Assalamu'alaikum....

Hai, setelah beberapa kali menulis blogpost yang cukup menyita pikiran,  kali ini saya ingin menulis yang ringan-ringan saja, tentang kegiatan yang pasti dilakukan para mamak-mamak in the world. Apalagi kalo bukan belanja ke pasar. Adakah para ibu yang tidak pernah ke pasar? Saya rasa semua pasti pernah.

Tidak, kalian tidak bisa menyamakannya dengan shopping, ini berbeda. Ini tentang kegiatan belanja untuk stok bahan pangan, bukan penunjang penampilan. Ini tentang keberlangsungan gizi keluarga dan bukan sekedar cuci mata. Ini sekaligus tentang tempat yang selalu becek as always, dan tentang tempat yang beroperasi pada (tengah) malam hari.

Tengah malam???

Yeaah, ini bukan pasar malam biasa, temans. Welcome to our midnight traditional market in Palangkaraya.


"Nan, aku kangen belanja ke pasar subuh. Lama banget ga ke sana sejak melahirkan"

"Jam berapa biasanya ke pasar, Fik?"

"Jam 2 atau jam 3, Nan, menembus kabut malam, dingin-dingin, tapi seru. Aku kangen mau belanja ke sana lagi"

"Serius yang kamu datangi itu pasar?? Jam 2 malam?? Bukan hutan atau kuburan pas siang hari? Orangnya nginjek tanah atau melayang?

Dan saya pun ngakak so hard dengan pertanyaan Nani tersebut. Case closed dan  percakapan di WhatsApp itupun berakhir dengan keraguan yang masih menggunung di benak teman sekolah saya itu.

Serius, itu pasar, bukan hutan apalagi kuburan. Manusia asli dan bukan jadi-jadian, nginjek tanah,  mereka hidup dan bukan zombie.

😂😂😂

Sejak menjadi warga Palangkaraya saya memang langsung diperkenalkan dengan pasar tengah malam itu oleh tetangga baru saya. Di pasar itu semua sayur masih dalam kesegaran prima, ikan-ikan masih bugar (otot kali😅), ga layu lah pokoknya, buah-buahan juga lumayan lengkap, dan terlebih harganya yang 'murah" tanpa perlu ditawar,  menjadi alasan saya rela belanja ke pasar itu bahkan sebelum adzan subuh berkumandang.

Pasar yang terletak di Jalan A. Yani Palangkaraya ini memang berada tepat di depan Masjid Nurul Islam, sehingga pedagang yang ingin sholat subuh bisa langsung menunaikan kewajibannya.
Masjid tepat di seberang pasar
Sumber: Ewaldo (Local Guide Google Map) 
Masjid di waktu subuh

Kenapa pasar ini buka tengah malam? 

Sebenarnya pasarnya sudah buka mulai jam 8 malam, sesudah adzan isya, tapi biasanya mulai ramai saat dini hari. Tukang sayur dan ibu-ibu catering biasanya memborong sayur dan ikan segar di pasar itu untuk kemudan dijajakan dan dieksekusi menjadi rantangan pada pagi harinya.

Saat orang lain masih meringkuk nyaman dalam selimut hangat, pedagang-pedagang itu sibuk melakukan jual beli untuk menyambung hidup. 

Saya tentu saja ikut berbaur di dalamnya. Untungnya mereka mau saja menjual dengan porsi kecil ala rumah tangga seperti saya. Saya biasanya ke pasar jam 2 atau 3 malam, saat anak-anak masih terlelap tidur. Pulangnya menjelang subuh.

Kalian mau tau bagaimana rasanya ke pasar tengah malam? Yang pasti jangan lupa jaket dan kaus kaki karena brrr.... dingin sekali. Suasana jalan yang sunyi senyap,  hawa malam yang dingin nan segar, kemudian kita melihat diri kita sendirian terjaga sambil mengendarai sepeda di saat yang lain masih larut dalam mimpi, kemudian berbaur dengan orang-orang di pasar, memilih bahan-bahan makanan yang ingin dibeli, membawa pulang kantongan-kantongan besar untuk stok bahan pangan dalam sepekan, rasanya begitu menyenangkan melakukannya. Sangat menyenangkan hingga saya merindukan lagi aktivitas itu setelah absen 2 tahun ke pasar itu. Yaa, suami kemudian melarang karena 'wabah begal" yang lagi marak beberapa waktu lalu.

Dan akhirnya kerinduan itu terungkap juga lewat percakapan dengan teman di atas tadi. Sekali lagi sungguh, itu pasar, teman, bukan hutan apalagi kuburan 😂.
Ada sensasi tersendiri mengunjungi pasar tengah malam

Oya, pasar itu memang buka malam saja dan tutup justru ketika siang. Lo koq? Iya, karena pasar itu lokasinya nebeng dengan halaman ruko yang beroperasi mulai pagi hari. Jadi, ketika di wilayah lain pasar mulai buka jam 6 pagi justru pasar kami berkemas pada saat itu. Berkemas karena pemilik ruko akan membuka tokonya (kecuali pasar yang di dalam, yang ber-los, kalo itu bukanya pagi sampai sore, tapi ga banyak).

FYI, walaupun suku Dayak adalah suku asli d Palangkaraya tapi kebanyakan penjualnya adalah transmigran Jawa dan Banjar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Jawa memang biasanya tangannya "dinginan",  jadi kalo menanam sayur atau apapun itu hasilnya selalu bagus, maka di sini penyuplai sayur-sayuran (petani sekaligus penjual) adalah orang Jawa. Sedangkan orang Banjar kebanyakan menjadi penjual ikan karena pasokan ikan di Palangkaraya didatangkan dari Banjarmasin. Iya, jauh kan? 4 jam-an jaraknya, makanya ikan di sini mahal 😭.

Ok, mungkin sampai di sini cerita saya tentang pasar tradisional di kota Palangkaraya.

Tapi kalian sudah percaya kan kalo pasar tengah malam itu benar-benar ada? Harus percaya 😆.

Kalo di tempat kalian ada juga ga, gengs?? Share yuk!