Berawal dari kebetulan menonton sampai akhirnya jatuh hati pada film Filosofi Kopi. Bukan hanya menjadi pencinta kopi, tetapi juga pecinta Filosofi yang ada di dalam Filosofi Kopi..




                            

Cerita yang mengangkat kehangatan kisah persahabatan antara Ben dan Jody, dituangkan ke dalam Filosofi Kopi karangan penulis berbakat Dwi Dee Lestari yang disutradari oleh sutradara terpuji, Angga Dwimas Swasongko. Film ini berhasil memikat hati para penonton terlebih lagi dari beberapa filosofi di dalamnya.








                                  


       Filosofi Kopi 1  mengupas dari awal terbentuknya Filosofi Kopi Cafe. Singkatnya, setelah mereka beranjak dewasa, Jody membuka usaha kedai kopi atas dasar kecintaan Ben terhadap kopi. Jody mengurus bisnis keuangannya sedangkan Ben lebih kepada pembuatan kopi. 

         Suatu ketika Filosofi Kopi Cafe hampir ditutup karena kekurangan biaya, Ben ditawarkan sebuah penawaran menarik sebesar ratusan juta rupiah untuk membuat kopi House Blend yang terenak di Jakarta bahkan di Indonesia. Karena mengikuti tantangan tersebut adalah jalan satu-satunya untuk kelangsungan cafe mereka, akhirnya Jody dan Ben menyetujuinya dengan meningkatkan jumlah nominal menjadi 1 milyar rupiah.

Perfecto atau nama andalan kopi yang dibuat Ben dinilai tidak cukup baik oleh El, seorang perempuan yang merupakan food blogger yang telah keliling dunia untuk mencoba kopi. Menurutnya, ada kopi yang lebih baik dibandingkan "Perfecto" yaitu kopi "Tiwus" buatan petani di Ijen, Pak Seno.



Karena keegoisan mereka masing-masing dan perbedaan pendapat, mereka hampir gagal dalam membuat kopi tersebut. Untuk mengevalusi Perfecto, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan analisis langsung terhadap Kopi Tiwus. Setelah menganalisis, Ben disadarkan oleh El bahwa selama ini membuat kopi tidaklah cukup hanya dengan pengalaman, kerja keras, waktu dan uang. Ia belajar dari ayahnya dan Pak Seno bahwa semuanya harus didasari oleh cinta.


 Filosofi Kopi 1 juga menorehkan beberapa penghargaan yaitu Movie of The Year pada ajang Indonesian Choice Award 2016 dan Festival Film Bandung. Filosofi Kopi 1 juga diputar di Amsterdam, Tokyo, London, Taipei dan lainnya.

Bukan hanya beberapa penghargaan yang didapat, film ini pun berhasil mewujudkan kedai Filosofi Kopi yang sesungguhnya. Bukan hanya digunakan untuk keperluan syuting, tetapi kini kedai Filosofi Kopi dibuat menjadi café yang dibuka untuk masyarakat umum.  






Filosofi Kopi Café yang sesugguhnya juga dikelola oleh pemain film Filosofi Kopi itu sendiri yaitu Rio Dewanto dan Chicco Jericho. Film ini kembali membangkitkan kecintaan mereka terhadap kopi. Kegigihan mereka berdua dalam film ini sangat terlihat dari usaha Chicco yang mengambil sekolah barista demi memperdalam karakternya sebagai Ben. Sama halnya dengan Rio, ia juga mempelajari berbagai macam biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia.


Setelah dua tahun, Filosofi Kopi 2 kembali ke layar lebar dengan cerita sekuel yang tak kalah menarik dari cerita yang pertama. Para penonton juga dapat ikut memberikan ide dan masukan dalam pembuatan cerita ke dalam aplikasi Filosofi 2 yang secara langsung dapat diakses oleh setiap kru Filosofi Kopi 2. Yang tak kalah uniknya, sound track "Sahabat Sejati" yang dibuat oleh Sheila on 7 dalam film ini dinyanyikan oleh pemain utama yaitu Ben dan Jody. Rio dan Ben juga ikut menjadi produser dalam film Filosofi Kopi 2 ini.




Melihat kedai keliling yang tidak berujung, pada akhirnya Ben dan Jody kembali membangun kedai Filosofi Kopinya di Jakarta. Dengan kisah mengharukan yang tak terduga, hal ini hampir mengancam keberlangsungan Filosofi Kopi Cafe. 


Jika dibandingkan dengan Filosofi Kopi 1, Filosofi Kopi 2 ini memang terlihat lebih kompleks. Bukan saja nilai persahabatan dan kekeluargaan yang didapat, tetapi diselipkan dengan kisah percintaan antara pemain. Tidak berbeda dengan Filosofi Kopi 1, film ini sukses membuat saya terbawa ke dalam kisah mengharukan di dalamnya. Sebuah film yang sukses akan membawa penontonnya ikut merasakan hal yang serupa, benarkah? ;)






Suprisingly, penggarapan film Filosofi Kopi II  ini juga mengangkat keindahan alam di Indonesia. Dari segi lokasi, film Filosofi Kopi II melibatkan lebih banyak lokasi dibandingkan filmnya yang pertama. Film Filosofi II ini digarap di enam kota yang berbeda yaitu, Jakarta, Yogyakarta, Bali, Makassar, Toraja dan Lampung.



Menurut saya film ini merupakan sebuah film sekuel yang cukup sukses, film ini dikemas dengan problema yang cukup berbeda dan pastinya tidak kalah menarik dari film sebelumnya. Selain jumlah pemain dan skala produksi dua kali lipat dibandingkan film yang sebelumnya, beberapa karakter pemain diperdalam dalam film yang kedua.






 Luna Maya dan Nadine Alexandara sebagai pemain tambahan juga memainkan perannya dengan sangat baik. Nilai tambah untuk sebuah film apabila kisah akhir sulit ditebak dan Filosofi Kopi 2 sepenuhnya BERHASIL. 

Selain itu, masih banyak lagi pembelajaran - pembelajaran yang saya dapatkan dari film ini.  I rate 9/10 for this film. To all coffee lovers out there, this film is a-must-watch movie! (y)

 "Pada dasarnya obsesi memang diperlukan, tetapi untuk mencapai suatu kesuksesan dalam segala sesuatu, segalanya harus dilandaskan dengan rasa cinta." 
- Filosofi Kopi