu sambil menangis terharu. Bagi saya, kejadian itu adalah hal terburuk dari sebuah 'move on' karena dia menurutkan kata hatinya untuk berbuat kerusakan. Iya.. Saya menyebutnya kerusakan. Merusak acara pernikahan orang lain, merusak perasaaan wanita lain, dan merusak malam pertama orang lain, intinya kerusakan. Dan bisa jadi juga, merusak silaturahmi dua keluarga yang baru saja menjadi keluarga.

Jika kalian merasa sangat gagal melupakan, setidaknya plis.. Jangan lakukan apapun. Jangan ada keinginan menunjukkan, aku bahagia loh (menurut saya itu gak perlu). Kalo kamu bahagia, ga perlu pamerin itu di kawinan mantan. Ga perlu datang kalo belum bisa kontrol emosi. Sekalipun orang tua mantan yang meminta karena masih berhubungan baik, sudah seharusnya kita yang memilah. Oh ajakan orang tua dari mantan untuk hadir bisa jadi menyakiti perasaan wanita lain, ini salah, jadi aku tidak perlu datang. Ataupun jika tetap ingin datang, apa perlunya menangis terharu dan menyanyi apalagi memeluk, gak perlu pamer bahwa kamu lebih baik daripada di mempelai wanita. Katanya sih tidak berniat begitu, but hey.. You did it. its a big mistake.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” [Al-Ankabut: 45]

Oke, saya kesannya emosional banget sama kejadian ini ya. Karena saya menempatkan diri saya bagaimana jika berada di posisi mempelai wanita saat itu. Intinya, ketika kita gagal melupakan kejadian sakit di masa lalu, jangan lakukan apapun yang menimbulkan Sakit pada orang lain dimasa datang, itu dendam namany Be wise..

Semakin kita berusaha melupakan, kita akan terus mengingat setiap detilnya dan itu akan semakin sulit.

Bijaklah menyikapi ingatan yang ada dipikiran kita. Selalu ada maksud kenapa Allah masih menyisakan Rasa yang tertinggal itu, tugas kitalah menemukan hikmah dari kejadian.

Terakhir sebagai penutup yang bisa aku sarankan adalah :
Bersemangatlah... ❤❤❤
Karena dengan semangat, segala hal baik buruk yang terjadi akan tampak jadi baik semua. Dengan semangat, kenangan buruk pun akan berasa jadi pengalaman hebat yang tidak usah di atur mau di ingat atau di lupakan. Let it flow..

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.

Semoga tulisan yang cukup panjang ini bukan sampah ocehan buat kalian yang baca ya.