Sumber Gambar : MNCP


Momen liburan sekolah dijadikan peluang bagi para sineas untuk menyajikan beragam film yang menghibur. Begitu juga dengan para sineas dalam negeri. Ada beberapa film anak yang saat ini bisa dinikmati di bioskop. Salah satunya adalah film Koki-Koki Cilik karya Ifa Isfansyah.

Film Koki-Koki Cilik menjadi pengalaman pertama Chacha nonton di bioskop. Ya, di usianya yang baru lima tahun, ini untuk kali pertama Chacha kami ajak menonton di bioskop. Awalnya suami tidak setuju, menurutnya belum waktunya anak seusia itu nonton bioskop. Suami khawatir anak akan jadi kecanduan nonton di bioskop, dan itu adalah hal yang hedon baginya. Tapi saya punya pendapat berbeda. Tak apa anak memiliki pengalaman menonton di bioskop, asalkan kita beri pengertian bahwa menonton di bisokop adalah sebuah hiburan. Dimana bukanlah rutinitas yang harus sering dilakukan. Selain itu tentunya kita sebagai orangtua benar-benar selektif memilih jenis film yang akan di tonton oleh anak.

Pilihan kami jatuh pada Koki-Koki Cilik, sebagai film pertama yang di tonton Chacha. Di awal kemunculannya film ini sudah mencuri perhatian kami. Cerita tentang anak yang memiliki impian menjadi koki yang disuguhkan dalam film ini, seperti apa yang di cita-citakan oleh Chacha. Dia juga berkeinginan untuk menjadi koki.

Pengalaman Nonton Bioskop Pertama Kali Bagi Chacha



Maka hari minggu kemarin kami ajak Chacha ke bioskop. Dia sangat excited. Melihat setiap bagian dari bioskop. Memperhatikan setiap profesi orang-orang yang bekerja di bioskop. Mulai dari bagian ticketing hingga penjual popcornnya. Sepanjang film berlangsung dia khusyu memperhatikan. Menikmati setiap adegan yang disajikan.

Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga kaya pesan-pesan yang mendidik. Tak hanya untuk anak-anak, tapi juga bagi orangtua. Setidaknya ada lima pelajaran berharga yang bisa diambil dari film Koki-Koki Cilik.

1. Pentingnya Menabung

Diawal cerita film ini sudah menyuguhkan sebuah nilai positif. Yaitu mengajarkan pentingnya menabung untuk bisa mendapatkan apa yang kita ingingkan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama, Bima (Farras Fatik). Bima yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sangat ingin mengikuti Cooking Camp yang biayanya sangat mahal. Menabung setahun untuk bisa mengumpulkan uang pendafataran sebesar sepuluh juta rupiah.
Pelajaran menabung ini juga menjadi acuan bagi saya sebagai orangtua. Tentunya sebagai orangtua kitalah yang harus menunjukkan contoh pada anak. Membiasakan untuk menebung semenjak dini.

2. Kerja Keras untuk Meraih Cita-Cita


Sumber Gambar : MNCP


Kegigihan Bima untuk menjadi seorang koki ditunjukkan dengan beragam kerja keras yang ia lakukan. Mulai dari mengumpulkan uang pendaftaran dengan bekerja di pasar, mengantar belanjaan tetangga-tetangganya. Sering praktek memasak di rumah dengan buku resep milik almarhum ayahnya. Hingga belajar dengan chef Rama (Morgan Oey) ditengah-tengah waktu istirahatnya di Cooking Camp.
Sungguh hal yang luar biasa. Penuh nilai, bahwa dalam mencapai cita-cita kita harus kerja keras untuk mendapatkannya.

3. Persahabatan

Sumber Gambar : MNCP


Namanya juga film anak-anak, cerita juga tidak lepas dari kisah perdahabatan anak. Di cooking camp, Bima memiliki banyak sahabat yang selalu menyemangatinya. Diantaranya seperti Niki (Clarice Cutie), Melly (Alifa Lubis), Key (Romaria Simbolon), Kevin (Marcello), dan Alva (Ali Fikry).
Persahabatan mereka sungguh manis. Mulai dari saling mendukung dengan menyalurkan energi hingga ada Niki yang sengaja menjatuhkan masakannya agar Bima tidak dieliminasi.

4. Fair Play

Sumber Gambar : MNCP


Cooking Camp adalah ajang kompetisi bagi anak-anak yang mengikutinya. Dimana ada Audrey (Choley X) sebagai juara bertahan. Di film ini mengajarkan untuk bersaing secara sehat. Kecurangan tidak bisa ditoleransi. Seperti yang dilakukan oleh Oliver (Patrick Milligan), perbuatannya mencurangi Bima membuat dia harus dieliminasi.
Selain itu sikap jiwa besar dalam bersaing juga ditunjukkan oleh Bima. Hingga di babak final, Bima tetap menganggap Audrey sebagai temannya bukan saingan yang harua dikalahkan. Bima tetap bersikap baik pada Audrey walaupun saat Bima membutuhkan pembelaan dan Audrey tidak mau membantu.
Di ending, pengorbanan Bima untuk Audrey berbuah manis.

5. Memahami Bakat Anak

Sumber Gambar : MNCP


Last but not least, pelajaran berharga dari film ini adalah pentingnya orangtua memahami bakat anak. Bahwa setiap anak itu unik, mereka punya perannya masing-masing. Tindakan bu Dian (Aura Kasih) yang terus memaksa Audrey untuk menjadi koki adalah hal yang tidak baik untuk di contoh. Adalah tidak baik memaksakan anak melakukan sesuatu yang bukan menjadi passionya. Audrey suka sekali menari, tapi mamanya (bu Dian) tidak mendukung. Mamanya memaksa Audrey untuk terus memasak.
Sebagai orangtua hal yang harus dilakukan adalah memahami bakat anak. Kemudian mendukung bakat tersebut. Agar kelak anak-anak mampu melaksanakan peran peradabannya dengan baik.


Secara keseluruhan film berdurasi 91 menit ini adalah tontonan yang menghibur. Baik secara visual maupun alur ceritanya. Film ini juga mampu menjadi tuntunan, sebab kaya akan nilai-nilai positif.

Harapannya semakin banyak sineas dalam negeri yang menghasilkan karya terbaik. Tontonan yang juga bisa jadi tuntunan. Agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi gemilang di masa yang akan datang.

Maju terus film Indonesia.