Aku tidak bilang dia orang jahat. Dia bukan orang jahat. Tetapi tidak perlu jadi orang jahat untuk membuat orang lain putus asa.

Judul Buku: The Catcher In The Rye

Pengarang: J.D Salinger

Penerbit: Banana

Tebal: 295 halaman

Alasan mengapa buku ini layak baca: Di bagian belakang buku ini (blurb) hanya tertulis satu kalimat: MENGAPA BUKU INI DISUKAI PARA PEMBUNUH?

Ada dua fakta yang menjadikan buku ini dijuluki sebagai ‘buku yang disukai para pembunuh’. Sosok pertama yang dimaksud disini bernama Mark Chapman. Dia adalah pelaku penembakan musisi John Lennon. Mark membawa serta buku ini saat melakukan pembunuhan tersebut di tahun 1980.

Sosok pembunuh kedua bernama Robert John Bardo, yang juga membawa novel ini saat membunuh aktris bernama Rebbeca Schaeffer di tahun 1989. Karena adanya fakta yang mengerikan itulah aku tertarik ingin mengetahui sejauh mana buku ini dapat mempengaruhi pikiranku.

Apa kamu pernah merasa sumpek? Maksudku, pernahkah kamu merasa cemas bahwa semua yang kita jalani sekarang ini jadi sia-sia, kecuali kita berbuat sesuatu?

Sinopsis: J.D Salinger sepertinya sedang menceritakan masa mudanya sendiri dalam buku ini. Tokoh utama bernama Holden tergambar jelas sedang menghadapi situasi peralihan dari remaja menuju orang dewasa. Tutur bahasanya pun kasar dan khas remaja berusia 17 tahun.

Menurutku, tidak seorang pun tokoh dalam buku ini yang digambarkan memiliki gangguan kepribadian, psycho, atau membahayakan. Tapi dari kegelisahan yang dialami Holden, aku dapat menangkap kesan bahwa ia digambarkan memiliki gangguan kejiawaan semacam depresi dan kecemasan.

Tetapi saat itu aku sedang merasa begitu sedih sehingga berpikir pun aku tidak sanggup. Ini dia masalahnya. Kalau aku sedang begitu sedih, aku tidak bisa lagi berpikir.

Selain itu, tidak satu pun alasan yang kutemukan, sekiranya yang bisa mempengaruhi seseorang untuk membunuh orang lain setelah membaca buku ini. Holden diceritakan sebagai laki-laki yang baik, penyayang, agak sensitif, dan memegang teguh prinsip yang dimilikinya. Hanya saja memang, dia sedang muak-muaknya dengan dunia di sekitarnya. Dan setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa demikian, kurasa.

Mungkin alasan ini yang menyebabkan para pembunuh merasa berhak menghabisi nyawa orang-orang yang membuat diri mereka muak. Meskipun punya kemampuan untuk membunuh, jika kita merasa muak dengan seseorang di dunia ini, apakah kita harus membunuh orang itu, atau membunuh pikiran kita sendiri?

Ada orang-orang tertentu yang tidak seharusnya dipermainkan, bahkan sekalipun mereka layak mendapatkan perlakuan itu.

Kesan: Aku sama sekali tidak dapat menangkap kesan suram dan muram. Bahkan, novel ini tidak cocok jika disebut sebagai novel gelap. Mungkin karena aku membacanya dalam versi terjemahan, jadi menurutku gaya penuturannya serupa dengan bahasa anak yang berusia belasan tahun. Bacaan ini ringan-ringan saja bahkan aman untuk dibaca anak-anak sekolah menengah. Saat itu aku membacanya dalam perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta.

Rating versiku: 5/5