Sebelum title ibukota Indonesia yang dimiliki Jakarta berpindahtangan, aku ingin mengumpulkan segala drama ibukota yang aku alami (dan akan, maybe haha) dengan tagar #Mata (Drama Ibukota–and later Drama Jakarta).

Formatnya akan seperti jurnal atau cerpen atau bagaimanapun nantinya, tergantung situasi yang terjadi saat itu lebih nyaman saya tulis seperti apa hehe.

Mari kita mulai dengan drama yang sangat fresh di memori.

Kamis, 31 Oktober 2019

Hari ini, aku punya janji untuk datang ke wisuda dua sahabatku sejak SMA. Mereka bilang kalau prosesi selesai sekitar pukul 12 siang (saat aku tanya sehari sebelum acara), namun ketika aku chat lagi (sekitar pukul 10 pagi, di hari-H) tiba-tiba temanku bilang untuk segera ke sana. “Cepetan ke sinii, udh mau kelar,” she said.

Awalnya aku membuat plan untuk naik bus trans ke Jakarta pada pukul 11 pagi yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke Sudirman dan lanjut naik ojek online ke venue. Voila, aku akan sampai sebelum pukul 12 siang. Namun, karena chat tersebut, aku langsung putar haluan naik kereta yang ‘biasanya’ memakan waktu lebih sedikit.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke stasiun sekitar pukul 11 kurang. Sesampainya di stasiun, aku mendapati fakta bahwa kereta ini sedang ngetem hingga pukul 11.22. Saat itu rasanya ingin keluar lagi dan pindah ke halte bus, tapi sudah kepalang tanggung. Setelah (sedikit) panik dan berharap kereta ini tidak mengalami delay nantinya, akhirnya aku stay di kereta.

Kereta berjalan lancar dan hanya stuck sebentar saat mau memasuki stasiun Manggarai. Setelah itu aku langsung pindah jalur menunggu kereta tujuan ke Sudirman. Temanku yang tidak bisa hadir ternyata terus menelponku (ingin menitip hadiah) namun aku tidak sadar karena handphoneku ada di dalam tas. Saat itu pula aku melihat ternyata sudah pukul 12 siang. Fortunately, aku tidak perlu lama menunggu kereta dan langsung melanjutkan perjalanan.

Tidak sampai 5 menit, kereta tiba di stasiun Sudirman. Aku bergegas menaiki escalator dan exit di jalan raya Sudirman. Aku berjalan sedikit ke dekat jembatan transjakarta untuk menunggu ojek online. Waktu menunjukkan pukul 12.20 ketika aku menghubungi temanku. Dia sudah keluar, katanya. Oke, aku akan sampai sekitar setengah satu, pikirku.

Namun ternyata, drama dimulai. Setelah menunggu hampir 10 menit, driver meminta aku untuk meng-cancel order. Aku dengan sedikit panik campur sebal, tidak mau dong kalau harus menunggu driver selanjutnya. Driver baru menjelaskan kalau banyak jalan yang ditutup sehingga dia tidak bisa menjemput. Dengan berat hati akhirnya aku cancel. Tidak lama, aku mendapat driver baru yang jaraknya cukup dekat.

Matahari Jakarta saat itu sedang terik dan mengakibatkan handphoneku overheat dan sedikit error. Saat sedang bergumul dengan handphone yang touch screennya mengalami problem, aku mendengar seorang driver meneriakkan namaku. Otomatis, aku langsung menghampiri dan mengkonfirmasi (dengan namaku) lalu menaiki motornya. Sepertiga jalan, aku kembali melihat handphoneku dan mendapati driverku belum sampai lokasi pick up. Ah, kayaknya masih error nih, pikirku. Namun ada satu hal lagi yang mengganjal. Sebenarnya aku baru sadar kalau plat motornya berbeda dan aku mengabaikannya karena tidak sekali dua kali driver yang platnya berbeda dengan di aplikasi. Kuputuskan untuk bertanya saja ke driver, “mas kok platnya beda ya sama di aplikasi? ini ga salah kan?”. Driver menepis dengan menyebutkan nama dan tujuan saya dan keduanya benar. Aku hanya bisa mengiyakan walaupun masih sedikit panik kalau ternyata salah driver, dan benar saja aku mendapat notifikasi kalau driverku baru sampai lokasi pick up dan driver yang sedang mengantarku ini mendapat telepon dari customernya. Akhirnya kami benar-benar sadar dan yakin kalau kami berdua salah 🙂

Driver sedikit mengebut kembali ke tujuan awal (yang utungnya belum terlalu jauh walaupun harus memutar di trotoar, maaf ya pejalan kaki). Aku sedikit berlari ke arah driverku yang sesungguhnya dan kembali memulai perjalanan menuju venue dengan kondisi jalan Sudirman yang semakin macet. Aku masih tak habis pikir, bisa-bisanya aku salah naik (karena nama dan tujuan yang sama pula) dalam kondisi terburu-buru seperti ini.

Setelah menembus kemacetan di berbagai titik dan lampu merah, aku sampai di venue sekitar pukul 1 kurang (lewat 1 jam dari rencana awal /sigh/) dan masih harus menunggu kiriman hadiah dari temanku yang tidak bisa datang itu. Aku kembali menghadapi driver yang membuat bingung. Driver meminta bertemu di depan pintu gerbang, namun ketika aku menunggu di pintu gerbang driver tersebut malah menjawab “tanya gerbang aja dimana”. Padahal aku jelas berkata kalau sudah sampai gerbang. Setelah beberapa miskom selanjutnya, akhirnya kami berhasil bertemu.

Venue terlihat sudah agak sepi saat aku masuk. Aku langsung menelpon kedua temanku seara bergantian yang dua-duanya tidak mengangkat saat aku telepon namun malah menelpon balik ketika aku menelpon yang lain. Jadi semua telepon kami hanya menjadi missed calls karena bertabrakan. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu telepon saja.

Di tengah telepon sambil berusaha mencari manusia-manusia ini, aku bertemu beberapa teman SMAku dan sedikit menyesal karena hanya bisa tegur sapa saja. Untunglah, tidak butuh waktu lama untuk menemukan mereka dan pas sekali karena temanku yang satunya sudah mau pulang.

Hari ini aku sadar bahwa tidak semua hal yang spontan berujung baik. Jika sudah mempunyai rencana yang jelas dan matang, akan lebih baik kalau dijalankan sesuai rencana saja oke? Lesson learned.