Terkadang aku merasa begitu takut untuk ditinggalkan, untuk tidak disukai, untuk disalahpahami.
Insecurity ku akan diriku sendiri. Merasa kurang disana sini. Tidak ingin bangkit dari ranjang karena terlalu takut menghadapi dunia. Mendengar suara-suara. Atau sekedar bersenda tawa. 

Tapi juga sebaliknya, tidak jarang juga aku merasa begitu kuat, bahkan terlalu kuat, merasa diri paling hebat, sehingga begitu mudah menyakiti tanpa lagi memikirkan masalah hati. Hanya karena merasa sedang di awang-awang. "Jebakan saat berada diatas" memang membahayakan. Merasa diri paling benar, paling baik, dan memiliki banyak pendukung untuk mendukung setiap kata dan keputusan. Aku bisa berubah menjadi sosok antagonis seperti di film "Mean Girl', one of my favorite movie when I was a kid, tanpa aku sadari.

Dan ini tidak baik. Ya, menjadi jahat. Entah kata, perilaku maupun hati dan pikiranku. Ini tidak baik. Aku harus segera istighfar sebelum aku melukai semakin banyak hati.
Menjadi begitu insecure atas diri sendiri juga tidak baik, aku pun harus segera banyak-banyak istighfar saat hal insecurity menggelayuti hati dan pikiranku.

Tapi kamu tahu, sekedar istighfar tanpa benar-benar meresapi akan maknanya, ternyata tidak juga membuat diri menjadi kembali lurus. Idealnya, ya tidak jahat, ya tidak insecure. Well, this is a battle I have to fight  almost everyday. Terutama dihari-hari dimana aku tidak bisa mengontrol apa yang aku pikirkan dan rasakan. Terutama dihari-hari dimana aku mulai kehilangan diriku ditengahnya hiruk pikuk pergaulan, kesibukan dan tanggung jawab  yang terkadang mulai tak ku mengerti bagaimana menghadapinya . It's affect me so deep. That is why I prefer to make a strong boundaries in my circle. Tapi juga ingin agar yang diinginkan tetap tinggal ya tinggal, jangan pergi saat aku sedang begitu sulit untuk dipahami, even I push so hard. Can I? Too much heh?

#TulisanMisisDevi