Assalamu'alaikum....

Apa kabar readers? 🤗✨

Semoga kalian dalam keadaan baik dan sedang berbahagia paripurna jiwa raga (((paripurna))).

Hmm, apa pasal? Pasalnya saya kali ini akan mengajak kalian membahas tentang Hari Kebahagiaan Internasional yang sekarang diperingati setiap tanggal 20 Maret.

Apaa?? Hari Kebahagiaan?? Apa makhluk bumi sudah susah untuk bahagia jadi mesti ada hari untuk memperingatinya??🙄

Dan tahukah kalian bahwa mulai 2013 ada penobatan Negara Paling Bahagia oleh PBB?

Huaat? Negara Paling Bahagia? Apa pula ini??🙄

Makin aneh ga sih? Hehe. Buat apa sih dicanangkan Hari Kebahagiaan Internasional? Bukankah bahagia itu relatif dan abstark ya, tidak bisa diukur? Jadi bagaimana menilainya? Setiap warga negara juga pasti mengklaim negaranya lebih bahagia dari yang lain. Hmm....

Awalnya saya bingung dengan fakta ini. Meraba-raba pun tak bisa, hingga saya menelusuri fakta-fakta tentang Hari Kebahagiaan Sedunia ini. Kalian yang penasaran dan mau tau lebih lanjut tentang wawasan dunia baca sampai habis ya.

Ok, ada yang mau sruput susu cokelat hangat dulu? Yuuk marii 🍵.

A little about the World Happiness Day

Sebelum masuk ke hal yang lebih luas, mari kita pelajari sedikit tentang sejarahnya.

Hari Kebahagiaan Internasional disahkan oleh dewan PBB pada bulan Juni 2012 atas prakarsa seorang Perdana Menteri Buthan, negara kecil di daerah pegunungan Himalaya. Ditetapkan pertama kali pada  tanggal 20 Maret 2013, PBB menurunkan sejumlah peneliti untuk menilai 155 negara di dunia.

Ok, mungkin bagi kita ini kurang penting. Tapi, mari kita cari tau alasan di balik perayaan Hari Kebahagiaan ini.

Ternyata alasannya adalah karena penggagasnya ingin mengubah pola pikir masyarakat dunia tentang perekonomian, bahwa yang kaya itu bukan yang ekonominya bagus tapi yang dia bahagia.

Nampak bagus ya, sekilas...

Tapi, mari kita pelajari lebih lanjut.

Indeks Kebahagiaan

Jika menilai sesuatu pasti sesuatu itu bisa diukur. Tapi kan kebahagiaan sesuatu yang kualitatif, tidak bisa diukur dengan angka? Emang bisa gitu menilai anak TK yang lagi pada loncat-loncat kesenangan, nilai bahagianya berapa?

😂

Ok ok, kita tidak usah memusingkan bagaimana tim penilai mengubah sesuatu yang kualitatif itu menjadi kuantitatif. Tapi, mereka pasti punya indikator kebahagiaan yang bersifat kuantitatif.

Indeks kebahagiaan yang ditetapkan PBB di antaranya adalah; pendapatan perkapita, faktor kesehatan, keamanan kerja, tingkat korupsi, hubungan keluarga, dan kehidupan sosial. 

The Winner is....

Setelah menggenapkan penilaian ke 155 negara, PBB menetapkan Negara Paling Bahagia di dunia tahun 2017 adalah Norwegia👑.
Kota Tua, Norwegia


Oh ya kakaks, for your information mungkin kita akan runut jawaranya mulai tahun pertama ya; 2013 Denmark, 2014 Denmark, 2015 Swiss, 2016 Denmark, 2017 Norwegia. Kira-kira 2018 negara mana ya?

Jawara-jawara itu saling bergantian satu sama lain dan mereka semua adalah negara yang saling bertetangga. Ada yang ngeh dengan mereka?? Yap, mereka adalah Negara-Negara Skandinavia.
Negara-Negara Skandinavia
Sumber: SS from google map


Mereka selalu mendominasi 10 besar The Happiest Country sekalipun nama mereka jarang terdengar di telinga kita. Ya, mereka jarang disebut-sebut karena tidak pernah terdengar sebagai negara yang suka mendominasi negara lain seperti AS. Mereka juga bukan negara dengan industri pesat seperti Tiongkok. Jarang pula terdengar sebagai negara kiblat mode dunia seperti Prancis atau bahkan negara dengan ekspor tertentu seperti Jepang dengan mobil-mobilnya.

Mereka "tidak seterkenal" itu tapi berhasil menjadi langganan negara yang bertengger di top ten.
Negara Skandinavia selalu masuk top rank
Eh, ada Israel?? *watdezigh 👊
Sumber: nationalgeographic.co.id

How come? Mari kita kulik dari Negara Denmark dulu, si langganan juara.

Negara yang beribukota di Kopenhagen ini menerapkan jam kerja selama 35 jam/pekan dengan masa libur 35 hari/tahun, 2x lebih lama cuti mereka dari kita. Selain itu mereka juga membolehkan cuti selama1 tahun 3 bulan bagi ibu-ibu yang baru saja melahirkan dan cutinya untuk 1 orang anak. Cuti bukan sembarang cuti, tapi itu cuti berbayar. Ngiler ga?

Di Indonesia apa kabar? Jangan ditanya, sebulan setelah melahirkan dengan kondisi jahitan belum kering saja sudah harus masuk kerja.

Yess, mereka bahagia karena bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja (melulu).

Di Swedia, salah satu Negara Bahagia versi PBB juga menerapkan hal yang sama. Bahkan para ibu yang sudah melahirkan boleh mengurangi jam kerja mereka hingga 50%. Para orang tua juga boleh izin menjemput anak mereka dari sekolah atau bahkan memenuhi janji pribadi dengan teman.

Jam kerja yang fleksibel, ga ngoyo, tapi tetap profesional, itu yang bikin mereka bahagia.

Negara-Negara Skandinavia juga menggratiskan kesehatan untuk warganya, jasa dokter sampai obat free, cuy.  Pemerintah memang menarik pajak yang tinggi kepada rakyatnya tapi itu semua dikembalikan kepada mereka dan mereka sama sekali tidak mempersoalkan itu.

Kalo semua sehat siapa yang tidak bahagia??

Pendidikan juga salah satu yang membuat Negara Skandinavia ini unggul. Biaya untuk pendidikan dari tingkat bawah sampai universitas semua gratis bahkan pemerintah memberikan fasilitas hidup kepada warganya yang menimba ilmu, dikasih uang sangu pula. Bahkan, seperti yang kita tau, Finlandia menjadi negara percontohan untuk sistem pendidikan di dunia.

Yess, kalo semua orang bebas menimba ilmu tanpa khawatir drop out karena kurang ini itu siapa yang tidak bahagia??

Oya, tempo hari saya jalan-jalan ke blognya mba Rach Alida Bahaweres. Kebetulan sekali beliau meresensi buku Lagom (baca: laaw gam). Buku ini menceritakan prinsip hidup orang Swedia, yaitu Lagom, yang artinya tidak kebanyakan dan tidak kedikitan. Swedia adalah salah satu anggota negara Skandinavia juga yang juga selalu masuk di top ten Negara Paling Bahagia.

Prinsip Lagom ini mereka terapkan di semua lini kehidupan, mulai dari soal makanan sampai membeli furtniture rumah. Mereka akan menimbang dengan baik apakah barang yang mereka inginkan benar-benar mereka butuhkan, apakah barangnya efisien, apakah akan dipakai dalam jangka waktu lama atau hanya sesaat.

Jangan sombong, jangan boros, jangan buang-buang waktu, adalah prinsip Lagom yang mereka aplikasikan, dan karena itu lah mereka merasa bahagia.
Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia
Sumber: www.lidbahaweres.com


Adalagi yang membuat mereka pantas dinobatkan menjadi Negara Paling Bahagia?

Ada...

Skandinavia adalah salah satu dari jajaran negara-negara dunia yang bersih dari korupsi. Yaaah, siapa yang tidak bahagia kalo pemerintahannya tidak korupsi? Uang pajak digunakan sebaik-baiknya untuk pembangungan, bukan untuk jalan-jalan pejabat. Uang rakyat dipakai untuk keperluan rakyat, melengkapi fasilitas publik, menjamin kehidupan mereka, dan bukan untuk memperkaya perut gendut para konglomerat berkedok wakil rakyat.

Siapa yang tidak bahagia kalo pemerintahannya bersih dan jujur?
Semakin muda kuningnya semakin bersih, semakin tua merahnya semakin kotor.
Can u find Skandinavia countries?
Sumber: Transcparency Internasional

Apalagi yang buat mereka bahagia?

Alam? Tata kota? Disiplin tinggi? Pendapatan perkapita? Ya ya, itu semua ada di mereka. Pegunungan yang memanjakan mata dengan aliran gletser yang mencair saat musim panas dimulai, tata kota yang apik dengan sungai yang jernih, ditambah budaya disiplin tapi tetap fleksibel (can u imagine?) menambah daftar faktor kebahagiaan mereka.

Sungai Norwegia, sejuknya hanya dengan memandang
Stockholm, Swedia, negara pengelola sampah terbaik


Hayoh, siapa yang ga bahagia tinggal di negara seperti itu?✨

But, the other Side.... 

Jika ada negara paling bahagia, tentunya ada juga negara yang paling tidak bahagia. Ok, sekarang siapkan diri kalian ya, kita akan tengok sedikit ke saudara-saudara kita di belahan dunia lain.

Dua negara terbawah dari daftar Negara Paling Bahagia versi PBB adalah Somalia dan Suriah. Somalia adalah negara di Afrika yang bertahun-tahun mengalami perang saudara, rakyatnya ditimpa kemiskinan dan kelaparan yang sangat, yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Suriah adalah negara Timur Tengah yang juga bertahun-tahun dikecam teror oleh presidennya sendiri. Rakyat Suriah dibunuh, dibom, dihancurkan oleh orang yang seharusnya menjadi pengayom mereka. Entah bagaimana manusia seperti itu akan bertanggung jawab di hadapan Alloh nanti 👊.

Tapi, di manakah PBB?? Tak ada kah usaha untuk menghentikan itu semua? Bukankah jelas dalam laporan PBB, laporan yang mereka buat sendiri, mereka lihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana konflik menahun itu sungguh membuat rakyatnya terpuruk dalam palung terdalam. Mereka tidak bahagia, jelas PBB tahu. Sampai di situ sajakah? Yang penting menyelesaikan laporan penilaian tahunan?? Poor you....

Di belahan bumi lain, 
Kemiskinan di Somalia
Bayi pengungsi Rohingya yang tenggelam saat ikut mencari suaka
Suriah berdarah
Sumber: act.id (Aksi Cepat Tanggap) 


Di mana Kita? 

Posisi Indonesia ada di tengah-tengah, peringkat 81, turun dari tahun sebelumnya 79. Hanya selisih sedikit di bawah Tiongkok, si raksasa baru industri dunia. Dilansir dari laporan PBB, Tiongkok bahkan tidak lebih bahagia dibanding 25 tahun lalu meskipun dengan kemajuan industrinya yang menggurita.

See... Happiness is not always about money.

Posisi Indonesia juga di tengah-tengah negara Asean, di bawah Thailand,  Malaysia, Singapura, tapi masih di atas Vietnam, Laos, Kamboja.

Tidak usah muluk-muluk dengan posisi kita selama korupsi masih merajalela, maka dapat dipastikan negara kita susah bahagia.

Hmmm, oh ya, saya jadi teringat Brunei Darussalam. Ketika melihat daftar laporan negara-negara yang dirilis PBB saya tidak menemukan nama itu di dalamnya. Padahal kalau ada saya yakin Brunei akan masuk 10-20 besar Negara Paling Bahagia. Sempat bermimpi ingin jalan-jalan ke sana membuat saya dulu mencari informasi tentang negeri mungil nan berkah itu. Negeri yang aman, kaya, bersih, disiplin, ah luar biasa. Bahkan di sana sejenis tabu membunyikan klakson di jalan, mereka rela menunggu sampai mobil di depannya merambat jalan perlahan ketika lampu hijau menyala, tidak justru sibuk membunyikan klakson seperti di negara lain.

Negeri kecil nan berkah yang ingin sekali saya kunjungi suatu saat -  walau katanya berkunjung ke sana tak ada bedanya berkunjung ke desa-desa yang ada di Indonesia-,  sepi sangat kalo sudah mulai beranjak malam. Tak apa, itu tandanya hiburan malam tidak diperkenankan di sana. Kejahatan pun minim sekali. Hukum di sana tegas. Lingkungan jadi aman, tentram, dan damai, dan....kaya, karena konon katanya setiap rakyatnya mendapat 1 mobil untuk 1 rumah sekalipun dia nelayan. Masyaa Alloh. Beneran deh, saya jadi penasaran kenapa Brunei luput dari daftar 155 negara itu?

Kebahagiaan Dunia vs Kebahagiaan Hakiki

Kebahagiaan dunia lengkap dengan indikatornya sudah ditetapkan oleh PBB. Begitupun di dalam agama saya. Agama saya juga sudah menetapkan indikator kebahagiaan itu, yang lebih hakiki.

Dari Ibnu Abbas ra, RasuluLloh pernah berkata;

Ada 7 tanda bahagia manusia; hati yang selalu bersyukur, pasangan yang sholih, anak yang sholih, lingkungan yang kondusif, harta yang halal, semangat untuk beragama, dan usia yang berkah. 


Hati yang selalu bersyukur ditempatkan di urutan pertama. Apa artinya? Artinya adalah poin itu yang paling mudah kita lakukan dan kita usahakan karena kita punya kontrol sepenuhnya atas diri kita, berbeda dengan "lingkungan yang kondusif", yang effortnya jelas lebih massiv. 

Jadi, supaya bahagia ayo kita mudahkan diri untuk bersyukur. Memang susah apalagi di tengah himpitan kehidupan yang rasanya semakin hari semakin susah. Tapi, tetap pasti ada celah yang bisa kita syukuri. Mudah bersyukur = mudah bahagia, katanya. 


The Conclusion is... 

Ok, kakaks, karena tulisan ini adalah opini yang diajukan dalam blog collab nya Female Blogger of Banjarmasin untuk bulan Maret, so I have to make a conclusion about it.... 

Menurut saya pencanangan Hari Kebahagiaan Internasional yang sudah berjalan 5 tahun ini tidak masalah jika ingin dilanjutkan. Karena "kompetisi"  semacam ini akan mengukur sejauh mana kinerja sebuah pemerintahan untuk melayani waga negaranya dan secara langsung pula mereka akan berlomba-lomba untuk menjadi pemenang dan dianugerahi "The Happiest Country". 

Tapiiiiiii, 

Jangan berhenti sampai di sana, karena mendaftar negara bahagia berarti juga mendaftar dan memperlihatkan pula kepada dunia negara-negara mana yang tidak bahagia, terpuruk, dan tertindas. Seharusnya PBB melakukan AKSI NYATA untuk itu. Menghentikan SEGERA peperangan di Somalia, menghentikan aksi brutal presiden Suriah atas rakyatnya, menghentikan genosida atas etnis Rohingya di Myanmar. 

Semoga kebahagiaan dunia segera merata dirasakan oleh warga dunia. Aamiin.... Namun, yang terpenting sebenarnya adalah mendapatkan kebahagiaan hakiki di mana itu akan menjadi bekal kita di kehidupan hakiki nantinya.

Ok, sekian tulisan dari saya. Semoga menambah wawasan keduniaan kalian ya. Semoga bermanfaat 🤗

Sumber referensi:
1. www.wikipedia.com
2. www.act.id
3. m.republika.co.id
4. www.lidbahaweres.com
5. pixabay.com


Tulisan ini diikutsertakan dalam blog collaboration Female Blogger of Banjarmasin