Lebih dari 1,7 juta orang di Indonesia berpotensi mengalami gangguan tiroid. Jumlah ini cukup signifikan bahkan termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Sayangnya tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai gangguan tiroid masih sangat rendah. Walaupun tiroid merupakan masalah kesehatan umum, pada beberapa pasien gangguan tiroid bisa tidak terdiagnosa selama bertahun-tahun.[2] Padahal, gangguan tiroid adalah salah satu kelainan yang dapat dideteksi sejak bayi lahir. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Unit Koordinasi Kerja Endokrinoligi Anak Kemenkes RI, sejak tahun 2000-2013 di Indonesia terdapat kasus positif gangguan tiroid pada bayi baru lahir sebanyak 1:2.736. Rasio ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio global yaitu 1:3000 kelahiran.[3]

 

Berangkat dari fakta tersebut, Merck Indonesia dengan menggandeng Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hari ini melakukan edukasi mengenai gangguan tiroid pada bayi/anak-anak yaitu Hipotiroid Kongenital. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kampanye “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid” yang dicanangkan Merck Indonesia sebagai perwujudan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk melakukan edukasi tiroid.

 

Hipotiroid Kongenital adalah sebuah keadaaan dimana kerja kelenjar tiroid pada anak menurun atau bahkan tidak berfungsi sejak lahir, sehingga bayi tersebut kekurangan hormon tiroid. Gangguan tiroid pada bayi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya, baik fisik maupun mental.[4] “Bayi atau anak yang kekurangan hormon tiroid dapat mengalami hambatan pertumbuhan seperti perkembangan kemampuan motorik dan mental yang tidak seimbang, tubuh cebol, lidah besar, kesulitan bicara, hingga keterbelakangan mental,” ujar Dr. dr. Aman Bakti Pulungan, Sp(A)K, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

 

Bayi yang menderita Hipotiroid Kongenital bisa saja mengalami gejala yang berbeda satu sama lain. Gejala dan tanda yang dapat muncul pada bayi dengan gangguan tiroid adalah aktivitas menurun/ kurang aktif, mengalami kuning (icterus) yang lama, lidah menjadi besar (makroglosi), perut buncit, kulit kering dan burik, serta mudah kedinginan.[5]

 

Dr. dr. I Wayan Bikin Suryawan, Sp(A)K, Ketua Unit Kelompok Kerja Endokrin IDAI mengatakan, “Gejala Hipotiroid Kongenital seringkali tidak disadari dan salah dikenali, oleh karenanya setiap bayi yang baru lahir perlu melakukan skrining hipotiroid kongenital. Keterlambatan deteksi dapat berakibat fatal.”

 

Skrining Hipotirod Kongenital (SHK) adalah uji saring pada bayi yang baru lahir untuk mengetahui sedini mungkin apakah bayi mengalami gangguan tiroid atau tidak, sebelum gejala klinis muncul.  Segera setelah didiagnosa, bayi yang terkena gangguan Hipotiroid Kongenital dapat diberi pengobatan untuk mencegah kecacatan atau kematian bayi, serta mengoptimalkan potensi tumbuh kembang.

 

Skrining Hipotiroid Kongenital pada bayi baru lahir telah diperkenalkan untuk dilaksanakan di 14 provinsi, yaitu di Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Utra, Aceh, Kalimantan Timur dan Lampung. Pemerintah juga telah mengeluarkan payung hukum sebagai landasan pelaksanaan SHK dan standar laboratorium SHK, yaitu dengan mengeluarkan Permenkes No.25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak dan Permenkes No.78 tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital.

 

Dokter Aman Pulungan menambahkan, “Kebijakan pemerintah untuk menerapkan Skrining Hipotiroid Kongenital pada bayi baru lahir ini perlu didukung oleh berbagai pemangku kepentingan. Skrining sejak dini sangat penting dan merupakan tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan kualitas manusia Indonesia di masa yang akan datang.”

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan dan program pemerintah, Merck Indonesia bekerjasama dengan Kemenkes RI menyelenggarakan kampanye bertajuk “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid” yang juga bertepatan dengan peringatan Pekan Kesadaran Tiroid Internasional yang jatuh pada tanggal 25-31 Mei. Melalui kampanye “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid”, Merck Indonesia melakukan serangkaian kegiatan edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan gangguan tiroid baik pada bayi maupun dewasa.

 

“Kampanye Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid merupakan salah satu perwujudan komitmen Merck untuk terus berkontribusi pada masyarakat selama 45 tahun berada di Indonesia. Rangkaian kegiatan yang kami lakukan dalam kampanye ini diantaranya adalah pemeriksaan/ skrining tiroid, edukasi melalui radio talkshow dan program temu media, serta penyebaran informasi melalui website. Kami berharap, kampanye ini dapat membantu program pemerintah dalam menekan angka penderita gangguan tiroid di Indonesia,” pungkas Sulfina Arindah, Business Director Merck Serono Indonesia.