Assalamu'alaikum....

Hubungan mertua dan menantu sebenarnya adalah hubungan layaknya orang tua dan anak, saling menyanyangi walaupun tak sedarah karena terhubung oleh hukum, ya hukum pernikahan.

Seperti halnya orang tua dan anak kandung, hubungan mertua dan menantu pun seharusnya berjalan baik, mertua mengasihi dan menantu menghormati.  Tapi, pada kenyataannya memang ada yang tidak sejalan, bahkan clash (bentrok). Hmm, bukan ada lagi tapi banyak. Dan kebanyakan clash yang terjadi antara mertua perempuan dan menantu perempuan.

Apa pasal? Pasalnya, keduanya sama-sama perempuan sehingga mempunyai tipe yang sama pula, sama-sama dominan perasaan. Ketika dua makhluk dominan perasaan berkumpul dalam satu atap maka yang terjadi adalah kebaperan di atas kebaperan. Main perasaan sodara-sodara.... Berbeda dengan mertua laki-laki dan menantu laki-laki, sangat jarang terdengar cerita clash dari dua pejantan itu kan? Jelass, mereka pakai logika, perasaan nomor dua.

Yep, perempuan lebih sensitif, dia dibekali insting yang luar biasa, menangkap sinyal yang tidak bisa ditangkap apalagi diterjemahkan oleh kaum pria. Karena keistimewaannya ini pulalah yang membuat perempuan jadi mudah tersinggung karena salah menerjemahkan.

Lalu bagaimana aku?

Alhamdulillah hubungan aku dan mertua bisa dikatakan baik. Saling menelpon jika tidak sibuk, saling menanyakan kabar dan saling mendoakan, walau hmm masih terasa agak kikuk dan sungkan. Hmm, ya ya ya, aku pun pernah punya hubungan yang kurang nyaman dengan mertua, khususnya mertua perempuan. Ketika itu di lima bulan pertama pernikahan, suamiku belum boleh bekerja, sehingga praktis kami 100% masih menumpang makan dan hidup di rumah mertua.

Lima bulan kami di sana cukup lah membuat kebaperan di atas kebaperan itu terjadi. Baiklah,  aku tidak akan mengungkitnya di sini, bagiku semuanya sudah selesai, selesai setelah aku tutup dengan surat yang kutulis tangan untuk mama mertuaku, surat yang isinya permohonan maaf sekaligus terima kasihku yang teramat sangat. Surat yang kutulis ketika suamiku akhirnya dapat pekerjaan. Surat yang kutulis saat kami akhirnya pergi merantau, mengabdikan diri ke desa terpencil. Semoga dengan surat itu mama memaafkan kami, meridhoi langkah kami, dan selalu mendoakan di manapun kami berada.

Kalian mau mendengar cerita hidupku di pedalaman?

Baca juga: Untitled Story 

5 bulan lamanya di rumah mertua banyak pelajaran yang dapat kupetik. Mama mertuaku termasuk orang yang pandai bicara, jika kami  berkumpul ada saja yang beliau ceritakan. Bahkan aku pernah mendengar cerita yang sama yang sudah beliau ceritakan 3 4x sebelum ituπŸ˜…. Tak apa, aku suka mendengar mama bercerita, banyak kisah yang bisa diambil pelajaran, walau selama sesi story telling itu aku lebih banyak diam, manggut-manggut, dan sesekali tersenyum atau mengerutkan kening. Ya, aku bukan manusia verbal seperti mama.

5 bulan di rumah mertua, 5 hal pula yang bisa kupelajari dari beliau, di antaranya;

1. Menjadi ibu yang pandai masak
Untuk poin ini aku akui mama the best. Mulai dari makanan berat sampai cemilan beliau kuasai. Kata mama beliau selalu mengusahakan membuat makanan sendiri untuk anak-anaknya, tidak membiasakan beli di luar apalagi nangkring di warung. Memasak sendiri berarti menghemat sebagian besar pengeluaran. Karena itulah sekarang aku terobsesi untuk bisa masak. Mama mertuaku dari awal tau aku bukanlah perempuan yang pandai dalam urusan ini, oleh karena itu beliau sering sounding ke aku tentang pentingnya seorang wanita bisa memasak. Hmm, baiklah mama, siapa takut 😊.

Sekarang aku sudah mulai berani menanggapi pembicaraan mama tentang resep-resep. Lumayan lah, aku sekarang sudah tau bedanya jahe dan kencur, tau bedanya antara kemiri, ketumbar, dan merica butir, pun sudah mulai bereksperimen dengan menu susah. Aku mau seperti mama yang pandai memasak untuk anak-anakku kelak.

2. Menjadi istri yang pandai berdandan
Yeah, selain tidak bisa masak aku juga tidak bisa dandan. "Petuah" guru ngaji waktu kuliah yang mengatakan bahwa perempuan yang baik itu yang make up di meja riasnya cuma bedak dan deodoran aku terima mentah-mentah, akupun mengikutinya. Polos sekali wajah ini dulu bahkan selevel lip ice saja tidak pernah singgah di bibir. Semenjak menikah pun tak langsung membuatku bisa berdandan seperti mama, bahkan aku pernah lupa pakai lipstik saat acara keluarga. Ingat sekali saat itu mama memperhatikanku dari awal sampai acara selesai.  "Koq bisa-bisanya ga pakai lipstik ke acara formal", mungkin begitu dalam hati mama. Maaf ma, menantumu ini masih polos πŸ˜†.

Sekarang? Wah jangan ditanya, pernak-pernik skincare dan kosmetik mulai bermunculan di lemariku.  Sekarang bagiku (tanpa mengurangi rasa hormat pada guru ngajiku dulu) perempuan yang baik itu yang merawat pemberian Alloh dengan perawatan sebaik-baiknya, dengan skincare yang menutrisi kulit dari dalam dan kosmetik yang melindungi dari paparan polusi dan radiasi *eaaaaaa bisa aje ngeless buk πŸ˜›.

Kalian tau rasanya wajah hanya dinutrisi oleh bedak tabur? Mari jalan-jalan ke blog saya setahun lalu, kalian akan menemukan wajah gersang dan kusam karena tidak ternutrisi sebagaimana mestinya.

3. Menjadi ibu yang memberikan semua yang terbaik untuk anaknya
Mama mertuaku lagi-lagi juara untuk hal ini. Beliau selalu membelikan baju, sepatu, tas, apapun itu keperluan anak-anaknya, dengan kualitas terbaik. Memang mahal tapi awet kata beliau. Sekolah pun demikian. Mama selalu mengusahakan sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya meskipun biayanya lebih mahal, selama anak-anaknya memiliki minat yang kuat. Sungguh, beliau bukan orang tua yang perhitungan untuk hal ini.

4. Mama pekerja keras dan tangguh
Cerita masa kecil mama yang diulang 3 4x (bahkan lebih) oleh beliau sendiri saat kami berkumpul membuatku hapal sekali dengan cerita itu. Mama yang ada sekarang ini, dengan kehidupan yang lebih baik adalah hadiah manis dari Alloh. Selain itu beliau juga kreatif dan pintar mencari celah, menangkap setiap kesempatan untuk menambah rezeki keluarga. Kehidupan yang keras itu pula lah yang membuat suamiku, anak pertamanya seakan tertular darinya. Terima kasih Ma sudah mengajarkannya menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan tidak pernah mengeluhπŸ’–

5. Manajemen waktu yang prima
Mama mertuaku adalah seorang working mom, tepatnya seorang Kepala TK. Masuk sekolah jam 8 dan tanpa ART membuat beliau senantiasa bangun sebelum subuh. Ini adalah bagian yang teramat aku sukai dari beliau, ritme hidup yang konsisten. Dimulai dari jam 4.30 atau 5.00 WITA saat adzan subuh belum berkumandang, mama sudah bangun, membuka tirai, mematikan lampu depan, mulai memasak air untuk menyeduh kopi untuk abah dan teh untuk anaknya. Lalu memasak nasi dan sarapan nan simple. Ya, bagi beliau sarapan adalah harga mati untuk anak-anaknya. Walau sederhana yang penting makan. Lanjut persiapan ke sekolah. Pulang sekolah mama masak untuk makan siang dan malam, 1 menu untuk 2x makan. Efisien. Sore dilanjut membuat cemilan untuk keluarga. Begitulah keseharian mama mertuaku. Sangat teratur hingga ke susunan perabot rumah tangga. Saking teraturnnya jadi sangat mudah diikuti meskipun belum genap sebulan aku tinggal di sana.

Itulah beberapa yang aku pelajari dari beliau. Ada yang bisa menyimpulkan bagaimana kepribadian mama mertuaku?

Apa?

Yes, u're right, she is a perfectionist. Mama mertuaku betul-betul orang yang terjadwal,  segala sesuatu harus sesuai ritme, harus efisien, diatur sedemikian rupa agar tidak buang-buang waktu, jika memasak sesuai resep tidak boleh kurang 1 bahan pun, tepat takarannya dan konsisten. The absolute left brain human. Dan hampir 100% genetik itu menurun kepada anak pertamanya, suamiku, sebelum bertemu denganku πŸ˜„.

Ya, itulah mama mertuaku. Yang selalu membuat kami betah jika pulang kampung karena beliau selalu berusaha memanjakan kami dengan aneka makanan. Yang selalu membuat kami betah berlama-lama karena kerapian rumahnya yang selalu terjaga.

Mama, seandainya aku bisa bilang begini padamu, mungkin tak perlu kutulis lagi di sini. Sayangnya aku tak akan mungkin bisa. Biarlah Alloh yang menyampaikan padamu, menyapamu dalam doa dan memberikan salamku untukmu. Terima kasih sudah memilihku menjadi menantumu, Mama. Aku tau ada beratus ekspektasimu padaku, dulu, hinggs akhirnya pilihan jatuh padaku. Tapi, nyatanya, ekspektasi itu kemudian berguguran satu persatu menunjukkan realitanya. Maaf mama, aku bukan perempuan sempurna, tidak setangguh Mama, tidak sepandai Mama, tidak secerdas Mama, dan juga tidak sesabar dan sesholihah Mama. Maaf ya Ma 😒.  Terima kasih sudah mendidik anakmu menjadi lelaki yang mandiri, pantang mengeluh, membantu kerepotan istrinya, bahkan hingga dia punya dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya. Semua pasti karena sentuhan kasih sayangmu.

Baca juga: How I Met My Soulmate

Mama, doakan kami di sini supaya bisa mendidik cucu-cucu Mama dengan baik sebaik Mama mendidik anak-anak Mama. Doakan rezeki kami berkah dan mencukupi sehingga kami bisa membantu yang lain. Semoga Mama senantiasa sehat, kuat, dan dilindungi Alloh SWT, diberkahi umurnya dan diluaskan amalnya hingga mengalir deras hingga nanti dan "nanti".

Salam sayang berjuta untuk Mama mertua 200 km di seberang sana.