Indonesia menduduki salah satu peringkat tertinggi di Asia Tenggara dalam gangguan tiroid, yang mempengaruhi lebih dari 1,7 juta orang.1,2,3 Survei ini melibatkan 1.220 wanita dan 500 praktisi kesehatan yang dilakukan dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2015. Survei ini dilakukan untuk lebih memahami sikap/ pandangan masyarakat terhadap masalah kesehatan yang cukup serius ini.

 

Survei ini mengungkapkan temuan  bahwa kesadaran akan gangguan tiroid masih rendah dan ada perbedaan signifikan di tiap daerah di Indonesia dalam mengenali tiroid, merawat dan bagaimana mendiagnosa tiroid. Survei ini juga menyoroti kesenjangan dalam komunikasi antara pasien dan praktisi kesehatan mengenai kondisi , gejala dan  mengelola gangguan tiroid. Survei ini merupakan bagian dari kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yang berjudul “Bebaskan Diri dari Gangguan Tiroid” yang digagas oleh Merck Serono. 

 

Temuan Mengenai Gangguan Tiroid pada Perempuan dan Anak-Anak

 

1.220 wanita di 6 kota di Indonesia diwawancarai:

·         180 wanita didiagnosa gangguan tiroid, 150 wanita memiliki anak yang didiagnosa mengidap gangguan tiroid, 230 wanita yang baru melahirkan pada kurun 6 bulan terakhir, dan 660 wanita yang tidak terdiagnosis gangguan tiroid  namun dianggap beresiko tinggi karena usia (lebih dari 50 tahun), sedang hamil atau mengalami depresi[i]

·         32% wanita berada pada kelompok usia 25-35 tahun dan 68% berusia antara 36-45 tahun[ii]

·         55% adalah wanita yang didiagnosa dengan gangguan tiroid dan 45% memiliki anak dengan gangguan tiroid5

 

Gangguan tiroid pada wanita dewasa

·         Rata-rata, 30% wanita menunggu lebih dari 12 bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk menemui dokter, hal ini disebabkan karena gejala umum gangguan tiroid seringkali diduga sebagai gejala penyakit lain[iii]

·         14% pasien tidak mendapatkan pengobatan/ perawatan apapun meski telah terdiagnosa gangguan kesehatan[iv]

·         Gejala gangguan tiroid dilaporkan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien[v]

o   65% pasien dewasa mengatakan kelelahan dan lemah otot adalah salah satu gejala awal yang mempengaruhi mereka; 52%  pertama kali menyadari bahwa mereka sulit tidur, 50% mengalami nyeri otot, 57% melaporkan bahwa mereka merasa cemas, gelisah dan mudah marah, 44% melaporkan bahwa denyut jantung sangat cepat dan jantung berdebar, 42% menyadari bahwa mereka mengalami tangan gemetar dan 34% mengalami perubahan berat badan

·         Gangguan disfungsi tiroid mempengaruhi produktivitas: 67% wanita terpaksa harus mengambil cuti kerja karena kelelahan dan lemah otot, dan 53% lainnya tidak bekerja karena nyeri otot/ sendi[vi]

·         Gangguan tiroid juga mempengaruhi percaya diri, hampir separuh (43%) wanita melaporkan bahwa mereka menjadi kurang percaya diri dan 21% lainnya mengatakan bahwa mereka merasa depresi  akibat gejala-gejala yang mereka alami[vii]

·         Setelah mendapatkan pengobatan, mayoritas wanita mengatakan bahwa mereka merasa lebih siap untuk melakukan pekerjaan mereka, dapat lebih fokus memperhatikan rumah dan keluarga mereka, serta merasa lebih percaya diri dan depresi yang berkurang[viii]

 

Gangguan tiroid pada anak-anak

·         Hampir sepertiga pasien (32%) menunggu selama 6 bulan atau lebih sebelum melakukan skrining gangguan tiroid. Bagi anak-anak didiagnosa tiroid  memang lebih cepat daripada orang dewasa dengan 72% orang tua menerima hasil diagnosa dalam kurun waktu 1-2 minggu masa skrining[ix]

·         Gangguan tiroid mempengaruhi pertumbuhan anak; gejala yang paling sering dilaporkan oleh ibu dengan anak dengan gangguan tiroid adalah perkembangan fisik,  meliputi: susah makan (67%), kelelahan (62%), sulit tidur (49%) dan berat badan yang rendah karena nafsu makan yang buruk (40%)[x]

·         Gangguan tiroid juga mempengaruhi pekembangan sosial anak[xi]

o   55% ibu dengan anak didiagnosa gangguan tiroid mengatakan bahwa anak mereka tidak suka bermain dengan teman atau keluarga dan 45% anak tidak masuk sekolah

o   41% anak merasa kurang percaya diri karena gejala yang mereka alami dan hampir seperempat (24%) anak memiliki sedikit teman

·         Selain gejala-gejala ini, hampir 20% orang tua di seluruh Indonesia mengakui bahwa anak mereka tidak mendapatkan pengobatan untuk gangguan tiroid yang diderita[xii]

·         Mayoritas orang tua dengan anak gangguan tiroid mengatakan bahwa setelah mendapatkan pengobatan, anak-anak mereka bisa bersekolah kembali dan senang ke sekolah , menjadi lebih bahagia, ramah dan percaya diri[xiii]

 

Kesadaran gangguan tiroid diantara wanita yang berisiko tinggi

·         Lebih dari setengah (55%) wanita yang berisiko tinggi mengalami gangguan tiroid belum pernah mendengar permasalahan/ kondisi ini[xiv]

·         Lebih dari dua per tiga (77%) keliru mengidentifikasi sebagai kondisi peradangan dan hanya satu dari lima (22%) yang bisa mengidentifikasi dengan benar bahwa mereka kekurangan atau kelebihan hormon tiroid[xv]

·         Potensi serius akibat dari gangguan tiroid juga seringkali diremehkan, seperti kemandulan, osteoporosis, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, serta depresi dan kecemasan[xvi]

·         Meskipun mengalami gejala gangguan tiroid yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka, setengah (50%) wanita tidak mencari bantuan medis[xvii]

o   53% mengatakan mereka hanya akan pergi ke dokter jika mereka benar-benar sakit dan 46% tidak berpikir bahwa gejala yang mereka alami disebabkan oleh suatu penyakit; 20% mengatakan bahwa pergi ke dokter akan menghabiskan banyak biaya20

·         94% menegaskan bahwa praktisi kesehatan tidak pernah berbicara tentang gangguan tiroid meskipun mereka beresiko tinggi, [xviii] dan dua per tiga (69%) wanita mengatakan mereka tidak secara proaktif membicarakan kondisi kesehatan mereka kepada dokter[xix]

·         9 dari 10 (89%) wanita berisiko tinggi tidak menyadari bahwa tersedia pengobatan untuk kondisi mereka[xx]

 

Temuan tentang Kesadaran Praktisi Kesehatan dan Pengelolaan Gangguan Tiroid

 

500 praktisi kesehatan di 6 kota di Indonesia diwawancarai, termasuk 350 dokter umum dan 150 dokter yang praktek di rumah sakit. [xxi]

 

Gejala, diagnosa dan skrining

·         Gejala-gejala yang paling sering  ditemukan oleh praktisi kesehatan cari dalam mendiagnosa tidak selalu sesuai dengan gejala umum gangguan tiroid[xxii]

o   Berdasarkan kelainan fisik, gejala yang paling sering dicari adalah: tangan gemetar (100%), keringat berlebih (93%), perubahan berat badan (92%), denyut jantung yang sangat cepat (88%) dan sensitivitas pada suhu (86%)

o   Gejala umum lainnya tidak langsung terlihat pada pemeriksaan fisik dan kurang dicari oleh para praktisi kesehatan, termasuk: kecemasan, gelisah dan mudah marah (69%), masalah tidur( 64%) dan depresi (55%)

·         Dibandingkan dengan dokter umum, rata-rata dokter internis mendiagnosa lebih banyak pasien dengan gangguan tiroid-5,4 banding tiga. [xxiii]

·         59% setuju bahwa wanita seringkali enggan mencari bantuan medis untuk gejala-gejala yang tidak spesifik yang diasosiasikan dengan gangguan tiroid. Hal ini sesuai dengan temuan hasil survei dari wanita berisiko tinggi bahwa pasien tidak percaya gejala yang mereka alami bisa diakibatkan oleh penyakit serius[xxiv]

·         Hasil tes tiroid sembilan dari sepuluh pasien yang diduga menderita gangguan tiroid menunjukkan bahwa mereka memang mengalami gangguan tiroid[xxv]

 

Pengobatan dan pengelolaan

·         Setengah (51%) dari praktisi kesehatan yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka mengetahui pedoman nasional untuk mengobati gangguan tiroid, tetapi mereka tidak familiar dengan rinciannya; satu dari 10 tidak tahu akan pedoman tersebut[xxvi]

·         26% praktisi kesehatan mengidentifikasi keyakinan/ agama pasien sebagai tantangan utama dalam mencoba untuk mengobati atau mengelola gangguan tiroid; 24% mengidentifikasi kurangnya kepatuhan terhadap obat sebagai masalah dan 32% mengatakan bahwa pasien meremehkan pentingnya meminum obat yang telah diresepkan[xxvii] 

·         Lebih dari 90% praktisi kesehatan sepakat bahwa dibutuhkan kesabaran lebih untuk menghadapi pasien dan praktisi kesehatan menangani informasi seluruh aspek dari gangguan tiroid, termasuk mengelola dan mengobatinya[xxviii]

 

Beberapa Temuan di Daerah

 

Survei dilakukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Yogyakarta

·         Dari 500 praktisi kesehatan yang diwawancarai, 140 berasal dari Jakarta, 60 dari Bandung, 45 dari Semarang, 130 dari Surabaya, 80 dari Medan dan 45 orang berasal dari Yogyakarta24

·         Dari 1,220 wanita yang diwawancarai, 240 berasal dari Jakarta, 180 dari Bandung, 180 dari Semarang, 220 dari Surabaya, 220 dari Medan dan 180 orang dari Yogyakarta4

 

Perbedaan dalam pemahaman, diagnosa dan pengobatan di daerah-daerah

·         Dibandingkan dengan kota lainnya, wanita dan orang tua di Yogyakarta menunggu lebih lama sebelum menemui dokter untuk berdiskusi mengenai gejala-gejala gangguan tiroid, 50% menunggu selama 12 bulan atau lebih, dibandingkan dengan Surabaya (45%), Semarang (27%) dan Medan (20%). Wanita dan orang tua di Bandung  dan Jakarta lebih cepat menanggapi gejala yang timbul, hanya 17% (Bandung) dan13% (Jakarta) dari mereka menunggu 12 tahun atau lebih untuk menemui dokter[xxix]

·         Diantara wanita berisiko tinggi, tingkat kesadaran akan gangguan tiroid di kebanyakan kota kurang dari 50%, kecuali Medan (66%) dan Semarang (59%)[xxx]

·         Namun begitu, wanita di Semarang adalah yang paling sedikit memiliki pengetahuan tentang gangguan tiroid ini, dengan hanya 14% yang memaparkan dengan benar kondisi gangguan tiroid; wanita di Surabaya secara signifikan lebih memiliki pengetahuan daripada kota-kota lainnya, dengan 41% mendeskripsikan dengan benar, dibandingkan dengan 23% di Bandung dan Yogyakarta[xxxi]

·         Dokter di Bandung dan Semarang memiliki angka tertinggi untuk pasien dengan gangguan tiroid, sementara dokter di Yogyakarta dan Surabaya memiliki lebih sedikit pasien[xxxii]

·         Wanita di Yogyakarta (51%) dan Semarang (49%) adalah yang paling proaktif dalam mengungkapkan kondisi mereka kepada praktisi kesehatan, diikuti oleh Bandung (33%) dan Jakarta (30%); sementara itu hanya 19% wanita di Medan menemui dokter untuk mengkonsultasikan kondisinya dan hanya 16% di Surabaya[xxxiii]

·         Pasien yang tinggal di Surabaya lebih banyak mendapatkan pengobatan dan 40% sisanya tidak diobati, diikuti oleh Yogyakarta (20%), Jakarta (10%) dan Bandung (10%) namun di Semarang 10% pasien mendapatkan pengobatan untuk kondisinya tersebut[xxxiv]