"Apa buku tulis ibu-ibu sewaktu sekolah dulu?". Begitu pertanyaan yang dilontarkan mbak MC sewaktu saya menghadiri talkshow Ayo Menulis Bersama SiDU Selasa, 8 Mei 2018 lalu di  The Icon, Lt. 1, Morrissey Hotel, Menteng, Jakarta Pusat. Sontak semua peserta yang hadir menjawab SiDU termasuk saya. Yups, siapa yang nggak kenal SiDU. Merk buku tulis andalan zaman saya sekolah, bayangkan sudah berapa lama SiDU menemani kegiatan menulis anak Indonesia. Sinar Dunia (SiDU) merupakan merk buku tulis unggulan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang diluncurkan sejak tahun 1984. Jadi sudah lebih dari tiga dekade SiDU hadir di Indonesia.

  
Walaupun zaman sudah digital dan teknologi semakin canggih, saya masih suka menulis di atas kertas dibanding mencatat di smartphone atau laptop. Karena dengan menulis di atas kertas selain melatih tangan dan jari motoriknya tetap bekerja dengan baik, menulis di atas kertas juga membuat saya lebih kreatif. Kalau anak zaman now lebih mengagungkan teknologi, beda memang dengan zaman saya dulu. Zaman sekarang menulis pun menggunakan gadget. Minat menulis dengan tangan sudah mulai berkurang. Apa yang membuat minat menulis berkurang?

Prameshwari Sugiri
Prameshwari Sugiri yang biasa dipanggil mbak Imesh selaku Chief of KumparanMOM yang menjadi moderator di acara talkshow Ayo Menulis Bersama SiDU mengatakan kalau akar masalah minat menulis berkurang karena di era globalisasi saat ini pengembangan sumber daya manusia. Kompetensi guru yang rendah juga menyebabkan kompetensi menulis pada anak juga rendah. 

Pakar Edukasi Anak dari Wahana Visi Indonesia, Nurman Siagian, turut menyoroti kompetensi anak Indonesia yang masih berada di belakang negara-negara lainnya. Hasil survei tiga tahunan dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 yang dikeluarkan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan Indonesia masih menduduki peringkat 60 dari 72 negara. Kompetensi guru berdasar data Kemdikbud 44% padahal score terbaik 70%. Hanya 56% dari 125 guru yang mampu memahami bahan yang diajarkan, bayangkan bagaimana dengan muridnya? Kondisi guru yang kebanyakan memberikan bahan pembelajaran yang copy paste tentu sangat mempengaruhi para murid.

Nurman Siagian
Melly Kiong, praktisi Mindful Parenting (konsep parenting yang menyadarkan orangtua tentang pentingnya komunikasi) mengatakan bahwa tanggung jawab pendidikan juga ada di tangan orang tua. Ibu bekerja pun bisa. Orangtua harus ikut terlibat dalam pendidikan anak. Bu Melly sendiri sudah terbiasa membuat memo kecil. Komunikasi nggak cuma verbal saja tetapi juga non verbal. Anak-anak itu perekam yang sangat baik loh. Makanya saran bu Melly orangtua biasakan menuliskan memo kecil untuk menuliskan pesan atau sesuatu kepada anak sebelum orangtua berangkat kerja. Biasakan juga anak menuliskan jurnal hariannya. Bekali anak dengan buku tulis dan pensil serut bukan pensil matic. Dengan menulis jurnal harian bisa menambah ikatan emosional antara anak dan orangtua.

Kompetensi tidak hanya dari sisi akademik dan kognitif anak saja tapi juga karakternya, karakter itu bisa dibentuk dari kebiasaan menulis. Kemampuan menulis adalah kemampuan dasar. Kemampuan menulis tangan ada korelasi signifikan dengan daya ingat anak. Saat anak menulis sebenarnya anak sedang mengkonstruksi apa yang ada didalam pikirannya. Anak akan mencoba mencoba mencerna informasi yang ingin disampaikan.

Melly Kiong
Fayanna Ailisha Devianny penulis cilik anggota Komunitas Kecil Kecil Punya Karya (KKPK) yang turut hadir di acara talkshow Ayo Menulis Bersama SiDU menceritakan bagaimana awal kegemarannya menulis. Fayanna yang masih berusia 13 tahun ini sudah mempublikasikan 42 buku. Amazing! Fayanna mengatakan kalau hobi menulisnya diawali dengan menulis di buku tulis. Berkat hobinya menulis Faynna bisa jalan-jalan gratis ke Korea bahkan orangtuanya pun turut serta. Sejak kecil Fayanna memang sudah sering dibacakan buku cerita oleh orangtuanya, sering diajak ke toko buku juga. Keberhasilannya mempublish buku juga karena support sang ortu.

Menulis dan mengetik berbeda, kalau menulis ada nilai estetika nya kata pak Martin Jimi -Consumer Domestic Business Head SiDU. Menurut Pak Martin latar belakang meningkatkan kebiasaan menulis berangkat dari kepedulian SIDU terhadap anak-anak Indonesia. Dengan menulis si anak akan mengenal dirinya sendiri. Dengan menulis juga kita akan mengenalkan kepada anak bagaimana sejarah kertas. "Manfaat menulis itu banyak," kata pak Martin. Diantaranya bisa meningkatkan kecerdasan, meningkatkan daya ingat, dan meningkatkan kreativitas.

Martin Jimi (tengah) - Fayanna Ailisha Davianny (kanan)
Menulis di atas kertas meningkatkan kompetensi anak. Kompetensi bukan hanya soal pelajaran di sekolah saja tapi juga di luar itu. Berlatarbelakang dari kepedulian SiDU terhadap pentingnya meningkatkan kompetensi anak, SiDU merintis gerakan "Ayo Menulis Bersama SiDU" sejak April 2018 lalu demi menumbuhkan kebiasaan menulis pada anak yang diyakini dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan kompetensi anak Indonesia dengan melibatkan 20.000 murid dari 100 sekolah dasar di Jabodetabek pada tahap pertama yang akan berlangsung hingga Mei 2018. 

Gerakan ini mencakup pemberian buku latihan menulis untuk anak, serta pendampingan yang melibatkan orang tua dan guru secara intensif, dengan modul yang berlangsung selama 21 hari. Bekerja sama dengan Renny Yaniar, seorang penulis cerita anak kenamaan yang telah menerbitkan lebih dari 130 buku, SiDU menyusun modul buku latihan menulis tersebut berdasarkan studi yang mengungkapkan bahwa kebiasaan baru dapat dibentuk dengan rutin melakukannya selama minimal 21 hari. 


Buku Ayo Menulis Bersama SIDU dilengkapi dengan beberapa pertanyaan dan gambar-gambar yang ada didalamnya lucu-lucu, ini dapat menarik perhatian dan minat anak-anak untuk menulis.  Mulai dari mengenal diri sendiri, mengetahui asal mula kertas, hingga perhelatan Asian Games 2018, di mana APP Sinar Mas sebagai mitra resmi turut mendukung Indonesia sebagai tuan rumah. Beragam topik tersebut diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang menstimulus anak untuk mengutarakan pendapat serta idenya melalui tulisan tangan.


Terakhir pak Martin mengatakan kalau kebiasaan menulis di atas kertas tidak akan meningkat tanpa adanya dukungan berbagai pihak. Dengan dukungan berbagai pihak, APP Sinar Mas melalui SiDU berharap program Ayo Menulis Bersama SiDU dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Indonesia, serta menjadi motor munculnya program-program sejenis, agar kebiasaan menulis semakin meluas di Indonesia.