Assalamu'alaikum....

Tanggal 23 Maret 2018 lalu akhirnya saya - alhamdulillah- berhasil menambah check-list untuk resolusi 2018,  yaitu travelling ✔️.


Travelling ke mana?


Ke Malang sodara-sodara, sesuai dengan ekspektasi saya di akhir tahun 2017 yang sempat gambling di tengah-tengah antara maju apa ga -yang final decisionnya sebenarnya adalah GA JADI TRAVELLING mengingat harus menyiapkan dana untuk sekolah Muthia.


Loh, tapi koq akhirnya jadi?


Akhir Februari lalu saya dapat kabar dari suami kalo beliau disuruh pelatihan ke Jawa dengan dibiayai kantor. Dan di antara teman-temannya yang ikut pelatihan hanya si beliau ini yang di tempatkan di Malang, yang lain di Bali, Surabaya, dan Jakarta.


Jadi ceritanya suami pelatihan kami jalan-jalan? Yaa ga donk. Suami pelatihan 2 hari dulu, sisanya baru kami buat jalan-jalan, begitu. Karena dibiayai kantor kami bisa saving 25% budget yang sudah disiapkan. Iya, dana liburannya sudah ada, tapi sungguh saya merasa bener-bener jadi emak pelit kebanyakan perhitungan sampai akhirnya gambling sendiri.


Saya ga tau, mungkin ini yang namanya jodoh kali ya? Atau mungkin juga ini yang disebut semesta mendukung dan seakan berkata, "Sudah saatnya piknik wahai mamak Fika,  black hole mu sudah mau jeboolll" 😆



Daan yeaaay, akhirnya kita jadi piknik 🐣


Ok, kayanya intermezzonya sudah kepanjangan (seperti biasa ya buk?! Iya, hahaha *sungkem)





Kami memilih menghabiskan waktu liburan selama 3 hari di Malang kota dan 5 hari di Batu. Di kota yang bersuhu 18° itu memang sengaja kami pilih lebih lama karena alternatif wisatanya lebih banyak daripada di Malang kota.


Salah satunya yang sangat teramat ingin saya kunjungi adalah Jatim Park 2 yang mempunyai kebun binatang di dalamnya. Ya, apalagi kalo bukan demi bocah-bocah kami yang lagi sangat excited dengan binatang di usianya sekarang.


Jadi, di Jatim Park 2 kami memilih: Eco Green Park, Batu Secreet Zoo, dan Museum Satwa alias semua wahana di sana kami kunjungi.  Kalo saja dari awal kami tau bahwa seluas itu niscaya kami akan memilih tiket sakti saja supaya lebih hemat dan waktunya lebih lama sehingga ga tergesa-gesa karena merasa harus mengunjungi semua wahana dalam satu waktu.


Jadi, saat itu kami memilih untuk beli tiket paket biasa untuk masuk.  Kami berempat dikenai tiket masuk seharga Rp.315.000. Saya kurang tau apakah si dede kena setengah atau malah free, karena yang kena full harga adalah anak di atas 85cm, sedangkan dede 81 cm. Nyaris yah, nyaris bayar full!! *lap keringet *segitu amat mak *LoL


Ok, saatnya sekarang saya mengulas satu persatu wahana di Jatim Park 2 yang kami masuki.



Eco Green Park

Di pintu masuknya kami langsung disambut oleh kolam ikan koi dan ikannya itu besar-besar sekalee. Si dede yang memang suka banget megang ikan langsung berbinar-binar dan ingin sekali memegangnya. Kebetulan ikannya sangat banyak dan ga takut sama orang, justru mereka berkerumunan mendekat jika ada yang menghampiri kolam.


"Welcome to EGP,  fellas!" by ikan koi 🐠


Kebun binatang di Eco Green Park (EGP)  ini didominasi oleh hewan dari jenis aves alias burung. Ada juga Rumah Serangga tapi sayang kondisinya gelap dan sempit karena berdesak-desakan, jadi bagi saya kurang berkesan.


Tapi untuk koleksinya keseluruhannya bisa dibilang sangaaat lengkaap banget karena berbagai burung dari penjuru dunia ada di sini. Burung-burung langka juga ada seperti Kasuari dan Cendrawasih, Kalkun, Burung Unta, Pelikan, hingga Punguin 🐧. Sayangnya karena mengejar waktu kami tidak bisa sepuasnya mengunjungi seluruh burung yang ada di sini.


Di EGP ini lumayan sejuk karena di mana-mana ada pohon besar nan rindang. Tempatnya juga lumayan bersih. Oya, di depan pintu masuknya ada penyewaan e-bike dengan harga Rp. 100.000 per orang per 3 jam. Lumayan mahal sih. Saran saya kalo kalian ke EGP nya pas pagi hari mending jalan kaki aja mengitarinya, biar di Batu Secret Zoo aja kalo mau nyewa e-bike karena di sana yang hawanya lebih panas dan tempatnya lebih luassss, banget.  Tapi, kalo kalian horang kayah mah ga apa-apa aja, keduanya pakai e-bike juga ga masalah 😅.



Hellow the bigest bird in the world, Ostrich aka burung unta

Oiya, di sini juga menyediakan spot foto-foto dan ngasih makan burung loh. Biayanya antara 5000 - 10.000 walaupun  ada juga yang sukarela. Iya, jadi itu semua ga termasuk di dalam biaya tiketnya, huhu.

Bisa kasih makan, bisa pegang hewan langsung, bisa foto-foto juga. 


Batu Secret Zoo

Di sini saya merasakan benar-benar berada dalam kebun binatang sungguhan. Karena di BSZ ini tempatnya hewan-hewan besar macam singa, gajah, jerapah, zebra, buaya, ular, berang-berang, kuda nil, badak, dan kawan-kawannya sekalian.

Berbeda dengan tempat sebelumnya, di BSZ ini tempatnya cukup panas karena tidak banyak pohon seperti di EGP. Dan wilayahnya sangat luas sekali,  karena menurut info luasnya sekitar 16 hektare,  jadi saran saya di BSZ ini kalian mending nyewa e-bike apalagi yang punya anak kecil.

Tempat penyewaan e-bike. Wanna? Take your Rp. 100k and you will get it
Walaupun panas tapi tempatnya bersih, kandang beserta hewannya juga cukup terawat dan savety banget buat pengunjung. So, ga heran kalo BSZ menempati urutan ke-5 kebun binatang terbaik se-ASIA tahun 2014 versi TripAdvisor.  Woooww congrats 👏

Karena tempatnya yang luas itulah ada beberapa titik yang dipasangkan peta BSZ dan lokasi di mana kalian berada. Ini sungguh sangat membantu sekali melihat posisi kita berada, apakah masih jauh atau sudah dekat dengan pintu keluar. Oya, sama dengan di EGP, jalur wisatanya hanya dibuat 1 jalan saja sehingga tidak ada yang lalu lalang bertabrakan, semua sama arahnya.

Menolong banget kalo punya capture-an petanya, jadi tau posisi di mana dan tempat-tempat penting lainnya

Seperti di EGP, di sini juga menyediakan spot untuk foto-foto bersama hewan dan juga kesempatan untuk memberi makan hewan, termasuk hewan buas seperti singa 🦁. Wohooo, akhirnya kami bisa berjarak 1 meter dari singa jantan yang kelaparan - tentunya dengan kawat dan dinding yang kokoh di antara kami.

Kasih makan singa jantan dengan daging ayam. Coba bayangkan kalo kawat besinya jebol 😅


Ah, betul-betul di sini kami menyaksikan hewan-hewan yang familiar dilihat hanya dari buku dan hari itu kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Hahaha, sumvah deh ini agak norak kedengarannya, maklumin yah soalnya di Kalimantan ga ada kebun binatang selengkap ini sih ya.
Badak Putih Afrika, hibah dari Singapura Zoo
Kura-kura raksasa
Kasih makan gajah dengan wortel yang sudah disediakan petugas
Zebra di zona Savannah
Belut listrik di zona Aquarium
Ada yang unik-unik horor pas masuk ke zona Aquarium ini. Belut listrik yang ditempatkan di dekat gerbang masuk membuat perhatian saya sempurna tertuju ke sana. Belut ini hanya 1 ekor karena ukurannya lumayan besar. Ditambah lagi ada warning tentang besarnya daya listrik si belut ini plus sirine otomatis sebagai tanda bahaya membuat saya bergidik-gidik ngeri. Takut tiba-tiba si belut ini mengeluarkan setrumannya. Pokoknya di sini saya parno duluan deh 😧.

Selain kebun binatang ada juga wahana permainannya loh dan tiket masuk ke setiap wahana gratis, kecuali beberapa permainan khusus yang harus membayar lagi. Karena hari itu kami berbarengan dengan kunjungan beberapa TK jadilah antrian setiap wahana permainan mengular ditambah harinya panas pula. Kasian si kaka hanya bisa mencoba 1 2 wahana saja.



Museum Satwa

Nah, jika di kedua tempat sebelumnya kita diperlihatkan hewan-hewan hidup maka di museum satwa kita akan disuguhkan oleh replika-replika dari hewan yang sudah mati. Iya, mereka semacam diawetkan begitu. Karena temanya tentang "kematian" maka backsound yang dialunkan juga kaya yang menyayat-nyayat pilu gitu. Koq aku jadi sedih sendiri ya kalo ingat alunannya.
Hewan-hewan mati dan replika hewan purba di Museum Satwa

Museum satwa ini berada dalam bangunan yang besar dengan desain menyerupai istana dengan dinding berwarna putih, sekilas seperti kuil kerajaan Yunani kuno yang sering kita lihat di buku sejarah zaman sekolah. Museum satwa ini ga terlalu luas jika dibandingkan dengan EGP apalagi BSZ dan jelas ini sifatnya indoor sehingga cocok jadi final destination di Jatim Park 2.

Agak-agak mirip ya arsitekturnya

Untuk hewan-hewan yang ada di dalamnya adalah hewan yang benar-benar mati alami kemudian diawetkan dan bukan yang sengaja dibunuh dan diawetkan. Tapi, untuk hewan purba seperti dinosaurus dan mamouth hanya replika saja, jelas ya, memang siapa yang bisa menemukan hewan tersebut dalam keadaan baru mati 😅.




🐘🐘🐘

Over all kami cukup puas bisa menikmati hewan-hewan di Jatim Park 2. Tempatnya memang bagus dengan kondisi hewan yang terawat walaupun lumayan pricey (bagi saya) . Pas kemaren nanya suami, "Jauh banget ya, Yah,  harga tiketnya sama kebun binatang di xxx yang cuma Rp. 4k doank", suami jawab "Iya, tapi hewan, kandang, dan keseluruhan tempatnya juga jauuh beda, di sini terawat sekali" . Trus saya nanya, "Jadi worth it aja ya ke sini" , beliau jawab, "Iya, sesuai aja koq".

Ok lah, karena saya ga pernah sekalipun ke bunbin and this was my very first experience so I trust what he said 😆.


Hanya saja, saya merasa waktu untuk mengunjungi semua hewannya sangat sangat sangaaat kurang. Laah, gimana ga kurang, untuk Batu Secret Zoo saja hewannya ada 700 species, pastilah 2 3 jam itu masih kurang. Ditambah lagi harus mengurusi kebutuhan anak yang kadang lapar, kadang haus,  kadang kecapekan.


Saran saya kalo kalian berkunjung ke sana mending beli tiket sakti aja ya, lebih murah, lebih puas.


Pantaslah kemarin itu berbarengan dengan banyak anak sekolah ketika berkunjung. Selamat kalian ya, punya kebun binatang sekeren ini, bisa datang kapan saja kalian mau, belajar dari alam langsung, melihat bentuk nyata hewan-hewan.


Okeee, itulah perjalanan hari pertama kami di Batu. Hari kedua kami melanjutkan wisata ke Jatim Park 1 yang katanya ada museum anatomi tubuh. Sungguh hari itu saya tak sabar untuk menunggu esoknya😍.


Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ya. Semoga bermanfaat, teman! 🤗