en silence

en Silence

FiolaCindy

Ditulis dengan seganjil hati karena hati hanya ada satu. Daripada aku teruntuk kamu.

Kim Taehyung x Jeon Sean
2016-08-18

[1/3]

Aku mendesah, berharap tiada yang lebih buruk daripada ini. Duduk di sini –tempat terpencil nan sunyi- di sudut sekolah setelah bel pulang. Kupikir sendirian lebih baik daripada dihakimi langsung oleh seorang Kim Taehyung, yang mendarah daging dengan sifat keras kepalanya. Kenyataan pahit dari seribu sekian siswa sma, ia menyandarkan punggungnya dengan sangat santai pada kusen pintu yang serapuh hatiku itu.

Bahkan teriknya musim panas tak sedikitpun mengusiknya untuk terus berceloteh. Aku mengedarkan mataku ke setiap detil ruangan. Tak ada barang sedetik mata kami bertemu pun kontak fisik secara langsung. Hanya saja frasa yang sibuk mengudara dengan bebasnya.

“Hyung,” seruku memutus ceramahnya.

“Jangan panggil itu, rasanya aneh,” tangkisnya.

“Hyu—maksudku Tae, tidak bisakah kau pulang saja demi menyapanya? Kupikir akan lebih baik begitu daripada kau menghamburkan karbondioksidamu di tempat ini.”

Dahinya berkerut. Sedikit lebih banyak waktu untuk berpikir baginya. Lalu ia bertanya, “Siapa?” aku menyipitkan kedua mata buru-buru menatapnya lewat ujung mataku. “Maksudku, dia siapa?”

Aku mendesah lagi, kali ini lebih berat. “Semakin kau banyak omong udara di ruangan ini makin pengap, seharusnya kau tahu!” protesku.

Aku sempat melirik untuk melihatmu menarik bibir ke sisi kanan atas. Sebuah kurva nyaris sempurna. “Lalu kenapa kamu di sini?”

Andai aku tahu, andai aku dapat angkat suara lebih banyak. Aku akan dengan semangat mengatakannya, bukannya merenung sepi sembari melirih dalam setiap klausa yang kurangkai. Kenapa aku tetap berdiam diri di tempat ini –di titik paling nyaman untuk saat ini? Kupikir aku hanya takut akan kenyataan bahwa aku hanya bermain-main sendiri dengan imajinasiku. Mengambil Taehyung sebagai tokoh utama tanpa aku sadari bahwa akulah figurannya. Aku takut itu.

“Aku pulang kalau kamu pulang.”

Ia mengacungkan jarinya ke koridor sekolah memberi isyarat untuk segera pergi sebelum seorang petugas mengunci kami semalaman di sekolah. Well, perlu diingat aku pernah bingung setengah hidup karena penjaga sekolah mengunci semua gerbang dari luar tanpa menyadari aku masih di dalam kamar mandi perempuan sepulang kelas yoga. Sebuah mimpi buruk.

“Traktir aku makan!” lenganku menyikutnya sekilas.

Lengannya berganti menyikut perutku. “Hei, kamu masih punya hutang jus kantin ke aku,” lalu terkikih.

[2/3]

“Kupikir aku menyukainya.”

“Kupikir kamu enggak akan suka seorang pun di sini.”

“Namun dia tidak tahu kalau aku suka.”

“Lebih baik kau segera menyatakannya, deh.”

“Kau gila, ya?!” Jemariku meraih tumblr milikku demi setengguk air jernih yang jernihny a melebihi pikiranku sendiri. “Aku tidak mungkin menembaknya. Apa pergaulan kita selama ini membuatmu lupa bahwa aku perempuan tulen?”

“Sekarang sudah masa emansipasi wanita, kau tidak pernah belajar sosiologi?” satu demi satu sanggahan mulai dilemparkan. “Lagipula aku hanya menginginkan kamu menyatakannya, bukan menembaknya. Beda kata beda arti.”
Seberapa besar kau ingin aku mengatakannya? Seberapa besar kau inginkan aku untuk menyebut namanya? Sebesar itu ketakutanku akan menyebut namamu setiap pertanyaan yang terlontar, atau malah melebihi hal itu sendiri. Satu-satunya yang ingin kupertanyakan adalah bagaimana reaksimu nantinya dan apa akibat terhadap hubungan kita. Aku pernah dengar, katanya kalau kita tidak mencoba kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Hanya saja ini lebih berisiko dari sekedar percobaan.

“Lain kali, Taehyung, kau pasti akan mengetahuinya. Hanya saja tidak untuk sekarang.”

“Jadi aku akan siap untuk mendengarnya kapanpun itu.” Kau tersenyum secepat kilat lalu menepuk pundakku dua kali sebelum kau benar-benar memalingkan tubuh menjauhiku yang hanya dapat memandang punggung itu sembari terus mengumpat.

[3/3]

Masih terekam dengan jelas di memoriku tentang awal mula kisah rumit ini. Aku pelupa, namun kuakui aku tidak terlalu bodoh dalam mengingat hal-hal penting. Hal-hal seperti siapa teman pertamaku di sma, siapa yang duduk di sampingku di hari pertama masuk sekolah, atau siapa yang menyandung kakiku hingga hampir tersungkur di lapangan. Untung aku melupakannya.

Tak luput dari Kim Taehyung, bocah beasiswa yang usia visual dan kepribadian berbanding terbalik dengan usia aslinya. Bahkan pihak sekolah dapat kapan saja menendangnya dari sekolah, namun mereka tak melakukannya hingga saat ini. Alasannya benar-benar sederhana, mereka butuh siswa berprestasi agar populeritas sekolah tetap tinggi. Pada akhirnya semua mengalir oleh uang.

Hingga detik ini ia bersenandung ria di sebelahku dengan wajah cerah tanpa merasa berdosa sedikitpun. Kadang ia mencoba membuatku hanyut dalam liriknya atau sekedar tercengang akan suaranya. Setidaknya Taehyung yang ini lebih tenang daripada Taehyung Taehyung sebelumnya. Hingga ia memutuskan untuk membuka konfersasi.

“Enggak capek diam terus?” usilnya.

Aku tertawa. “Engga capek berisik terus?” balasku padanya.

“Okay—aku akan diam saja.”

Kalau kau berpikir ia akan benar-benar diam, kau salah. Tak selang lama ia mungkin akan mulai menggerakan tubuhnya, memukul-mukul pagar logam dengan jemarinya membentuk sebuah irama, atau berdehem tak jelas.

“Taehyung, ingatkan aku sekali lagi,” pintaku lirih. Membuang ruang bungkam bagi kami berdua. Pandangan yang tadinya antusias mulai melemah. Kikihan yang terdengar jelas mulai melirih, larut dalam diam.

“Ingatkan tentang apa?”

“Ingatkan bahwa aku—“

“Kau berjanji tidak akan menjalin sebuah hubungan romantis atau jatuh cinta kepada seorangpun semasa sma. Aku ada untuk selalu mengingatkanmu, Sean.”

“Terimakasih,” sebuah ucapan yang tak pernah terbukti presentasi kepastiannya. Karena satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.

[000]

Kami yang selalu tertawa bersama namun saling menyakiti dalam diam.
Agustus, 18, 2016.

Jadi Merdeka Indonesia! Kapan hati kamu merdeka untukku?

-phi.