Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), akan ada 21,3 juta masyarakat Indonesia yang hidup dengan diabetes pada tahun 2030; hampir tiga kali lipat angka penderita diabetes yang tercatat pada tahun 2000. Gambaran masa depan tersebut tidak akan terjadi apabila masyarakat Indonesia mulai menerapkan gaya hidup sehat saat ini juga.

 

dr. Budiman Darmowidjojo, Sp.PD-KEMD, Ketua Jakarta Diabetes Meeting mengatakan, “Diabetes adalah penyakit kronis akibat tidak diproduksinya insulin oleh pankreas, atau tubuh tidak mampu lagi menggunakan insulin. Insulin digunakan oleh tubuh untuk mengubah glukosa menjadi energi. Penderita diabetes memiliki risiko mengalami berbagai komplikasi seperti penyakit jantung, gangguan penglihatan, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan lain-lain. Komplikasi ini dapat dicegah dengan cara mengubah gaya hidup seperti mencapai berat badan ideal, melakukan aktivitas fisik rutin, menjaga asupan nutrisi seimbang, berhenti merokok, istirahat yang cukup, dan menghindari stres.”

 

Di era modern ini, lebih mudah bagi masyarakat untuk melakukan pencegahan dan pengelolaan penyakit diabetes. Berbagai informasi terkait diabetes dapat dengan mudah diperoleh di internet. Selain itu, sarana dan prasarana yang dapat menunjang pengelolaan kadar gula darah juga semakin mudah dijangkau oleh masyarakat luas. Sudah seharusnya lima pilar penatalaksanaan diabetes seperti edukasi, diet, aktivitas fisik, intervensi farmakologis, dan pemantauan dapat diterapkan dengan baik. Namun, realitanya banyak pasien belum mencapai hasil yang optimal dan masih mengalami komplikasi yang berujung kepada penurunan kualitas hidup.

 

“Tata laksana diabetes sebagai penyakit kronik masih belum efektif. Banyak provider kesehatan kewalahan menghadapi pasien diabetes karena masih banyak yang tidak mau mengikuti saran yang diberikan. Padahal, kunci utama tata laksana penyakit kronik seperti diabetes adalah perawatan keseharian (daily care) pasien. Oleh karena itu, penderita diabetes perlu mendapat diabetes self-management education (DSME) dan diabetes self-management support (DSMS). Tujuan dari DSME dan DSMS ini adalah mendukung penderita dalam mengambil keputusan, berperilaku peduli terhadap diri sendiri (self-care), memecahkan masalah, dan berkolaborasi aktif dengan tim tenaga kesehatan demi tercapainya perbaikan klinis, status kesehatan, dan kualitas hidup,” ujar dr. Wismandari Wisnu, Sp.PD-KEMD, Staf Divisi Metabolik Endokrin FKUI/RSCM

 

dr. Wismandari melanjutkan, “Dalam sesi konsultasi, materi yang dapat disampaikan kepada pasien mencakup nutrisi, aktivitas fisik, terapi farmakologi, pemantauan kadar glukosa darah, dan manajemen psikososial. Pemantauan glukosa darah yang terstruktur dapat dilakukan secara mandiri di rumah, agar pasien dapat terbantu saat menyesuaikan asupan makanan, aktivitas fisik, dan dosis obat dalam mencapai kontrol glikemik yang lebih baik.”