Museum Macan yang berkepanjangan Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara yang didirikan menjelang akhir tahun 2017 ini sukses membuat saya puas dengan eksplorasi karya seni modern dan kontemporer Indonesia yang menghadirkan pameran ‘Art turns World turns’ dan Infinity Mirrored Room (4 Nov 2017  – 18  March 2018).

Sedikit curhat sebelum membahas mengenai museum ini, saya mengunjungi museum ini sebanyak dua kali. Yang pertama pada hari sabtu yang sangat ramai oleh pengunjung dan antrian tiket masuk. Alhasil saya hanya mengambil foto di luar ruang pameran.





Pada akhirnya saya memutuskan kembali lagi di hari biasa pada hari kamis yang ternyata juga tak kalah ramai untuk hari biasa. Untuk mengunjungi museum ini saya menyarankan untuk membeli tiket secara online dan datang jam 10 tepat agar kalian tidak kehabisan waktu untuk mengantri tiket dan memasuki ruangan.

                Di dalam ruang pameran, terdapat lini masa sejarah pameran  yang menyajikan dokumentasi arsip-arsip dari berbagai pameran yang diadakan di Indonesia mulai dari awal perang dunia kedua 1930an hingga 2000.

Bumi, Kampung Halaman, Manusia. Karya-karya ini digambarkan para seniman dari Eropa dan Asia tenggara. Yang mana pada saat itu seniman barat mempengaruhi seniman setempat dalam menggambarkan keindahan alam, kepulauan Indonesia sebelum kemerdekaan.


Ruangan di dalam pameran ini dibentuk dengan struktur yang sangat menarik. Kita dapat melihat berbagai karya seni yang digantung di setiap dinding dalam setiap kelok yang ada.

Kemerdekaan dan setelahnya, diciptakan pada Pasca Perang Dunia II dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Seniman-seniman menggambarkan karya realisme kenyatan sosial Indonesia dengan tema nasionalis.

Tidak hanya karya seni yang mencerminkan Indonesia, di ujung ruang pameran terdapat pula seni kontemporer dari seniman dalam dan luar negeri yaitu Walter Spies, Wang Guangyi, Yoshitomo Nara, Yukinori Yanagi, Andy Warhol, Djoko Pekik, Henk Ngantung dan yang lainnya.







Terdapat beberapa karya unik seperti globe Indonesia, lukisan, patung, gambar bahkan kutipan yang sangat mendalam. Bukan saja nilai estetika yang tinggi, tetapi juga karya yang sangat edukatif dan informatif.


Bendera-bendera di atas disambungkan dengan selang yang didalamnya terdapat semut yang dapat masuk ke dalam selang sehingga ia dapat bermain dari satu bendera ke bendera yang lainnya yang di dalamnya terhadap air dan oksigen agar tetap hidup.



Selain itu terdapat Infinity Room - Brilliance of The Souls karya Yayoi Kusama yang juga dihadirkan dalam pameran ini yang sangat diminati oleh pengunjung sebagai spot foto yang sangat

Infinity Mirrored Rooms -Brilliance of The Souls (2014)

Just for your info, kalian harus mengantri untuk memasuki ruangan ini. Kalian juga diberikan waktu sekitar 40 detik yang sebenarnya hanya kurang lebih 25  detik dan maksimal 2 orang setiap foto dikarenakan ruangan yang dikelilingi oleh air dan spot berdiri yang kecil. Oleh karena itu, lebih disarankan untuk mengambil foto memakai kamera handphone karena waktu yang tidak memadai untuk mengatur kamera dslr atau pocket.

Selain menikmati karya seni dan berfoto ria, kalian juga dapat membeli merchandise seperti baju, gantungan kunci, artikel yang ada di sebelah antrian tiket masuk. Terdapat juga tempat  untuk bersantai sambil meminum kopi dan berbincang-bincang dari 1/15 one fiftheenth coffee


1/15 coffee
The last but not least, semoga posting-an kali ini bisa membantu kalian  untuk mendapat jawaban yang sama dengan saya. Is Art turns World turns Exhibition  worth to visit?! Absolutely Yes!

Have a nice day fellas! X

-
Flowery Outer from @paix.clothe Instagram
Photographed by +Brian Real_