Roche Indonesia, pemegang merek Accu-Chek, hari ini kembali menyelenggarakan kegiatan edukasi media terkait diabetes.  Berdasarkan data, jumlah pengidap diabetes (selanjutnya, disebut diabetisi) terus meningkat baik di tingkat nasional maupun dunia. Data International Diabetes Federation (IDF) 2015, diabetisi berjumlah 415 juta, dan diperkirakan akan terus meningkat di tahun 2040 sekitar 642 juta (55%).  Indonesia berada pada peringkat ke-7 dari 10 negara dengan diabetisi terbesar di seluruh dunia (total diabetisi di Indonesia diperkirakan 10 juta). Sedangkan data nasional menurut Riset Kesehatan Daerah (RISKESDAS) tahun 2013, tingkat prevalensi diabetisi sebesar 6,8% di Indonesia.

 

Untuk mencapai kendali gula darah pada diabetisi diperlukan beberapa kegiatan serta pengobatan yang terpadu dalam satu pengelolaan holistik, meliputi edukasi, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemberian obat-obatan, dan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (selanjutnya disebut PGDM).

 

                PGDM merupakan kesatuan dalam pengelolaan diabetes melitus, yaitu pemeriksaan glukosa darah yang dilakukan oleh diabetisi sendiri dan atau keluarganya dengan menggunakan alat glukometer. Pemantauan glukosa darah dapat mendukung keberhasilan pencapaian target pengendalian glukosa darah. PGDM dapat dilakukan secara mandiri setelah mendapat edukasi dari tenaga kesehatan terlatih.

 

                Pengendalian glukosa darah merupakan salah satu pilar penting untuk pencapaian pengendalian glukosa darah sehingga dapat mengurangi risiko komplikasi (makrovaskular dan mikrovaskular) pada diabetisi tipe 1 (DMT1) maupun tipe 2 (DMT2). Selama ini telah banyak  dilakukan pemeriksaan secara reguler glukosa darah baik glukosa darah puasa (GDP), glukosa darah pasca prandial yaitu dua jam setelah makan (GDPP), glukosa darah sewaktu atau random serta HbA1c[1] dalam praktik sehari-hari, dengan tujuan mengendalikan kadar gula darah.

 

                Penelitian DiabCare Indonesia tahun 2008 dan 2012 menunjukkan adanya peningkatan penggunaan PGDM dari 22,1% menjadi 38,9%, tetapi tidak disertai dengan peningkatan pencapaian target HbA1c. Hal tersebut dapat disebabkan oleh PGDM yang belum dilakukan secara baik dan benar. Akibatnya, hasilnya tidak dapat memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang variabilitas glukosa darah diabetisi pada kondisi sehari-hari di rumah.

 

                PGDM mempunyai beberapa manfaat. Manfaat umum adalah memberikan informasi tentang variabilitas glukosa darah harian terkait beberapa aktivitas. Contohnya glukosa darah sebelum makan, satu atau dua jam setelah makan dan sewaktu-waktu pada kondisi khusus seperti setelah berolahraga, pada saat sakit atau penggunaan obat-obat yang dapat memicu kenaikan glukosa darah.

 

PGDM dapat pula memperbaiki pencapaian kendali glukosa darah, menurunkan morbiditas (tingkat kesakitan) & mortalitas (tingkat kematian) serta menghemat biaya kesehatan jangka panjang yang terkait dengan komplikasi akut maupun kronik. Sedangkan manfaat khususnya adalah menjaga keselamatan diabetisi, membantu upaya perubahan gaya hidup, membantu pengambilan keputusan serta penyesuaian dosis insulin atau OAD (obat antidiabetik oral) yang diberikan bersama dengan obat yang dapat menganggu stabilitas gula darah.

 

“Untuk mendukung PGDM demi tercapainya gula darah yang terkendali, hasil monitor kadar gula darah yang akurat merupakan komponen penting agar diabetesi memperoleh data yang benar untuk evaluasi terapi yang tengah dijalani. PGDM kini dapat dilakukan dengan mudah dan murah namun harus menggunakan alat glukometer yang terbukti dan teruji keakuratannya,” jelas dr. Benny Kurniawan, Marketing Manager PT Roche Indonesia.

 

Siapa Yang Memerlukan PGDM?

 

                Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1). PGDM merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan DMT1, termasuk untuk pemilihan regimen dan dosis insulin, serta edukasi untuk mencapai target optimal terapi. PGDM berhubungan dengan perbaikan kadar glukosa darah dan mencegah risiko hipoglikemia  yaitu kadar gula dalam darah berada di bawah kadar normal.

 

                Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). PGDM sebaiknya dilakukan pada DMT2 yang menggunakan insulin, obat antidiabetik oral (OAD), atau diabetisi yg menggunakan OAD pada kondisi tertentu misalnya saat berencana hamil dan sedang hamil, di mana kejadian hipoglikemia sering berulang. Dapat juga pada kondisi sakit misalnya pada penderita penyakit jantung coroner maupun neuropati berat, serta ibadah puasa.

 

                Frekuensi dan waktu PGDM ditentukan secara individual. Beberapa hal yang perlu pertimbangkan adalah tipe diabetes, jenis pengobatan, keadaan klinis (seperti kadar glukosa darah sebelum PGDM, kebutuhan mengubah terapi dalam jangka pendek, hamil), serta kemampuan/dukungan finansial, faktor pendidikan dan perilaku.

               

                “Kedepannya PERKENI tengah menyiapkan Panduan PGDM untuk digunakan oleh para dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam dan tenaga kesehatan lain yang bersinggungan dengan diabetes. Buku ini bertujuan menjadi panduan menyeluruh bagi praktisi kesehatan agar ada kesamaan maksud dan tujuan memanfaatkan alat pemeriksaan glukosa darah mandiri, sebagai salah satu pilar utama dalam pengelolaan diabetes selain pemberian obat,” ujar Dr. Em Yunir, SpPD-KEMD, Ketua Divisi Metabolik Endokrinologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

               

                PERKENI bekerjasama dengan Accu-Chek dalam 2 tahun ke depan, akan mengadakan roadshow dalam bentuk workshop untuk mencapai kesamaan persepsi dalam PGDM yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan di kota/daerah masing-masing.

 

_____________________________

1 Hemoglobin-glikosilat (HbA1c) – Indikator jangka panjang kontrol glukosa darah