Frances dan Ondel-Ondel Galau
Ondel-Ondel Galau. Ondel-Ondel kok bisa galau ya? Hihi pertama kali baca judul bukunya langsung bikin saya penasaran. Memang Ondel-Ondel kenapa? Toh saya sering lihat Ondel-Ondel, dimana-mana ada apalagi di jalanan hampir setiap hari ada yang ngamen Ondel-Ondel. Ternyata justru karena sering lihat Ondel-Ondel ada di jalanan lah Frances penulis muda ini menuliskan buku Ondel-Ondel Galau.

Frances Caitlin Tirtaguna atau yang biasa akrab dipanggil Frances masih muda banget, usianya masih 15 tahun tapi punya segudang prestasi. Jumat, 27 April lalu saya menghadiri launching buku Ondel-Ondel Galau yang ditulis oleh Frances di Binus School Simprug. Ya, Frances merupakan salah satu siswi kelas 10 di Binus School Simprug. Selain hobi menulis Frances juga pintar memainkan alat musik piano, gemar berbicara didepan umum, Frances benar-benar anak dengan segudang prestasi. Pernah menjadi perwakilan sekolahnya untuk Asia Pacific Leaders Convention 2018, pernah lolos seleksi dari Stanford University USA mengikuti kursus Jurnalis Ekspositori, Lomba debat dari The World Scholar's Cup Tournament of Champion di Yale University, dan masih ada beberapa prestasi lainnya. 

Peluncuran buku Ondel-Ondel Galau penuh dengan hiburan kesenian Betawi seperti Tari Nandak Abang None yang dibawakan oleh Culturific Club Binus School Simprug, Musik Gambang Kromong, Pertunjukan Lenong Bocah dari Sanggar Seni Setu Babakan, dan ada juga jajanan khas Betawi seperti kerak telor, kue pancong, kue pepe, jajanan pasar, dll. Pokoknya serba Betawi, malah saya sempat melihat Roti Buaya hehe. 



Berawal dari Keresahan Melihat Sepasang Ondel-Ondel

Buku Ondel-Ondel Galau ditulis Frances berawal saat Frances melihat sepasang Ondel-Ondel lusuh ngamen di kemacetan Jakarta. Frances jadi tertarik dengan sejarah Ondle-Ondel dan mulai mencari tahu tentang kebudayaan Betawi. Frances pun berinisiatif melakukan riset di Perkampungan Kebudayaan Betawi Setu Babakan.

Di Setu Babakan Frances disambut baik oleh Budayawan Betawi salah satunya Bang Indra Sutisna. Bang Indra pun banyak menjelaskan bagaimana sejarah Ondel-Ondel Betawi.  Saat launching Bang Indra juga memaparkan bahwa dalam budaya Betawi Ondel-Ondel sebenarnya biasa dipakai untuk mengarak anak-anak khitanan. "Ondel-Ondel is a big doll", kata Bang Indra. Jadi Ondel-Ondel bukan patung yang dihiasi dengan kembang kelapa. Ondel-Ondel juga memiliki filosofi sebagai lambang kekuatan yang memiliki kemampuan memelihara ketertiban. 

Setelah banyak mendapat informasi dari Bang Indra juga setelah bertemu dengan ketua Lembaga Kebudayaan Betawi Bang Yahya Andi Saputra, Frances jadi tahu kalau Ondel-Ondel punya peranan penting dan menjadi ikon kota Jakarta.



Review Buku Ondel-Ondel Galau

Buku Ondel-Ondel Galau ditulis dalam bahasa Inggris, Frances berharap bukunya bisa dibaca oleh orang luar agar mereka tahu dan mengenal bagaimana budaya Betawi sekaligus bisa mempromosikan Indonesia khususnya Jakarta. 

Novel Ondel-Ondel Galau yang tebalnya 66 halaman ini menceritakan bagaimana kebudayaan Betawi.  Frances mengulas bagaimana budaya Betawi yang begitu beragam, mulai dari baju adat, lagu adat, mainan tradisional, sampai makanan khas Betawi. Didalam buku ini banyak gambar-gambar makanan dan jajanan khas Betawi yang asli bikin lapar dan ngangenin pengin jajanan kue tradisional, seperti kue putu mayang, kue cantik manis, kerak telor. Nggak cuma itu, Frances juga sekaligus menuliskan bahan-bahan dan cara membuat makanan khas Betawi ini. 


Teman-teman juga diajak kenal sejarah lewat buku Ondel-Ondel Galau ini. Bagaimana awalnya Jakarta dikenal dengan nama Bandar Kelapa dan Sunda Kelapa dan bagaimana pada zaman Belanda Jakarta diberi nama Batavia.

Pada halaman 18 kita akan menemukan wajah Benyamin Sueb yang selama ini kita kenal figurnya Betawi banget. Saya jadi ingat sinetron si Doel hehe. Frances juga menuliskan latar belakang Benyamin Sueb di buku ini, yang mana Bang Ben pernah populer dengan lagu Si Jampang dan Ondel-Ondel.

Saya beneran baru tahu kalau Betawi punya musik tradisional Keroncong Tugu, Jipeng alat musik yang biasa dipakai untuk mengiringi Tanjidor. Duh, baru satu kebudayaan Betawi yang dibahas ya bagaimana dengan sejarah kebudayaan yang lain ya hehe, ini bukti kalau Indonesia beragam banyak suku dan budaya jadi harus banyak-banyak menggali sejarah. Benar kata Bang Indra kalau bukan kite  yang mengenal sejarah dan budaya kite siape lagi.

Buku ini recommended banget untuk dibaca apalagi untuk anak-anak kita generasi penerus bangsa. Oh ya, dalam buku ini Frances juga melampirkan daftar pengrajin, sanggar seni, dan daftar kulinari yang dibina oleh Lembaga Kebudayaan Betawi lengkap dengan alamat dan telepon yang bisa dibubungi.